Tuesday, February 10, 2015

Surat Untuk Ibu di Suatu Nanti…..

Bu, semoga ibu sehat selalu. Aku sehat pula Bu. Ibu tak perlu bersedih ya, terima lah surat ini dengan kegembiraan. Sudah sejak lama aku ingin membuat surat untuk Ibu. Mungkin berbicara langsung sembari menggelayuti ibu adalah hal yang menyenangkan. Namun, lewat ucapan langsung terkadang ada kata yang tak terucap. Maka lewat ini ku tumpahkan. Aku rindu, benar rindu Bu.

Dulu, aku gadis kecil yang berlari-larian ke sana - ke mari. Bahkan mungkin ibu tak sempat merekam dari masa ke masa perkembanganku. Sedari kecil aku diemong Embah Warung bukan, Bu? Bagiku itu tak terlalu masalah. Foto-foto kecilku pun tak pernah ku temukan, kecuali foto di rapor sekolah dasar. Ah bu aku memahamimu. Kau Ibu yang hebat. Selain kau jago menjaga pertahanan rumah, kau pula ke sana – ke mari agar koin-koin terkumpul. Ya, menyetok es lilin dari sekolah ke sekolah. 

Maka, aku sangat senang sekali jika kau beri koin lebih untuk uang sakuku. Aku juga bisa mengambil koin sesuka hatiku. Walau koin, kau tetep mengumpulkan, menghitung, dan membelanjakannya bahan untuk esok hari. Tak jarang banyak tetangga yang menukar koin untuk tedak siti anaknya. Tapi kau selalu berpesan saat aku diundang untuk menghadiri tedak siti. “Ngroyok duite ojo nang tengah-tengah ya, Nduk. Mengko mundhak keidhak-idhak wong gedhe-gedhe. Mengko diwenehi Mae wae,” tuturnya.

Mengemudikan motor Grand biru dari sekolah satu ke sekolah lain membuat Ibu dikenal guru-guru. Walau ibu tak seorang guru, ia cukup akrab dengan guru-guru. Ibu, seorang yang ramah dan gampang akrab. Saat ada hajatan guru-guru pun ibu diundang.

Ibu, seorang yang cerdas dan cerdik. Ia selalu bisa mengontrol hal-hal yang berbau simbolik. Tak pernah sekalipun aku mendengar ingin ini dan itu. Aku tahu Bu, kau tentu ingin menjaga kondisi agar tetap sesuai dengan mimpimu. Walau, itu hanya sebuah angan seorang perempuan desa, tapi ikhtiar mu yang tiada usai itu yang membuatku haru biru. Darimu aku belajar, bagaimana menjadi seorang perempuan sebenar-benar manusia bukan sekadar perempuan. Darimu aku belajar bahwa kerjasama Ibu dan Bapak adalah untaian ikhtiar untuk saling mengisi kekosongan. Darimu aku belajar bahwa tiada manusia unggul di lain jenis kelamin. Darimu aku belajar menjadi manusia yang memilih bangkit jika dunia menumbangkanmu. Darimu aku belajar kesederhanaan dan selalu menyungging senyum. Sebab senyum tak hanya sekadar melebarkan bibir. Namun, mentransfer energi dalam diri dan orang-orang yang berada di sekeliling. Begitu kiranya, Bu.

Terkadang aku meresahkan kesehatan Ibu. Terkadang pula aku melarang Ibu untuk memilah makanan ini dan itu, untuk menggunakan ini saja daripada itu. Ah, itu semua sebab aku begitu menyayangimu, Bu. Namun, sekarang ku sadari bahwa everyone’s fine. Selagi ibu masih bisa tersenyum aku tak patut untuk meresahkan segala sesuatunya. Mengikuti ritme kehidupan ini dan selalu menjaga ikhtiar barangkali satu hal yang patut ku syukuri. Melihat kita bisa bersanding dari satu generasi ke generasi senantiasa terkucur dalam tiap doa. Ibu……
05 Mei 2015 | DM


            

0 comments: