Monday, November 17, 2014

Anak Jalanan Mengolah Anak Jalanan

Hanya ia yang telah terpanggil jiwanya yang tergerak. 

Anak-anak seringkali menjadi korban kekerasan. Dari mulai eksploitasi, penganiayaan, dan pelecehan. Anak tak kuasa untuk menolak segala macam ancaman yang menyerangnya. Ia dalam kondisi yang lemah. Maka, hanya orang-orang yang terpanggil jiwanya yang mau memperjuangkan hak-hak mereka.

Anak-anak merupakan aset emas bangsa. Ia akan menjadi garda depan bangsa selanjutnya. Anak menurut WHO, mereka yang usinya di bawah 18 tahun. Seringkali orang mengabaikan hak-hak anak. Padahal sudah tertera jelas dalam konvensi hak anak.

Ini aktivisnya selama dua belas tahun memperjuangkan hak-hak anak yang terabaikan. Ia bukan orang yang dengan berjubel gelar, atau jebolan dari sekolah luar negeri. Pendidikan formal terakhir ia sekolah menengah kejuruan yang konsen di bidang perikanan. Namun, pemikiran dan sikap yang ia ambil tak lebih buruk dari para ‘anak kandung sekolah formal’ dengan gelar bertumpuk-tumpuk. Ia adalah Yuli Sulistiyanto. Pria kelahiran Temanggung 1 Juli 1976.

Semua kalangan akrab memanggilnya dengan Mas Yuli. Tua dan muda menyebutnya begitu. Ia memang tak ingin menerapkan strata dalam sebutan namanya. Sekalipun ia dipanggil Yuli toh tidak masalah. Bagaimana Mas Yuli membangun komitmen dan kiprahnya untuk memperjuangkan hak-hak anak? Berikut wawancaranya.

Kapan pertama kali Anda bersinggungan dengan anak jalanan atau biasa 
disingkat anjal?

Bercerita tentang anjal merupakan sebuah jalan yang panjang. Dulu saya seoarang anak jalanan. Hidup tak menentu di jalanan. Di mulai 1997 sewaktu saya harus keluar dari sebuah bank yang sedang dilanda krisis. Sebenarnya melalui relasi yang saya punya saat itu, saya bisa bekerja di tempat lain. Namun, saya memilih tidak dan sejak itu saya mulai bergabung dengan teman-teman jalanan. Dari mulai tak punya tempat tinggal, baju hanya punya sepasang yang melekat sebab baju yang lain sudah diberikan teman-teman yang lain, berpindah-pindah mengamen dari tempat satu ke tempat lainnya, dari kota satu ke kota lain, hingga berlangsung selama lima tahun.

Saya sudah pernah merasakan ‘kenakalan’ anak-anak jalanan. Tapi begitullah kenakalan-kenakalan tersebut bukan tanpa sebab. Banyak faktor yang memengaruhinya. Maka, tidak bisa di stigma negatif. Namun, saat itu bahkan setelahnya saya masih saja dapat stigma buruk di masyarakat. Mereka semacam menganggap saya sebagai orang urakan yang balelo, tanpa tahu bagaimana kondisi psikologis saya entah akibat keluarga atau lingkungan.

Pengalaman menarik apa yang pernah anda jumpai saat menjadi anak jalanan?

Pernah itu saya mengoordinir 300 anak jalanan untuk demo di depan gedung DPRD. Itu sih berbau politis. Sebab ada orang yang meminta dan menjanjikan uang lelah. Ya, saat itu saya hanya mikir bisa mengganjal perut itu saja. Bukan untuk alasan lain. Namun, kalau saat ini ya sadar itu tidak baik.

Kapan Anda sadar untuk melepaskan diri dari keterlibatan pelaku jalanan?

Sejak saya menikah pada 2000, saya sudah mulai meminimalisir untuk tidak sesering dulu keluar bersama anak jalanan. Tentunya, sudah ada tanggungjawab tidak hanya memikirkan diri sendiri namun ada istri, keluarga, dan masyarakat. Jalan panjang untuk benar-benar mengentaskan diri dari keterlibatan langsung sebagai pelaku jalanan itu, dua tahun setelah menikah, saya masih sering turun ke jalan. Sekadar melepas kerinduan dan berkumpul dengan mereka.

Lebih-lebih kalau sedang ada kerikil-kerikil yang menyandung dalam perjalanan hidup bersama istrinya, ia akan menengok rekan-rekan di jalanan. Rindu itu sering menghampiri. Tapi, memang harus membuat kontrol diri. Istri saya yang setia ‘ngopeni’ dalam kondisi apa pun. Begitu, saya memahami makna kehidupan. Tiada yang sempurna. Gusti Allah melalui kuasa tangannya merubah saya melalui istri.

Anda pernah hidup di jalanan selama bertahun-tahun. Adakah kenakalan yang pernah anda lakukan terhadap orang lain atau justru hal tersebut menimpa diri sendiri?

Ya, kenakalan seperti layaknya stigma negatif masyarakat terhadap anjal pernah saya lakukan. Hidup di jalanan itu kejam. Kami survive untuk bertahan hidup. Maka, mereka perlu sentuhan tangan-tangan orang yang mau mengerti, memahami kondisinya.

Adakah orang selain istri yang membantu jalan panjang anda dalam menemu hidup?

Saat di jalanan saya bertemu dengan Ibu Prapto. Saya sudah menganggapnya sebagai ibu selain ibu kandung saya. Ia yang ngopeni beberapa anak jalanan. Namun, saya tidak tinggal di rumahnya. Hanya sesekali ke sana atau Ibu Prapto yang menyambangi kami. Sosok Ibu Prapto tak akan pernah terlupakan sepanjang hidup saya. Nah, dari Bu Prapto ini saya belajar memaknai hidup.

Bagaimana awal mula anda bergabung di yayasan setara?

Saya sudah akrab dengan para pendiri yayasan setara sejak menjadi anak jalanan. Tak sering mereka mengadakan kegiatan dengan menggandeng aktivis untuk turun ke jalanan. Mas Odi, dll itu yang mempunyai gagasan pertama untuk mencetuskan yayasan setara. Dulu, namanya Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS) pada 1997-1999. Baru pada 1999 menjadi yayasan setara. Saya bergabung dengan setara pada 2002.

Selain akrab dengan pendiri setara saya akrab pula dengan para aktivis dan volunteer. Mereka yang mengantar saya untuk mengintip sedikit tentang dunia kampus. Banyak kampus yang pernah saya singgahi. Saya bisa belajar seni dan sastra dengan mereka. Kalau saya ingin masuk perkuliahan dengan mereka ya masuk. Sering malah. Di Jogjakarta pernah ngampus di UMY, UGM, dan ISI. Ya berkat rekan-rekan aktivis dan volunteer itu. Saya menjadi pegiat komunitas kesenian dan sastra.

Sebenarnya apa yang anda perjuangkan di yayasan setara ini, toh sudah ada lembaga kepemerintahan yang khusus menangani perlindungan anak?

Anda yakin, jika hanya digawangi lembaga kepemerintahan saja bisa berjalan maksimal? Bukan dalam rangka merendahkan, namun ini tugas kita semua. Saat ini yang bisa saya lakukan dengan cara seperti ini ya saya lakukan. Kami berkolaborasi pula dengan lembaga kepemerintahan. Tujuan kami hanya ingin menganggap mereka korban dan pelaku anjal ada dan diperhatikan. Layaknya lembaga swadaya masyarakat lain, kami bertugas untuk memonitor dan meneropong apa-apa yang dilakukan Negara (trias politica). Secara ruang kami bergerak sama dengan lembaga kepemerintahan yang menangani kasus yang sama. Namun, secara metodologis tidak.

Saya kog masih berkeyakinan kalau hak asasi manusia itu representasi dari ajaran agama. Ajaran agama itu menganjurkan manusia agar bermanfaat pada orang lain. Nah, di sini barangkali saya bisa bermanfaat terhadap orang lain. Selain itu, latar belakang saya yang pernah mencicipi dunia anjal saya merasa perlu pula untuk mengentaskan mereka. Walau tak bisa banyak berbuat setidaknya ada sedikit sentuhan yang saya lakukan.

Yayasan setara berfokus pada korban ESKA (Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak). Mengapa demikian?

Kasus eksploitasi seksual pada anak sangat memprihatinkan. Sekarang saja semenjak kasus di JIS terangkat masyarakat semakin yakin untuk berani mengungkap. Padahal sudah sejak lama. Dilematis memang dengan kasus kekerasan seksual ini.

Kekerasan seksual pada anak yang semakin marak ini, menurut anda apa penyebabnya?

Saat ini ada pola pergeseran pengasuhan anak. Keluarga yang dalam ruang pertama harus menggawangi anak-anak mereka ternyata tak lagi bisa diandalkan. Orang tua sibuk mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari. Walau peran orang tua seperti itu tak bisa disalahkan, kemudian harus dicari titik temunya. Sementara ruang kedua anak yakni di sekolah. Sekolah pun ternyata tak juga memberikan keamanan bagi anak. Jika kedua ruang ini sudah jebol, ya seperti ini lah kasusnya yang semakin marak dan terangkat ke publik. DM







0 comments: