Aku telah merampungkan membaca Aleph tulisan dari Paulo
Celho. Ya, aku tak pernah benar-benar membaca buku utuh dari awal hingga akhir.
Aku akan memilih dari topik yang aku sukai, atau poin-poin yang sedang aku
butuhkan. Namun, bagian awal dan akhir buku pasti akan ku baca. Buku-buku
tertentu saja yang aku rampungkan dari kulit terluar hingga kukuliti
seutuh-utuhnya bahkan bisa berulang-ulang kali. Entah ini kebiasaan macam apa? Juga,
aku bisa sakaw jika tak membaca kurun waktu dua tiga hari. Eh, juga kebiasaan
menciumi buku. Itu kudapatkan dari teman Jekardah. Aku rindu bermain-main ke
Jekardah je. Bermain-main saja, tidak untuk bekerja di sana. Jekardah itu ngeri
bagiku. Jekardah bagiku hanya pembangkit jiwa di saat fluktuatif, layaknya
seorang yang ku kagumi saja! Bukan untuk menetap selamanya di relung jiwa. Sadar
akan hal itu, aku dan ia berada dalam gerbong yang berbeda namun aku meyakini
bahwa kami masih dalam satu rangkaian kereta. Mungkin, kami akan berhenti di
tujuan yang sama, untuk sekadar menikmati senja, atau tak pernah bertatap
sekalipun dan melanjutkan ke tujuan yang entah apa yang dituju.
Sial, kenapa aku harus jatuh cinta pada novel-novel
Paulo. Novel yang membahas perjalanan hidupnya. Tentang masa lalu, kenangan,
masa depan, semangat, kedamaian, keseimbangan, rasa sakit hati, cinta. Rumit ternyata,
hidup yang dilaluinya. Atau ia sengaja merumitkan agar pembaca merasa trenyuh
dan mengena. Padahal sejatinya tidak begitu amat pedih. Ah, itu urusan dia. Aku
tak mau tahu. Tapi, otaknya skeptisku berputar dengan sendirinya. Aku hanya
sebagai pembaca, dan keputusan apapun menjadi tanggungjawab ku setelah membaca
apa pun. Maka, aku yakini bahwa dari membaca telah mempengaruhi banyak hal
dalam hidupku. Aku sadari itu. Tapi, aku yakini juga tidak mesti membenarkan
semua dari apa yang kita baca. Ibarat kebenaran yang berlapis, terus lah
mencari apa makna hidup yang akan kau jalani.
Aku memang tak suka dengan buku atau karya sastra yang
menye-menye. Namun, bukan berarti aku membenci dan menyepelekan. Ini hanya soal
keterbiasaan membaca topik-topik tertentu. Aku pun takjup pada mereka yang
terus dan semangat berkarya tentang apapun.
Apa-apaan ini, sedari kemarin, kemarinnya lagi play list
musikku cahaya bulan, gie, dan puisinya. Tiga itu. Entah saat aku sedang suka
lagu, ku kira aku hanya ingin itu yang ku putar dan menyuplai neurotrasmitterku
untuk meneruskannya ke seluruh tubuh. Ah, tapi peterpan akan selalu ada di memori
otakkku. Itu band music pertama yang ku suka. Halah.
Kehidupan bergelinding lah sesuai rumusan semesta. Kau bisa
menjatuhkan diri sebebas-bebasnya. Tapi aku tak perlu khawatir, sebab engkau
dijaga oleh yang tiada bisa dipikirkan manusia. Hanya simbol-simbol-Nya lah
yang mampu dipahami. Namun, tidak utuh keutuhannya. Aku yakin itu. Semesta, bawa
lah diriku untuk kau perkenalkan pada kekasih-kekasihmu yang lain. Agar aku
tidak terkaget-kaget melihat segala yang hadir darimu. Agar aku bisa membelah
jalan untuk diriku sendiri.
Hanya ia yang benar-benar ingin memulai perjalanan denganku yang akan paham aku. Bahwa, aku dan semesta tak bisa dipisahkan dan tergantikan oleh ia dan segala rumusannya.
Dulu aku sudah membuat keputusan untuk mau kau ajak
menjelajah. Lewat membaca dan berkenalan langsung dengan kekasih-kekasihmu
(peristiwa yang kau hadirkan) aku kadang ingin mengurungkan diri untuk memutar
balik arah saja. Aku tidak sanggup. Tapi, kala itu aku sudah terlanjur membuka
pintu pikiran selebar-lebarnya, sehingga macam-macam benda masuk mengantri. Kini,
aku tegaskan untuk terus melanjutkan perjalanan. Membelok arah, hanya akan
menguras energi kembali dan aku pun tak akan pernah bisa menutup pintu itu
dengan rapat-rapat. aku semakin mencintaimu semesta. Walau pernah ku sesali,
sebab aku pernah berpikiran kau menjerumuskanku, menguras energiku, membentangkan
jarak yang jauh dengan orang-orang sesamaku, bahkan membentangkan jarak yang
begitu entah pada ia, ia, yang ingin memulai perjalanan denganku. Tapi,
begitullah semesta. Hanya ia yang benar-benar ingin memulai perjalanan denganku
yang akan paham aku. Bahwa, aku dan semesta tak bisa dipisahkan dan tergantikan
oleh ia dan segala rumusannya.
Aku hanya ingin belajar menjadi bagian kecil dari semesta
yakni, manusia. Entah keyakinan macam apa yang aku yakini, namun menjadi
manusia adalah ikhtiar yang tiada berhenti. Jika, suatu saat, aku dan ia keluar
gerbong lalu bertatap untuk menikmati senja itu sudah bagian dari gerakan
semesta. Jika tidak, aku meyakini bahwa aku dan kamu masih dalam satu rangkaian
gerbong. Walau aku di gerbong terakhir dan kau bahkan masinisnya atau
sebaliknya.
Saat bertatap nanti, aku tak akan bercerita, sebab senja yang dalam waktu sekejap itu akan menjadi rekaman perjalanan semesta yang begitu dahsyat. Dan, aku kamu macam menonton layar tancep yang abstrak tanpa bayangan apa pun. Namun, aku kamu sama-sama saling memahami. Bahwa, cerita-cerita itu sudah aku kamu dapatkan dari semesta dan tak perlu kita rumuskan kembali untuk sekadar diceritakan. Kita hanya perlu diam, dan menutup mata ketika senja benar-benar tenggelam. Lalu, berdoalah jika Tuhan ada bersama aku kamu.
Dewi Maghfi, penikmat senja


0 comments:
Post a Comment