Sunday, May 24, 2015

Di Simpang Kegilaanku

Aku adalah piki. Kalau ia alien. Kalau aku 'benar gila'

Aku mengatakan, beberapa aktivitas yang ku lakukan sebagai persimpangan kegilaan. Aku hanya semacam ingin menuruti kehendak di luar diriku. Jika aku menuruti kehendak diriku saja, aku bisa benar-benar gila. Aku tak kuat. Maka, aku punya diri lain dalam diriku. Mereka kadang rukun, juga tidak. Sesuka-sukanya saja.

Karena diri yang lain itu berada di simpang kegilaan, ia kadang meronta untuk segera dituruti. Maka, beberapa bulan belakang saat aku ke rumah sakit, pandanganku tak pernah lepas dari bangsal psikiatrik. Rumah sakit sebenarnya adalah tempat yang ku benci. Aku menekankan pada diriku untuk tidak mau ke rumah sakit, jika tidak benar-benar darurat. Ya, kalau kondisi tak memungkinkan, diri lainlah yang menjabat tangan untuk berdamai. Aku lihat wajah orang-orang yang katanya gila tersebut di balik jeruji. 

Mengapa mereka diperlakukan seperti tahanan? Mereka tak pernah diajak untuk berbincang sedikit pun dengan dokter? Ku yakin, hanya diberi obat, obat, dan obat. Memberi makan pun hanya dilewatkan sebuah celah di antar jeruji. Bagaimana mereka yakin, aku bisa normal seperti manusia-manusia di luar jeruji tersebut? Kalau mereka diperlakukan seperti itu, justru mereka benar tidak sadar kalau mereka berbeda dengan manusia yang katanya normal. Lha wong teman sesamanya seperti itu. Mungkin mereka malah mengira, orang-orang di luar yang sebenarnya gila. Mereka terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. “Justru, kami yang di sini yang normal. Kami bisa bebas mengimajinasikan apapun tanpa rasa khawatir,” pikiran dalam hati mereka.
***
Sabtu kemarin, aku pun sedang berada di simpang kegilaanku. Persimpangan adalah jarak terdekat untuk menuju kegilaan. Aku kadang berpikir, apa aku benar sudah gila? Yah, bagaimana pun aku selalu mengontrol diriku atas diri yang lain agar tak oleng. Tapi, pertanyaan terus mengalir.

Aku bersama teman, Sabtu (23/5) berkunjung ke kota lama. Ada pameran barang anthik. Uwwwouww…. Nah, pas sampai di sana, pandanganku sudah mulai jelalatan tak terkontrol. Duh, Mak. Apalagi aku datang dengan ibu-ibu yang maniak barang antic. Bisa-bisa aku aku bergaul agak lama dikit, udah deh gaj tahu lagi aku seperti apa. Tapi, diriku tetap menjaga atas diri yang lain. Moga-moga.

Aku berinisiatif untuk pisah saja dengan mereka. Agar aku bisa sesuka-suka. Aku memang kurang nyaman jika pergi dengan siapa pun. Aku merasa kikuk, krik-krik, menahan kegilaan atas diri yang lain di hadapannya. Itu bukan lantas aku menyembunyikan atas diriku yang lain. Namun, aku lebih menyesuaikan. Tur lagi kalau pergi bersama, itu pasti ada saja yang minta dinilai. Beli sesuatu misalnya, “Ini bagus gak?” Aku kudu jawab piye. Lha wong kalau aku beli sesuatu ya tinggal meyakini ini cocok buat aku apa enggak. Jika ada pergulatan, ya aku berdebat dengan diri sendiri. Kalau sama orang, aku tidak enak jika dia harus menunggui aku lama. Pasti mukanya nampak kelempit-lempit, dan aku gak tega. Sumpah. Maka, aku lebih memilih ini-itu sendiri, selagi aku bisa. Tapi, juga sering ngerepotin orang ding. Sering sekali. Ih, kog aku mendadak kangen mas triyas ya. Biasanya kalau ada mas triyas itu, aku heboh. Mas triyas itu super duper. Iseh wae gelem dolalan karo percil-percil sepertiku. Haha. Mas Triyaaaasss….. Duh, semoga pembaca blogku gak ada yang kenal dia. Jaga image. Hari gini masih jaga image? *Plaaaaak.

Kadang aku susah untuk mengatakan hal-hal jujur. Aku itu orang yang tidak enakan tur akan menjadi orang sadis dalam satu tarikan napas. Haha. Ketidakmampuanku untuk jujur juga bukan tanpa sebab. Ada perjalanan panjang yang jika diurai di sini, aku isoh “mati mendadak”. Eh, sumpah itu ungkapan spontan ketika Ibun mengajukan pertanyaan. Aku sampai mrinding. Ah tidak tidak…. Aku cukup menikmati saat ini.

Ya, aku tertarik dengan barang-barang antik. Aku sering menyempatkan untuk sekadar nongkrong di kota lama dua minggu sekali atau satu bulan sekali untuk lihat pasar klithian. Mengamati orang-orang yang sedang tawar menawar adalah anugerah terindah. Duh pinter men to pak ngenyang. Aku itu orang yang tidak bisa ngenyang. Aku kadang tak tega. Hik-hik. Apa sih bangganya menawar harga yang hanya selisih seribu-dua ribu rupiah? Aku kadang heran. Aku jarang menyesali hal macam begituan. Kecuali kalau di toko-toko besar, aku akan kapok untuk kembali lagi! Namun, kalau di pasar ya sudah sih. Kalau tidak keterlaluan amat ya aku senang-senang saja. Aku masih ingat, kala kecil aku sering ke pasar sama mbakku untuk berbelanja. Kita boncengan naik sepeda. Membawa catatan yang sudah disiapkan emak untuk beli ini dan itu. Dan kami selalu nongkrong di warung bakso tahu. Uenaaak…

Cerita ini juga atas diri yang lain. Ku biarkan mengalir saja sesuai yang ada di otakku. Ah, apa aku punya otak. Kata orang-orang yang akrab mengenalku, mereka sering bilang aku tak punya otak? Haha. Coba, kalau atas diriku, cerita ini bakal ada outlinenya dulu sebelum menulis. Dibuat sistematis, diperhitungkan atas paragraph per paragraph. Gitu aja, tulisaku masih berantuuuuuakan (bahas jepora ya. Identik alay dengan menambahkan ‘u’). Uasyeemm.


Bocil yang kakean mikir kurang piknik
Di pameran tersebut aku sedang melakukan transaksi dengan penjual buku lawas. Sebab, hanya buku lawaslah yang kuat ku tawar. Yang lainnya bikin ngiler aja. Selangit harganya. Makane di situ aku merasa sedih, jika ada barang yang dijual yang dulu aku pernah punya atau mbahku pernah punya. Namun, sekarang sudah hilang entah kemana. Atau sudah pernah ku rongsokan. Kali ini aku benar-benar sedih. Nangis darah. Duh, saiki kalau punya apa-apa jangan pada dibuang dulu ya, salkasalwang (asal suka dan asal buang) duh kelakuane sopo kuwi? Tiada suatu pun tanpa nilai. Semakin lama, semakin nilainya tinggi. Siapa kira?

Transaksi berlangsung. Sebab aku gak bisa nawar, aku melakukan transaksi dengan haha-hihi saja. Contohnya seperti ini:
“Bang, buku ini berapa?”
“seratus”
“Yaela bang. Duitku gak cukup kalau segitu. Pas lah. Karo sopo wae?”
“pas delapan puluh.”
“Bang bukune udah kek gini gitu kog. Semrawut, kek kamu. Eh, maksude bukune ini lho bang. Ojo larang-larang lah.” (Karena dari dandannya ia sepertinya anak-anak gaul, maka aku berani ngguyoni. Tindiknya entah berapa. Sepatunya itu selutut gueh. Belum gelangnya, kalungnya, antingya. Duh bang…. Kuwi nek tak dol pasti laku larang)
“He-eh. Uripku pancen semrawut, kog ngerti? Kuwe cah ndi? Aku unnes.” (Lha iyo to, akhire jujur dewe malah. Nek wes ngene aku ngikuti wae. Biasane bisa cerita puanjaang, berhenti jika ada kereta lewat. Ahaha)
“aku juga unnes.”
“Lhoh. Kenal karo cah-cah gaul ora?”

Duh bang yang kau namai gaul kepiye, akuh gak tahu. Tapi, beberapa orang yang ku kenal tak satu pun yang kau kenal. Padahal mereka ku kira ya udah gaul. Atau mungkin, kamu yang kelewat gaul. Embuh….

Buku gak cocok, pamitan aja wes baik-baik. Kami pun berbalas senyum. Ya, sebab waktu itu sudah magrib. Aku bergegas untuk salat. Sebenarnya sejak di perjalanan, aku pokoknya nanti mesti masuk stasiun. Aku pengen weruh kereta jalan dan menyampaikan suara tetttt. Juga pengen dengar keroncong, kalau di tawang ka nada pemain musik tradisional. Tawang itu, stasiun pertama yang tapaki. Kepergian yang haru-biru. Halah. Aku tak bisa salat di musola dalam, tidak diperbolehkan. Yah, penonton kecewa. Tak apalah. Setelah lari-larian dari musala di dekat pintu masuk, aku langsung duduk di kursi tunggu. Aku buka tas, tepatnya tas dari karung goni, ku keluarkan Intisari yang ku beli 2 hari lalu. Namun, masih bungkusan di plastic belum diapa-apain. Yeah… temane antara membuat ngilu dan berikhtiar tiada usai.

Ku buka doang, lalu ku tutup lagi. Aku mengamati orang-orang yang datang. Yang menyampaikan ucapan perpisahan, senyuman, dan pelukan. Setelah itu ku liat-liat seluruh ruangan. Lalu, ada seorang nenek yang menjawil aku untuk tukeran tempat duduk. “Nggeh, monggo.” Aku liat ke atap, ternyata bentuk atapnya semacam kubah. Bagus. 

Nampak gagah. Aku heran kenapa banyak sekali cicak di sana? Hanya di lengkungan bundarnya saja. Di tepi-tepinya gak ada. Cicak tersebut juga lincah ke sana kemari. Aku masih bertanya-tanya? Oh, ku kira kubah tersebut menjadi inti dari luasnya atap tersebut. 

Sesiapapun, pasti menginginkan untuk berdekatan dengan inti. Apalagi di inti menawarkan cahaya yang lebih terang. Inti memang tak mudah di jamah. Sebab ia harus menyebrang beberapa lintasan. Inti adalah tentang pemaknaan suatu perjalanan. Bukan untuk menjabarkan definisi. Namun, lebih pada memaknai. Definisi lebih pada sesuatu yang umum. Namun, memaknai adalah soal perjalanan personal. Perjalanan menempuh dalam diri, kalau kata Coelho. Aku hitung jumlah cicak-cicaknya ada 30. Mereka ada yang saling tarung, ada yang depes, ada yang menjauh ke luar.

Kepalaku pegel dangak ke atas. Aku menunduk. Persis, laki-laki di depanku memandang dengan tatapan yang beda. Mungkin aku dikira aneh. Benar-benar bocil. Aku tutup mata, membayangkan sesuatu, lalu berdoa. E… lhah, ada bapak-bapak di sampingku yang sedari tadi nyanyi terus. Tarik mang… Aku memulai membuka obrolan. Oh, iya habis tawaf. Keliling dari Jakarta, bandung, Surabaya, Jogjakarta, semarang selama 5 hari ini. Namanya Pak Sunu (nama yang sama seperti koordinator tempo jogja, saiki behelan rek. Aku geli dewe. Ha). Setelah sedikit berbasa-basi, aku hanya ingin mendengar cerita. Sebab, aku adalah orang yang haus akan cerita. Pak, aku mau cerita. Blablabla….. bisa bikinin lagu gak pak. Hayoo, ini tantangan cepat, singkat lho. Ya bisa, tapi di sini kan rame. “Yauda keluar aja.”

Aku mengajaknya keluar, dan sekarang duduk di kursi tunggu yang bagian samping. Aku sengaja memilih kursi paling belakang. “Pak, aku mikir syairnya ya. Nanti bikini notnya.”
“Siap”

Buat cepat kilat. Eh, malah bapake yang mikirnya kelamaan. Dicoba-coba, “ah gak pas. Gak pas,”katanya. Sembari menunggu aku mengajukan pertanyaan, “Pak, apa aku itu udah gila ya. Bertemu bapak dalam waktu singkat, terus mau aja tak ajak pindah tempat duduk. Terus tak maintain untuk mencarikan not yang pas. Aku gila ya pak?”
“Ah enggak.”
“Enggak, Pak. Ini benar. Aku itu benar gila. Benar-benar gila.”

Kami saling berpandang-pandangan. Lalu, aku pamitan. Lari ke tempat semula dan mendengarkan lagu keroncong bengawan solo. #Tulisantanpaedit


Dewi Maghfi | BMP | 24052015 22:45

0 comments: