Hubungan orang tua-anak sering
kali mengalami kendala. Baru-baru ini, seorang kawan dari sumatera memberi
informasi jika ia mendapati sebuah iklan di Koran terkait pemutusan hubungan
orang tua-anak. Isi iklan tersebut kiranya orang tua yang memutus hubungannya
dengan anak kandungnya sebab ia sudah tidak lagi menurut. Jika terjadi suatu
apa pun, orang tua tidak lagi mau tahu. “Hah, ini serius? Atau hanya sekadar
asyik-asyik saja. Ternyata itu serius Dar”.
Aku tersentak dan semacam tak
percaya. Dari seorang ibu-bapak yang ku kenal, aku belajar memaknai hubungan
orang tua-anak. “Pak, dalam foto keluarga tersebut nampak sumringah. Dua
putranya sekarang di mana?” tanyaku sembari memandangi foto per foto. Yang
sulung di Bandung, yang Ragil di Jakarta. Keduanya sekarang kerja di perusahaan
asing. “Wah, pas dia menerima gaji pertama kan bilang sama mamanya, mamanya
kaget. “Wah dek, gaji segitu ibu dapat satu tahun lebih”. Kalau saya semua
terserah anak,” terangnya sembari menyorot tajam ke bingkai foto.
Pak Tukiman selalu menekankan mimpi
itu tidak bayar. Jadi, jangan sekali-kali melarang mimpi. Anak-anak dari kecil
bermimpi keliling dunia. Di usia 24 tahun ini, Ragil telah lulus S2 dan sudah
keliling Eropa. Dalam hal ini orang tua mesti menghargai dan mendorong mimpi
anak. Walau hal tersebut dalam prediksi susah dicapai namun tak ada yang
mustahil. Mendukung serta menunjukkan sikap peduli menjadi pintu pembuka anak
untuk terus dan terus bermimpi. Dengan begitu orang tua-anak akan sama-sama
mengerti dan memahami peran masing-masing. Sementara menunjukkan kontrol mimpi
terhadap anak akan membuat anak merasa diawasi orang tua. Anak mulai rishi
sebab tak ada lagi kepercayaan yang diberikan orang tua. Orang tua membatasi
ekspresi, gagasan, atau bahkan menganggap hal-hal konyol.
Bermimpilah Dar….
03 Mei 2015 | DM
0 comments:
Post a Comment