Wednesday, January 21, 2015

Mengalun Atas Rasa

kupit anggota dari nosstress indie band
Hidup ini memang indah…. oh tapi mengapa…..
terlalu banyak logika yang mengalahkan rasa….

Kaos oblong menjadi ciri khasnya. Anak muda berkacamata ini, tak bisa lepas dari musik. Benda apa pun yang dilihatnya bisa dijadikan alat musik yang mengeluarkan bunyi merdu. Ia mengaku bernama Kupit. Nama aslinya I Komang Gunawarma. Lalu, mengapa Kupit? Entah….

Siapa tak tahu Bali, kawan? Barangkali jika belum berkesempatan bersinggah ke sana, nama Bali sudah sangat familiar di telinga bumi pertiwi dan telinga bule internasional. Bali menjadi surga dunia. Orang berbondong-bondong ingin melepas kegembiraan di sana. Berapa juta orang yang melakukan perjalanan honeymoon ke Bali? Berapa ribu sekolah yang menjadwalkan wisata ke Bali? Berapa pasang bule yang ingin menyatakan cinta di Bali? Lalu, berapa ribu investor yang ingin membuka usaha di Bali? Berapa ribu juga yang ingin membeli pulau-pulau yang ada di Bali? Ya, itu Bali bagian dari Indonesia.

Kupit adalah anak kandung Bali. Ia lahir dan besar di sana. Denpasar tepatnya. Dua tahun belakangan, anak muda yang tergabung dalam band indie “Nosstress” ini mulai gusar akan Bali. Anak muda jebolan dari Diploma jurusan komputer ini mulai mengeja dengan perlahan akan perkembangan Bali. Tanah peribadatan dan ibu kandung darinya. Kasus yang memanas di Bali yakni reklamasi teluk Benoa yang akan mengurung 850 hektar mengusik lamunannya. Kupit bersama Angga dan Tjok memahami betul kondisi tersebut yang tak hanya memerawani Teluk Benoa saja, namun merenggut kehidupan sosial di sana. “Bali tidak hanya sekadar uang, namun juga kenyamanan untuk tinggal. Para penduduk asli utamanya,” tutur Kupit.

"Bali tidak hanya sekadar uang, namun juga kenyamanan untuk tinggal para penduduk aslinya" 

Ia bersama kedua kawannya akhirnya sepakat untuk mengangkat isu lingkungan dari apa yang ia rasakan, alami, dan lihat. Sebuah lagu “Bali Tolak Reklamasi” kini menjadi lagu favorit dari anak-anak hingga orang dewasa di Bali dan sekitar. Naskah garapan Agung Alit itu kemudian dipermulus liriknya dan ditambah nadanya oleh Kupit. Lagu yang didendangkan di hadapan ribuan orang saat melakukan aksi menolak reklamasi. Selain anak Band, Kupit dan kawan-kawannya ingin mengatakan bahwa peduli terhadap alam begitu penting. Lewat media apa pun orang bisa menyalurkannya. Maka, tak heran dalam perbincangan, orang akan mengatakan Nosstress adalah band yang ingin menyuarakan isu lingkungan.

Nosstress lahir dari anak muda yang semasa SMA mendapatkan bulliying. Suatu ketika, kenang Kupit, kepala sekolahnya tidak menyukai acara musik. Saat upacara bendera kepsek sering bilang begini, “Pulang sekolah kongkow-kongkow ambil gitar, genjrang-genjreng sing karuan entekan, mau jadi apa kamu, Nak?”

Kondisi seperti itu lah yang ingin dibuktikan Kupit bahwa musik tak bisa selamanya dipandang negative. Ia ingin merdeka lewat musik. Maka, pilihan menjadi band independen bukan tanpa alasan. Ia pun turut ke jalanan bersama aktivis untuk menyuarakan kepedulian mereka terhadap alam. Ketika ditanya soal keinginan untuk menjadi band besar dan terkenal ia menjawab, “Saya dengan seperti ini sudah cukup. Di rumah ada rumah rekaman walau kecil. Ah, untuk sekadar membelikan es pada teman bisa lah. Hobi malah. Lalu, apa lagi?” candanya.

Nosstress besar atas kesederhanaan. Lagu-lagu yang mengalun dari langkah sehari-hari dan dari hati ini mulai digandrungi anak muda. Juni lalu, ia berkesempatan tinggal di Jerman selama satu bulan. Dalam satu bulan tersebut ia mendapat kesempatan beberapa kali manggung di hadapan masyarakat Jerman. Tak lupa, ia ke sana dengan membawa misi bahwa Bali menolak reklamasi.

Nosstress mengalunkan musik atas rasa. Seperti cuplikan lagu di atas, nosstress tidak ingin terjebak dalam logika. Keseimbangan antara logika dan rasa menjadi satu usaha yang ingin dibumikan. Nosstress berarti tanpa tekanan. Dalam bahawa perancis, nosstress berarti our stress. Lagu-lagu yang mengalun dari nosstress memang berasal dari keresahan-keresahan personilnya, yang lalu menjadi keresahan kita. Saat ini sudah dua album yang diluncurkan, Perspektif Bodoh I dan Perspektif Bodoh II. DM

            

0 comments: