Tuesday, February 10, 2015

Memerdekakan Pikiran

Senin sore menjadi hari yang begitu menyenangkan. Bertemu dengan anak-anak dan bermain-main. Sore itu kami mengagendakan mengarsir gambar. Pensil warna, crayon, dan juga gambar telah disediakan oleh Nita. Nita, seorang yang berjiwa besar untuk senantiasa mendampingi anak-anak dalam bermain.

Sebenarnya sore itu aku ingin menebus dosa. Ya, ku katakan dosa sebab, untuk memaafkan diri sendiri, bagiku menjadi hal tersulit. Hampir satu bulan aku tak berkumpul dengan mereka. Ah, alasan sibuk ini dan itu adalah alasan klasik. Aku saja yang tak bisa membagi waktu dan kadang kalau ada waktu longgar aku berasumsi aku butuh istirahat. Oh, ini adalah kebodohanku. Mestinya aku bisa membuat route map sehari-hari yang lebih rapi lagi. Agar ini dan itu nya bisa tercover dengan baik. Aku akui sampai sekarang apa yang ku lakukan masih serampangan dan kadang melompat kembali melompat kembali tak jelas gitu.

Ya, sore ini aku posisikan usiaku seumuran dengan anak-anak. Aku juga akan mengarsir gambar layaknya mereka. Sore ini akan menjadi sore yang harus bisa membayar sore-sore kemarin yang terlewat. Ada dua pilihan untuk mewarnai, pensil warna dan crayon. Sebagian anak-anak memilih pensil warna sebab hasilnya bisa lebih rapi dan tidak terlalu tebal. Sementara aku memilih crayon. Aku sangat suka crayon. Sewaktu kecil aku tak pernah menggunakan crayon. Crayon harganya lebih mahal dari pensil warna. Juga dikampungku dulu, tak semua warung-warung kecil tetangga menjual crayon. Ya, aku terbiasa menggunakan pensil warna saja. Itu pun pensil warna yang sering bujel, sebab kayu pegangannya yang tak bagus.

Seorang mendekat dan bertanya, Agnes namanya, “Kak, apa pak pos dan motornya itu boleh diwarnai selain oranye?” “Oh, boleh sekali Nak. Kamu bisa memberi warna apapun.” Ia yang tak puas kemudian mengajukan pertanyaan lagi, “Apa ndak wagu to kak, kan warnane oranye?” “Nak, kamu bisa memberi warna sesuka hatimu. Jika kamu menginginkan warnanya pink, warnai dengan pink. Barangkali di masa depan kamu akan mempunyai usaha semacam kantor pos dan kau beri warna pink.” “Oh, bagus bagus kak. Terima kasih.”

Setelah memberi penjelasan ku pegang kembali crayon warna hijau. Ah, bosen dengan warna hijau. Dengan cepat ku ambil warna biru. Gambar kali ini aku menggunakan semua warna. Dari dua pak crayon, semua warna yang ada ku goreskan di gambar. “Kak, kenapa harus warna warni begini. Masak, blangkon warnanya cerah?” “Oh, tidak apa, Nak.” “Enggak ah, itu gak biasanya. Pakaian jawa tidak menggunakan warna-warna yang cerah dan menonjol.” “Oh iya, kamu bisa mewarnai sesuai dengan keinginanmu.”
Anak-anak saat ingin menggoreskan warna merasa bimbang. Antara ingin mewarnai sesuai dengan realita atau mereka ingin mewarnai sesuai dengan imaji mereka. Kalau mereka mewarnai sesuai imaji mereka, itu merupakan hal yang tidak wajar. Dan ia harus menjelaskan pada yang lain. Seperti halnya, Jefri yang memberi warna berlapis-lapis di gambarnya. Goresannya begitu lembut dan rapi. “Mengapa kamu beri warna seperti ini?” “Iya, karena aku sedang membayangkan lapis yang enak. He-he-he.”

Warna tak sekadar menjadi pembeda. Warna bisa melatih kreativitas seseorang. Warna pula dapat memancing imaji seseorang untuk suatu hal-hal yang di luar dugaan. Lebih baik mencoba hal-hal yang tak lumrah untuk menemu sebuah makna, daripada terus melanggengkan apa yang ada tanpa tahu arti sebenarnya. Memederkakan pikiran sangat perlu. Dimana kita tak terlalu menimbang-nimbang baik dan benar saja. Namun, selalu ada kemungkinan dan pemahaman yang baru. “Nak, ikuti sesuai yang kamu inginkan, bermimpilah……”

6 Febuari 2015 | DM

0 comments: