Friday, April 10, 2015

Aku Tidak Tahu


Hari ini, entah aku tidak tahu. Aku kehilangan keseimbangan yang kucoba ku bangun. Sejak akhir tahun kemarin, aku ingin belajar ‘keseimbangan’ hidup. Buku-buku buddhisme dan sufisme gethol ku pelajari. Aku (hatiku) semacam digerakkan untuk mempelajari hal-hal itu. Segala ambisi dan tetek bengeknya menjadi nomor sekian dalam list hidup kala itu. Ingatanku semacam diputar balikkan pada hal-hal yang kuinginkan ketika masih unthul. Pemikiran ndakik-ndakik yang mendera kepala, mesti mengambil space agak menjauh dulu.
Ya, ketika aku kecil dulu, aku hanya bercita-cita menjadi guru sekolah dasar. Bagiku menjadi guru sekolah dasar menyenangkan. Anak-anak yang masih polos dengan tingkah lucunya mendendangkan banyak hal dengan kegembiraan. Aku sangat suka. Walau kegembiraanku kala sekolah dasar bukanlah kegembiraan yang mutlak. Justru masa itu, aku seakan sudah mendewasa dengan segala yang hadir padaku. Aku mesti menelan kepahitan ini dan itu. Ah.
Maka tak heran, tulisan tanganku bagus. Kala SD aku paling suka ditunjuk sebagai sekretaris. Sebab, aku bisa menulis di depan kelas dan diperhatikan guru. Aku yang pendek begini, selalu ingin jadi sekretaris. Saat menulis pun aku harus ‘ancik-ancik’ kursi supaya bisa menulis dari baris paling atas. Haha. Ya, tulisanku memang bagus. Gandeng, tegak lurus. Itu terinspirasi dari Bu Musripah. Sebab, aku tidak pernah menjadi murid di kelasnya, aku hanya bisa mengamati ketika ia menggantikan guru kelasku yang berhalangan hadir. Aku perhatikan, bagaimana ia menggoreskan huruf demi huruf dan menggandengkannya dengan rapih. Ya, aku suka sesuatu yang rapih, dulu.
Eh, tadi pagi saking aku gak kuatnya, aku datangi tempat bekam. Ini bekam yang kedua kalinya. Aku kira, setelah bekam rasa pegal-pegal yang ada di badan sedikit lega. Semoga. Semalam aku sangat kesakitan, karena tulang punggungku bahkan tidak kuat untuk menopang badanku saat tidur. Duh.
Kembali. Sejak kelulusanku februari kemarin, bahkan aku tak merasakan sedikit rasa bahagia yang hadir. Wisuda hanya Cuma lewat doang. Tambah lagi hal-hal aneh yang menemani perjalanannya, kalau dirunut malah bikin sakit hati. Dimana-mana (barangkali), ada anak yang mau wisuda mesti orang tuanya berbahagia, lha ini? Sudahlah. Begitullah keanehannya. Haha.
Akhir-akhir mau kelulusan, aku jadi sering maen ke kos pertamaku. Aku sempat ada masalah dengan pemilik kos waktu itu. Tapi, ku kira masalahnya sudah selesai dan aku tidak memendam sakit hati. Memang aku bukan orang yang sering memendam kesakithatian. Bagiku, hal-hal macam itu menjadi wajar saat berhubungan dengan orang. Ya, makanya rasa sungkanku untuk maen ke kos itu, sudah dapat teratasi. Kulihat-lihat lagi, kamarku dulu. Ternyata poster Indonesia mengajar masih terpampang di dinding itu. Entah kenapa, kamar itu sudah bergonta-ganti orang baru, desain kamar baru, dan bahkan tempelan baru, tapi, tempelan itu masih ada. Katanya, segala yang ada di dunia ditampakkan dalam sebuah symbol. Entah, ini menjadi simbol apa? Ya, aku kembali berdiskusi dengan seorang teman yang bagiku ciamik, Dian namanya. “Di, aku kog ingin ikut Indonesia Mengajar ya. Aku tidak tahu hal apa yang akan ku dapat. Tapi, aku hanya yakin bahwa aku ingin memulai sesuatu yang baru di sana,” ceritaku.
Ya, keyakinan itu yang menuntunku untuk tidak ‘melamar-lamar’ kerja dulu. Aku ingin menuruti kata hatiku dulu. Setidaknya, aku akan berusaha dulu. Serentetan peristiwa syahdu yang mengantar pada kelulusan ini, aku berangan-angan untuk ‘leren’ dan mengambil napas yang panjang rasanya. Ah, ternyata itu tak sesuai yang ku bayangkan. Bahwa, aku memang sudah terbiasa harus mencuri-curi kelegaan di tengah hiruk-pikuk jalan ini. Ku kira itulah yang membuat hidupku makin syahdu, dan mengingatnya dengan senyuman. Hehe. Kog isoh?
***
Aku sudah sejak lama, ternyata tengah menjadi terapis untuk seorang klien yang itu adalah diriku sendiri. Dan aku baru menyadarinya. Tipikel orang sepertiku, hanya butuh diri sendiri untuk menerapi diri sendiri. Semacam pencarian makna untuk diri sendiri. Entah kenapa, aku pula sering dihadapkan pada cerita-cerita orang yang mesti kucerminkan untuk diriku sendiri. Banyak orang yang bercerita padaku tentang hal-hal ‘sakit’ dalam dirinya. Ia bercerita dengan penuh harapan dan tatapan di hari esok. Sembari tertawa, menangis, dan pandangan kosong sekali pun. Bahkan mungkin, aku orang yang pintar, untuk memancing orang bercerita. Atau orang menyebutnya, aku menjadi rumah yang nyaman untuk dituangi cerita. Oh. Tapi, kiranya orang tidak tahu dengan aku. Bukan soal aku tidak mau berbagi cerita, tapi aku tidak tahu bagaimana cara memulainya, lalu aku harus memulainya darimana?
Banyak hal-hal yang menjejal dalam pikiranku. Tentang cerita-cerita itu dan banyak lainnya. Tapi, aku semakin ketagihan untuk bertemu orang-orang baru dan melakukan perjalanan. Aku akan sakauw jika mesti terkurung dalam tembok. Aku perlu bertemu orang-orang baru entah untuk apa. Aku mendapat cerita baru, mungkin semakin menyesaki space otakku, tapi aku merasa lega. Aku hampir ingat semua, siapa-siapa narasumberku dan orang-orang baru yang berbagi cerita padaku. Seusai berwawancara, aku pasti tak akan langsung menutup pembicaraan. Aku akan memancing narasumber bercerita tentang kediaannya dan orang-orang yang mengelilinginya secara personal. Tentu, tak lain, aku belajar bagaimana menjadi hidup. Kadang kegetiran yang dialaminya itu yang menjadi obat bagi diriku. Maka, aku menjadi terapis dank lien untuk diriku sendiri. Cukup.
Terkadang pula, kalau bahasanya Mbak Maria Kompas, ia sering mengalami secondary trauma seusai melakukan reportase. Yakni, hal-hal yang tak sebatas melaporkan untuk sebuah pekerjaan, namun memahami dan mencoba mengasah kepekaan naluriah kemanusiaannya. Ia bahkan sempat, harus ke psikolog untuk melakukan terapi secara rutin. Kalau aku memilih untuk bertemu dengan orang baru lagi, agar semakin gila. Sebab, dengan begitu aku menjadi hidup. Bahwa, hidup memang macam begitu. Hubungan professional wartawan-narasumber untuk memburu berita, kadang tak terlalu kuhiraukan. Sebab, aku bisa menemu makna lain di baliknya. Nah, apakah hal macam itu akan ku temukan nanti jika aku benar terjun di media mainstream? Sebab, masih ada keyakinan dalam diriku untuk benar mencobanya? Haha. Entahlah.
***
Aku memang belum tuntas dengan hal-hal tentang keakuan. Tapi, memang keakuan itu bukan perkara pendek, bahkan bisa selamanya. Namun, aku selalu berikhtiar untuk mencoba melepas perlahan tentang keakuan tersebut. Aku ingin bercerita asyik dengan tokoh kediaan. Biar hal-hal tentang keakuan itu hanya terungkap secara spontan dan cerita-cerita tanpa prediksi. Ah, jadi teringat kamu. Huo. Hal yang memalukan, jika aku sadar bahwa pernah meleleh di depanmu. Ah. Tapi, begitullah aku. Kompleks. Maka, memilih (dan sengaja) mengambil jarak darimu adalah pilihan sadar. Sebab, aku telah jauh ke dalam mengalami secondary trauma pada cerita-ceritamu. Bahkan, kali ini parahnya, aku tak lagi bercermin seperti cerita orang-orang. Namun, aku pun mengalami hal yang serupa. Maka, hal-hal yang serupa itu jika dipertemukan perlu daya yang sangat kuat untuk menubruknya. Dan aku sedang tak punya daya. Entah kamu? Aku hanya ingin menjalani sebaik-baik yang ku bisa. Berusaha untuk tidak menerka-nerka. Halah, keinget lagunya tangga.
***
Kini, aku tinggal dengan Ibun yang sudah hamper tiga minggu ini. Aku mengenalnya baru saja di sebuah event konvensi hak anak. Tentang anak adalah hal-hal yang menggairahkan. Kupanggil ibun sebagai kependekan dari ibuk keren. Beberapa waktu lalu suaminya meninggal dan ia memiliki anak yang lucu, Aura, 4 tahun. Aku belajar banyak hal di sini. Tentu tentang menjadi hidup lagi to? Walau banyak hal-hal yang bertubrukan dalam diriku, aku tak lelah untuk mencari makna. Jika, kelak punya anak, akan ku namai Hayu Makna bla bla bla (Halah).
Hati dan pikiranku semakin dibolak-balikkan dengan hal-hal baru. Sekali lagi, aku tak lelah. Aku orang yang selalu menguri-uri hal-hal optimisme. Walau, hal-hal yang kudapati begitu tak mudah kudapati. Tentang optimisme ini yang sering kuobrolkan denganmu tanpa tiada henti. Sampai kapan pun. Kog, aku jadi kangen ya? Halah. Rasa kangenku, tak mampu melebihi rasa bersalahku padamu. Aku tak tahu dengan cara apa menebusnya. Namun, doaku tiada henti untuk terus mencari Makna. Akhirnya, aku tidak lagi tidak tahu. Tapi, aku tahu bahwa ini tentang sebuah makna.

0 comments: