Tuesday, February 10, 2015

Otonomi Mimpi

Hubungan orang tua-anak sering kali mengalami kendala. Baru-baru ini, seorang kawan dari sumatera memberi informasi jika ia mendapati sebuah iklan di Koran terkait pemutusan hubungan orang tua-anak. Isi iklan tersebut kiranya orang tua yang memutus hubungannya dengan anak kandungnya sebab ia sudah tidak lagi menurut. Jika terjadi suatu apa pun, orang tua tidak lagi mau tahu. “Hah, ini serius? Atau hanya sekadar asyik-asyik saja. Ternyata itu serius Dar”.

Aku tersentak dan semacam tak percaya. Dari seorang ibu-bapak yang ku kenal, aku belajar memaknai hubungan orang tua-anak. “Pak, dalam foto keluarga tersebut nampak sumringah. Dua putranya sekarang di mana?” tanyaku sembari memandangi foto per foto. Yang sulung di Bandung, yang Ragil di Jakarta. Keduanya sekarang kerja di perusahaan asing. “Wah, pas dia menerima gaji pertama kan bilang sama mamanya, mamanya kaget. “Wah dek, gaji segitu ibu dapat satu tahun lebih”. Kalau saya semua terserah anak,” terangnya sembari menyorot tajam ke bingkai foto.

Pak Tukiman selalu menekankan mimpi itu tidak bayar. Jadi, jangan sekali-kali melarang mimpi. Anak-anak dari kecil bermimpi keliling dunia. Di usia 24 tahun ini, Ragil telah lulus S2 dan sudah keliling Eropa. Dalam hal ini orang tua mesti menghargai dan mendorong mimpi anak. Walau hal tersebut dalam prediksi susah dicapai namun tak ada yang mustahil. Mendukung serta menunjukkan sikap peduli menjadi pintu pembuka anak untuk terus dan terus bermimpi. Dengan begitu orang tua-anak akan sama-sama mengerti dan memahami peran masing-masing. Sementara menunjukkan kontrol mimpi terhadap anak akan membuat anak merasa diawasi orang tua. Anak mulai rishi sebab tak ada lagi kepercayaan yang diberikan orang tua. Orang tua membatasi ekspresi, gagasan, atau bahkan menganggap hal-hal konyol.
Bermimpilah Dar….

03 Mei 2015 | DM

0 comments: