Friday, May 1, 2015

Ibun


Hari ini ibun sudah rileks. Tidak seperti biasanya, ia masih sering menangis di sudut-sudut ruangan. Saat ku cermati, aku menangkap bahwa selalu ada cerita yang tak pernah putus di setiap harinya. Di ruang makan kami bercerita, di teras, di kamar tidur, di perjalanan begitu setiap harinya. Tentang kenangan memang sebuah proses panjang untuk bisa mengikhlaskannya. Mengikhlaskan bukan berarti melupakannya dalam-dalam, namun mencoba untuk mengembalikan asal muasal kenangan tersebut. Ya, hal tersebut sudah atas pergerakan semesta. Seperti, ada, tumbuh, lalu tidak ada. Begitu pula juga tentang kenangan. Hadir, menetap, lalu hilang.

Malam ini mestinya aku menulis di catatan pribadiku. Tapi, sedang malas. Ya, aku sudah tidak setiap hari menulis di catatan harian. Padahal, espektasiku catatan harianku itu akan menemani hari-hariku selamanya. Aku bertekad untuk melanggengkan menulis tangan di catatan harian tentang apa pun. Tentang hal-hal yang barangkali akan ku lupa suatu saat, masa-masa lucu, sedih, konyol dan banyak hal lain. 

Walau aku meyakini bahwa ingatanku cukup tajam, namun bagaimana dengan suatu saat nanti? Orang mungkin suka untuk merekam ingatannya dalam foto. Namun, aku tidak. Bisa jadi, sebab aku mempunyai ketraumaan psikologis akan sebuah gambar. Ya, bahkan aku tidak punya satu pun foto masa kecil kecuali foto raport sd. Menyedihkan bukan? Tapi, justru itu lah kenangan. Bahwa aku pun mesti melepaskannya. Tentang ketraumaan aku tak ingin menghambat diri dengan membentangkan jarak yang lebar. Bagiku foto sudah terlalu mainstream untuk dijadikan rekaman ingatan. Nah, aku ingin merekamnya melalui ingatan yang kutumpahkan dalam sebuah tulisan.

Hujan deras, petir menyambar-nyambar. Aku di rumah berdua dengan ibun. Aura sudah beberapa hari belakangan di rumah sampangan. Ibun sudah tidur, mungkin kecapaian. Aku ditemani lampu lima watt berwarna coklat. Cukup syahdu malam ini. Aku memang suka malam, tapi, malam tak lebih ruang kontemplasi bagiku. Aku bersemangat menatap pagi hari. Sebab, pagi adalah doa bagi siapa-siapa yang sedang menempuh perjalanan. Pagi adalah tentang udara yang masih alami yang bisa dinikmati manusia. Pagi adalah kenikmatan hidup untuk menempuh perjalanan lagi dan lagi.

Besok aku berencana ngonthel dari manyaran ke gua kreo. Semoga bisa bangun lebih pagi dari biasanya. Hah, biasanya bangun jam setengah enam, semoga besok bangun jam lima. Yah, semoga. 

0 comments: