![]() |
| Aku adalah piki. Kalau ia alien. Kalau aku 'benar gila' |
Aku mengatakan, beberapa aktivitas yang ku lakukan sebagai persimpangan
kegilaan. Aku hanya semacam ingin menuruti kehendak di luar diriku. Jika aku
menuruti kehendak diriku saja, aku bisa benar-benar gila. Aku tak kuat. Maka,
aku punya diri lain dalam diriku. Mereka kadang rukun, juga tidak. Sesuka-sukanya
saja.
Karena diri yang lain itu berada di simpang kegilaan, ia
kadang meronta untuk segera dituruti. Maka, beberapa bulan belakang saat aku ke
rumah sakit, pandanganku tak pernah lepas dari bangsal psikiatrik. Rumah sakit
sebenarnya adalah tempat yang ku benci. Aku menekankan pada diriku untuk tidak
mau ke rumah sakit, jika tidak benar-benar darurat. Ya, kalau kondisi tak
memungkinkan, diri lainlah yang menjabat tangan untuk berdamai. Aku lihat wajah
orang-orang yang katanya gila tersebut di balik jeruji.
Mengapa mereka
diperlakukan seperti tahanan? Mereka tak pernah diajak untuk berbincang sedikit
pun dengan dokter? Ku yakin, hanya diberi obat, obat, dan obat. Memberi makan
pun hanya dilewatkan sebuah celah di antar jeruji. Bagaimana mereka yakin, aku
bisa normal seperti manusia-manusia di luar jeruji tersebut? Kalau mereka
diperlakukan seperti itu, justru mereka benar tidak sadar kalau mereka berbeda
dengan manusia yang katanya normal. Lha wong teman sesamanya seperti itu. Mungkin
mereka malah mengira, orang-orang di luar yang sebenarnya gila. Mereka terlalu
sibuk dengan dirinya sendiri. “Justru, kami yang di sini yang normal. Kami bisa
bebas mengimajinasikan apapun tanpa rasa khawatir,” pikiran dalam hati mereka.
***
Sabtu kemarin, aku pun sedang berada di simpang kegilaanku. Persimpangan
adalah jarak terdekat untuk menuju kegilaan. Aku kadang berpikir, apa aku benar
sudah gila? Yah, bagaimana pun aku selalu mengontrol diriku atas diri yang lain
agar tak oleng. Tapi, pertanyaan terus mengalir.
Aku bersama teman, Sabtu (23/5) berkunjung ke kota lama. Ada
pameran barang anthik. Uwwwouww…. Nah, pas sampai di sana, pandanganku sudah
mulai jelalatan tak terkontrol. Duh, Mak. Apalagi aku datang dengan ibu-ibu
yang maniak barang antic. Bisa-bisa aku aku bergaul agak lama dikit, udah deh
gaj tahu lagi aku seperti apa. Tapi, diriku tetap menjaga atas diri yang lain. Moga-moga.
Aku berinisiatif untuk pisah saja dengan mereka. Agar aku
bisa sesuka-suka. Aku memang kurang nyaman jika pergi dengan siapa pun. Aku
merasa kikuk, krik-krik, menahan kegilaan atas diri yang lain di hadapannya.
Itu bukan lantas aku menyembunyikan atas diriku yang lain. Namun, aku lebih
menyesuaikan. Tur lagi kalau pergi bersama, itu pasti ada saja yang minta
dinilai. Beli sesuatu misalnya, “Ini bagus gak?” Aku kudu jawab piye. Lha wong
kalau aku beli sesuatu ya tinggal meyakini ini cocok buat aku apa enggak. Jika ada
pergulatan, ya aku berdebat dengan diri sendiri. Kalau sama orang, aku tidak
enak jika dia harus menunggui aku lama. Pasti mukanya nampak kelempit-lempit,
dan aku gak tega. Sumpah. Maka, aku lebih memilih ini-itu sendiri, selagi aku
bisa. Tapi, juga sering ngerepotin orang ding. Sering sekali. Ih, kog aku mendadak
kangen mas triyas ya. Biasanya kalau ada mas triyas itu, aku heboh. Mas triyas
itu super duper. Iseh wae gelem dolalan karo percil-percil sepertiku. Haha. Mas
Triyaaaasss….. Duh, semoga pembaca blogku gak ada yang kenal dia. Jaga image.
Hari gini masih jaga image? *Plaaaaak.
Kadang aku susah untuk mengatakan hal-hal jujur. Aku itu
orang yang tidak enakan tur akan menjadi orang sadis dalam satu tarikan napas. Haha.
Ketidakmampuanku untuk jujur juga bukan tanpa sebab. Ada perjalanan panjang
yang jika diurai di sini, aku isoh “mati mendadak”. Eh, sumpah itu ungkapan
spontan ketika Ibun mengajukan pertanyaan. Aku sampai mrinding. Ah tidak tidak….
Aku cukup menikmati saat ini.
Ya, aku tertarik dengan barang-barang antik. Aku sering
menyempatkan untuk sekadar nongkrong di kota lama dua minggu sekali atau satu
bulan sekali untuk lihat pasar klithian. Mengamati orang-orang yang sedang
tawar menawar adalah anugerah terindah. Duh pinter men to pak ngenyang. Aku itu
orang yang tidak bisa ngenyang. Aku kadang tak tega. Hik-hik. Apa sih bangganya
menawar harga yang hanya selisih seribu-dua ribu rupiah? Aku kadang heran. Aku jarang
menyesali hal macam begituan. Kecuali kalau di toko-toko besar, aku akan kapok
untuk kembali lagi! Namun, kalau di pasar ya sudah sih. Kalau tidak keterlaluan
amat ya aku senang-senang saja. Aku masih ingat, kala kecil aku sering ke pasar
sama mbakku untuk berbelanja. Kita boncengan naik sepeda. Membawa catatan yang
sudah disiapkan emak untuk beli ini dan itu. Dan kami selalu nongkrong di
warung bakso tahu. Uenaaak…
Cerita ini juga atas diri yang lain. Ku biarkan mengalir
saja sesuai yang ada di otakku. Ah, apa aku punya otak. Kata orang-orang yang
akrab mengenalku, mereka sering bilang aku tak punya otak? Haha. Coba, kalau
atas diriku, cerita ini bakal ada outlinenya dulu sebelum menulis. Dibuat sistematis,
diperhitungkan atas paragraph per paragraph. Gitu aja, tulisaku masih
berantuuuuuakan (bahas jepora ya. Identik alay dengan menambahkan ‘u’).
Uasyeemm.
![]() |
| Bocil yang kakean mikir kurang piknik |
Transaksi berlangsung. Sebab aku gak bisa nawar, aku
melakukan transaksi dengan haha-hihi saja. Contohnya seperti ini:
“Bang, buku ini berapa?”
“seratus”
“Yaela bang. Duitku gak cukup kalau segitu. Pas lah. Karo sopo
wae?”
“pas delapan puluh.”
“Bang bukune udah kek gini gitu kog. Semrawut, kek kamu. Eh,
maksude bukune ini lho bang. Ojo larang-larang lah.” (Karena dari dandannya ia sepertinya
anak-anak gaul, maka aku berani ngguyoni. Tindiknya entah berapa. Sepatunya itu
selutut gueh. Belum gelangnya, kalungnya, antingya. Duh bang…. Kuwi nek tak dol
pasti laku larang)
“He-eh. Uripku pancen semrawut, kog ngerti? Kuwe cah ndi? Aku
unnes.” (Lha iyo to, akhire jujur dewe malah. Nek wes ngene aku ngikuti wae. Biasane
bisa cerita puanjaang, berhenti jika ada kereta lewat. Ahaha)
“aku juga unnes.”
“Lhoh. Kenal karo cah-cah gaul ora?”
Duh bang yang kau namai gaul kepiye, akuh gak tahu. Tapi,
beberapa orang yang ku kenal tak satu pun yang kau kenal. Padahal mereka ku
kira ya udah gaul. Atau mungkin, kamu yang kelewat gaul. Embuh….
Buku gak cocok, pamitan aja wes baik-baik. Kami pun berbalas
senyum. Ya, sebab waktu itu sudah magrib. Aku bergegas untuk salat. Sebenarnya sejak
di perjalanan, aku pokoknya nanti mesti masuk stasiun. Aku pengen weruh kereta
jalan dan menyampaikan suara tetttt. Juga pengen dengar keroncong, kalau di
tawang ka nada pemain musik tradisional. Tawang itu, stasiun pertama yang
tapaki. Kepergian yang haru-biru. Halah. Aku tak bisa salat di musola dalam,
tidak diperbolehkan. Yah, penonton kecewa. Tak apalah. Setelah lari-larian dari
musala di dekat pintu masuk, aku langsung duduk di kursi tunggu. Aku buka tas,
tepatnya tas dari karung goni, ku keluarkan Intisari yang ku beli 2 hari lalu. Namun,
masih bungkusan di plastic belum diapa-apain. Yeah… temane antara membuat ngilu
dan berikhtiar tiada usai.
Ku buka doang, lalu ku tutup lagi. Aku mengamati orang-orang
yang datang. Yang menyampaikan ucapan perpisahan, senyuman, dan pelukan. Setelah
itu ku liat-liat seluruh ruangan. Lalu, ada seorang nenek yang menjawil aku
untuk tukeran tempat duduk. “Nggeh, monggo.” Aku liat ke atap, ternyata bentuk
atapnya semacam kubah. Bagus.
Nampak gagah. Aku heran kenapa banyak sekali
cicak di sana? Hanya di lengkungan bundarnya saja. Di tepi-tepinya gak ada. Cicak
tersebut juga lincah ke sana kemari. Aku masih bertanya-tanya? Oh, ku kira
kubah tersebut menjadi inti dari luasnya atap tersebut.
Sesiapapun, pasti
menginginkan untuk berdekatan dengan inti. Apalagi di inti menawarkan cahaya
yang lebih terang. Inti memang tak mudah di jamah. Sebab ia harus menyebrang
beberapa lintasan. Inti adalah tentang pemaknaan suatu perjalanan. Bukan untuk
menjabarkan definisi. Namun, lebih pada memaknai. Definisi lebih pada sesuatu
yang umum. Namun, memaknai adalah soal perjalanan personal. Perjalanan menempuh
dalam diri, kalau kata Coelho. Aku hitung jumlah cicak-cicaknya ada 30. Mereka ada
yang saling tarung, ada yang depes, ada yang menjauh ke luar.
Kepalaku pegel dangak ke atas. Aku menunduk. Persis,
laki-laki di depanku memandang dengan tatapan yang beda. Mungkin aku dikira
aneh. Benar-benar bocil. Aku tutup mata, membayangkan sesuatu, lalu berdoa. E…
lhah, ada bapak-bapak di sampingku yang sedari tadi nyanyi terus. Tarik mang…
Aku memulai membuka obrolan. Oh, iya habis tawaf. Keliling dari Jakarta,
bandung, Surabaya, Jogjakarta, semarang selama 5 hari ini. Namanya Pak Sunu (nama
yang sama seperti koordinator tempo jogja, saiki behelan rek. Aku geli dewe. Ha).
Setelah sedikit berbasa-basi, aku hanya ingin mendengar cerita. Sebab, aku
adalah orang yang haus akan cerita. Pak, aku mau cerita. Blablabla….. bisa bikinin
lagu gak pak. Hayoo, ini tantangan cepat, singkat lho. Ya bisa, tapi di sini
kan rame. “Yauda keluar aja.”
Aku mengajaknya keluar, dan sekarang duduk di kursi tunggu
yang bagian samping. Aku sengaja memilih kursi paling belakang. “Pak, aku mikir
syairnya ya. Nanti bikini notnya.”
“Siap”
Buat cepat kilat. Eh, malah bapake yang mikirnya kelamaan. Dicoba-coba,
“ah gak pas. Gak pas,”katanya. Sembari menunggu aku mengajukan pertanyaan, “Pak,
apa aku itu udah gila ya. Bertemu bapak dalam waktu singkat, terus mau aja tak
ajak pindah tempat duduk. Terus tak maintain untuk mencarikan not yang pas. Aku
gila ya pak?”
“Ah enggak.”
“Enggak, Pak. Ini benar. Aku itu benar gila. Benar-benar
gila.”
Kami saling berpandang-pandangan. Lalu, aku pamitan. Lari ke tempat semula dan mendengarkan lagu keroncong bengawan solo. #Tulisantanpaedit
Dewi Maghfi | BMP | 24052015 22:45


0 comments:
Post a Comment