Cerita masih berlanjut di rumah Pak
Taruno. Kami tengah asyik berbincang. Saling tertawa lepas dan sesekali aku
menyodorkan pertanyaan yang membuat ekspresi Pak Taruno berubah.
Seorang
perempuan dari arah dalam rumah menyangga nampan, ia menyilakan “monggo mbak”.
Dalam hati asyik pagi-pagi uda disodorin teh. Enak pula. Agaknya tidak seperti
teh biasa yang ku minum dan manisnya itu dari madu. “Oh ini rejeki,” kataku
dengan nada lirih dalam hati.
Suara
motor dari luar membuyarkan obrolan kami. Tanpa dikomando pandangan kami
langsung terarah ke luar. Ya, motor itu berparkir di halaman. Seorang lelaki
sekitar usia 50 tahun yang berpeci putih dan jenggot putih panjang menyapa. Pak
Taruno keluar ruangan kemudian menyilakan untuk duduk di ruang tamu. “Pak, saya
mau minta maaf. Kemarin sore saya mengambil dua biji rambutan. Rambutan bapak
menggoda saya ketika keliling jalan untuk mengumpulkan pot dan tanaman dari
warga,” ujarnya. Di komplek perumahan itu sekelompok warga berinisiatif untuk
menghijaukan lahan di tanah kosong dengan menanaminya bunga dan tanaman lain.
“Oh tidak apa-apa kalau mau ambil saja. Nunggu saya ada, lha wong jarang di
rumah. He-he-he. Saya juga minta maaf lho pak, jarang ikut kegiatan RT.”
Melihat
dua lelaki yang saling bermaafan dengan berjabat tangan dan memegang bahu
adalah pemandangan yang indah dari berbagai pemandangan yang ada. Dua orang
yang meyakini kepercayaan berbeda.
Sedari
awal perbincangan, Pak Taruno selalu memuji Tuhan dan seakan mengembalikan
segala sesuatu pada-Nya. Persis di tembok depan kami, menempel patung Yesus
serta pernak-pernik lainnya yang menempel dan tertata rapi di meja.
Dua
biji rambutan telah mempertemukan dua orang yang rindu untuk bertemu dan
berbincang. Ya, lewat apapun semua bisa terjadi. Bahwa ada kekuatan di luar
diri manusia yang kuat. Menerawang dua senyum lelaki ini adalah senyum
ketulusan yang begitu alami. Dengan senyum kekakuan akan cair. Dengan senyum
orang sama-sama yakin mempunyai derajat yang sama. Dengan senyum orang akan
menganggap diri sebagai kawan. Dengan senyum tersimpan kecantikan dan kegagahan
yang tulus begitu adanya.
3 Mei 2015 | DM
0 comments:
Post a Comment