Hanya ia yang telah terpanggil jiwanya yang tergerak.
Anak-anak seringkali
menjadi korban kekerasan. Dari mulai eksploitasi, penganiayaan, dan pelecehan.
Anak tak kuasa untuk menolak segala macam ancaman yang menyerangnya. Ia dalam
kondisi yang lemah. Maka, hanya orang-orang yang terpanggil jiwanya yang mau memperjuangkan
hak-hak mereka.
Anak-anak merupakan
aset emas bangsa. Ia akan menjadi garda depan bangsa selanjutnya. Anak menurut
WHO, mereka yang usinya di bawah 18 tahun. Seringkali orang mengabaikan hak-hak
anak. Padahal sudah tertera jelas dalam konvensi hak anak.
Ini aktivisnya selama dua belas tahun memperjuangkan hak-hak anak yang
terabaikan. Ia bukan orang yang dengan berjubel gelar, atau jebolan dari
sekolah luar negeri. Pendidikan formal terakhir ia sekolah menengah kejuruan
yang konsen di bidang perikanan. Namun, pemikiran dan sikap yang ia ambil tak
lebih buruk dari para ‘anak kandung sekolah formal’ dengan gelar
bertumpuk-tumpuk. Ia adalah Yuli Sulistiyanto. Pria kelahiran Temanggung 1 Juli
1976.
Semua kalangan akrab
memanggilnya dengan Mas Yuli. Tua dan muda menyebutnya begitu. Ia memang tak
ingin menerapkan strata dalam sebutan namanya. Sekalipun ia dipanggil Yuli toh
tidak masalah. Bagaimana Mas Yuli membangun komitmen dan kiprahnya untuk
memperjuangkan hak-hak anak? Berikut wawancaranya.
Kapan
pertama kali Anda bersinggungan dengan anak jalanan atau biasa
disingkat anjal?
Bercerita tentang anjal
merupakan sebuah jalan yang panjang. Dulu saya seoarang anak jalanan. Hidup tak
menentu di jalanan. Di mulai 1997 sewaktu saya harus keluar dari sebuah bank
yang sedang dilanda krisis. Sebenarnya melalui relasi yang saya punya saat itu,
saya bisa bekerja di tempat lain. Namun, saya memilih tidak dan sejak itu saya
mulai bergabung dengan teman-teman jalanan. Dari mulai tak punya tempat
tinggal, baju hanya punya sepasang yang melekat sebab baju yang lain sudah
diberikan teman-teman yang lain, berpindah-pindah mengamen dari tempat satu ke
tempat lainnya, dari kota satu ke kota lain, hingga berlangsung selama lima
tahun.
Saya sudah pernah
merasakan ‘kenakalan’ anak-anak jalanan. Tapi begitullah kenakalan-kenakalan
tersebut bukan tanpa sebab. Banyak faktor yang memengaruhinya. Maka, tidak bisa
di stigma negatif. Namun, saat itu bahkan setelahnya saya masih saja dapat
stigma buruk di masyarakat. Mereka semacam menganggap saya sebagai orang urakan
yang balelo, tanpa tahu bagaimana kondisi psikologis saya entah akibat keluarga
atau lingkungan.
Pengalaman
menarik apa yang pernah anda jumpai saat menjadi anak jalanan?
Pernah itu saya
mengoordinir 300 anak jalanan untuk demo di depan gedung DPRD. Itu sih berbau
politis. Sebab ada orang yang meminta dan menjanjikan uang lelah. Ya, saat itu
saya hanya mikir bisa mengganjal perut itu saja. Bukan untuk alasan lain.
Namun, kalau saat ini ya sadar itu tidak baik.
Kapan
Anda sadar untuk melepaskan diri dari keterlibatan pelaku jalanan?
Sejak saya menikah pada
2000, saya sudah mulai meminimalisir untuk tidak sesering dulu keluar bersama
anak jalanan. Tentunya, sudah ada tanggungjawab tidak hanya memikirkan diri
sendiri namun ada istri, keluarga, dan masyarakat. Jalan panjang untuk
benar-benar mengentaskan diri dari keterlibatan langsung sebagai pelaku jalanan
itu, dua tahun setelah menikah, saya masih sering turun ke jalan. Sekadar
melepas kerinduan dan berkumpul dengan mereka.
Lebih-lebih kalau
sedang ada kerikil-kerikil yang menyandung dalam perjalanan hidup bersama
istrinya, ia akan menengok rekan-rekan di jalanan. Rindu itu sering
menghampiri. Tapi, memang harus membuat kontrol diri. Istri saya yang setia
‘ngopeni’ dalam kondisi apa pun. Begitu, saya memahami makna kehidupan. Tiada
yang sempurna. Gusti Allah melalui kuasa tangannya merubah saya melalui istri.
Anda
pernah hidup di jalanan selama bertahun-tahun. Adakah kenakalan yang pernah
anda lakukan terhadap orang lain atau justru hal tersebut menimpa diri sendiri?
Ya, kenakalan seperti
layaknya stigma negatif masyarakat terhadap anjal pernah saya lakukan. Hidup di
jalanan itu kejam. Kami survive untuk
bertahan hidup. Maka, mereka perlu sentuhan tangan-tangan orang yang mau
mengerti, memahami kondisinya.
Adakah
orang selain istri yang membantu jalan panjang anda dalam menemu hidup?
Saat di jalanan saya
bertemu dengan Ibu Prapto. Saya sudah menganggapnya sebagai ibu selain ibu
kandung saya. Ia yang ngopeni beberapa anak jalanan. Namun, saya tidak tinggal
di rumahnya. Hanya sesekali ke sana atau Ibu Prapto yang menyambangi kami. Sosok
Ibu Prapto tak akan pernah terlupakan sepanjang hidup saya. Nah, dari Bu Prapto
ini saya belajar memaknai hidup.
Bagaimana
awal mula anda bergabung di yayasan setara?
Saya sudah akrab dengan
para pendiri yayasan setara sejak menjadi anak jalanan. Tak sering mereka
mengadakan kegiatan dengan menggandeng aktivis untuk turun ke jalanan. Mas Odi,
dll itu yang mempunyai gagasan pertama untuk mencetuskan yayasan setara. Dulu,
namanya Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS) pada 1997-1999. Baru pada 1999
menjadi yayasan setara. Saya bergabung dengan setara pada 2002.
Selain akrab dengan
pendiri setara saya akrab pula dengan para aktivis dan volunteer. Mereka yang
mengantar saya untuk mengintip sedikit tentang dunia kampus. Banyak kampus yang
pernah saya singgahi. Saya bisa belajar seni dan sastra dengan mereka. Kalau
saya ingin masuk perkuliahan dengan mereka ya masuk. Sering malah. Di
Jogjakarta pernah ngampus di UMY, UGM, dan ISI. Ya berkat rekan-rekan aktivis
dan volunteer itu. Saya menjadi pegiat komunitas kesenian dan sastra.
Sebenarnya
apa yang anda perjuangkan di yayasan setara ini, toh sudah ada lembaga
kepemerintahan yang khusus menangani perlindungan anak?
Anda yakin, jika hanya
digawangi lembaga kepemerintahan saja bisa berjalan maksimal? Bukan dalam
rangka merendahkan, namun ini tugas kita semua. Saat ini yang bisa saya lakukan
dengan cara seperti ini ya saya lakukan. Kami berkolaborasi pula dengan lembaga
kepemerintahan. Tujuan kami hanya ingin menganggap mereka korban dan pelaku
anjal ada dan diperhatikan. Layaknya lembaga swadaya masyarakat lain, kami
bertugas untuk memonitor dan meneropong apa-apa yang dilakukan Negara (trias
politica). Secara ruang kami bergerak sama dengan lembaga kepemerintahan yang
menangani kasus yang sama. Namun, secara metodologis tidak.
Saya kog masih
berkeyakinan kalau hak asasi manusia itu representasi dari ajaran agama. Ajaran
agama itu menganjurkan manusia agar bermanfaat pada orang lain. Nah, di sini
barangkali saya bisa bermanfaat terhadap orang lain. Selain itu, latar
belakang saya yang pernah mencicipi dunia anjal saya merasa perlu pula untuk
mengentaskan mereka. Walau tak bisa banyak berbuat setidaknya ada sedikit
sentuhan yang saya lakukan.
Yayasan
setara berfokus pada korban ESKA (Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak).
Mengapa demikian?
Kasus eksploitasi
seksual pada anak sangat memprihatinkan. Sekarang saja semenjak kasus di JIS terangkat
masyarakat semakin yakin untuk berani mengungkap. Padahal sudah sejak lama.
Dilematis memang dengan kasus kekerasan seksual ini.
Kekerasan
seksual pada anak yang semakin marak ini, menurut anda apa penyebabnya?
Saat ini ada pola
pergeseran pengasuhan anak. Keluarga yang dalam ruang pertama harus menggawangi
anak-anak mereka ternyata tak lagi bisa diandalkan. Orang tua sibuk mencari
uang untuk kebutuhan sehari-hari. Walau peran orang tua seperti itu tak bisa
disalahkan, kemudian harus dicari titik temunya. Sementara ruang kedua anak
yakni di sekolah. Sekolah pun ternyata tak juga memberikan keamanan bagi anak.
Jika kedua ruang ini sudah jebol, ya seperti ini lah kasusnya yang semakin
marak dan terangkat ke publik. DM
0 comments:
Post a Comment