Tuesday, February 10, 2015

Entuk Guyube, Entuk Duite…

 Apa yang menarik dari kumpulnya para eyang putri, ibu separuh baya, dan ibu muda?

Satu per satu ibu-ibu datang. Ada yang memakai daster tanpa dandan dan ramput tak tersisir. Ada pula yang memakai gamis, riasan tebal, dan jilbab muter-muter. Ada pula yang memakai hotpen dan yukengsi seraya rambut berwarna-warni, mukanya nampak kileng-kileng ketika tersorot matahari.
            
peserta arisan
“Yu, iki 3. Aku, Mae, Mbak Tinah,” tutur seorang ibu dengan nada tinggi seraya menyodorkan uang 50 ribu. “Ya, nyoh, diitung sek.”

Gang gedong sepuluh ini menjadi gang yang paling istimewa di kampung Bustaman. Di lajur gang sempit ini, terdapat 12 rumah dan penghuni nyaris 140 jiwa. Dalam satu rumah bisa 3-5 kepala keluarga. Arisan bulanan kali ini, yang selalu diadakan di tanggal 10, bertempat di salah satu rumah di gang gedong sepuluh. Sejak pukul 16.00 wib warga mulai berdatangan.

Dengan membayar 13 ribu, akan ada 3 orang yang mendapat jatah undian di hari itu. 10 ribu untuk arisannya, 3 ribu untuk konsumsinya. Uang yang didapat dari arisan tersebut, beberapa ibu-ibu mengatakan lumayan dengan adanya arisan. Sedikit-sedikit nyentel. “Wah, nek ora ono arisan mbak, duwe duit pingine diutik-utik (Wah kalau misal tidak ada arisan, punya uang pinginnya diambili terus),” tutur eyang putri.

Ibu dengan usia 38 tahun yang mempunyai 4 cucu dan 8 anak ini mengatakan arisan itu bisa mendekatkan warga. Bisa mendapatkan guyubnya. 13 tahun lamanya ibu ini tinggal di gang gedong sepuluh. Namun, beberapa tahun belakang ia pindah ke daerah Pekojan. Walau sudah pindah, ibu ini masih tetap sering berkumpul dengan warga Bustaman, bahkan ikut arisan yang hanya khusus untuk kampung Bustaman RT 1 dan 2.
            
Pukul 17.00 wib, acara dibuka. Seorang ibu dengan lantang membuka acara dengan mengucap selamat dan doa. Selanjutnya menyanyikan mars PKK. Satu diantaranya menyilakan ibu yang biasa mengomando. “Aman dan bahagia, keluarga berencana, hidup jaya PKK, tu dua……”

tung-itung 
Kocok-kocok… keluar satu, “Bu A.” Sebab tidak hadir, dimasukkan lagi dan kocok lagi. Begitu hingga berulang tiga kali. Akhirnya muncullah nama Mbak Emi satu diantaranya. Biasa, dalam arisan ada yang belum bayar uang kurang, jadi bahan obrolan.
            
Arisan tersebut bukan lantas sekadar berpindah tempat dan saling ngerumpi. Di situ pula diinformasikan tentang Pap Smear untuk ibu-ibu. Apalagi yang anaknya banyak. Pap smear merupakan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi leher rahim. Ibu yang mempunyai anak banyak beresiko terkena kanker serviks. Maka, perlu untuk merawat diri dan memeriksakannya. Tes lain yakni dengan melakukan skrining inspeksi visual dengan asam asetat (IVA). IVA merupakan prosedur untuk mengetahui kelainan pada epitel serviks (sel yang melapisi leher rahim) dengan menggunakan asa asetat. Skrining IVA lebih mudah dan bisa dilakukan di puskesmas yang lengkap tenaga medisnya dan terlatih. Namun, untuk hasil yang akurat lebih baik dengan pap smear.   
“Lha kalau diperiksa gitu sakit gak?” “Ya, enggak lah Bu, enak kog.”
            
Selesai, makanan dibagi. Kali ini, menunya Bakso. Ada yang dibungkus, ada yang dimakan di situ. Tradisi di Bustaman, saat ada acara PKK seperti ini, warga membawa sendiri piring atau mangkok. “Lha kog tahu, kalau menunya bakso atau malah jajan-jajan ringan biasa, kalau jajanan pasar kan gak perlu pakai wadah?” mungkin begitu dipikiran kita. Ah, tak usah membayangkan betapa ribet dan pola komunikasi yang harus menggunakan teknologi tinggi. Bengok saja, satu kampung langsung mendengar semua. Sebab, jarak antar satu rumah dan rumah lainnya benar-benar tak ada sekat. Begitu teras yang digunakan pun untuk ruang publik. Ah, betapa renyahnya melihat pola interaksi seperti ini. Orang tak perlu merogoh kocek yang mahal untuk membeli pagar besi. Sebab, di sini segalanya terbuka.
            
Aku juga menikmati satu mangkok bakso lho. Barangkali ini bakso teristimewa selama aku pernah menikmatinya. Bakso yang diramu atas cinta dan guyub warga Bustaman. Aku, anak baru yang langsung berkumpul dengan ibu PKK sudah dianggap seperti warga sendiri. Mereka begitu menerima siapa pun. “Mbak disekecaaken lho ya, adane memang gini.” Haduh, rasane gimana gitu. “Ah Bu, kulo malah ingkang ngerepotaken.” “Ah, yo ora. Anggep keluarga dewe.”
            
Di Gang ini, ada pembelajaran bermakna. Bahwa dalam ruang yang biasanya dianggap sebagai hal yang privat tak selamanya diyakini begitu. Betapa tidak, satu rumah bahkan hampir tak ada sekat-sekat kamar tidur, kamar tamu, kamar makan, kamar beribadah, kamar meditasi semua bisa memahami dan tanpa ada aturan tertulis. Misalnya, baca di sini, sudah disediakan rak, rapikan sepatu anda, cucilah gelas setelah dipakai. Warga gang ini memahami hal-hal yang fungsional bukan sekadar imitatif dan simbolik. Begitu, aku membayangkan jika di dalam rumah terjadi perselisihan pendapat pun, tetangga saling tahu. Toh, itu hal yang sangat wajar. Barangkali memahami kalau dalam ilmu psikologi, I’am Ok, your Ok, sangat penting.

Ruang Publik
Pengalaman pertama karaokenan itu saat diajak teman sewaktu ada kelas di Salatiga. Sebab suntuk bikin laporan dan laporan, mending kabur jalan-jalan. E… konco-konco somplak ngajakin ke karaoke. Sebab gratis dan tidak mau dibayar, yauda ngikut aja. Kita pada nyanyi-nyanyi lagu-lagu Pop. Lagu dangdut katane enggak zaman. Bas bus bas bus, sampek tenggorokan kering.
            
Kedua kali karaokean, aku bersama bapak-bapak di Bustaman. Lagune Dangdut, Dar. Duh Dek! Opo aku ngerti? Coba wae lah. Lha wong dulu kalau naik bus Semarang-Jepara, benar-benar sengaja tidur. Soalnya, bus Semarang-Jepara, bis yang sangat unik. Full musik dangdut. Rekaman orkes ngantenan, sunatan, 17 agustusan, kampanye, (mungkin kalau mau berangkat haji biasa nanggap orkes, iso-iso iya. Laik! Tapi, ora ding biasane cukup pengajian) disuting dari atas bawah, kanan kiri, oke.

Ah, aku tetep mau mencoba. Barangkali suaraku bagus dan kalau pun jelek, warga sini gak mungkin nyorakin lah. Aman. Sekalian tantangan dari seorang teman Amrik yang berulang tahun ke-24. Kamu juga boleh ikut lho, fans page Angela Birthday Wish, ikut ya…ya…
            
Saat seorang atau kelompok masyarakat merasa tidak bisa mengakses ruang publik yang memadai dengan berbagai alasan apapun, biasanya salah satu strateginya mereka akan bersiasat. Misalnya dengan memanfaatkan ruang privat sebagai ruang publik. Tak terkecuali di Bustaman, nyaris semua ruang menjadi ruang inklusif. Sebab tingkat kepadatan itu yang memaksa mereka untuk terus berinteraksi. Sugiono misalnya acap menggunakan rumahnya untuk karaoke dengan tetangganya. Ya, salah satu sudut ruangan yang dihias bak dikaraokean beneran. Ada kipas angina jumbo, lampu disko bangjo, TV 18 in, 2 wadah CD dangdut, 2 mikrofone. Yang beda hanya taka da peredam suara dan ruangan transparan. Plus ditonton warga sekitar.
            
Batas antara ruang privat dan publik tak ada lagi, tak hanya teras dan ruas gang, rumah juga dibuat sedemikian terbuka. Setiap sore, pasti ada warga yang karaoke di tempat Sugiono. Anak kecil, dewasa, embah-embah. “Hitung-hitung amal yo mbak. Ben warga kie seneng. Hidup ojo digawe susah. Gang ini tak namakan, gang happy. Ha-ha-ha,” tuturnya.
            
Kawan-kawan Hysteria membuat pameran tentang memorabilia sebuah gang dan pemaksimalan ruang-ruang tertentu untuk kegiatan masyarakat.



“Juk ijak ijuk ijak ijuk …….. Tarik mang….

Empat jam, aku menjadi warga Bustaman. Warga yang begitu inklusif dan ramah. Di lini-lini aktivitas warga tersebut, aku merekam senyum. Dengan adanya pameran ini, barangkali semakin menguatkan ibadah warga Bustaman. Bahwa dengan saling melempar senyum tetiba menjadi keluarga, tetiba menjadi kawan, tetiba menjadi anak. Dan rindu…..

Pamitan, pulang. Ada haru ketika harus lurus menatap jalan dan sesekali menengok gang sempit itu. Mendekat parkir bertemu seorang ibu yang berkata, “mbak suaranya cempreng… besok ke sini lagi lho, biar dilatih vokal Pak Gi….”
Damm!

DM

Pokoke Cinta.

Mencari cinta bukan perkara mudah. Ia tak sekadar bualan kata yang menye-menye. Juga, bukan sesuatu hal yang sulit dan mustahil.
            
Sebuah kampung kecil di tengah kota. Jika dari Pasar Johar, ambil arah ke pecinan. “Gang sebelum jembatan persis ya mbak, lurus, gang pertama, nah gang kedua masuk,” kata Bapak penjual jam tangan. Sebelumnya, padahal sudah membaca di google map, tapi ora mudeng. Hehe. Payah. Luweh mantep modal lambe. Ee.. lha dalah endi gange ya ya..bablas. bablas. Ia kampung Bustaman Purwadinatan, yang berada di gang yang dlesep. Cukup bertanya dua kali, langsung ketemu. Tak seperti mencari alamat-alamat sebelumnya yang minimal tiga kali tanya. Kali ini, lumayan lancar. Biasanya koneksi lamban.

Masuk gang, motor-motor terparkir rapi. “Laik, di gang seperti ini aja ditarik parkir, ah mungkin sebab ada pameran,” unek-unek dalam hati. Pikiranku sudah membayangkan layaknya di daerah kampus aja, beli nasi bungkus di warteg yang tak lebih 3 menit, “Parkir mbak, seribu. Oh…!” Ternyata, dugaan yang salah besar!

Anak-anak main kelereng di belakang jejeran motor. “Hayo siapa yang menang?” aku menggoda satu diantaranya. “Aku to ya, pinter kog setinan,” kata seorang anak. Oh iya, setinan. Ora usah sok-sok ngindonesia. Dam!
“Piye Le, setinan kog karo gendhong tas?”
“Iya to, wong nembe bali sekolah.”
Oh…atasan putih mereka dilipat di tas. Baju powerenjes yang dibuat daleman jadi baju main. Sepuluh menit kemudian, mereka lari kejar-kejaran seraya menjinjing sepatu tali. “Dhisik-dhisikan yo….”

anak-anak sedang setinan sepulang sekolah
Ini pameran pertama yang ku tonton di luar gedung yang layak. Oh iya, sekarang kan para kurator mencoba untuk hadir di tengah masyarakat. Bukan seperti alien yang tiba-tiba hadir di bumi dengan membawa kalung ajib layaknya di film india berjudul ‘PK’. Namun, keduanya sama-sama menawarkan art of life. Tempat seperti inilah tempat yang amat jauh lebih layak sebuah pameran hadir. Nyerrr-nyerran atiku.

Sembribit angin menyapu kasar hidungku saat memandangi 4 rangkaian komik. Sreng…weidyan, bau kotoran kambing. Ternyata oh ternyata, di seberang jalan ada kandang kambing yang menyatu dengan rumah. Ini lah kampung penjagalan wedhos yang terkenal seantero semarang. Baru tahu. Aku ngopo wae 4.5 tahun, Dar!

Menyusur gang demi gang. Bersapa dan saling melempar senyum. Hampir sepanjang jalan ada penjual makanan dan ciki-ciki. Gang sekecil ini yo okeh sing dodol lan sing tuku. Heran lagi. Piring, gelas, kompor, gas, bumbu-bumbu berada di teras rumah. Lha ngene iki, kalau di Sekaran wes podo ilang. Beberapa bulan lalu, warga ukm dan tetangga kampus harus mengambil gas mereka di polsek gunungpati. Duh!

Be Your Self!
Perbincanganku dengan seorang pedagang pernak-pernik ala Tionghoa mengantarkanku pada makna sebuah kode. “Nok, masuk o ke dalem WC. Ada musike,” katanya. Hah, nyaman tenan? Padahal kalau di gedung kami (yang juga mengamini pesan bijak be your self), masuk WC seringkali disambut dengan asap-asap kemeluk rokok. Walau full music juga, mp3-an. Oh, be your self tenan.
WC full music

Orkes sabun mandi ini karya karamba art. Karya ini melakukan kritik ringan terhadap banyaknya pilihan hidup yang bisa diambil. Namun, seringkali karena ketiadaan nyali spekulasi, orang terjebak pada arus kebanyakan. Orang didorong untuk berasosiasi terhadap keberanian untuk mengambil pilihan yang tak umum.
            
Memang tak mudah untuk mengambil pilihan yang tak umum, tapi begitulah hidup, akan ada waktu yang menghadapkan diri pada hal-hal yang unik. Tetap, segala keputusan ada pada diri. 

Di dalam WC tertulis be rockstar, be your self. Kata rockstar dicoret dengan tiga garis lurus. Ah, sebenarnya asa untuk menjadi rockstar tak selamanya bisa disandingkan dengan your self. Asal, cukup menjadi diri sendiri, menjadi rockstar selalu mudah jalannya, barangkali.
            
Keberanian menjadi yang tak umum pun, tak lantas semudah mengerdipkan mata. Maka, disambung lagi dengan pesan, “tetaplah tersenyum”. Kau tahu mengapa musti tersenyum? Sebab, jika di dunia ini tiada apa pun yang bisa kita lakukan untuk orang lain, senyum adalah hal yang sangat mungkin. Bukankah kalau sedang ngambek dengan pacar, salah satu ada yang berinisiatif untuk membuat pasangannya senyum. satu dua tiga, sstttt…. Cilupba, Senyum. Dan kembali lagi pada ingatan janji. Ah, senyum adalah bentuk ketulusan tertinggi yang mampu merongrong dada yang sedang sesak. Begitu, cinta soal menyelaraskan rasa dan nyata. Kalau dalam novelnya Dee, Perahu Kertas, hati tak akan bisa memilih, hati selalu dipilih. Dar, piye?

Dunia Nisa
Ini sangat berbeda dengan dunia sophie Amundsend. Menelaah dunia sophie membuat diriku berhari-hari dihantui peta-peta pemikiran orang-orang asing yang tak pernah bertemu wujudnya. Seorang gadis kecil yang menanti surat-suratnya dibalas oleh tuan filosof. Akhirnya ia pun menjadi gadis kecil yang fasih akan sejarah filsafat mulai Socrates, Aristoteles, Zaman Pencerahan, Hegel, Marx sampai Freud.
            
Sementara Annisa Rizkiana bersama anak-anak kecil usia 3-8 tahun berusaha menggali cerita tentang keseharian di sepanjang gang kampung. Ketiadaan ruang lapang untuk bermain di sekitar rumah mereka memaksa anak-anak menggunakan jalanan sebagai arena bermain. Apa saja yang dikisahkan Annisa?


Nisa 'n friend
Karya Annisa tertata apik di ruang yang orang kota menyebutnya meeting room. Namun, di sini dinamai ruang berkumpul. Kalau kata seorang temen, ia bos koplo, ora kumpul ora bolo. Kawan-kawan bisa lah berkunjung di bosdangdut.com (tak promosikke lho ya, ben eksis). Hihi. Ya, warga dan anak-anak mempergunakan ruangan ini untuk berinteraksi. Ruangan ini dibangun di atas WC umum. WC yang kata Pak Hary Bystaman dibuat oleh donatur Jerman dan Belanda pada 2005. Uang hasil pungutan setiap warga sehabis mandi dan buang air ini, lalu dibuat untuk membangunnya. Setiap warga cukup menyedekahkan 500 perak setiap mandi.
            
Tentu benar, banyak sekali anak-anak kecil. Hampir tiap rumah memiliki anak minimal 3 maksimal bisa 12. Oh, betapa strong-nya ibu-ibu. Sore itu, Selasa (10/2) beberapa anak sedang main raja-rajaan di atas dak pembuangan tinja. Satu anak duduk di kursi plastik dan kawan-kawannya menjunjung kaki-kaki kursi itu setinggi-tingginya. Mungkin orang berpikir bahwa, menjadi raja adalah menyenangkan. Namun, nyatanya anak-anak tersebut malah emoh diminta untuk duduk di atas kursi. Mereka memilih untuk mengangkatnya saja. Hampir berebut dan saling marah sebab gak ada yang mau duduk di kursi. Padahal, enak sekali. Tinggal duduk manis, anteng. Ah,keceriaan anak-anak adalah sebuah kejujuran. Menjadi Raja, tak lantas mengimaji para pelayan yang setiap saat bisa melayaninya. Ia pula, mengimaji betapa membawa awak yang banyak dan beragam memang sebuah ikhtiar yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
            
Jadi malu, melihat betapa gonjang-ganjingnya raja-raja di negeri ini yang sedang berseteru. Pucuk dari pucuknya raja yang membikin begitu gregetan banyak orang sehingga jutaan hastag muncul. Haisssh… “Nak, bermain memang asyik. Tentu, bukan lantas bermain untuk main-main bukan?”
            
Di gang ini, pada 19 Mei 2013, Eko Budihardjo tanpa embel-embel gelar merangkai sebuah doa:
Satu kata memulai doa
Satu langkah mengawali perjalananSekuntum bunga membentuk tamanSebatang pohon mencipta hutanSatu kiprah warga Bustaman
Akan mengubahNasib bangsa Indonesia
            
Eyang Kakung Hardjo mantan Rektor Undip memang telah tiada. Namun, Bunga yang ditanam di mana pun tak akan pernah tiada. Tak ada, lahir, lalu tiada. Lalu, dengan apa kita mengisi jeda diantaranya?

DM 

Surat Untuk Ibu di Suatu Nanti…..

Bu, semoga ibu sehat selalu. Aku sehat pula Bu. Ibu tak perlu bersedih ya, terima lah surat ini dengan kegembiraan. Sudah sejak lama aku ingin membuat surat untuk Ibu. Mungkin berbicara langsung sembari menggelayuti ibu adalah hal yang menyenangkan. Namun, lewat ucapan langsung terkadang ada kata yang tak terucap. Maka lewat ini ku tumpahkan. Aku rindu, benar rindu Bu.

Dulu, aku gadis kecil yang berlari-larian ke sana - ke mari. Bahkan mungkin ibu tak sempat merekam dari masa ke masa perkembanganku. Sedari kecil aku diemong Embah Warung bukan, Bu? Bagiku itu tak terlalu masalah. Foto-foto kecilku pun tak pernah ku temukan, kecuali foto di rapor sekolah dasar. Ah bu aku memahamimu. Kau Ibu yang hebat. Selain kau jago menjaga pertahanan rumah, kau pula ke sana – ke mari agar koin-koin terkumpul. Ya, menyetok es lilin dari sekolah ke sekolah. 

Maka, aku sangat senang sekali jika kau beri koin lebih untuk uang sakuku. Aku juga bisa mengambil koin sesuka hatiku. Walau koin, kau tetep mengumpulkan, menghitung, dan membelanjakannya bahan untuk esok hari. Tak jarang banyak tetangga yang menukar koin untuk tedak siti anaknya. Tapi kau selalu berpesan saat aku diundang untuk menghadiri tedak siti. “Ngroyok duite ojo nang tengah-tengah ya, Nduk. Mengko mundhak keidhak-idhak wong gedhe-gedhe. Mengko diwenehi Mae wae,” tuturnya.

Mengemudikan motor Grand biru dari sekolah satu ke sekolah lain membuat Ibu dikenal guru-guru. Walau ibu tak seorang guru, ia cukup akrab dengan guru-guru. Ibu, seorang yang ramah dan gampang akrab. Saat ada hajatan guru-guru pun ibu diundang.

Ibu, seorang yang cerdas dan cerdik. Ia selalu bisa mengontrol hal-hal yang berbau simbolik. Tak pernah sekalipun aku mendengar ingin ini dan itu. Aku tahu Bu, kau tentu ingin menjaga kondisi agar tetap sesuai dengan mimpimu. Walau, itu hanya sebuah angan seorang perempuan desa, tapi ikhtiar mu yang tiada usai itu yang membuatku haru biru. Darimu aku belajar, bagaimana menjadi seorang perempuan sebenar-benar manusia bukan sekadar perempuan. Darimu aku belajar bahwa kerjasama Ibu dan Bapak adalah untaian ikhtiar untuk saling mengisi kekosongan. Darimu aku belajar bahwa tiada manusia unggul di lain jenis kelamin. Darimu aku belajar menjadi manusia yang memilih bangkit jika dunia menumbangkanmu. Darimu aku belajar kesederhanaan dan selalu menyungging senyum. Sebab senyum tak hanya sekadar melebarkan bibir. Namun, mentransfer energi dalam diri dan orang-orang yang berada di sekeliling. Begitu kiranya, Bu.

Terkadang aku meresahkan kesehatan Ibu. Terkadang pula aku melarang Ibu untuk memilah makanan ini dan itu, untuk menggunakan ini saja daripada itu. Ah, itu semua sebab aku begitu menyayangimu, Bu. Namun, sekarang ku sadari bahwa everyone’s fine. Selagi ibu masih bisa tersenyum aku tak patut untuk meresahkan segala sesuatunya. Mengikuti ritme kehidupan ini dan selalu menjaga ikhtiar barangkali satu hal yang patut ku syukuri. Melihat kita bisa bersanding dari satu generasi ke generasi senantiasa terkucur dalam tiap doa. Ibu……
05 Mei 2015 | DM


            

Otonomi Mimpi

Hubungan orang tua-anak sering kali mengalami kendala. Baru-baru ini, seorang kawan dari sumatera memberi informasi jika ia mendapati sebuah iklan di Koran terkait pemutusan hubungan orang tua-anak. Isi iklan tersebut kiranya orang tua yang memutus hubungannya dengan anak kandungnya sebab ia sudah tidak lagi menurut. Jika terjadi suatu apa pun, orang tua tidak lagi mau tahu. “Hah, ini serius? Atau hanya sekadar asyik-asyik saja. Ternyata itu serius Dar”.

Aku tersentak dan semacam tak percaya. Dari seorang ibu-bapak yang ku kenal, aku belajar memaknai hubungan orang tua-anak. “Pak, dalam foto keluarga tersebut nampak sumringah. Dua putranya sekarang di mana?” tanyaku sembari memandangi foto per foto. Yang sulung di Bandung, yang Ragil di Jakarta. Keduanya sekarang kerja di perusahaan asing. “Wah, pas dia menerima gaji pertama kan bilang sama mamanya, mamanya kaget. “Wah dek, gaji segitu ibu dapat satu tahun lebih”. Kalau saya semua terserah anak,” terangnya sembari menyorot tajam ke bingkai foto.

Pak Tukiman selalu menekankan mimpi itu tidak bayar. Jadi, jangan sekali-kali melarang mimpi. Anak-anak dari kecil bermimpi keliling dunia. Di usia 24 tahun ini, Ragil telah lulus S2 dan sudah keliling Eropa. Dalam hal ini orang tua mesti menghargai dan mendorong mimpi anak. Walau hal tersebut dalam prediksi susah dicapai namun tak ada yang mustahil. Mendukung serta menunjukkan sikap peduli menjadi pintu pembuka anak untuk terus dan terus bermimpi. Dengan begitu orang tua-anak akan sama-sama mengerti dan memahami peran masing-masing. Sementara menunjukkan kontrol mimpi terhadap anak akan membuat anak merasa diawasi orang tua. Anak mulai rishi sebab tak ada lagi kepercayaan yang diberikan orang tua. Orang tua membatasi ekspresi, gagasan, atau bahkan menganggap hal-hal konyol.
Bermimpilah Dar….

03 Mei 2015 | DM

Memerdekakan Pikiran

Senin sore menjadi hari yang begitu menyenangkan. Bertemu dengan anak-anak dan bermain-main. Sore itu kami mengagendakan mengarsir gambar. Pensil warna, crayon, dan juga gambar telah disediakan oleh Nita. Nita, seorang yang berjiwa besar untuk senantiasa mendampingi anak-anak dalam bermain.

Sebenarnya sore itu aku ingin menebus dosa. Ya, ku katakan dosa sebab, untuk memaafkan diri sendiri, bagiku menjadi hal tersulit. Hampir satu bulan aku tak berkumpul dengan mereka. Ah, alasan sibuk ini dan itu adalah alasan klasik. Aku saja yang tak bisa membagi waktu dan kadang kalau ada waktu longgar aku berasumsi aku butuh istirahat. Oh, ini adalah kebodohanku. Mestinya aku bisa membuat route map sehari-hari yang lebih rapi lagi. Agar ini dan itu nya bisa tercover dengan baik. Aku akui sampai sekarang apa yang ku lakukan masih serampangan dan kadang melompat kembali melompat kembali tak jelas gitu.

Ya, sore ini aku posisikan usiaku seumuran dengan anak-anak. Aku juga akan mengarsir gambar layaknya mereka. Sore ini akan menjadi sore yang harus bisa membayar sore-sore kemarin yang terlewat. Ada dua pilihan untuk mewarnai, pensil warna dan crayon. Sebagian anak-anak memilih pensil warna sebab hasilnya bisa lebih rapi dan tidak terlalu tebal. Sementara aku memilih crayon. Aku sangat suka crayon. Sewaktu kecil aku tak pernah menggunakan crayon. Crayon harganya lebih mahal dari pensil warna. Juga dikampungku dulu, tak semua warung-warung kecil tetangga menjual crayon. Ya, aku terbiasa menggunakan pensil warna saja. Itu pun pensil warna yang sering bujel, sebab kayu pegangannya yang tak bagus.

Seorang mendekat dan bertanya, Agnes namanya, “Kak, apa pak pos dan motornya itu boleh diwarnai selain oranye?” “Oh, boleh sekali Nak. Kamu bisa memberi warna apapun.” Ia yang tak puas kemudian mengajukan pertanyaan lagi, “Apa ndak wagu to kak, kan warnane oranye?” “Nak, kamu bisa memberi warna sesuka hatimu. Jika kamu menginginkan warnanya pink, warnai dengan pink. Barangkali di masa depan kamu akan mempunyai usaha semacam kantor pos dan kau beri warna pink.” “Oh, bagus bagus kak. Terima kasih.”

Setelah memberi penjelasan ku pegang kembali crayon warna hijau. Ah, bosen dengan warna hijau. Dengan cepat ku ambil warna biru. Gambar kali ini aku menggunakan semua warna. Dari dua pak crayon, semua warna yang ada ku goreskan di gambar. “Kak, kenapa harus warna warni begini. Masak, blangkon warnanya cerah?” “Oh, tidak apa, Nak.” “Enggak ah, itu gak biasanya. Pakaian jawa tidak menggunakan warna-warna yang cerah dan menonjol.” “Oh iya, kamu bisa mewarnai sesuai dengan keinginanmu.”
Anak-anak saat ingin menggoreskan warna merasa bimbang. Antara ingin mewarnai sesuai dengan realita atau mereka ingin mewarnai sesuai dengan imaji mereka. Kalau mereka mewarnai sesuai imaji mereka, itu merupakan hal yang tidak wajar. Dan ia harus menjelaskan pada yang lain. Seperti halnya, Jefri yang memberi warna berlapis-lapis di gambarnya. Goresannya begitu lembut dan rapi. “Mengapa kamu beri warna seperti ini?” “Iya, karena aku sedang membayangkan lapis yang enak. He-he-he.”

Warna tak sekadar menjadi pembeda. Warna bisa melatih kreativitas seseorang. Warna pula dapat memancing imaji seseorang untuk suatu hal-hal yang di luar dugaan. Lebih baik mencoba hal-hal yang tak lumrah untuk menemu sebuah makna, daripada terus melanggengkan apa yang ada tanpa tahu arti sebenarnya. Memederkakan pikiran sangat perlu. Dimana kita tak terlalu menimbang-nimbang baik dan benar saja. Namun, selalu ada kemungkinan dan pemahaman yang baru. “Nak, ikuti sesuai yang kamu inginkan, bermimpilah……”

6 Febuari 2015 | DM

Mencari alamat

Merencanakan bangun pagi untuk mencari alamat menjadi hal yang renyah bagiku. Pagi itu, Rabu (3/4) aku akan menemui Pak Taruno salah satu anggota Dewan Pendidikan Jawa Tengah di rumahnya. Sehari sebelumnya, aku membuat janji untuk bertemu. Awalnya ia mengatakan “Wah aku banyak luar kota tuh mbak”. Ah, aku sudah biasa ketika membuat janji dengan narasumber dan jawabannya seperti itu. Aku memetakan dugaan-dugaan, pertama, ia tidak mau diwawancarai. Barangkali sebutan wartawan dari media A sudah membuat telinga narasumber tak nyaman. Ada semacam kekhawatiran-kekhawatiran akan pernyataan yang dilontarkan misalnya ketika dipublis. Lebih-lebih gaya-gaya orang pemerintahan. Mereka butuh ketika ada kegiatan dan untuk menyebarluaskan bahwa mereka berkegiatan. Namun, jika diminta konfirmasi terkait suatu hal, cepat-cepat menolak. Walau ini tidak semuanya lho.

Kedua, ia punya lawan di media tersebut. Jadi haram hukumnya namanya tercantum. Ketiga, ia benar-benar sibuk dan tak ada waktu luang untuk sekadar duduk berhadapan dengan wartawan. Aku lebih nyaman ketika berbincang dengan narasumber itu bisa saling pandang gurat wajah dan gesture tubuhnya. Di saat dia memberi penekanaan atau kelabaan saat mengungkap pernyataan itu adalah hal yang asyik dipandang. Memahami pola-pola seperti ini sedikit mengungkap asumsi mana penyataan jujur atau tidak jujur. Walau tidak bisa seketika ditarik kesimpulan. Ah kamu Dar, senangnya pada kesimpulan. Belajarlah proses demi proses yang senantiasa berkembang.

Lho, aku itu ingin belajar nulis dari yang sekelibat juga lho. Menulis dan membaca yang berat membutuhkan energi yang sebanding juga. Kali ini, aku tak terlalu berenergi Dar. Aku putuskan untuk belajar seimbang. Dalam ajaran Budha selalu mengajarkan untuk berlakulah seimbang dalam setiap lini kehidupan. Bahwa hati dan pikiran adalah padu padan yang pas untuk menemu keseimbanga. Begitu Dar, saat aku mencari alamat aku keblabasen dan lupa jalan pulang. Tapi hal yang seperti itu yang selalu akan ku rindu dan senyum orang-orang yang ku temui akan menjadi bayarannya. Aku belajar Dar, untuk mencari alamat tak perlu ragu-ragu, jika ingin belok, belok saja dan bertanya. Jika ingin lurus, lurus saja dengan mantap. Oke Dar, see you…

04 Mei 2015 | DM

Dua Biji Rambutan


Cerita masih berlanjut di rumah Pak Taruno. Kami tengah asyik berbincang. Saling tertawa lepas dan sesekali aku menyodorkan pertanyaan yang membuat ekspresi Pak Taruno berubah.

Seorang perempuan dari arah dalam rumah menyangga nampan, ia menyilakan “monggo mbak”. Dalam hati asyik pagi-pagi uda disodorin teh. Enak pula. Agaknya tidak seperti teh biasa yang ku minum dan manisnya itu dari madu. “Oh ini rejeki,” kataku dengan nada lirih dalam hati.

Suara motor dari luar membuyarkan obrolan kami. Tanpa dikomando pandangan kami langsung terarah ke luar. Ya, motor itu berparkir di halaman. Seorang lelaki sekitar usia 50 tahun yang berpeci putih dan jenggot putih panjang menyapa. Pak Taruno keluar ruangan kemudian menyilakan untuk duduk di ruang tamu. “Pak, saya mau minta maaf. Kemarin sore saya mengambil dua biji rambutan. Rambutan bapak menggoda saya ketika keliling jalan untuk mengumpulkan pot dan tanaman dari warga,” ujarnya. Di komplek perumahan itu sekelompok warga berinisiatif untuk menghijaukan lahan di tanah kosong dengan menanaminya bunga dan tanaman lain. “Oh tidak apa-apa kalau mau ambil saja. Nunggu saya ada, lha wong jarang di rumah. He-he-he. Saya juga minta maaf lho pak, jarang ikut kegiatan RT.”

Melihat dua lelaki yang saling bermaafan dengan berjabat tangan dan memegang bahu adalah pemandangan yang indah dari berbagai pemandangan yang ada. Dua orang yang meyakini kepercayaan berbeda.

Sedari awal perbincangan, Pak Taruno selalu memuji Tuhan dan seakan mengembalikan segala sesuatu pada-Nya. Persis di tembok depan kami, menempel patung Yesus serta pernak-pernik lainnya yang menempel dan tertata rapi di meja.

Dua biji rambutan telah mempertemukan dua orang yang rindu untuk bertemu dan berbincang. Ya, lewat apapun semua bisa terjadi. Bahwa ada kekuatan di luar diri manusia yang kuat. Menerawang dua senyum lelaki ini adalah senyum ketulusan yang begitu alami. Dengan senyum kekakuan akan cair. Dengan senyum orang sama-sama yakin mempunyai derajat yang sama. Dengan senyum orang akan menganggap diri sebagai kawan. Dengan senyum tersimpan kecantikan dan kegagahan yang tulus begitu adanya.


3 Mei 2015 | DM