Pagi tadi, aku bersama adekku ke kelurahan untuk mengurus
surat. Selembar surat yang baru ku sadari, aku telah menangguhkannya hampir
satu tahun ini. Aku sering lupa pada diriku sendiri, hal-hal yang penting. Ya,
beberapa hari lalu, aku baru sadar bahwa surat itu penting dan harus segera ku
urus. Aku tak bisa mengacuhkan diriku lagi. Maka, pagi-pagi aku bangun padahal
semalaman tak bisa tidur. Ya, aku nekat untuk tetap pulang. Padahal, rasa
capekku yang menumpuk belum hilang, terlebih aku mesti mengendarai motor kurang
lebih 2 jam. Hal yang ku khawatirkan saat mengendarai motor hanyalah rasa
ngantuk.
Aku bisa sambil ngantuk-ngantuk saat ngendarai motor. Makanya sering
ketonyor, kesenggol, di klakson sekencang-kencangnya, dan parahnya aku pernah nabrak
mobil di depanku. Duh…. Semua itu gegara ngantuk. Tapi, pernah ada yang bilang
padaku, “makanya kalau naik motor itu pikirane diselehke.” Duh yo yo, nek ada
tempat penitipan pikiran aku wes arep nitipke pikiranku satu hari saja. Macam daycare
gitu (tapi ketahuilah, daycare itu konstruksi pemikiran barat. Kasihan to ya,
anak-anak dititipke. Anak adalah makhluk suci, yang sering dikotori oleh
orang-orang dewasa).
Di kelurahan, aku nda ketemu kepala desanya. Eh, ada kepala
desanya deh, Bu inggi. Namun, Pak ingginya gak ada. Lhah, jur? Ya, Bu inggi
hanyalah sekadar status saja. Namun, yang melaksanakan segala sesuatu adalah
pak inggi. Pokoke jan mumet ngrasakke kepengurusan nang desaku. Mumet mumet!
Oh
iya, pak dhe ku, ia adalah anak pupon yang diminta dari saudara mbah putri,
istri pertama mbah kakungku. Sementara aku adalah generasi dari mbah putri
kedua. Masih ada generasi ketiga dari mbah putri ketiga. Mumet meneh to.
Aku diminta pak dhe untuk ke rumahnya di sore hari. Nah, pak
dheku itu kebetulan sekretaris desa yang naasnya tak cocok dengan kepala
desanya. Ya, aku datang ke rumah pak dhe. Lama sekali aku nda ke rumahnya. Mungkin
bisa tahunan. Padahal rumah kami tak jauh, hanya dipisahkan sawah-sawah, satu
rt, satu kuburan tua, satu jembatan, dan satu desa tetangga, serta satu sekolah
ibtidaiyah. Nah, di belakang sekolah ibtidaiyah itu rumah pak dheku. Mumet meneh.
Haisssh.
Aku ketemu pak dhe yang sedang membaca qur'an di ruang tamu. Ia
memang gemar melahap kajian-kajian tentang islam. Baru tahu tadi, kalau
buku-bukunya banyak bingit tentang keislaman. “Walah, itu buku-buku pak dhe
semua. Bukan bukune kakangmu,” tuturnya. Ku kira, saat aku berjalan menuju rak
buku, aku mengira itu buku kak nevri. Lelaki cakep yang sedang menempuh kuliah
di jurusan BK, sebenarnya ia tiga tahun di atasku, pernah kuliah statistic di
semarang namun tak selesai, kemudian kuliah BK di univ tetangga kabupaten dan
tadi memberi kabar, “Yeei… aku habis lebaran wisuda.” Syukurlah. Aku juga lama
kali gak ketemu dia. Rasane seneng tadi bisa ngobrol. Eh, ternyata pak dheku
itu suka ngikutin ceramah-ceramahnya Prof. Abu Suud pasa ada pengajian rutin. Dan aku juga suka dengan
tulisan-tulisannya di gayeng semarang SM. Haha. Jadi, kita tadi semacam
berkelakar-kelakar kecil. Hihi.
Aku lalu menemui mak dhe yang lagi masak di dapur belakang. Aku
suka bingit kalau di rumahnya. Kenapa coba? Rumahnya itu sebagian dari kayu
jati dengan kaca-kaca motif tua warna-warna cerah. Kaca-kaca jendela yang
kinclong, juga tadi pas di dapur aku menjumpai perkakas-perkakas tua. Yang
paling membuatku dagdegser, ketika di pojokan aku melihat semacam peti gedhe,
plus pegangan besi tua di kanan-kirinya. Pas tak buka, isinya perkakas masak. Walah
mak, ini nih yang membuatku rindu akan pasar klithian.
Hari ini, Senin (1/6)
pas nepati nisfu sya’ban. Aku baru tahu pas tetiba ibukku sama ibuk istri dari
ustadz tetangga rumah ribut pagi-pagi ke pasar untuk belanja. Soale malam nisfu
sya’ban gini mushola rame. Ada ngaji-ngaji. Sementara anak-anak muter desa
sembari menarik mobil-mobilan atau dilah impes yang dalamnya diberi lilin. Tapi,
tadi sepi. Hanya segelintir anak saja yang berparkir di depan rumahku. Tidak seramai
pas aku masih kecil. Hari yang dinanti-nantikan anak-anak untuk pamer dilah impes.
Sedih rasanya. “Mbak Ima, mbak ima, aku gak tumbas mobil-mobilan kog. Kek gitu
kan wes ora zaman. Jelek,” kata keponakanku. Duh, cah cilik lho ya, wes ora
seneng karo dolanan macam gitu. Dolanannya macam remot kontrol dan ps seabrek. Jur,
sopo sing arep nguri-nguri dolanan macam kuwi? Lemes rasane.
Oh iya, aku menemani mak dhe masak sebentar. Mungkin enak
kali, kita bisa buka puasa bersama (pas kebetulan aku, mak dhe, dan pak dhe
puasa). Tapi, aku mesti pamit sebelum magrib. Urusan surat beres, kami
berkelakar di ruang tamu. Ku biarkan adekku diceramahi pak dhe, dan sesekali
aku meledeknya. Aku berbicara mesra saja dengan kak nevri. Tentang ini dan itu.
Wes. Pamitan. Aku menemui mak dhe yang berada di belakang. “Dhe,
aku pamit riyen. Ngenjing-ngenjing mriki meleh.”
“Iya, nduk. Sing ngati-ngati ya. Sereng dolan mrene,”
tuturnya sembari mencium pipiku kanan-kiri dan memeluk erat. Kami semacam tak
ingin melepaskan pelukan itu. Aku hampir saja meleleh. Namun, aku berusaha kuat
menahannya. Juga saat berpamitan sama pak dhe, aku dirangkul dan dielus-elus
kepalaku. Aku diantar hingga teras depan.
Ya, semesta itu mempunyai jiwa. Namanya jiwa dunia. Aku memang
sedang merindukan pelukan bahkan ciuman hangat. Belakangan aku merasa buyar
dengan diriku sendiri. Aku hampir oleng. Untung aku tahu caranya untuk balik lagi,
ya dengan melempar senyum. Aku yang kemarin, membuat janji pada seorang kawan
untuk bertemu dan sekadar ingin memeluknya.
“Pokoknya, kalau aku balik ke sana, aku ingin ketemu dan
memeluk kamu.”
“Eitts, sudah mandi belum?”
“Aku jarang mandi.”
“Untukmu ada diskon tanpa mandi tak apa.”
“Yeiii…. Terima kasih bocah cerewet nan cempreng. Namun, aku sayang padamu.”
Ku rasa akan gagal. Sebab, aku merencanakannya. Hal-hal yang
ku rencanakan seringkali mesti mengalah dengan kondisi. Maka, aku sudah sangat
terbiasa untuk melepas sepah-sepah perasaan yang mesti menguap di laut lepas. Aku
berusaha melepas hal-hal di luar kebutuhan diri.
Bukan waktu yang singkat untuk sebuah pelukan dan ciuman
sehangat sesore tadi. Aku tahu, senja tadi sedang melempar senyum padaku. Sebiasanya, ia menertawaiku. Keras.
Bocah ilang di sudut kamar | 01062015


0 comments:
Post a Comment