Hari ini, entah aku tidak tahu. Aku kehilangan keseimbangan yang kucoba ku bangun. Sejak akhir tahun kemarin, aku ingin belajar ‘keseimbangan’ hidup. Buku-buku buddhisme dan sufisme gethol ku pelajari. Aku (hatiku) semacam digerakkan untuk mempelajari hal-hal itu. Segala ambisi dan tetek bengeknya menjadi nomor sekian dalam list hidup kala itu. Ingatanku semacam diputar balikkan pada hal-hal yang kuinginkan ketika masih unthul. Pemikiran ndakik-ndakik yang mendera kepala, mesti mengambil space agak menjauh dulu.
Ya,
ketika aku kecil dulu, aku hanya bercita-cita menjadi guru sekolah dasar. Bagiku
menjadi guru sekolah dasar menyenangkan. Anak-anak yang masih polos dengan
tingkah lucunya mendendangkan banyak hal dengan kegembiraan. Aku sangat suka. Walau
kegembiraanku kala sekolah dasar bukanlah kegembiraan yang mutlak. Justru masa
itu, aku seakan sudah mendewasa dengan segala yang hadir padaku. Aku mesti
menelan kepahitan ini dan itu. Ah.
Maka
tak heran, tulisan tanganku bagus. Kala SD aku paling suka ditunjuk sebagai
sekretaris. Sebab, aku bisa menulis di depan kelas dan diperhatikan guru. Aku yang
pendek begini, selalu ingin jadi sekretaris. Saat menulis pun aku harus ‘ancik-ancik’
kursi supaya bisa menulis dari baris paling atas. Haha. Ya, tulisanku memang
bagus. Gandeng, tegak lurus. Itu terinspirasi dari Bu Musripah. Sebab, aku
tidak pernah menjadi murid di kelasnya, aku hanya bisa mengamati ketika ia
menggantikan guru kelasku yang berhalangan hadir. Aku perhatikan, bagaimana ia
menggoreskan huruf demi huruf dan menggandengkannya dengan rapih. Ya, aku suka
sesuatu yang rapih, dulu.
Eh,
tadi pagi saking aku gak kuatnya, aku datangi tempat bekam. Ini bekam yang
kedua kalinya. Aku kira, setelah bekam rasa pegal-pegal yang ada di badan
sedikit lega. Semoga. Semalam aku sangat kesakitan, karena tulang punggungku
bahkan tidak kuat untuk menopang badanku saat tidur. Duh.
Kembali.
Sejak kelulusanku februari kemarin, bahkan aku tak merasakan sedikit rasa
bahagia yang hadir. Wisuda hanya Cuma lewat doang. Tambah lagi hal-hal aneh
yang menemani perjalanannya, kalau dirunut malah bikin sakit hati. Dimana-mana
(barangkali), ada anak yang mau wisuda mesti orang tuanya berbahagia, lha ini?
Sudahlah. Begitullah keanehannya. Haha.
Akhir-akhir
mau kelulusan, aku jadi sering maen ke kos pertamaku. Aku sempat ada masalah
dengan pemilik kos waktu itu. Tapi, ku kira masalahnya sudah selesai dan aku
tidak memendam sakit hati. Memang aku bukan orang yang sering memendam
kesakithatian. Bagiku, hal-hal macam itu menjadi wajar saat berhubungan dengan
orang. Ya, makanya rasa sungkanku untuk maen ke kos itu, sudah dapat teratasi. Kulihat-lihat
lagi, kamarku dulu. Ternyata poster Indonesia mengajar masih terpampang di
dinding itu. Entah kenapa, kamar itu sudah bergonta-ganti orang baru, desain
kamar baru, dan bahkan tempelan baru, tapi, tempelan itu masih ada. Katanya,
segala yang ada di dunia ditampakkan dalam sebuah symbol. Entah, ini menjadi simbol
apa? Ya, aku kembali berdiskusi dengan seorang teman yang bagiku ciamik, Dian
namanya. “Di, aku kog ingin ikut Indonesia Mengajar ya. Aku tidak tahu hal apa
yang akan ku dapat. Tapi, aku hanya yakin bahwa aku ingin memulai sesuatu yang
baru di sana,” ceritaku.
Ya,
keyakinan itu yang menuntunku untuk tidak ‘melamar-lamar’ kerja dulu. Aku ingin
menuruti kata hatiku dulu. Setidaknya, aku akan berusaha dulu. Serentetan peristiwa
syahdu yang mengantar pada kelulusan ini, aku berangan-angan untuk ‘leren’ dan
mengambil napas yang panjang rasanya. Ah, ternyata itu tak sesuai yang ku
bayangkan. Bahwa, aku memang sudah terbiasa harus mencuri-curi kelegaan di
tengah hiruk-pikuk jalan ini. Ku kira itulah yang membuat hidupku makin syahdu,
dan mengingatnya dengan senyuman. Hehe. Kog isoh?
***
Aku
sudah sejak lama, ternyata tengah menjadi terapis untuk seorang klien yang itu
adalah diriku sendiri. Dan aku baru menyadarinya. Tipikel orang sepertiku,
hanya butuh diri sendiri untuk menerapi diri sendiri. Semacam pencarian makna
untuk diri sendiri. Entah kenapa, aku pula sering dihadapkan pada cerita-cerita
orang yang mesti kucerminkan untuk diriku sendiri. Banyak orang yang bercerita
padaku tentang hal-hal ‘sakit’ dalam dirinya. Ia bercerita dengan penuh harapan
dan tatapan di hari esok. Sembari tertawa, menangis, dan pandangan kosong
sekali pun. Bahkan mungkin, aku orang yang pintar, untuk memancing orang
bercerita. Atau orang menyebutnya, aku menjadi rumah yang nyaman untuk dituangi
cerita. Oh. Tapi, kiranya orang tidak tahu dengan aku. Bukan soal aku tidak mau
berbagi cerita, tapi aku tidak tahu bagaimana cara memulainya, lalu aku harus
memulainya darimana?
Banyak
hal-hal yang menjejal dalam pikiranku. Tentang cerita-cerita itu dan banyak
lainnya. Tapi, aku semakin ketagihan untuk bertemu orang-orang baru dan
melakukan perjalanan. Aku akan sakauw jika mesti terkurung dalam tembok. Aku perlu
bertemu orang-orang baru entah untuk apa. Aku mendapat cerita baru, mungkin
semakin menyesaki space otakku, tapi aku merasa lega. Aku hampir ingat semua,
siapa-siapa narasumberku dan orang-orang baru yang berbagi cerita padaku.
Seusai berwawancara, aku pasti tak akan langsung menutup pembicaraan. Aku akan
memancing narasumber bercerita tentang kediaannya dan orang-orang yang
mengelilinginya secara personal. Tentu, tak lain, aku belajar bagaimana menjadi
hidup. Kadang kegetiran yang dialaminya itu yang menjadi obat bagi diriku. Maka,
aku menjadi terapis dank lien untuk diriku sendiri. Cukup.
Terkadang
pula, kalau bahasanya Mbak Maria Kompas, ia sering mengalami secondary trauma
seusai melakukan reportase. Yakni, hal-hal yang tak sebatas melaporkan untuk
sebuah pekerjaan, namun memahami dan mencoba mengasah kepekaan naluriah
kemanusiaannya. Ia bahkan sempat, harus ke psikolog untuk melakukan terapi
secara rutin. Kalau aku memilih untuk bertemu dengan orang baru lagi, agar
semakin gila. Sebab, dengan begitu aku menjadi hidup. Bahwa, hidup memang macam
begitu. Hubungan professional wartawan-narasumber untuk memburu berita, kadang
tak terlalu kuhiraukan. Sebab, aku bisa menemu makna lain di baliknya. Nah,
apakah hal macam itu akan ku temukan nanti jika aku benar terjun di media mainstream?
Sebab, masih ada keyakinan dalam diriku untuk benar mencobanya? Haha. Entahlah.
***
Aku
memang belum tuntas dengan hal-hal tentang keakuan. Tapi, memang keakuan itu
bukan perkara pendek, bahkan bisa selamanya. Namun, aku selalu berikhtiar untuk
mencoba melepas perlahan tentang keakuan tersebut. Aku ingin bercerita asyik
dengan tokoh kediaan. Biar hal-hal tentang keakuan itu hanya terungkap secara
spontan dan cerita-cerita tanpa prediksi. Ah, jadi teringat kamu. Huo. Hal yang
memalukan, jika aku sadar bahwa pernah meleleh di depanmu. Ah. Tapi, begitullah
aku. Kompleks. Maka, memilih (dan sengaja) mengambil jarak darimu adalah
pilihan sadar. Sebab, aku telah jauh ke dalam mengalami secondary trauma pada
cerita-ceritamu. Bahkan, kali ini parahnya, aku tak lagi bercermin seperti
cerita orang-orang. Namun, aku pun mengalami hal yang serupa. Maka, hal-hal
yang serupa itu jika dipertemukan perlu daya yang sangat kuat untuk menubruknya.
Dan aku sedang tak punya daya. Entah kamu? Aku hanya ingin menjalani
sebaik-baik yang ku bisa. Berusaha untuk tidak menerka-nerka. Halah, keinget
lagunya tangga.
***
Kini,
aku tinggal dengan Ibun yang sudah hamper tiga minggu ini. Aku mengenalnya baru
saja di sebuah event konvensi hak anak. Tentang anak adalah hal-hal yang
menggairahkan. Kupanggil ibun sebagai kependekan dari ibuk keren. Beberapa waktu
lalu suaminya meninggal dan ia memiliki anak yang lucu, Aura, 4 tahun. Aku belajar
banyak hal di sini. Tentu tentang menjadi hidup lagi to? Walau banyak hal-hal
yang bertubrukan dalam diriku, aku tak lelah untuk mencari makna. Jika, kelak
punya anak, akan ku namai Hayu Makna bla bla bla (Halah).
Hati
dan pikiranku semakin dibolak-balikkan dengan hal-hal baru. Sekali lagi, aku
tak lelah. Aku orang yang selalu menguri-uri hal-hal optimisme. Walau, hal-hal
yang kudapati begitu tak mudah kudapati. Tentang optimisme ini yang sering
kuobrolkan denganmu tanpa tiada henti. Sampai kapan pun. Kog, aku jadi kangen
ya? Halah. Rasa kangenku, tak mampu melebihi rasa bersalahku padamu. Aku tak
tahu dengan cara apa menebusnya. Namun, doaku tiada henti untuk terus mencari
Makna. Akhirnya, aku tidak lagi tidak tahu. Tapi, aku tahu bahwa ini tentang
sebuah makna.

0 comments:
Post a Comment