Tuesday, February 10, 2015

Dua Biji Rambutan


Cerita masih berlanjut di rumah Pak Taruno. Kami tengah asyik berbincang. Saling tertawa lepas dan sesekali aku menyodorkan pertanyaan yang membuat ekspresi Pak Taruno berubah.

Seorang perempuan dari arah dalam rumah menyangga nampan, ia menyilakan “monggo mbak”. Dalam hati asyik pagi-pagi uda disodorin teh. Enak pula. Agaknya tidak seperti teh biasa yang ku minum dan manisnya itu dari madu. “Oh ini rejeki,” kataku dengan nada lirih dalam hati.

Suara motor dari luar membuyarkan obrolan kami. Tanpa dikomando pandangan kami langsung terarah ke luar. Ya, motor itu berparkir di halaman. Seorang lelaki sekitar usia 50 tahun yang berpeci putih dan jenggot putih panjang menyapa. Pak Taruno keluar ruangan kemudian menyilakan untuk duduk di ruang tamu. “Pak, saya mau minta maaf. Kemarin sore saya mengambil dua biji rambutan. Rambutan bapak menggoda saya ketika keliling jalan untuk mengumpulkan pot dan tanaman dari warga,” ujarnya. Di komplek perumahan itu sekelompok warga berinisiatif untuk menghijaukan lahan di tanah kosong dengan menanaminya bunga dan tanaman lain. “Oh tidak apa-apa kalau mau ambil saja. Nunggu saya ada, lha wong jarang di rumah. He-he-he. Saya juga minta maaf lho pak, jarang ikut kegiatan RT.”

Melihat dua lelaki yang saling bermaafan dengan berjabat tangan dan memegang bahu adalah pemandangan yang indah dari berbagai pemandangan yang ada. Dua orang yang meyakini kepercayaan berbeda.

Sedari awal perbincangan, Pak Taruno selalu memuji Tuhan dan seakan mengembalikan segala sesuatu pada-Nya. Persis di tembok depan kami, menempel patung Yesus serta pernak-pernik lainnya yang menempel dan tertata rapi di meja.

Dua biji rambutan telah mempertemukan dua orang yang rindu untuk bertemu dan berbincang. Ya, lewat apapun semua bisa terjadi. Bahwa ada kekuatan di luar diri manusia yang kuat. Menerawang dua senyum lelaki ini adalah senyum ketulusan yang begitu alami. Dengan senyum kekakuan akan cair. Dengan senyum orang sama-sama yakin mempunyai derajat yang sama. Dengan senyum orang akan menganggap diri sebagai kawan. Dengan senyum tersimpan kecantikan dan kegagahan yang tulus begitu adanya.


3 Mei 2015 | DM

0 comments: