Berawal dari menulis artikel di rubrik pernik
majalah merah putih. Rubrik ini yang seringkali mengurungkan diri untuk tidak
menulis segera. Sebab, di rubrik ini mesti tampil segar, walau pikiranku sedang
kacau. Namun, kadang juga gagal, sebab mood
yang tidak baik. Aku, terlalu!
Tik tak tik tok…. Di depan laptop. Mau nulis
apa tidak ada ide. Tetiba aku buka desgrip kalau semasa kecilku namanya lopak-lopak, wadah perkakas menulis. Lho,
mengapa aku tak punya pensil? Padahal bagaimana pun keadaannya aku selalu punya
pensil bahkan hingga beberapa cadangan. Sering pula beli sering pula hilangnya.
Itu lah keanehan dari perkakas menulisku. Sering pula nambah banyak padahal
tidak beli. Entah…
Pensil membawaku pada sebuah ingatan. Ya,
bagaimana aku dulu kog bisa menulis? Siapa yang mengajari? Siapa yang menuntun
jariku untuk menggoreskan sebuah tulisan? Bagaimana karakter tulisanku pertama
kali? Mengingat hal tersebut, lagi-lagi aku ditumpaskan akan dua sisi yang
mengilukan juga menyenangkan. Aku senang, aku diingatkan akan kenangan fase
berprosesku awal sekali. Aku senyum-senyum kecil tersendiri. Aku teringat gulu
kelas 1 SD yakni Bu Anik. Aku teringat, aku sangat kecil untuk masuk sekolah
dasar yakni 5 tahun –hampir saja tidak dinaikkan kelas, namun aku malah juara,
yeii. Aku ingat betapa semangatnya diriku untuk bangun pagi, memakai seragam,
dan berjalan menuju sekolah. Pulang pun jalan kaki. Setiap kali diterangkan di
kelas, setiba di rumah langsung ku ulas. Aku termasuk cukup cerdas menangkap
materi. Makanya sampai sekarang aku menanggung beban ‘pintar’ dari tetangga-tetangga.
Kadang aku menyesali itu, sebab pintar tak sekadar seperti itu. Betapa aku
berpikir stigma seperti itu sungguh mengerikan. Bagaimana teman-temanku yang
mendapat stigma ‘bodoh’. Ku kira sampai kapanpun ia akan mengurung diri, bahwa
ia tidak mempunyai kemampuan lain. Dan itu kekerasan verbal yang dahsyat sekali
tanpa disadari! Arrghh.
Orang-orang kadang membuatku malas untuk
bergaul ‘lebih dalam’ sebab hal-hal macam begitu yang keluar tanpa permenungan.
Aku tak gampang bahkan tak bisa bercerita sebab betapa pun yang aku ceritakan,
perjalananku sangat personal. Hal-hal yang diucap manusia hanyalah seperti
gunung es kalau istilah fenomena penyakit dalam kesehatan masyarakat. Yang nampak
hanyalah di permukaan saja, padahal jauh di dalamnya ia mengakar sampai entah
kemana tak tahu. Begitu dalam dan membutuhkan perjalanan untuk mengakrabinya. Namun,
bukan berarti bermasyarakat adalah menjijikkan. Tidak! Ruang sosial adalah
ruang pertemuan manusia dengan dirinya. Di sana ia belajar melucuti diri
melalui diri yang lain. Merekam cerita diri lain untuk merefleksi diri sendiri.
Begitu, bagiku kawan atau partner adalah saling menjaga senyum. Sebab senyum
adalah ikhtiar yang tanpa aturan tersepakati namun kita mencoba untuk terus menebar
senyum. Ada ruang penghubung yang saling menjaga diri tanpa harus sering
bertemu, tanpa harus ada obrolan, tanpa memberi kabar, tanpa menebak-nebak apa
yang sedang terjadi, tanpa benci atau suka –biasa saja, satu hal yang tanpa
yakni ‘yakin.’
Hal yang mengilukan yakni, kenangan bahwa
goresan-goresan yang menuntunku hingga sampai sekarang musnah. Ya, banjir di Januari
2014 kemarin meluluhlantahkan semua yang ada di dalam rumah. Termasuk buku-buku
masa kecilku. Sebuah kenangan. Itu sungguh menyakitkan, namun aku harus
melepaskan. Tiada guna aku merapi sebuah perstiwa, toh aku pernah tumbuh
bersama kenangan itu. Aku diajarkan banyak hal. Juga aku masih diberi ingatan
untuk mengenangnya. Jika ‘simbol-simbol’ kenangan itu mesti dimusnahkan, juga
semua itu akan kembali pada semesta. Aku hanya bagian kecil dari semesta. Aku
berdaya guna sekaligus tak ada apa-apanya di depan semesta. Lagi lagi semesta
mengajariku untuk melepaskan. Lepass.
Ya, pensil. Sebenarnya aku lebih nyaman
menggunakan pensil daripada bolpoin. Aku masih ingat, fase belajar menulisku
menggunakan pensil. Aku bangga waktu itu, bisa meraut pensil dengan silet atau
pisau. Aku tak terlalu mengandalkan rautan, bahkan rautan sering membuat kecewa
sebab sering bujel. Aku sangat senang, jika hasil ngerautku dengan silet bisa
rapi seperti hasil dari ngeraut pake alat. Aku bahkan berlomba bagus-bagussan
sama mbakku. Ya, pensil. Butuh waktu bagiku untuk berpindah menggunakan bolpoin.
Dengan pensil aku bisa semauku untuk menggoreskan apapun. Sebab, aku bisa
menghapusnya kapan pun. Juga, ketika aku mengotori kertas dengan pensil, aku
masih punya harapan untuk membuat kertas bersih lagi.
Bolpoin bagiku, menuntun kehati-hatian yang
justru memberikan dampak ingin tampil baik dan takut salah. Sebab, jika salah
tulisan nampak tak rapi dan kacau. Makanya aku selalu malas untuk membeli
tip-ex. Jika salah dan itu masih bisa diatasi ya sudah, coret aja. Juga aku tak
suka ngurek-ngurek hingga tak terlihat kesalahannya. Biar. Persepsi bahwa “bolpoin
itu hanya untuk orang dewasa,” kata ibukku. Hal tersebut seringkali yang
membuatku berpikir, apa aku sudah terlalu cukup dewasa sehingga aku memilih
menggunakan bolpoin. Ku kira, bolpoin hanyalah kebiasaan yang diciptakan oleh
orang-orang yang mengaku dewasa. Sehingga, ia harus beda dengan anak-anak. Bolpoin
memberikan keeleganan di tiap rangkaian hurufnya, namun ia tak pernah mengerti
bahwa bolpoin telah menggiring pemikiran instanisasi. Siapa yang tidak berpikir
bahwa menggunakan pensil hanya untuk main-main, hanya boleh dilakukan oleh
anak-anak saja. Hanya boleh digunakan untuk mencorat-coret spj sebelum fiks.
Orang-orang yang pangkatnya sundul langit,
tentu akan memilih bolpoin sesuai pangkatnya. Bisa jadi satu bolpoin menembus
jutaan. Apa itu tidak berlebihan? Bolpoin dijadikan sebagai gengsi semata. Bahkan,
dari bolpoin itu pikiran manusia sengaja diluluhlantahkan oleh industrialisasi.
Betapa manusia sering menyekat-nyekat kaum-kaumnya. Maka tak heran, bolpoin pun
diciptakan atas kasta. Bolpoin biasa, bolpoin boxer, bolpoin dengan paruh
meliuk atau lurus, bahkan bolpoin emas. Orang jika mau tandatangan, akan
memilih bolpoin dengan kasta tinggi. Dan mana ada, orang yang percaya dengan
tandatangan menggunakan pensil. Begitulah, sebenarnya pemikiran manusia
individual dikalahkan oleh massa. Person
semakin malas untuk meluangkan waktu dalam kesunyian berpikir untuk dirinya
sendiri. Lebih sering person terlena
dengan massa. Ah, apakah aku saja yang aneh, hingga berpikir hal-hal macam ini?
Mungkin, pensil sangatlah remeh temeh. Namun, tidak bagiku. Pensil memberikan
kekuatan bagiku bagaimana hal-hal yang nampak jelek dipandang dan usang adalah
titik awal untuk tetap melanjutkan perjalanan. Ia memberi semangat untuk terus menggoreskan
apapun, tanpa takut salah, sebab ada kompromi-kompromi untuk menghapusnya.
Pensil mempunyai keteladanan-keteladanan
diantaranya, Pertama, pensil dapat menjadi pengingat kalau
kita bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Yakni, mengingatkan bahwa
seperti sebuah pensil ketika menulis, kita tidak boleh lupa bahwa ada tangan
yang selalu membimbing langkah kita dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan
Tuhan."
Kedua,
saat proses menulis, kita kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan
rautan untuk menajamkan kembali pensil. Rautan itu seakan membuat si pensil
menderita. Tetapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan
ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kehidupan manusia. Kita harus berani
menerima penderitaan dan kesusahan, termasuk berbagai ujian dan tantangan,
karena itu semua yang akan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik dan
berkualitas.
Ketiga,
pensil memberikan kita kesempatan untuk menggunakan penghapus sebagai upaya
memperbaiki kesalahan. Oleh karena itu, memperbaiki kesalahan dalam hidup ini
bukanlah hal yang jelek atau buruk. Keempat, bagian
yang paling bermanfaat pada pensil bukan bagian luarnya, melainkan arang yang
ada di dalamnya. Begitu pula dengan kita. Karenanya, kita harus selalu memupuk
hal-hal baik yang ada di dalam diri kita dengan terus meningkatkan kualitas
dalam diri.
Kelima, perlu kita sadari
jika pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga manusia, kita harus
selalu sadar dan waspada karena apa pun yang kita perbuat dalam hidup ini akan
meninggalkan kesan dan goresan. Maka berhati-hatilah dalam berpikir, berucap,
dan bertindak. Sehingga, goresan yang kita tinggalkan akan menjadi guratan yang
memberi manfaat bagi diri dan orang lain. Menempuh perjalanan untuk mencari
kedirian memang akan terus mengingat luka-luka lama. Atau justru menambah luka
baru. Namun, tiada mungkin semesta membiarkan proses yang berjalan begitu saja.
Kalau dalam bukunya Paulho, Sang Alkemis, semesta memiliki jiwa, ya keterhubungan
antar jiwa manusia dan semesta.
Setelah dari redaksi aku langsung tancap gas
membeli perkakas menulis. Pensil to ya salah satunya. Aku senyam-senyum sendiri
di toko tersebut. Lumayan lengkap untuk mengawali koleksiku. Ya, aku berencana
mengoleksi perkakas sekolah masa kecilku dulu (yang jadul-jadul, oke banget). Tadi
sudah ku dapat, pensil isi ulang, desgrip besi, agenda pramuka (lengkap
nyanyian-nyanyian, semapor, dll –padahal aku tidak suka pramuka. Haha),
penghapus bergambar negara-negara (Duh, aku cari yang Indonesia gak ada,
walhasil keknya yang ku beli bendera Australia kalau gak salah. Haha), buku
tabungan, kertas surat lucu, buku gambar, buku catatan, rautan yang belakangnya
ada kacanya (sukanya buat nginjen cowok-cowok ganjen dulu. Haha) belum nemu? pensil
yang atasnya ada penghapusnya kecil masih belum nemu? catatan paribahasa terus
unen-unen bahasa jawa yang dicetak di kertas karton bangjo masih ada yang jual
gak ya? Penghapus yang gambarnya raja-raja terus bagian atasnya warna ijo belum
nemu juga? Oh iya, buku latin? Aku sangat suka nulis di buku latin, tegak
bersambung. Makanya tulisanku kek bolah ruwet sebab berawal dari situ, dulu
cita-citane jadi guru SD. Tapi jur salah kedaden, tulisan dokter ora memper,
tulisan cah kesehatan masyarakat ora ono sing isoh moco. Lha jur tulisanku? Tulisane
bocil (bocah ilang).
Sore tadi aku seperti bocil di toko alat
tulis. Sampek-sampek ada mas-mas tua yang ngeledekin aku, “Mbak ke sini
sendiri?”
“Iya”
“Beneran sendiri, gak ada temen? Lha itu
siapa?”
“Iya, sendiri. Gak tahu itu siapa” (dalam
hati, nih orang berarti ngeliatin akuh sedari tadi. Geje banget. Atau memang
akuh yang geje ya?)
“Ngapain milih-milih pensil warna?”
“Ya, buat gambar.”
“Mbaknya yang mau gambar?”
“Iya.” Siapa lagi coba (lanjut dalam hati. Mungkin
aku dikira masa kecil tak bahagia. Jadi wong gede kakehan petingkah. Urusan
akuh dong. Siapa loe? Haha)
“Milih-milih penghapus kog sampe begitunya?”
“Iya, aku milih yang jadul. Agar gak mainstream.
Susah nyarinya.” (Mau bantuin enggak, kepo amat? Wes berbunga-bunga
milih-milih, diributin banyak pertanyaan)
Aku milih yang lain, dia buntutin terus. Haduh
nih orang mau ngapain aku? Mau jambret? Senyam-senyum dan curi-curi pandang? Kek
pilem-pilem india, berseberangan milih di rak terus muncul bunga-bunga. Tasku aja
gak ada duit, milih ini-itu aja sambil ngitung habis berapa? (sebab gak mau
terulang, di kasir ngembaliin barang gegara uangnya gak cukup. Aku ki pancen
koplak plus ceroboh –kata dosen pengujiku dulu. Yaela inget lagi. Haha.) Yauda tak
lama-lamain aja milih-milihnya, betah gak dia. Orang dia aja keknya datang sendiri,
mana istrinya mana pacarnya gak ada? Klunta-kluntu sendiri, kog sok-sokan
ngeledekin aku. Atau dia mau nodong aku pas di parkiran, “Mbak nomor telponnya
berapa? Haha”
Bocil –bocah ilang, Ada Siliwangi | 15/5/2015


1 comments:
Aku punya benda-benda tsb waktu SD, bahkan aku koleksi! Hihihi.
Post a Comment