Friday, May 1, 2015

Sepeda


Sepeda adalah tentang mengulas peristiwa yang menyenangkan dan juga sebuah harapan baru. Ketika duduk di kelas 4 sd aku pernah dibelikan sepeda orangtua. Waktu itu aku senang sekali, sebab hari itu, aku inget hari itu hari sabtu selesai pembagian raport, aku dapat rangking 2. Sebenarnya aku ingin sekali mendapat rangking 1, tapi sejak dari kelas 2 sd kenapa aku selalu rangking 2 terus, padahal aku ingin menjadi yang nomor satu. Agar bisa sombong. Haha.

Teman sebangku ku waktu kelas 4 sd namanya Fita Fatimah. Ia seorang yang cerdas dan rajin. Ia selalu rangking 1. Makanya, pas kelas 4 itu aku pengen banget duduk bareng sama dia, dan akhirnya kesampaian. Kami duduk di bangku paling depan, malahan depan meja guru persis. Wali kelasku waktu itu namanya pak sunarto. Biasa disapa Pak Narto, rambutnya keriting, tidak terlalu lebat, putih, pakai kacamata. Eh, aku teringat momen dengan pak narto itu, waktu aku diantar untuk lomba deklamasi puisi tingkat kecamatan. Seneng banget waktu itu. Walau aku gak juara, tapi aku punya cerita yang bisa ku bagikan pada teman-teman. “Eh, kemarin pas aku diantar pak narto ke kecamatan, kalian pada tahu enggak, pak narto itu kalau ngendarai motor kek pembalap. Aku terkaget-kaget. Pas di tikungan hampir saja aku jatuh. Kalian perlu nyoba deh, minta gitu dianterin ke mana? Haha” ceritaku pada teman-teman. “Hah, mosok, mosok,……” kata teman-teman.

Kini, Pak Narto telah tiada. Selepas istrinya meninggal kala pas aku smp, ia menikah lagi. Namun waktu sma dapat kabar kalau pak narto telah meninggal dunia. Sedih rasanya, ia seorang yang berjasa bagiku. Ia memang orangnya cuek habis sih, tapi dia itu baik banget. Aku juga pernah diusulkan dapat beasiswa waktu itu. Walau gak banyak, tapi aku senang sekali. Eh, ada satu lagi guru pendidikan agama islamku kala sd namanya pak surikan juga telah tiada. Aku masih inget, ia kala manggil aku “Mbak Dewi”. Sebab, aku lumayan bagus di pelajaran agama dan tergolong lancar kalau ngaji, ia selalu ingat padaku. Sedikit-sedikit, “Mbak Dewi, Mbak Dewi”.
***
Ini pagi (1/5) aku memulai bulan Mei dengan ceria dan semangat. Aku tadi bangun jam setengah 6. Padahal berencana bangun pukul 5. Ku ambil sepeda, sebelumnya ku pompa dulu sebab sedikit gembes. Eh malah pompanya gak bisa. Duh, yauda deh terpaksa genjot dengan rada berat. Aku mendambakan perjalanan ke goa kreo (salah satu pariwisata alam di semarang yang sedang banyak pengunjung). Pagi, mungkin tidak seramai siang hari. Ya, aku tidak terlalu nyaman di keriuhan orang. Maka, aku sengaja datang pagi dan ngonthel. Syahdu tenan.

Jalan dari bukit permai manyaran ke goa kreo memang nanjak terus. Aku sudah siapkan satu botol air putih. Jika sewaktu-waktu tepar, ada air yang menemani. Ketika gak kuat genjot, sepeda ku tuntun, orang-orang pada melihatku. Entah apa yang ada dipikiran mereka. Mungkin sedang menganggap bahwa aku gila, jalan nanjak seperti itu kog naik sepeda. Haha. Mungkin lho ya. Sudah lah terserah mereka. Aku istirahat pertama di tepi jalan, di sebuah gubug. Kepala rasanya sudah gliyeng-gliyeng. Ah, pokoknya lanjut. Misi harus terselesaikan. Berpikir positif berpikir positif. 

Tanjakan selanjutnya tambah ora genah-genah, lalu istirahat lagi di pos kamling. Mengindentifikasi diri, kira-kira dengan tanda-tanda seperti ini aku masih kuat melanjutkan perjalanan atau tidak ya? Kepala pusing, malam tadi tidak makan, badan rasanya panas-dingin, kaki tegang. Sekitar 10 menit aku berhenti di pos kamling. Aku lalu memutuskan, sudah tidak kuat lagi melanjutkan perjalanan. Mengingat perjalanan masih berkilo-kilo. Akhirnya pulang dengan senyum pahit. Haha. Padahal perjalananku baru sekitar 1 kilo. Walau pulang dengan kecewa, namun aku sangat senang. Sebab, turunnya seperti diberi kekuatan dari belakang. Tanpa genjot susah payah. Tinggal atur rem aja. Kalau pengen kenceng ya rem dikendorkan, tapi kalau depan ada orang yang mau nyebrang (adek-adek yang mau sekolah) ya remnya dikencengin. Tapi, aku tidak menyerah. Aku mau ke sana lagi di lain waktu dengan mengecek sepeda terlebih dulu, bawa bekal makan, minum, koyo, handuk. #halahrempong.

Aku ingin punya sepeda polygon yang bagus, yang bisa ku buat menempuh jalan-jalan baru setiap minggu pagi. Aku udah ingin dari dulu, tapi, oke, kali ini memang belum bisa ku miliki. Tapi aku yakin aku bisa memilikinya, sepeda polygon warna padu-padan hitam-putih. Dua warna yang ku suka. Eh, sepeda phoenix yang ku punya sejak kelas 4 sd, sampai sekarang masih haloo. Masih digunakan bapak kalau ke sawah atau dibuat muter-muter kampung beli belanjaan ibuk. Itu sepeda pertama dan terakhir yang dibelikan orang tua. Sebenarnya waktu itu lagi ngtrend sepeda banci sih setelah sepeda phoenix, jadi sepeda banci itu sepeda yang badannya gede tapi tetap nyaman buat perempuan (kalau aku sih seterah). Aku orang yang tidak pernah berani minta ke orang tua. Aku kalau ingin ya sekadar senang melihat jika dipakai orang lain, senyum-senyum sendiri. Lalu berandai-andai, jika aku punya pasti jauh lebih seneng. Haha.

Nah, kebetulan sekali, waktu kelas 6 sd fita punya sepeda begituan, bagus. Orang tuanya lumayan ada lah, soalnya bapaknya mebelan di bandung waktu itu. Juga ia sering gonta-ganti tas, sebab orang tua nya jualan tas di bandung, sementara aku kalau tasku belum rusak pasti tidak pernah beli baru. Makanya sampai sekarang menjadi kebiasaanku, barang-barang yang ku punyai kebanyakan adalah barang-barang fungsional.

Kembali lagi, Fita itu sering lupa bawa buku paket. Kalau istirahat aku sering diajak pulang ke rumahnya untuk ngambil buku. Aku selalu minta, “aku aja yang boncengin ya, nanti kalau capek baru kamu yang boncengin” padahal aku hanya ingin ngerasain naikin sepeda banci. Walau capek, aku tak pernah ngomong capek. Haha. Boncengin pulang-pergi haloo. Eh, satu yang ku suka lagi, kalau ke rumahnya aku selalu senang. Soalnya ibu dan saudara-sudaranya ramah, lembut. Terus aku sering diberi jajan dan air es. Waktu itu, jarang sekali yang punya kulkas. Maka, minum air es adalah kebanggaan. Huahaa. Rumahnya fita gedhe, ruangan-ruangannya pun sendiri-sendiri, kamar tidurnya ada kamar mandi dalamnya, kalau ke sana pokoknya senang.

Ah begitulah, aku mengingat masa-masa itu. Bahagia rasanya. Oh iya, tanggal 8 Mei ini ia ulang tahun. Aku selalu ingat, sebab, adekku tuan krep juga ulang tahun di hari yang sama. Jauh-jauh hari adekku uda ngasih kode, tapi tak cuekin aja. Pura-pura gak tahu. #Akukankakakyangjahat. Tapi, lihat saja, tiba-tiba nanti pasti “surprice”. Aku memang begitu, kadang cuek aja, tapi sebetulnya aku sangat peduli dan sangat sayang. Sebab, aku gak mau nunjuk-nunjukkin kepedulianku di hadapan orang. Aku berusaha sebiasa mungkin dengan siapa pun. Walau sebenarnya aku bla bla bla. Sebab, hal macam itu hanya aku yang bisa ngerasain, dan hanya soal pemahamanku. Tentang orang lain tahu atau tidak, terserah. Hihi. 

Aku itu orangnya keras, sebab terbiasa sedari didikan kecil. Tapi, sekaligus orang yang tidak tegaan. Aku bisa ngomong dengan lantang dan keras, tapi setelah itu tanpa disadari orang, aku akan balik badan untuk ke kamar mandi dan mewek. Maka, kenapa kalau di kamar mandi aku itu lama sekali. Orang-orang pasti tidak tahu. Tahunya kalau aku mandi itu lama. Padahal enggak. Kamar mandi adalah tempat paling nyaman selain di pangkuan ibu. Di kamar mandi aku bisa apa saja. Tentunya mewek tanpa suara dan semacam menyalahkan pada diri atas apa yang telah ku lakukan jika itu konyol. Aku orang yang susah untuk memaafkan diri. Walau namaku “Maghfiroh”, pemberi maaf. Aku akan sangat pemaaf pada siapa pun, tapi susah untuk diri sendiri.

Oh iya, aku akan terus berdoa, semoga aku bisa diberi kesempatan ke Medan ya. Aku ingin menemui seorang kawan. Aku masih merasa bersalah padanya. Walau secara strukturalis tidak, tapi aku ingin menyembuhkan luka-luka ku. Mungkin sentimentilku yang terlalu tinggi, yang menyebabkan mata hatiku tak bisa membaca dengan jernih. Mungkin sebab, karena waktu itu aku hanya terlalu sering ngobrol dengan orang-orang yang sedang berbeda pandangan dengannya jadi aku masuk ke dalamnya. Padahal aku adalah orang yang masih unthul kala itu. Tapi, aku punya pandangan sendiri kog, itu juga atas pemikiranku, tidak untuk mencari kebenaran atau kesalahan. Bagiku, semua itu memberi pengalaman yang hebat. Aku belajar banyak. Aku memang tidak pernah memplokamirkan mana teman dan sahabat. Bagiku, semua sama, teman. Walau sebenarnya, aku hanya mewaspadai diri, aku belum bisa menjalin persahabatan layaknya pikiran banyak orang, missal yang kemana-mana harus bareng, apa-apa ada ia, baik-buruk ia tahu, curhat ini-itu, apapun pokoknya ia tahu.

Aku mengonstruksi makna sahabat sendiri, walau kami jarang ketemu atau sekalipun sering bertemu, tapi kami saling merindu. Aku lebih sering menjadi pendengar saja, sebab aku bukan pencerita yang renyah. Entah, ia menjadi bagian dariku, tentang apa hanya jiwaku yang tahu. Begitu, tidak selalu aku harus tahu akan ia, begitu juga aku harus cerita apa pun padanya. Bagiku, kami ada dan hadir tanpa aturan apapun, tanpa menyepakati apa pun, malah justru membiarkannya, tapi itu lah hal-hal yang membuat ku rindu. Mungkin, juga ia, atau malah justru ia tidak merasakan hal yang sama sepertiku, tapi sebab ini tentang keakukan aku memaknai di setiap perjalananku. Ini hanya tentang aku, aku akan jalani dengan sederhana, senang hati, dan tulus.


Lho, aku ditemani peterpan (lagi) untuk merampungkan tulisan ini. Tak terasa. :o)

DM, pecinta pagi

0 comments: