Apa
yang menarik dari kumpulnya para eyang putri, ibu separuh baya, dan ibu muda?
Satu per satu ibu-ibu datang. Ada
yang memakai daster tanpa dandan dan ramput tak tersisir. Ada pula yang memakai
gamis, riasan tebal, dan jilbab muter-muter. Ada pula yang memakai hotpen dan
yukengsi seraya rambut berwarna-warni, mukanya nampak kileng-kileng ketika
tersorot matahari.
“Yu, iki 3. Aku, Mae, Mbak Tinah,”
tutur seorang ibu dengan nada tinggi seraya menyodorkan uang 50 ribu. “Ya,
nyoh, diitung sek.”
Gang
gedong sepuluh ini menjadi gang yang paling istimewa di kampung Bustaman. Di
lajur gang sempit ini, terdapat 12 rumah dan penghuni nyaris 140 jiwa. Dalam
satu rumah bisa 3-5 kepala keluarga. Arisan bulanan kali ini, yang selalu
diadakan di tanggal 10, bertempat di salah satu rumah di gang gedong sepuluh.
Sejak pukul 16.00 wib warga mulai berdatangan.
Dengan
membayar 13 ribu, akan ada 3 orang yang mendapat jatah undian di hari itu. 10
ribu untuk arisannya, 3 ribu untuk konsumsinya. Uang yang didapat dari arisan
tersebut, beberapa ibu-ibu mengatakan lumayan dengan adanya arisan.
Sedikit-sedikit nyentel. “Wah, nek ora ono arisan mbak, duwe duit pingine
diutik-utik (Wah kalau misal tidak ada arisan, punya uang pinginnya diambili
terus),” tutur eyang putri.
Ibu dengan usia 38 tahun yang
mempunyai 4 cucu dan 8 anak ini mengatakan arisan itu bisa mendekatkan warga.
Bisa mendapatkan guyubnya. 13 tahun lamanya ibu ini tinggal di gang gedong
sepuluh. Namun, beberapa tahun belakang ia pindah ke daerah Pekojan. Walau
sudah pindah, ibu ini masih tetap sering berkumpul dengan warga Bustaman,
bahkan ikut arisan yang hanya khusus untuk kampung Bustaman RT 1 dan 2.
Pukul 17.00 wib, acara dibuka.
Seorang ibu dengan lantang membuka acara dengan mengucap selamat dan doa.
Selanjutnya menyanyikan mars PKK. Satu diantaranya menyilakan ibu yang biasa
mengomando. “Aman dan bahagia, keluarga berencana, hidup jaya PKK, tu dua……”
![]() |
| tung-itung |
Kocok-kocok… keluar satu, “Bu A.”
Sebab tidak hadir, dimasukkan lagi dan kocok lagi. Begitu hingga berulang tiga
kali. Akhirnya muncullah nama Mbak Emi satu diantaranya. Biasa, dalam arisan ada
yang belum bayar uang kurang, jadi bahan obrolan.
Arisan tersebut bukan lantas sekadar
berpindah tempat dan saling ngerumpi. Di situ pula diinformasikan tentang Pap
Smear untuk ibu-ibu. Apalagi yang anaknya banyak. Pap
smear merupakan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi leher rahim. Ibu yang mempunyai anak banyak
beresiko terkena kanker serviks. Maka, perlu untuk merawat diri dan
memeriksakannya. Tes lain yakni dengan melakukan skrining inspeksi visual dengan asam asetat (IVA). IVA merupakan prosedur untuk mengetahui kelainan pada epitel serviks (sel yang melapisi leher rahim) dengan menggunakan asa asetat. Skrining IVA lebih mudah dan bisa dilakukan di puskesmas yang lengkap tenaga medisnya dan terlatih. Namun, untuk hasil yang akurat lebih baik dengan pap smear.
“Lha
kalau diperiksa gitu sakit gak?” “Ya, enggak lah Bu, enak kog.”
Selesai, makanan dibagi. Kali ini,
menunya Bakso. Ada yang dibungkus, ada yang dimakan di situ. Tradisi di
Bustaman, saat ada acara PKK seperti ini, warga membawa sendiri piring atau
mangkok. “Lha kog tahu, kalau menunya bakso atau malah jajan-jajan ringan
biasa, kalau jajanan pasar kan gak perlu pakai wadah?” mungkin begitu dipikiran
kita. Ah, tak usah membayangkan betapa ribet dan pola komunikasi yang harus
menggunakan teknologi tinggi. Bengok saja, satu kampung langsung mendengar
semua. Sebab, jarak antar satu rumah dan rumah lainnya benar-benar tak ada
sekat. Begitu teras yang digunakan pun untuk ruang publik. Ah, betapa renyahnya
melihat pola interaksi seperti ini. Orang tak perlu merogoh kocek yang mahal
untuk membeli pagar besi. Sebab, di sini segalanya terbuka.
Aku juga menikmati satu mangkok
bakso lho. Barangkali ini bakso teristimewa selama aku pernah menikmatinya.
Bakso yang diramu atas cinta dan guyub warga Bustaman. Aku, anak baru yang
langsung berkumpul dengan ibu PKK sudah dianggap seperti warga sendiri. Mereka
begitu menerima siapa pun. “Mbak disekecaaken lho ya, adane memang gini.”
Haduh, rasane gimana gitu. “Ah Bu, kulo malah ingkang ngerepotaken.” “Ah, yo
ora. Anggep keluarga dewe.”
Di Gang ini, ada pembelajaran
bermakna. Bahwa dalam ruang yang biasanya dianggap sebagai hal yang privat tak
selamanya diyakini begitu. Betapa tidak, satu rumah bahkan hampir tak ada
sekat-sekat kamar tidur, kamar tamu, kamar makan, kamar beribadah, kamar
meditasi semua bisa memahami dan tanpa ada aturan tertulis. Misalnya, baca di
sini, sudah disediakan rak, rapikan sepatu anda, cucilah gelas setelah dipakai.
Warga gang ini memahami hal-hal yang fungsional bukan sekadar imitatif dan
simbolik. Begitu, aku membayangkan jika di dalam rumah terjadi perselisihan
pendapat pun, tetangga saling tahu. Toh, itu hal yang sangat wajar. Barangkali
memahami kalau dalam ilmu psikologi, I’am Ok, your Ok, sangat penting.
Ruang Publik
Pengalaman pertama karaokenan itu
saat diajak teman sewaktu ada kelas di Salatiga. Sebab suntuk bikin laporan dan
laporan, mending kabur jalan-jalan. E… konco-konco somplak ngajakin ke karaoke.
Sebab gratis dan tidak mau dibayar, yauda ngikut aja. Kita pada nyanyi-nyanyi
lagu-lagu Pop. Lagu dangdut katane enggak zaman. Bas bus bas bus, sampek
tenggorokan kering.
Kedua kali karaokean, aku bersama
bapak-bapak di Bustaman. Lagune Dangdut, Dar. Duh Dek! Opo aku ngerti? Coba wae
lah. Lha wong dulu kalau naik bus Semarang-Jepara, benar-benar sengaja tidur.
Soalnya, bus Semarang-Jepara, bis yang sangat unik. Full musik dangdut. Rekaman
orkes ngantenan, sunatan, 17 agustusan, kampanye, (mungkin kalau mau berangkat
haji biasa nanggap orkes, iso-iso iya. Laik! Tapi, ora ding biasane cukup
pengajian) disuting dari atas bawah, kanan kiri, oke.
Ah,
aku tetep mau mencoba. Barangkali suaraku bagus dan kalau pun jelek, warga sini
gak mungkin nyorakin lah. Aman. Sekalian tantangan dari seorang teman Amrik
yang berulang tahun ke-24. Kamu juga boleh ikut lho, fans page Angela Birthday
Wish, ikut ya…ya…
Saat seorang atau kelompok
masyarakat merasa tidak bisa mengakses ruang publik yang memadai dengan
berbagai alasan apapun, biasanya salah satu strateginya mereka akan bersiasat.
Misalnya dengan memanfaatkan ruang privat sebagai ruang publik. Tak terkecuali
di Bustaman, nyaris semua ruang menjadi ruang inklusif. Sebab tingkat kepadatan
itu yang memaksa mereka untuk terus berinteraksi. Sugiono misalnya acap
menggunakan rumahnya untuk karaoke dengan tetangganya. Ya, salah satu sudut
ruangan yang dihias bak dikaraokean beneran. Ada kipas angina jumbo, lampu
disko bangjo, TV 18 in, 2 wadah CD dangdut, 2 mikrofone. Yang beda hanya taka
da peredam suara dan ruangan transparan. Plus ditonton warga sekitar.
Batas antara ruang privat dan publik
tak ada lagi, tak hanya teras dan ruas gang, rumah juga dibuat sedemikian
terbuka. Setiap sore, pasti ada warga yang karaoke di tempat Sugiono. Anak
kecil, dewasa, embah-embah. “Hitung-hitung amal yo mbak. Ben warga kie seneng.
Hidup ojo digawe susah. Gang ini tak namakan, gang happy. Ha-ha-ha,” tuturnya.
Kawan-kawan Hysteria membuat pameran
tentang memorabilia sebuah gang dan pemaksimalan ruang-ruang tertentu untuk
kegiatan masyarakat.
“Juk
ijak ijuk ijak ijuk …….. Tarik mang….
Empat
jam, aku menjadi warga Bustaman. Warga yang begitu inklusif dan ramah. Di
lini-lini aktivitas warga tersebut, aku merekam senyum. Dengan adanya pameran ini,
barangkali semakin menguatkan ibadah warga Bustaman. Bahwa dengan saling
melempar senyum tetiba menjadi keluarga, tetiba menjadi kawan, tetiba menjadi
anak. Dan rindu…..
Pamitan,
pulang. Ada haru ketika harus lurus menatap jalan dan sesekali menengok gang
sempit itu. Mendekat parkir bertemu seorang ibu yang berkata, “mbak suaranya
cempreng… besok ke sini lagi lho, biar dilatih vokal Pak Gi….”
Damm!
DM




