Hari ini ibun sudah rileks. Tidak seperti
biasanya, ia masih sering menangis di sudut-sudut ruangan. Saat ku cermati, aku
menangkap bahwa selalu ada cerita yang tak pernah putus di setiap harinya. Di ruang
makan kami bercerita, di teras, di kamar tidur, di perjalanan begitu setiap
harinya. Tentang kenangan memang sebuah proses panjang untuk bisa
mengikhlaskannya. Mengikhlaskan bukan berarti melupakannya dalam-dalam, namun
mencoba untuk mengembalikan asal muasal kenangan tersebut. Ya, hal tersebut
sudah atas pergerakan semesta. Seperti, ada, tumbuh, lalu tidak ada. Begitu pula
juga tentang kenangan. Hadir, menetap, lalu hilang.
Malam ini mestinya aku menulis di
catatan pribadiku. Tapi, sedang malas. Ya, aku sudah tidak setiap hari menulis
di catatan harian. Padahal, espektasiku catatan harianku itu akan menemani
hari-hariku selamanya. Aku bertekad untuk melanggengkan menulis tangan di
catatan harian tentang apa pun. Tentang hal-hal yang barangkali akan ku lupa
suatu saat, masa-masa lucu, sedih, konyol dan banyak hal lain.
Walau aku
meyakini bahwa ingatanku cukup tajam, namun bagaimana dengan suatu saat nanti? Orang
mungkin suka untuk merekam ingatannya dalam foto. Namun, aku tidak. Bisa jadi,
sebab aku mempunyai ketraumaan psikologis akan sebuah gambar. Ya, bahkan aku
tidak punya satu pun foto masa kecil kecuali foto raport sd. Menyedihkan bukan?
Tapi, justru itu lah kenangan. Bahwa aku pun mesti melepaskannya. Tentang ketraumaan
aku tak ingin menghambat diri dengan membentangkan jarak yang lebar. Bagiku
foto sudah terlalu mainstream untuk dijadikan rekaman ingatan. Nah, aku ingin merekamnya
melalui ingatan yang kutumpahkan dalam sebuah tulisan.
Hujan deras, petir menyambar-nyambar. Aku
di rumah berdua dengan ibun. Aura sudah beberapa hari belakangan di rumah
sampangan. Ibun sudah tidur, mungkin kecapaian. Aku ditemani lampu lima watt
berwarna coklat. Cukup syahdu malam ini. Aku memang suka malam, tapi, malam tak
lebih ruang kontemplasi bagiku. Aku bersemangat menatap pagi hari. Sebab, pagi
adalah doa bagi siapa-siapa yang sedang menempuh perjalanan. Pagi adalah
tentang udara yang masih alami yang bisa dinikmati manusia. Pagi adalah
kenikmatan hidup untuk menempuh perjalanan lagi dan lagi.
Besok aku berencana ngonthel dari manyaran ke gua kreo. Semoga bisa bangun lebih pagi dari biasanya. Hah, biasanya bangun jam setengah enam, semoga besok bangun jam lima. Yah, semoga.

.jpg)
0 comments:
Post a Comment