Friday, May 15, 2015

Pensil


Berawal dari menulis artikel di rubrik pernik majalah merah putih. Rubrik ini yang seringkali mengurungkan diri untuk tidak menulis segera. Sebab, di rubrik ini mesti tampil segar, walau pikiranku sedang kacau. Namun, kadang juga gagal, sebab mood yang tidak baik. Aku, terlalu!

Tik tak tik tok…. Di depan laptop. Mau nulis apa tidak ada ide. Tetiba aku buka desgrip kalau semasa kecilku namanya lopak-lopak, wadah perkakas menulis. Lho, mengapa aku tak punya pensil? Padahal bagaimana pun keadaannya aku selalu punya pensil bahkan hingga beberapa cadangan. Sering pula beli sering pula hilangnya. Itu lah keanehan dari perkakas menulisku. Sering pula nambah banyak padahal tidak beli. Entah…

Pensil membawaku pada sebuah ingatan. Ya, bagaimana aku dulu kog bisa menulis? Siapa yang mengajari? Siapa yang menuntun jariku untuk menggoreskan sebuah tulisan? Bagaimana karakter tulisanku pertama kali? Mengingat hal tersebut, lagi-lagi aku ditumpaskan akan dua sisi yang mengilukan juga menyenangkan. Aku senang, aku diingatkan akan kenangan fase berprosesku awal sekali. Aku senyum-senyum kecil tersendiri. Aku teringat gulu kelas 1 SD yakni Bu Anik. Aku teringat, aku sangat kecil untuk masuk sekolah dasar yakni 5 tahun –hampir saja tidak dinaikkan kelas, namun aku malah juara, yeii. Aku ingat betapa semangatnya diriku untuk bangun pagi, memakai seragam, dan berjalan menuju sekolah. Pulang pun jalan kaki. Setiap kali diterangkan di kelas, setiba di rumah langsung ku ulas. Aku termasuk cukup cerdas menangkap materi. Makanya sampai sekarang aku menanggung beban ‘pintar’ dari tetangga-tetangga. Kadang aku menyesali itu, sebab pintar tak sekadar seperti itu. Betapa aku berpikir stigma seperti itu sungguh mengerikan. Bagaimana teman-temanku yang mendapat stigma ‘bodoh’. Ku kira sampai kapanpun ia akan mengurung diri, bahwa ia tidak mempunyai kemampuan lain. Dan itu kekerasan verbal yang dahsyat sekali tanpa disadari! Arrghh.

Orang-orang kadang membuatku malas untuk bergaul ‘lebih dalam’ sebab hal-hal macam begitu yang keluar tanpa permenungan. Aku tak gampang bahkan tak bisa bercerita sebab betapa pun yang aku ceritakan, perjalananku sangat personal. Hal-hal yang diucap manusia hanyalah seperti gunung es kalau istilah fenomena penyakit dalam kesehatan masyarakat. Yang nampak hanyalah di permukaan saja, padahal jauh di dalamnya ia mengakar sampai entah kemana tak tahu. Begitu dalam dan membutuhkan perjalanan untuk mengakrabinya. Namun, bukan berarti bermasyarakat adalah menjijikkan. Tidak! Ruang sosial adalah ruang pertemuan manusia dengan dirinya. Di sana ia belajar melucuti diri melalui diri yang lain. Merekam cerita diri lain untuk merefleksi diri sendiri. Begitu, bagiku kawan atau partner adalah saling menjaga senyum. Sebab senyum adalah ikhtiar yang tanpa aturan tersepakati namun kita mencoba untuk terus menebar senyum. Ada ruang penghubung yang saling menjaga diri tanpa harus sering bertemu, tanpa harus ada obrolan, tanpa memberi kabar, tanpa menebak-nebak apa yang sedang terjadi, tanpa benci atau suka –biasa saja, satu hal yang tanpa yakni ‘yakin.’

Hal yang mengilukan yakni, kenangan bahwa goresan-goresan yang menuntunku hingga sampai sekarang musnah. Ya, banjir di Januari 2014 kemarin meluluhlantahkan semua yang ada di dalam rumah. Termasuk buku-buku masa kecilku. Sebuah kenangan. Itu sungguh menyakitkan, namun aku harus melepaskan. Tiada guna aku merapi sebuah perstiwa, toh aku pernah tumbuh bersama kenangan itu. Aku diajarkan banyak hal. Juga aku masih diberi ingatan untuk mengenangnya. Jika ‘simbol-simbol’ kenangan itu mesti dimusnahkan, juga semua itu akan kembali pada semesta. Aku hanya bagian kecil dari semesta. Aku berdaya guna sekaligus tak ada apa-apanya di depan semesta. Lagi lagi semesta mengajariku untuk melepaskan. Lepass.

Ya, pensil. Sebenarnya aku lebih nyaman menggunakan pensil daripada bolpoin. Aku masih ingat, fase belajar menulisku menggunakan pensil. Aku bangga waktu itu, bisa meraut pensil dengan silet atau pisau. Aku tak terlalu mengandalkan rautan, bahkan rautan sering membuat kecewa sebab sering bujel. Aku sangat senang, jika hasil ngerautku dengan silet bisa rapi seperti hasil dari ngeraut pake alat. Aku bahkan berlomba bagus-bagussan sama mbakku. Ya, pensil. Butuh waktu bagiku untuk berpindah menggunakan bolpoin. Dengan pensil aku bisa semauku untuk menggoreskan apapun. Sebab, aku bisa menghapusnya kapan pun. Juga, ketika aku mengotori kertas dengan pensil, aku masih punya harapan untuk membuat kertas bersih lagi.

Bolpoin bagiku, menuntun kehati-hatian yang justru memberikan dampak ingin tampil baik dan takut salah. Sebab, jika salah tulisan nampak tak rapi dan kacau. Makanya aku selalu malas untuk membeli tip-ex. Jika salah dan itu masih bisa diatasi ya sudah, coret aja. Juga aku tak suka ngurek-ngurek hingga tak terlihat kesalahannya. Biar. Persepsi bahwa “bolpoin itu hanya untuk orang dewasa,” kata ibukku. Hal tersebut seringkali yang membuatku berpikir, apa aku sudah terlalu cukup dewasa sehingga aku memilih menggunakan bolpoin. Ku kira, bolpoin hanyalah kebiasaan yang diciptakan oleh orang-orang yang mengaku dewasa. Sehingga, ia harus beda dengan anak-anak. Bolpoin memberikan keeleganan di tiap rangkaian hurufnya, namun ia tak pernah mengerti bahwa bolpoin telah menggiring pemikiran instanisasi. Siapa yang tidak berpikir bahwa menggunakan pensil hanya untuk main-main, hanya boleh dilakukan oleh anak-anak saja. Hanya boleh digunakan untuk mencorat-coret spj sebelum fiks.


Orang-orang yang pangkatnya sundul langit, tentu akan memilih bolpoin sesuai pangkatnya. Bisa jadi satu bolpoin menembus jutaan. Apa itu tidak berlebihan? Bolpoin dijadikan sebagai gengsi semata. Bahkan, dari bolpoin itu pikiran manusia sengaja diluluhlantahkan oleh industrialisasi. Betapa manusia sering menyekat-nyekat kaum-kaumnya. Maka tak heran, bolpoin pun diciptakan atas kasta. Bolpoin biasa, bolpoin boxer, bolpoin dengan paruh meliuk atau lurus, bahkan bolpoin emas. Orang jika mau tandatangan, akan memilih bolpoin dengan kasta tinggi. Dan mana ada, orang yang percaya dengan tandatangan menggunakan pensil. Begitulah, sebenarnya pemikiran manusia individual dikalahkan oleh massa. Person semakin malas untuk meluangkan waktu dalam kesunyian berpikir untuk dirinya sendiri. Lebih sering person terlena dengan massa. Ah, apakah aku saja yang aneh, hingga berpikir hal-hal macam ini? Mungkin, pensil sangatlah remeh temeh. Namun, tidak bagiku. Pensil memberikan kekuatan bagiku bagaimana hal-hal yang nampak jelek dipandang dan usang adalah titik awal untuk tetap melanjutkan perjalanan. Ia memberi semangat untuk terus menggoreskan apapun, tanpa takut salah, sebab ada kompromi-kompromi untuk menghapusnya.

Pensil mempunyai keteladanan-keteladanan diantaranya, Pertama, pensil dapat menjadi pengingat kalau kita bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Yakni, mengingatkan bahwa seperti sebuah pensil ketika menulis, kita tidak boleh lupa bahwa ada tangan yang selalu membimbing langkah kita dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan."

Kedua, saat proses menulis, kita kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil. Rautan itu seakan membuat si pensil menderita. Tetapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kehidupan manusia. Kita harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, termasuk berbagai ujian dan tantangan, karena itu semua yang akan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik dan berkualitas.

Ketiga, pensil memberikan kita kesempatan untuk menggunakan penghapus sebagai upaya memperbaiki kesalahan. Oleh karena itu, memperbaiki kesalahan dalam hidup ini bukanlah hal yang jelek atau buruk. Keempat, bagian yang paling bermanfaat pada pensil bukan bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalamnya. Begitu pula dengan kita. Karenanya, kita harus selalu memupuk hal-hal baik yang ada di dalam diri kita dengan terus meningkatkan kualitas dalam diri.

Kelima, perlu kita sadari jika pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga manusia, kita harus selalu sadar dan waspada karena apa pun yang kita perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan dan goresan. Maka berhati-hatilah dalam berpikir, berucap, dan bertindak. Sehingga, goresan yang kita tinggalkan akan menjadi guratan yang memberi manfaat bagi diri dan orang lain. Menempuh perjalanan untuk mencari kedirian memang akan terus mengingat luka-luka lama. Atau justru menambah luka baru. Namun, tiada mungkin semesta membiarkan proses yang berjalan begitu saja. Kalau dalam bukunya Paulho, Sang Alkemis, semesta memiliki jiwa, ya keterhubungan antar jiwa manusia dan semesta.

Setelah dari redaksi aku langsung tancap gas membeli perkakas menulis. Pensil to ya salah satunya. Aku senyam-senyum sendiri di toko tersebut. Lumayan lengkap untuk mengawali koleksiku. Ya, aku berencana mengoleksi perkakas sekolah masa kecilku dulu (yang jadul-jadul, oke banget). Tadi sudah ku dapat, pensil isi ulang, desgrip besi, agenda pramuka (lengkap nyanyian-nyanyian, semapor, dll –padahal aku tidak suka pramuka. Haha), penghapus bergambar negara-negara (Duh, aku cari yang Indonesia gak ada, walhasil keknya yang ku beli bendera Australia kalau gak salah. Haha), buku tabungan, kertas surat lucu, buku gambar, buku catatan, rautan yang belakangnya ada kacanya (sukanya buat nginjen cowok-cowok ganjen dulu. Haha) belum nemu? pensil yang atasnya ada penghapusnya kecil masih belum nemu? catatan paribahasa terus unen-unen bahasa jawa yang dicetak di kertas karton bangjo masih ada yang jual gak ya? Penghapus yang gambarnya raja-raja terus bagian atasnya warna ijo belum nemu juga? Oh iya, buku latin? Aku sangat suka nulis di buku latin, tegak bersambung. Makanya tulisanku kek bolah ruwet sebab berawal dari situ, dulu cita-citane jadi guru SD. Tapi jur salah kedaden, tulisan dokter ora memper, tulisan cah kesehatan masyarakat ora ono sing isoh moco. Lha jur tulisanku? Tulisane bocil (bocah ilang).

Sore tadi aku seperti bocil di toko alat tulis. Sampek-sampek ada mas-mas tua yang ngeledekin aku, “Mbak ke sini sendiri?”
“Iya”
“Beneran sendiri, gak ada temen? Lha itu siapa?”
“Iya, sendiri. Gak tahu itu siapa” (dalam hati, nih orang berarti ngeliatin akuh sedari tadi. Geje banget. Atau memang akuh yang geje ya?)
“Ngapain milih-milih pensil warna?”
“Ya, buat gambar.”
“Mbaknya yang mau gambar?”
“Iya.” Siapa lagi coba (lanjut dalam hati. Mungkin aku dikira masa kecil tak bahagia. Jadi wong gede kakehan petingkah. Urusan akuh dong. Siapa loe? Haha)
“Milih-milih penghapus kog sampe begitunya?”
“Iya, aku milih yang jadul. Agar gak mainstream. Susah nyarinya.” (Mau bantuin enggak, kepo amat? Wes berbunga-bunga milih-milih, diributin banyak pertanyaan)

Aku milih yang lain, dia buntutin terus. Haduh nih orang mau ngapain aku? Mau jambret? Senyam-senyum dan curi-curi pandang? Kek pilem-pilem india, berseberangan milih di rak terus muncul bunga-bunga. Tasku aja gak ada duit, milih ini-itu aja sambil ngitung habis berapa? (sebab gak mau terulang, di kasir ngembaliin barang gegara uangnya gak cukup. Aku ki pancen koplak plus ceroboh –kata dosen pengujiku dulu. Yaela inget lagi. Haha.) Yauda tak lama-lamain aja milih-milihnya, betah gak dia. Orang dia aja keknya datang sendiri, mana istrinya mana pacarnya gak ada? Klunta-kluntu sendiri, kog sok-sokan ngeledekin aku. Atau dia mau nodong aku pas di parkiran, “Mbak nomor telponnya berapa? Haha”

Bocil –bocah ilang, Ada Siliwangi | 15/5/2015


1 comments:

M. Rifan Fajrin said...

Aku punya benda-benda tsb waktu SD, bahkan aku koleksi! Hihihi.