Tuesday, February 10, 2015

Entuk Guyube, Entuk Duite…

 Apa yang menarik dari kumpulnya para eyang putri, ibu separuh baya, dan ibu muda?

Satu per satu ibu-ibu datang. Ada yang memakai daster tanpa dandan dan ramput tak tersisir. Ada pula yang memakai gamis, riasan tebal, dan jilbab muter-muter. Ada pula yang memakai hotpen dan yukengsi seraya rambut berwarna-warni, mukanya nampak kileng-kileng ketika tersorot matahari.
            
peserta arisan
“Yu, iki 3. Aku, Mae, Mbak Tinah,” tutur seorang ibu dengan nada tinggi seraya menyodorkan uang 50 ribu. “Ya, nyoh, diitung sek.”

Gang gedong sepuluh ini menjadi gang yang paling istimewa di kampung Bustaman. Di lajur gang sempit ini, terdapat 12 rumah dan penghuni nyaris 140 jiwa. Dalam satu rumah bisa 3-5 kepala keluarga. Arisan bulanan kali ini, yang selalu diadakan di tanggal 10, bertempat di salah satu rumah di gang gedong sepuluh. Sejak pukul 16.00 wib warga mulai berdatangan.

Dengan membayar 13 ribu, akan ada 3 orang yang mendapat jatah undian di hari itu. 10 ribu untuk arisannya, 3 ribu untuk konsumsinya. Uang yang didapat dari arisan tersebut, beberapa ibu-ibu mengatakan lumayan dengan adanya arisan. Sedikit-sedikit nyentel. “Wah, nek ora ono arisan mbak, duwe duit pingine diutik-utik (Wah kalau misal tidak ada arisan, punya uang pinginnya diambili terus),” tutur eyang putri.

Ibu dengan usia 38 tahun yang mempunyai 4 cucu dan 8 anak ini mengatakan arisan itu bisa mendekatkan warga. Bisa mendapatkan guyubnya. 13 tahun lamanya ibu ini tinggal di gang gedong sepuluh. Namun, beberapa tahun belakang ia pindah ke daerah Pekojan. Walau sudah pindah, ibu ini masih tetap sering berkumpul dengan warga Bustaman, bahkan ikut arisan yang hanya khusus untuk kampung Bustaman RT 1 dan 2.
            
Pukul 17.00 wib, acara dibuka. Seorang ibu dengan lantang membuka acara dengan mengucap selamat dan doa. Selanjutnya menyanyikan mars PKK. Satu diantaranya menyilakan ibu yang biasa mengomando. “Aman dan bahagia, keluarga berencana, hidup jaya PKK, tu dua……”

tung-itung 
Kocok-kocok… keluar satu, “Bu A.” Sebab tidak hadir, dimasukkan lagi dan kocok lagi. Begitu hingga berulang tiga kali. Akhirnya muncullah nama Mbak Emi satu diantaranya. Biasa, dalam arisan ada yang belum bayar uang kurang, jadi bahan obrolan.
            
Arisan tersebut bukan lantas sekadar berpindah tempat dan saling ngerumpi. Di situ pula diinformasikan tentang Pap Smear untuk ibu-ibu. Apalagi yang anaknya banyak. Pap smear merupakan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi leher rahim. Ibu yang mempunyai anak banyak beresiko terkena kanker serviks. Maka, perlu untuk merawat diri dan memeriksakannya. Tes lain yakni dengan melakukan skrining inspeksi visual dengan asam asetat (IVA). IVA merupakan prosedur untuk mengetahui kelainan pada epitel serviks (sel yang melapisi leher rahim) dengan menggunakan asa asetat. Skrining IVA lebih mudah dan bisa dilakukan di puskesmas yang lengkap tenaga medisnya dan terlatih. Namun, untuk hasil yang akurat lebih baik dengan pap smear.   
“Lha kalau diperiksa gitu sakit gak?” “Ya, enggak lah Bu, enak kog.”
            
Selesai, makanan dibagi. Kali ini, menunya Bakso. Ada yang dibungkus, ada yang dimakan di situ. Tradisi di Bustaman, saat ada acara PKK seperti ini, warga membawa sendiri piring atau mangkok. “Lha kog tahu, kalau menunya bakso atau malah jajan-jajan ringan biasa, kalau jajanan pasar kan gak perlu pakai wadah?” mungkin begitu dipikiran kita. Ah, tak usah membayangkan betapa ribet dan pola komunikasi yang harus menggunakan teknologi tinggi. Bengok saja, satu kampung langsung mendengar semua. Sebab, jarak antar satu rumah dan rumah lainnya benar-benar tak ada sekat. Begitu teras yang digunakan pun untuk ruang publik. Ah, betapa renyahnya melihat pola interaksi seperti ini. Orang tak perlu merogoh kocek yang mahal untuk membeli pagar besi. Sebab, di sini segalanya terbuka.
            
Aku juga menikmati satu mangkok bakso lho. Barangkali ini bakso teristimewa selama aku pernah menikmatinya. Bakso yang diramu atas cinta dan guyub warga Bustaman. Aku, anak baru yang langsung berkumpul dengan ibu PKK sudah dianggap seperti warga sendiri. Mereka begitu menerima siapa pun. “Mbak disekecaaken lho ya, adane memang gini.” Haduh, rasane gimana gitu. “Ah Bu, kulo malah ingkang ngerepotaken.” “Ah, yo ora. Anggep keluarga dewe.”
            
Di Gang ini, ada pembelajaran bermakna. Bahwa dalam ruang yang biasanya dianggap sebagai hal yang privat tak selamanya diyakini begitu. Betapa tidak, satu rumah bahkan hampir tak ada sekat-sekat kamar tidur, kamar tamu, kamar makan, kamar beribadah, kamar meditasi semua bisa memahami dan tanpa ada aturan tertulis. Misalnya, baca di sini, sudah disediakan rak, rapikan sepatu anda, cucilah gelas setelah dipakai. Warga gang ini memahami hal-hal yang fungsional bukan sekadar imitatif dan simbolik. Begitu, aku membayangkan jika di dalam rumah terjadi perselisihan pendapat pun, tetangga saling tahu. Toh, itu hal yang sangat wajar. Barangkali memahami kalau dalam ilmu psikologi, I’am Ok, your Ok, sangat penting.

Ruang Publik
Pengalaman pertama karaokenan itu saat diajak teman sewaktu ada kelas di Salatiga. Sebab suntuk bikin laporan dan laporan, mending kabur jalan-jalan. E… konco-konco somplak ngajakin ke karaoke. Sebab gratis dan tidak mau dibayar, yauda ngikut aja. Kita pada nyanyi-nyanyi lagu-lagu Pop. Lagu dangdut katane enggak zaman. Bas bus bas bus, sampek tenggorokan kering.
            
Kedua kali karaokean, aku bersama bapak-bapak di Bustaman. Lagune Dangdut, Dar. Duh Dek! Opo aku ngerti? Coba wae lah. Lha wong dulu kalau naik bus Semarang-Jepara, benar-benar sengaja tidur. Soalnya, bus Semarang-Jepara, bis yang sangat unik. Full musik dangdut. Rekaman orkes ngantenan, sunatan, 17 agustusan, kampanye, (mungkin kalau mau berangkat haji biasa nanggap orkes, iso-iso iya. Laik! Tapi, ora ding biasane cukup pengajian) disuting dari atas bawah, kanan kiri, oke.

Ah, aku tetep mau mencoba. Barangkali suaraku bagus dan kalau pun jelek, warga sini gak mungkin nyorakin lah. Aman. Sekalian tantangan dari seorang teman Amrik yang berulang tahun ke-24. Kamu juga boleh ikut lho, fans page Angela Birthday Wish, ikut ya…ya…
            
Saat seorang atau kelompok masyarakat merasa tidak bisa mengakses ruang publik yang memadai dengan berbagai alasan apapun, biasanya salah satu strateginya mereka akan bersiasat. Misalnya dengan memanfaatkan ruang privat sebagai ruang publik. Tak terkecuali di Bustaman, nyaris semua ruang menjadi ruang inklusif. Sebab tingkat kepadatan itu yang memaksa mereka untuk terus berinteraksi. Sugiono misalnya acap menggunakan rumahnya untuk karaoke dengan tetangganya. Ya, salah satu sudut ruangan yang dihias bak dikaraokean beneran. Ada kipas angina jumbo, lampu disko bangjo, TV 18 in, 2 wadah CD dangdut, 2 mikrofone. Yang beda hanya taka da peredam suara dan ruangan transparan. Plus ditonton warga sekitar.
            
Batas antara ruang privat dan publik tak ada lagi, tak hanya teras dan ruas gang, rumah juga dibuat sedemikian terbuka. Setiap sore, pasti ada warga yang karaoke di tempat Sugiono. Anak kecil, dewasa, embah-embah. “Hitung-hitung amal yo mbak. Ben warga kie seneng. Hidup ojo digawe susah. Gang ini tak namakan, gang happy. Ha-ha-ha,” tuturnya.
            
Kawan-kawan Hysteria membuat pameran tentang memorabilia sebuah gang dan pemaksimalan ruang-ruang tertentu untuk kegiatan masyarakat.



“Juk ijak ijuk ijak ijuk …….. Tarik mang….

Empat jam, aku menjadi warga Bustaman. Warga yang begitu inklusif dan ramah. Di lini-lini aktivitas warga tersebut, aku merekam senyum. Dengan adanya pameran ini, barangkali semakin menguatkan ibadah warga Bustaman. Bahwa dengan saling melempar senyum tetiba menjadi keluarga, tetiba menjadi kawan, tetiba menjadi anak. Dan rindu…..

Pamitan, pulang. Ada haru ketika harus lurus menatap jalan dan sesekali menengok gang sempit itu. Mendekat parkir bertemu seorang ibu yang berkata, “mbak suaranya cempreng… besok ke sini lagi lho, biar dilatih vokal Pak Gi….”
Damm!

DM

0 comments: