Sepeda adalah tentang
mengulas peristiwa yang menyenangkan dan juga sebuah harapan baru. Ketika duduk
di kelas 4 sd aku pernah dibelikan sepeda orangtua. Waktu itu aku senang
sekali, sebab hari itu, aku inget hari itu hari sabtu selesai pembagian raport,
aku dapat rangking 2. Sebenarnya aku ingin sekali mendapat rangking 1, tapi
sejak dari kelas 2 sd kenapa aku selalu rangking 2 terus, padahal aku ingin
menjadi yang nomor satu. Agar bisa sombong. Haha.
Teman sebangku ku waktu
kelas 4 sd namanya Fita Fatimah. Ia seorang yang cerdas dan rajin. Ia selalu
rangking 1. Makanya, pas kelas 4 itu aku pengen banget duduk bareng sama dia,
dan akhirnya kesampaian. Kami duduk di bangku paling depan, malahan depan meja
guru persis. Wali kelasku waktu itu namanya pak sunarto. Biasa disapa Pak
Narto, rambutnya keriting, tidak terlalu lebat, putih, pakai kacamata. Eh, aku
teringat momen dengan pak narto itu, waktu aku diantar untuk lomba deklamasi
puisi tingkat kecamatan. Seneng banget waktu itu. Walau aku gak juara, tapi aku
punya cerita yang bisa ku bagikan pada teman-teman. “Eh, kemarin pas aku
diantar pak narto ke kecamatan, kalian pada tahu enggak, pak narto itu kalau
ngendarai motor kek pembalap. Aku terkaget-kaget. Pas di tikungan hampir saja
aku jatuh. Kalian perlu nyoba deh, minta gitu dianterin ke mana? Haha” ceritaku
pada teman-teman. “Hah, mosok, mosok,……” kata teman-teman.
Kini, Pak Narto telah tiada.
Selepas istrinya meninggal kala pas aku smp, ia menikah lagi. Namun waktu sma
dapat kabar kalau pak narto telah meninggal dunia. Sedih rasanya, ia seorang
yang berjasa bagiku. Ia memang orangnya cuek habis sih, tapi dia itu baik
banget. Aku juga pernah diusulkan dapat beasiswa waktu itu. Walau gak banyak,
tapi aku senang sekali. Eh, ada satu lagi guru pendidikan agama islamku kala sd
namanya pak surikan juga telah tiada. Aku masih inget, ia kala manggil aku “Mbak
Dewi”. Sebab, aku lumayan bagus di pelajaran agama dan tergolong lancar kalau
ngaji, ia selalu ingat padaku. Sedikit-sedikit, “Mbak Dewi, Mbak Dewi”.
***
Ini pagi (1/5) aku memulai
bulan Mei dengan ceria dan semangat. Aku tadi bangun jam setengah 6. Padahal berencana
bangun pukul 5. Ku ambil sepeda, sebelumnya ku pompa dulu sebab sedikit gembes.
Eh malah pompanya gak bisa. Duh, yauda deh terpaksa genjot dengan rada berat. Aku
mendambakan perjalanan ke goa kreo (salah satu pariwisata alam di semarang yang
sedang banyak pengunjung). Pagi, mungkin tidak seramai siang hari. Ya, aku
tidak terlalu nyaman di keriuhan orang. Maka, aku sengaja datang pagi dan
ngonthel. Syahdu tenan.
Jalan dari bukit permai
manyaran ke goa kreo memang nanjak terus. Aku sudah siapkan satu botol air
putih. Jika sewaktu-waktu tepar, ada air yang menemani. Ketika gak kuat genjot,
sepeda ku tuntun, orang-orang pada melihatku. Entah apa yang ada dipikiran mereka.
Mungkin sedang menganggap bahwa aku gila, jalan nanjak seperti itu kog naik
sepeda. Haha. Mungkin lho ya. Sudah lah terserah mereka. Aku istirahat pertama
di tepi jalan, di sebuah gubug. Kepala rasanya sudah gliyeng-gliyeng. Ah, pokoknya lanjut. Misi harus terselesaikan. Berpikir
positif berpikir positif.
Tanjakan selanjutnya tambah ora genah-genah, lalu
istirahat lagi di pos kamling. Mengindentifikasi diri, kira-kira dengan
tanda-tanda seperti ini aku masih kuat melanjutkan perjalanan atau tidak ya? Kepala
pusing, malam tadi tidak makan, badan rasanya panas-dingin, kaki tegang. Sekitar
10 menit aku berhenti di pos kamling. Aku lalu memutuskan, sudah tidak kuat
lagi melanjutkan perjalanan. Mengingat perjalanan masih berkilo-kilo. Akhirnya pulang
dengan senyum pahit. Haha. Padahal perjalananku baru sekitar 1 kilo. Walau
pulang dengan kecewa, namun aku sangat senang. Sebab, turunnya seperti diberi
kekuatan dari belakang. Tanpa genjot susah payah. Tinggal atur rem aja. Kalau pengen
kenceng ya rem dikendorkan, tapi kalau depan ada orang yang mau nyebrang
(adek-adek yang mau sekolah) ya remnya dikencengin. Tapi, aku tidak menyerah. Aku
mau ke sana lagi di lain waktu dengan mengecek sepeda terlebih dulu, bawa bekal
makan, minum, koyo, handuk. #halahrempong.
Aku ingin punya sepeda polygon
yang bagus, yang bisa ku buat menempuh jalan-jalan baru setiap minggu pagi. Aku
udah ingin dari dulu, tapi, oke, kali ini memang belum bisa ku miliki. Tapi aku
yakin aku bisa memilikinya, sepeda polygon warna padu-padan hitam-putih. Dua warna
yang ku suka. Eh, sepeda phoenix yang ku punya sejak kelas 4 sd, sampai
sekarang masih haloo. Masih digunakan bapak kalau ke sawah atau dibuat
muter-muter kampung beli belanjaan ibuk. Itu sepeda pertama dan terakhir yang
dibelikan orang tua. Sebenarnya waktu itu lagi ngtrend sepeda banci sih setelah
sepeda phoenix, jadi sepeda banci itu sepeda yang badannya gede tapi tetap
nyaman buat perempuan (kalau aku sih seterah). Aku orang yang tidak pernah
berani minta ke orang tua. Aku kalau ingin ya sekadar senang melihat jika
dipakai orang lain, senyum-senyum sendiri. Lalu berandai-andai, jika aku punya
pasti jauh lebih seneng. Haha.
Nah, kebetulan sekali, waktu
kelas 6 sd fita punya sepeda begituan, bagus. Orang tuanya lumayan ada lah,
soalnya bapaknya mebelan di bandung waktu itu. Juga ia sering gonta-ganti tas,
sebab orang tua nya jualan tas di bandung, sementara aku kalau tasku belum rusak
pasti tidak pernah beli baru. Makanya sampai sekarang menjadi kebiasaanku,
barang-barang yang ku punyai kebanyakan adalah barang-barang fungsional.
Kembali
lagi, Fita itu sering lupa bawa buku paket. Kalau istirahat aku sering diajak
pulang ke rumahnya untuk ngambil buku. Aku selalu minta, “aku aja yang
boncengin ya, nanti kalau capek baru kamu yang boncengin” padahal aku hanya
ingin ngerasain naikin sepeda banci. Walau capek, aku tak pernah ngomong capek.
Haha. Boncengin pulang-pergi haloo. Eh, satu yang ku suka lagi, kalau ke
rumahnya aku selalu senang. Soalnya ibu dan saudara-sudaranya ramah, lembut. Terus
aku sering diberi jajan dan air es. Waktu itu, jarang sekali yang punya kulkas.
Maka, minum air es adalah kebanggaan. Huahaa. Rumahnya fita gedhe,
ruangan-ruangannya pun sendiri-sendiri, kamar tidurnya ada kamar mandi
dalamnya, kalau ke sana pokoknya senang.
Ah begitulah, aku mengingat
masa-masa itu. Bahagia rasanya. Oh iya, tanggal 8 Mei ini ia ulang tahun. Aku selalu
ingat, sebab, adekku tuan krep juga ulang tahun di hari yang sama. Jauh-jauh
hari adekku uda ngasih kode, tapi tak cuekin aja. Pura-pura gak tahu. #Akukankakakyangjahat.
Tapi, lihat saja, tiba-tiba nanti pasti “surprice”. Aku memang begitu, kadang
cuek aja, tapi sebetulnya aku sangat peduli dan sangat sayang. Sebab, aku gak
mau nunjuk-nunjukkin kepedulianku di hadapan orang. Aku berusaha sebiasa mungkin
dengan siapa pun. Walau sebenarnya aku bla bla bla. Sebab, hal macam itu hanya
aku yang bisa ngerasain, dan hanya soal pemahamanku. Tentang orang lain tahu
atau tidak, terserah. Hihi.
Aku itu orangnya keras, sebab terbiasa sedari
didikan kecil. Tapi, sekaligus orang yang tidak tegaan. Aku bisa ngomong dengan
lantang dan keras, tapi setelah itu tanpa disadari orang, aku akan balik badan
untuk ke kamar mandi dan mewek. Maka, kenapa kalau di kamar mandi aku itu lama
sekali. Orang-orang pasti tidak tahu. Tahunya kalau aku mandi itu lama. Padahal
enggak. Kamar mandi adalah tempat paling nyaman selain di pangkuan ibu. Di kamar
mandi aku bisa apa saja. Tentunya mewek tanpa suara dan semacam menyalahkan
pada diri atas apa yang telah ku lakukan jika itu konyol. Aku orang yang susah
untuk memaafkan diri. Walau namaku “Maghfiroh”, pemberi maaf. Aku akan sangat pemaaf
pada siapa pun, tapi susah untuk diri sendiri.
Oh iya, aku akan terus
berdoa, semoga aku bisa diberi kesempatan ke Medan ya. Aku ingin menemui
seorang kawan. Aku masih merasa bersalah padanya. Walau secara strukturalis
tidak, tapi aku ingin menyembuhkan luka-luka ku. Mungkin sentimentilku yang
terlalu tinggi, yang menyebabkan mata hatiku tak bisa membaca dengan jernih. Mungkin
sebab, karena waktu itu aku hanya terlalu sering ngobrol dengan orang-orang
yang sedang berbeda pandangan dengannya jadi aku masuk ke dalamnya. Padahal aku
adalah orang yang masih unthul kala itu. Tapi, aku punya pandangan sendiri kog,
itu juga atas pemikiranku, tidak untuk mencari kebenaran atau kesalahan. Bagiku,
semua itu memberi pengalaman yang hebat. Aku belajar banyak. Aku memang tidak
pernah memplokamirkan mana teman dan sahabat. Bagiku, semua sama, teman. Walau
sebenarnya, aku hanya mewaspadai diri, aku belum bisa menjalin persahabatan
layaknya pikiran banyak orang, missal yang kemana-mana harus bareng, apa-apa
ada ia, baik-buruk ia tahu, curhat ini-itu, apapun pokoknya ia tahu.
Aku mengonstruksi makna
sahabat sendiri, walau kami jarang ketemu atau sekalipun sering bertemu, tapi
kami saling merindu. Aku lebih sering menjadi pendengar saja, sebab aku bukan
pencerita yang renyah. Entah, ia menjadi bagian dariku, tentang apa hanya
jiwaku yang tahu. Begitu, tidak selalu aku harus tahu akan ia, begitu juga aku
harus cerita apa pun padanya. Bagiku, kami ada dan hadir tanpa aturan apapun,
tanpa menyepakati apa pun, malah justru membiarkannya, tapi itu lah hal-hal
yang membuat ku rindu. Mungkin, juga ia, atau malah justru ia tidak merasakan
hal yang sama sepertiku, tapi sebab ini tentang keakukan aku memaknai di setiap
perjalananku. Ini hanya tentang aku, aku akan jalani dengan sederhana, senang
hati, dan tulus.
Lho, aku ditemani peterpan
(lagi) untuk merampungkan tulisan ini. Tak terasa. :o)
DM, pecinta pagi


0 comments:
Post a Comment