Tuesday, February 10, 2015

Pokoke Cinta.

Mencari cinta bukan perkara mudah. Ia tak sekadar bualan kata yang menye-menye. Juga, bukan sesuatu hal yang sulit dan mustahil.
            
Sebuah kampung kecil di tengah kota. Jika dari Pasar Johar, ambil arah ke pecinan. “Gang sebelum jembatan persis ya mbak, lurus, gang pertama, nah gang kedua masuk,” kata Bapak penjual jam tangan. Sebelumnya, padahal sudah membaca di google map, tapi ora mudeng. Hehe. Payah. Luweh mantep modal lambe. Ee.. lha dalah endi gange ya ya..bablas. bablas. Ia kampung Bustaman Purwadinatan, yang berada di gang yang dlesep. Cukup bertanya dua kali, langsung ketemu. Tak seperti mencari alamat-alamat sebelumnya yang minimal tiga kali tanya. Kali ini, lumayan lancar. Biasanya koneksi lamban.

Masuk gang, motor-motor terparkir rapi. “Laik, di gang seperti ini aja ditarik parkir, ah mungkin sebab ada pameran,” unek-unek dalam hati. Pikiranku sudah membayangkan layaknya di daerah kampus aja, beli nasi bungkus di warteg yang tak lebih 3 menit, “Parkir mbak, seribu. Oh…!” Ternyata, dugaan yang salah besar!

Anak-anak main kelereng di belakang jejeran motor. “Hayo siapa yang menang?” aku menggoda satu diantaranya. “Aku to ya, pinter kog setinan,” kata seorang anak. Oh iya, setinan. Ora usah sok-sok ngindonesia. Dam!
“Piye Le, setinan kog karo gendhong tas?”
“Iya to, wong nembe bali sekolah.”
Oh…atasan putih mereka dilipat di tas. Baju powerenjes yang dibuat daleman jadi baju main. Sepuluh menit kemudian, mereka lari kejar-kejaran seraya menjinjing sepatu tali. “Dhisik-dhisikan yo….”

anak-anak sedang setinan sepulang sekolah
Ini pameran pertama yang ku tonton di luar gedung yang layak. Oh iya, sekarang kan para kurator mencoba untuk hadir di tengah masyarakat. Bukan seperti alien yang tiba-tiba hadir di bumi dengan membawa kalung ajib layaknya di film india berjudul ‘PK’. Namun, keduanya sama-sama menawarkan art of life. Tempat seperti inilah tempat yang amat jauh lebih layak sebuah pameran hadir. Nyerrr-nyerran atiku.

Sembribit angin menyapu kasar hidungku saat memandangi 4 rangkaian komik. Sreng…weidyan, bau kotoran kambing. Ternyata oh ternyata, di seberang jalan ada kandang kambing yang menyatu dengan rumah. Ini lah kampung penjagalan wedhos yang terkenal seantero semarang. Baru tahu. Aku ngopo wae 4.5 tahun, Dar!

Menyusur gang demi gang. Bersapa dan saling melempar senyum. Hampir sepanjang jalan ada penjual makanan dan ciki-ciki. Gang sekecil ini yo okeh sing dodol lan sing tuku. Heran lagi. Piring, gelas, kompor, gas, bumbu-bumbu berada di teras rumah. Lha ngene iki, kalau di Sekaran wes podo ilang. Beberapa bulan lalu, warga ukm dan tetangga kampus harus mengambil gas mereka di polsek gunungpati. Duh!

Be Your Self!
Perbincanganku dengan seorang pedagang pernak-pernik ala Tionghoa mengantarkanku pada makna sebuah kode. “Nok, masuk o ke dalem WC. Ada musike,” katanya. Hah, nyaman tenan? Padahal kalau di gedung kami (yang juga mengamini pesan bijak be your self), masuk WC seringkali disambut dengan asap-asap kemeluk rokok. Walau full music juga, mp3-an. Oh, be your self tenan.
WC full music

Orkes sabun mandi ini karya karamba art. Karya ini melakukan kritik ringan terhadap banyaknya pilihan hidup yang bisa diambil. Namun, seringkali karena ketiadaan nyali spekulasi, orang terjebak pada arus kebanyakan. Orang didorong untuk berasosiasi terhadap keberanian untuk mengambil pilihan yang tak umum.
            
Memang tak mudah untuk mengambil pilihan yang tak umum, tapi begitulah hidup, akan ada waktu yang menghadapkan diri pada hal-hal yang unik. Tetap, segala keputusan ada pada diri. 

Di dalam WC tertulis be rockstar, be your self. Kata rockstar dicoret dengan tiga garis lurus. Ah, sebenarnya asa untuk menjadi rockstar tak selamanya bisa disandingkan dengan your self. Asal, cukup menjadi diri sendiri, menjadi rockstar selalu mudah jalannya, barangkali.
            
Keberanian menjadi yang tak umum pun, tak lantas semudah mengerdipkan mata. Maka, disambung lagi dengan pesan, “tetaplah tersenyum”. Kau tahu mengapa musti tersenyum? Sebab, jika di dunia ini tiada apa pun yang bisa kita lakukan untuk orang lain, senyum adalah hal yang sangat mungkin. Bukankah kalau sedang ngambek dengan pacar, salah satu ada yang berinisiatif untuk membuat pasangannya senyum. satu dua tiga, sstttt…. Cilupba, Senyum. Dan kembali lagi pada ingatan janji. Ah, senyum adalah bentuk ketulusan tertinggi yang mampu merongrong dada yang sedang sesak. Begitu, cinta soal menyelaraskan rasa dan nyata. Kalau dalam novelnya Dee, Perahu Kertas, hati tak akan bisa memilih, hati selalu dipilih. Dar, piye?

Dunia Nisa
Ini sangat berbeda dengan dunia sophie Amundsend. Menelaah dunia sophie membuat diriku berhari-hari dihantui peta-peta pemikiran orang-orang asing yang tak pernah bertemu wujudnya. Seorang gadis kecil yang menanti surat-suratnya dibalas oleh tuan filosof. Akhirnya ia pun menjadi gadis kecil yang fasih akan sejarah filsafat mulai Socrates, Aristoteles, Zaman Pencerahan, Hegel, Marx sampai Freud.
            
Sementara Annisa Rizkiana bersama anak-anak kecil usia 3-8 tahun berusaha menggali cerita tentang keseharian di sepanjang gang kampung. Ketiadaan ruang lapang untuk bermain di sekitar rumah mereka memaksa anak-anak menggunakan jalanan sebagai arena bermain. Apa saja yang dikisahkan Annisa?


Nisa 'n friend
Karya Annisa tertata apik di ruang yang orang kota menyebutnya meeting room. Namun, di sini dinamai ruang berkumpul. Kalau kata seorang temen, ia bos koplo, ora kumpul ora bolo. Kawan-kawan bisa lah berkunjung di bosdangdut.com (tak promosikke lho ya, ben eksis). Hihi. Ya, warga dan anak-anak mempergunakan ruangan ini untuk berinteraksi. Ruangan ini dibangun di atas WC umum. WC yang kata Pak Hary Bystaman dibuat oleh donatur Jerman dan Belanda pada 2005. Uang hasil pungutan setiap warga sehabis mandi dan buang air ini, lalu dibuat untuk membangunnya. Setiap warga cukup menyedekahkan 500 perak setiap mandi.
            
Tentu benar, banyak sekali anak-anak kecil. Hampir tiap rumah memiliki anak minimal 3 maksimal bisa 12. Oh, betapa strong-nya ibu-ibu. Sore itu, Selasa (10/2) beberapa anak sedang main raja-rajaan di atas dak pembuangan tinja. Satu anak duduk di kursi plastik dan kawan-kawannya menjunjung kaki-kaki kursi itu setinggi-tingginya. Mungkin orang berpikir bahwa, menjadi raja adalah menyenangkan. Namun, nyatanya anak-anak tersebut malah emoh diminta untuk duduk di atas kursi. Mereka memilih untuk mengangkatnya saja. Hampir berebut dan saling marah sebab gak ada yang mau duduk di kursi. Padahal, enak sekali. Tinggal duduk manis, anteng. Ah,keceriaan anak-anak adalah sebuah kejujuran. Menjadi Raja, tak lantas mengimaji para pelayan yang setiap saat bisa melayaninya. Ia pula, mengimaji betapa membawa awak yang banyak dan beragam memang sebuah ikhtiar yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
            
Jadi malu, melihat betapa gonjang-ganjingnya raja-raja di negeri ini yang sedang berseteru. Pucuk dari pucuknya raja yang membikin begitu gregetan banyak orang sehingga jutaan hastag muncul. Haisssh… “Nak, bermain memang asyik. Tentu, bukan lantas bermain untuk main-main bukan?”
            
Di gang ini, pada 19 Mei 2013, Eko Budihardjo tanpa embel-embel gelar merangkai sebuah doa:
Satu kata memulai doa
Satu langkah mengawali perjalananSekuntum bunga membentuk tamanSebatang pohon mencipta hutanSatu kiprah warga Bustaman
Akan mengubahNasib bangsa Indonesia
            
Eyang Kakung Hardjo mantan Rektor Undip memang telah tiada. Namun, Bunga yang ditanam di mana pun tak akan pernah tiada. Tak ada, lahir, lalu tiada. Lalu, dengan apa kita mengisi jeda diantaranya?

DM 

0 comments: