Sunday, May 31, 2015

Surat Kecil untuk Orang-orang yang Bernama Lelaki yang Berhati Baik, dan Akhirnya Membantuku Memaknai Suatu Hal


Surat. Aku sebenarnya orang yang lebih nyaman untuk melakukan dialog melalui surat. Walau bertemu langsung dan mendiskusikan sesuatu itu akan bisa melihat gurat wajahnya, sorot matanya, dan barangkali jauh lebih mantap. Namun, pada beberapa hal bahkan aku menghindar untuk bertatap muka. Tak lebih, aku merasa tak sanggup saja. Kadang, jika sudah begitu, aku akan menulis surat. Bagiku surat memberi arti yang dalam, lebih-lebih ku tulis tangan sendiri. Aku merasa mempunyai hubungan emosional kuat dengan surat-menyurat.

Ini, surat dengan judul terpanjang yang pernah aku buat. Surat ini ku peruntukkan untuk orang yang bernama lelaki yang berhati baik. Ya, lelaki yang hadir lima tahun ini. Telah banyak lelaki-lelaki yang hadir dalam perjalananku. Mungkin tak akan terbahas detail, aku hanya ingin memberi eksplanasi kecil saja.

Wahai lelaki yang berhati baik, aku ingin mengirim surat untukmu melalui jiwa ke jiwa. Surat ini, tak akan pernah kamu temui di lembaran kertas, namun aku yakin pos jiwa akan mengantarkannya. Ia tak akan mungkin salah alamat. Sebab, pertautan jiwa adalah pertautan semesta.

Pertemuanku dengan lelaki berhati baik ini, tentu terekam pula oleh memori terbaikku. Aku menandai keunikan dari lelaki-lelaki berhati baik ini. Lelaki berbaju batik cokelat, aku dulu kagum padamu. Lelaki yang tampil memukau penuh semangat di hadapanku. Juga tuturmu yang halus dan teman-teman baikmu yang menjadi teman baikku pula. Kini, kamu telah mempunyai keluarga kecil dan ku yakin, kebaikanmu akan senantiasa mengalir. Aku memetik banyak hal dari komunikasi yang pernah tercipta.

Lelaki berlesung pipit, satu hal, aku pernah mengagumi dan membencimu di kemudian hari. Itu saja kenanganku. Aku tak ingin memberi ingatan lebih.

Lelaki seksi, ya kenapa seksi? Karena kamu sering berkeringat saat berada di lapangan. Dan bagiku berkeringat adalah seksi. Kamu yang telah berhati baik yang pernah menjadi teman tertawa bersama, ku berdoa semoga kau mendapat kebaikan pula atas kebaikanmu. Aku cukup senang, jika pertemuan terakhirku dan kamu, kala itu masih menyapa dengan tawa. Tertawalah untuk hal-hal yang pantas kita tertawakan.

Lelaki yang pernah membuatku malu sekaligus kamu lah orang yang mampu meluluhkanku. Pertemuan kita aneh bukan? Kita bertemu dan semacam mengikuti keinginan-keinginan konyol untuk mengetahui lebih dekat. Sayang, kita tak cukup mampu untuk mempertahankan keindahan itu. Khususnya, aku lah bajingan yang mengakhiri itu. Mungkin, jika kamu tak mau memahami kondisi itu, dan kamu membenciku, aku juga akan membencimu. Namun, kamu ternyata cukup memahami. Dan kamu adalah orang baik. Aku masih berharap untuk bisa bertemumu lagi dan sekadar untuk melempar senyum saja. Barangkali itu tanda penebusan dosaku. Aku sungguh haru biru ketika suatu ketika menemukan tulisanmu, yang aku yakin itu adalah pembahasan untukku. Dan tulisan-tulisan anehmu yang bikin aku terkekeh-kekeh. Dan suatu saat jika bertemu, mungkin itu bahasan yang cocok untuk saling tertawa lepas. Haha.

Kamu, lelaki emoticon. Aku sebenarnya pusing dengan emoticon-emoticon. Hapeku tak bisa membacanya. Kenal singkat denganmu yang menjadi kegelianku hingga sekarang. Pertemuan pertama yang konyol. Aku belum mandi dan kita bertemu di café untuk sekadar ngobrol ngalor-ngidul. Kamu seorang yang semangat. Namun, kamu perlu untuk mengontrol diri. Hingga catatan kecil yang ku susun dariku yang ku berikan untukmu kala berpisah di parkiran. Haha. Konyol.

Lelaki pemberi kejutan. Aku mengenalmu sudah lama. Aku tahu, kamu tak pernah merumuskan tentang perjalanan rasa padaku. Namun, aku bukan anak-anak yang mampu menangkap dari bahasa verbal. Intuisiku cukup paham menangkap sinyal itu. Dan kamu adalah orang baik. Kamu tetiba hadir, padahal aku belum mandi dan mau menungguku mandi. Padahal biasanya aku cuek saja. Namun, karena aku udah dua hari tidak mandi, ini sudah keterlaluan jika harus menemui seseorang. Lalu, kamu memberiku buku dan kemudian berpamitan. Eh sebelumnya, kamu bertanya padaku sedang ingin baca apa? Tapi, aku pasti tidak akan menjawab tentang keinginan-keinginan. Belakangan aku memang menghindar perlahan. Aku tak cukup mempunyai energi lebih untuk berjalan beriringan. Kamu mungkin mempersepsikan diriku sebagai orang yang buruk di matamu. Bagiku tak apa. Kamu boleh merumuskan apapun tentangku. Aku hanya punya keyakinan, bahwa itu adalah jalan yang pas. Aku tak ingin membuat kesakitan terlalu dalam, entah padaku dan mu. Namun, segera aku ingin berkirim surat padamu. Belakangan juga kita sempat beradu argumen, tentang ketidaknyamanan atau mungkin kamu meresahkan hal-hal yang berubah padaku. Boleh, sangat boleh kamu menganggap apapun padaku.

Kamu, lelaki yang membantuku memaknai perspektif baru. Aku melihatmu, sebagai seorang yang sangat jujur dan menggunakan nuranimu dengan baik. Namun, jujur pula, aku sering menahan ketegangan jika berada di dekatmu. Aku bahkan tak sanggup menatapmu lagi. Entah. Kamu adalah orang yang mensugestiku untuk kembali berdiri, aku senang. Namun, kamu pulalah orang yang telah meluluhlantahkanku, aku benci. Aku kamu adalah ruang antara. Komunikasi yang melampaui ruang dan waktu. Juga tak perlu untuk memberikan eksplanasi apapun. Sunyi, senyap, sudahlah.

Lelaki muda di sabtu malam. Aku kamu pernah membicarakan sepotong cerita di sabtu malam. Kamu, lelaki muda yang beberapa tahun di bawah usiaku. Kamu, memberi keyakinan padaku akan sesuatu hal. Aku paham dengan pertemuan-pertemuan kecil kita. Aku cukup menangkap tanda dari matamu. Tapi, aku sengaja menghindar, sebab kamu mesti menikmati kemudaanmu. Aku khawatir, sebab aku mempunyai kecenderungan untuk membuat luka.  

Lelaki penutur kata-kata. Ah, sebenarnya aku tahu sisi terdalammu, barangkali jika tidak keliru. Aku cukup nyaman berada di dekatmu. Namun, aku suka tak tahan dengan kata-katamu. Semakin kamu berkata-kata semakin membuatku ngilu. Apalagi hal yang tak pernah ku duga sebenarnya, terjadi, jika itu kau sedang jujur padamu. Namun, jika itu kebohongan, tapi aku tidak merasakan kebohongan itu dari matamu. Namun, mulutmu itu penuh kebohongan. Makanya, aku malas jika mesti mendengar perkataanmu. Aku lebih menikmati dalam diammu. Kamu bisa lebih jujur.
***
Kemarin, Sabtu (29/5) adalah hari yang kuniatkan baik untuk mendiskusikan sesuatu. Tapi, aku cukup paham karena kondisi tak memungkinkan. Aku juga punya agenda untuk diriku sendiri. Atau malam itu,  aku merasa lukaku begitu menganga kembali. Hal yang ku lakukan hanyalah, aku perlu duduk bersila dan mengambil napas panjang lalu menghembuskannya. Di sampingku ada Dicky yang sedang bermain gitar dan menyanyi. Aku turut larut. Namun, pas tiba di lagu tertentu, aku hanya bilang, “Dik, ku mohon berhenti. Ganti lagu lain. Aku tidak kuat,” tuturku sembari meleleh. Aku nampak aneh dan tidak pernah seperti itu di hadapan teman. Untunglah ia paham kalau seorang bisa meluap kapan saja. Terima kasih, Dick. 

Atau tetiba, aku mengirim pesan pada seorang kawan minta dipeluk. Ia adalah perempuan yang mempunyai ikatan emosional kuat denganku. Perempuan yang sering bercerita atas kejujuran-kejujuran kecilnya. Sayang, ada jarak puluhan kilometer sehingga kita tak bisa berjumpa segera. Aku rindu kamu, bocah.

Pada orang-orang yang bernama lelaki, aku memang mempunyai kecenderungan untuk memasang defens yang kuat pada diri. Entah atas apa, ku kira karena perjalanan panjang. Maka, terkadang jika ada yang mendekat, tanpa ku sadari aku berubah menjadi singa. Itu adalah hal di luar kesadaranku. Sudah ku coba untuk mensugesti diri dengan beberapa hal, namun barangkali aku perlu untuk belajar lagi. Aku juga tak ingin menjadi zat adiktif bagi siapapun juga barangkali aku yang merasa butuh zat adiktif. Aku tidak tahu, bagaimana mengonstruksikan hubungan yang dekat dari sekadar teman pada saat ini. Jika tahu, ini adalah jalan yang ku ambil untuk menyiapkan diriku sendiri di kemudian hari. 

Aku merasa masih bocah yang sering ilang dimana-mana. Aku masih suka autis dengan duniaku sendiri. Jadi, ku kira memasukkan lelaki yang berhati baik pun aku masih belum sanggup. Itu semua, karena aku takut jika aku harus membuat luka. Jika, orang di luar diriku yang membuat luka, aku akan melakukan penyembuhan dengan menempuh perjalanan singkat. Namun, jika luka itu berasal dari diriku, aku adalah orang yang susah untuk memaafkan diri sendiri. Aku butuh waktu lama untuk sekadar berdamai dengan diri sendiri.

Hal yang masih belum bisa ku maknai adalah cinta pada lelaki yang berhati baik. Aku suka tidak tahan pada lelaki-lelaki yang berhati baik. Juga, aku tidak kuat pada lelaki-lelaki sebaliknya. Aku sungguh belum mampu untuk memaknai konstruksi cinta itu. Aku butuh menempuh perjalanan untuk terus berkhtiar memaknainya dari hal-hal terkecil. Tentang konstruksi lelaki, aku pun meminimalisir pada diri untuk tidak menebak-nebak kococokan atau merupa dalam wujud tertentu. Bagiku saat ini, itu hanyalah epidermis semata. Aku butuh lingkaran cambium pada inti terdalamnya. Barangkali, inti terdalam itu adalah batin. Sebagai manusia ciptaan Gusti, aku belajar untuk welas asih. Satu hal, aku mencintai kehidupan. Aku pula mencintai semesta.

Aku ingin membiarkan jiwaku melayang setingginya. Aku yakin, jiwa dunia itu seperti magnet. Termasuk jiwa diri. Aku tidak ingin sibuk untuk meladeni keinginan-keinginan, namun aku perlu belajar untuk memaknai kebutuhan. Aku perlu belajar untuk menguasai diri, bukan menguasai orang lain. Aku perlu belajar untuk menempuh diri, bukan untuk menghadir pada jiwa lain. Aku perlu belajar untuk memahami hak dan kewajiban diri, bukan untuk berkata hak dan kewajiban orang lain. Aku perlu menuntaskan tentang keakuan sebelum merumuskan kekitaan. Aku perlu menjaga diri atas orang lain. Aku perlu untuk menegakkan diri.

Semuanya, aku akan berusaha untuk melepaskan dengan pelan dan perlahan. Tentang lelaki yang berhati baik kemarin, saat ini, dan esok. Aku ingin berdamai dengan diri sendiri juga berdamai dengan orang yang bernama lelaki. Aku begitu menyanyagi orang-orang yang bernama lelaki, namun aku belum tahu bagaimana cara merumuskannya dengan baik. Aku perlu belajar. Aku perlu menempuh perjalanan diri. Terima kasih lelaki-lelaki berhati baik. Aku minta maaf, namun kata teman, maaf bukan lah sekadar manis di mulut. Aku akan menebusnya dalam perjalanan. Aku belum berani untuk memasukkan siapa pun. Sebab, aku masih sering merasa kesakitan. Berbaik-baik dirilah. Maaf.


Rumah | 01062015

0 comments: