Senin
sore menjadi hari yang begitu menyenangkan. Bertemu dengan anak-anak dan
bermain-main. Sore itu kami mengagendakan mengarsir gambar. Pensil warna,
crayon, dan juga gambar telah disediakan oleh Nita. Nita, seorang yang berjiwa
besar untuk senantiasa mendampingi anak-anak dalam bermain.
Sebenarnya
sore itu aku ingin menebus dosa. Ya, ku katakan dosa sebab, untuk memaafkan
diri sendiri, bagiku menjadi hal tersulit. Hampir satu bulan aku tak berkumpul
dengan mereka. Ah, alasan sibuk ini dan itu adalah alasan klasik. Aku saja yang
tak bisa membagi waktu dan kadang kalau ada waktu longgar aku berasumsi aku
butuh istirahat. Oh, ini adalah kebodohanku. Mestinya aku bisa membuat route
map sehari-hari yang lebih rapi lagi. Agar ini dan itu nya bisa tercover dengan
baik. Aku akui sampai sekarang apa yang ku lakukan masih serampangan dan kadang
melompat kembali melompat kembali tak jelas gitu.
Ya,
sore ini aku posisikan usiaku seumuran dengan anak-anak. Aku juga akan
mengarsir gambar layaknya mereka. Sore ini akan menjadi sore yang harus bisa
membayar sore-sore kemarin yang terlewat. Ada dua pilihan untuk mewarnai,
pensil warna dan crayon. Sebagian anak-anak memilih pensil warna sebab hasilnya
bisa lebih rapi dan tidak terlalu tebal. Sementara aku memilih crayon. Aku
sangat suka crayon. Sewaktu kecil aku tak pernah menggunakan crayon. Crayon
harganya lebih mahal dari pensil warna. Juga dikampungku dulu, tak semua
warung-warung kecil tetangga menjual crayon. Ya, aku terbiasa menggunakan
pensil warna saja. Itu pun pensil warna yang sering bujel, sebab kayu
pegangannya yang tak bagus.
Seorang
mendekat dan bertanya, Agnes namanya, “Kak, apa pak pos dan motornya itu boleh
diwarnai selain oranye?” “Oh, boleh sekali Nak. Kamu bisa memberi warna
apapun.” Ia yang tak puas kemudian mengajukan pertanyaan lagi, “Apa ndak wagu
to kak, kan warnane oranye?” “Nak, kamu bisa memberi warna sesuka hatimu. Jika
kamu menginginkan warnanya pink, warnai dengan pink. Barangkali di masa depan
kamu akan mempunyai usaha semacam kantor pos dan kau beri warna pink.” “Oh,
bagus bagus kak. Terima kasih.”
Setelah
memberi penjelasan ku pegang kembali crayon warna hijau. Ah, bosen dengan warna
hijau. Dengan cepat ku ambil warna biru. Gambar kali ini aku menggunakan semua
warna. Dari dua pak crayon, semua warna yang ada ku goreskan di gambar. “Kak,
kenapa harus warna warni begini. Masak, blangkon warnanya cerah?” “Oh, tidak
apa, Nak.” “Enggak ah, itu gak biasanya. Pakaian jawa tidak menggunakan
warna-warna yang cerah dan menonjol.” “Oh iya, kamu bisa mewarnai sesuai dengan
keinginanmu.”
Anak-anak
saat ingin menggoreskan warna merasa bimbang. Antara ingin mewarnai sesuai
dengan realita atau mereka ingin mewarnai sesuai dengan imaji mereka. Kalau
mereka mewarnai sesuai imaji mereka, itu merupakan hal yang tidak wajar. Dan ia
harus menjelaskan pada yang lain. Seperti halnya, Jefri yang memberi warna
berlapis-lapis di gambarnya. Goresannya begitu lembut dan rapi. “Mengapa kamu
beri warna seperti ini?” “Iya, karena aku sedang membayangkan lapis yang enak.
He-he-he.”
Warna
tak sekadar menjadi pembeda. Warna bisa melatih kreativitas seseorang. Warna
pula dapat memancing imaji seseorang untuk suatu hal-hal yang di luar dugaan.
Lebih baik mencoba hal-hal yang tak lumrah untuk menemu sebuah makna, daripada
terus melanggengkan apa yang ada tanpa tahu arti sebenarnya. Memederkakan
pikiran sangat perlu. Dimana kita tak terlalu menimbang-nimbang baik dan benar
saja. Namun, selalu ada kemungkinan dan pemahaman yang baru. “Nak, ikuti sesuai
yang kamu inginkan, bermimpilah……”
6 Febuari 2015 | DM
0 comments:
Post a Comment