Bu,
semoga ibu sehat selalu. Aku sehat pula Bu. Ibu tak perlu bersedih ya, terima
lah surat ini dengan kegembiraan. Sudah sejak lama aku ingin membuat surat
untuk Ibu. Mungkin berbicara langsung sembari menggelayuti ibu adalah hal yang
menyenangkan. Namun, lewat ucapan langsung terkadang ada kata yang tak terucap.
Maka lewat ini ku tumpahkan. Aku rindu, benar rindu Bu.
Dulu,
aku gadis kecil yang berlari-larian ke sana - ke mari. Bahkan mungkin ibu tak
sempat merekam dari masa ke masa perkembanganku. Sedari kecil aku diemong Embah
Warung bukan, Bu? Bagiku itu tak terlalu masalah. Foto-foto kecilku pun tak
pernah ku temukan, kecuali foto di rapor sekolah dasar. Ah bu aku memahamimu.
Kau Ibu yang hebat. Selain kau jago menjaga pertahanan rumah, kau pula ke sana
– ke mari agar koin-koin terkumpul. Ya, menyetok es lilin dari sekolah ke
sekolah.
Maka, aku sangat senang sekali jika kau beri koin lebih untuk uang
sakuku. Aku juga bisa mengambil koin sesuka hatiku. Walau koin, kau tetep
mengumpulkan, menghitung, dan membelanjakannya bahan untuk esok hari. Tak
jarang banyak tetangga yang menukar koin untuk tedak siti anaknya. Tapi kau
selalu berpesan saat aku diundang untuk menghadiri tedak siti. “Ngroyok duite
ojo nang tengah-tengah ya, Nduk. Mengko mundhak keidhak-idhak wong gedhe-gedhe.
Mengko diwenehi Mae wae,” tuturnya.
Mengemudikan
motor Grand biru dari sekolah satu ke sekolah lain membuat Ibu dikenal
guru-guru. Walau ibu tak seorang guru, ia cukup akrab dengan guru-guru. Ibu, seorang
yang ramah dan gampang akrab. Saat ada hajatan guru-guru pun ibu diundang.
Ibu,
seorang yang cerdas dan cerdik. Ia selalu bisa mengontrol hal-hal yang berbau
simbolik. Tak pernah sekalipun aku mendengar ingin ini dan itu. Aku tahu Bu,
kau tentu ingin menjaga kondisi agar tetap sesuai dengan mimpimu. Walau, itu
hanya sebuah angan seorang perempuan desa, tapi ikhtiar mu yang tiada usai itu
yang membuatku haru biru. Darimu aku belajar, bagaimana menjadi seorang
perempuan sebenar-benar manusia bukan sekadar perempuan. Darimu aku belajar
bahwa kerjasama Ibu dan Bapak adalah untaian ikhtiar untuk saling mengisi
kekosongan. Darimu aku belajar bahwa tiada manusia unggul di lain jenis
kelamin. Darimu aku belajar menjadi manusia yang memilih bangkit jika dunia
menumbangkanmu. Darimu aku belajar kesederhanaan dan selalu menyungging senyum.
Sebab senyum tak hanya sekadar melebarkan bibir. Namun, mentransfer energi
dalam diri dan orang-orang yang berada di sekeliling. Begitu kiranya, Bu.
Terkadang
aku meresahkan kesehatan Ibu. Terkadang pula aku melarang Ibu untuk memilah
makanan ini dan itu, untuk menggunakan ini saja daripada itu. Ah, itu semua
sebab aku begitu menyayangimu, Bu. Namun, sekarang ku sadari bahwa everyone’s fine. Selagi ibu masih bisa
tersenyum aku tak patut untuk meresahkan segala sesuatunya. Mengikuti ritme
kehidupan ini dan selalu menjaga ikhtiar barangkali satu hal yang patut ku
syukuri. Melihat kita bisa bersanding dari satu generasi ke generasi senantiasa
terkucur dalam tiap doa. Ibu……
05 Mei 2015 | DM
0 comments:
Post a Comment