Tetiba setelah salat duhur
ini aku ingin menulis sebuah cerita, Selasa (5/5). Di mushola ini aku masih
teringat cerpen yang kubaca pagi tadi. Judulnya perempuan yang memakai baju
motif ungu dan lelaki berbaju kotak-kotak. Keduanya bertemu di media sosial. Suatu
hari mereka merencanakan untuk bertatap muka di sebuah kafe. Tibalah waktunya.
Mereka saling malu untuk memperkenalkan diri, jaket menjadi hijab untuk
menutupi baju pengenal yang sudah disepakati. Sejam dua jam, mereka saling
menanti. Namun tak kunjung ada sesosok perempuan atau lelaki sesuai rumusan
bersama. Sampai akhirnya, keduanya tak akan pernah bertemu sebab saling membuat
pertahanan diri.
Aku, akan membuat cerita
tentang Sese dan Rang. Sese adalah perempuan yang sedang menyelami dirinya. Dia
anak Mae, ibu yang melampaui batas ruang dan waktu. Ia memang perempuan, namun
ia benar-benar sedang mempertanyakan siapa keperempuanan itu? Barangkali adalah
sebuah pertanyaan yang tak akan pernah menemu titik hingga sepeninggalnya.
Namun, bukan berarti ia tak menemukan jawaban sama sekali. Ia terus dihadapkan
pada jawaban-jawaban itu. Jawaban yang mengantarkannya untuk menyudahi sebuah
lelehan yang kadang hadir ujug-ujug.
Seperti malam tadi, ia meleleh sejadi-jadinya. Walau, lelehan itu tumpah ruah,
tetap tak ada orang yang tahu. Sebab, ia sangat cerdik, layaknya kancil. Oh
iya, sebab saat kecil dulu ia hanya tahu bahwa dongeng itu ya si kancil suka
mencuri timun. Maka, dalam alam bawah sadarnya ia benar-benar ingin menjadi
Kancil. Walau kancil mempunyai stereotip ‘buruk’, namun ia memaknai beda.
Kancil, baginya adalah
binatang yang melampaui rasa kebinatangannya. Betapa, ia ingin mengenalkan diri
pada manusia bahwa binatang macam kancil pun juga butuh makan. Tak hanya
manusia saja. Manusia, kadang lupa bahwa makan adalah segalanya agar tetap
hidup, ia tak ingin berbagi. Padahal tidak. Orang yang hanya membicarakan
makan, nasibnya akan seperti timun. Ia hancur lebur di mulut kancil. Tak hanya
selesai di situ ia akan dikeluarkan menjadi kotoran. Itu lah sifat rakus
manusia yang saling jatuh menjatuhkan tanpa menghargai jiwa kemanusiaan yang
dimilikinya. Miris!
Belakangan aku meluangkan
waktu untuk membaca dongeng. Bahkan mengumpulkan dongeng-dongeng yang ada di
Koran minggu. Atau kadang mendongengkan Aura lengkap dengan tokoh boneka yang
ia miliki. Ujungnya, kami akan tertawa. Hahahaha. Menyenangkan dan indah.
Oh iya, Sese belakangan
sedang gelisah. Ada Rang yang hadir perlahan. Rang adalah lelaki yang
sebenarnya bukan baru baginya. Bahkan ia memendam kesakithatian yang perlahan
sudah sembuh, sebab ia termasuk orang yang pandai untuk meracik obat untuk
dirinya sendiri. Rang, beberapa waktu lalu mengirim pesan yang bagi Sese
hanyalah lelucon belaka. Memang, Rang sepertinya menemui dimensi lain dari Sese
yang tak diketahui banyak orang. Bahkan disembunyikannya. Entah sebab rasa atau
hanya kebetulan saja. Atau sebab Sese sedang mello karena sebab lain, jadi
hadirnya Rang seolah melupa bahwa ia pernah sakit.
Sese sudah merasakan
kibas-kibas mulutnya sejak lama kalau ia ingin menyelami diri sese. Namun, ia
berpikir lagi-lagi hanyalah lelucon belaka. Ia bahkan sudah mampu merelakan
perasaannya tersebut. Bahwa perjalanan memang seperti ini. Sebab merelakan
perasaan dan keinginan yang terbang bersama merpati sudah lanyah baginya. Sebenarnya ia tak pernah mempunyai ekspektasi lebih
dalam urusan macam gini, it’s enjoy.
Juga, Rang perlahan mencicil
cerita akan dirinya pada Sese. Cerita yang bagi Sese sebagai
syok terapi. Namun, lagi-lagi beginilah perjalanan. Siapa pun berhak untuk
melanjutkan hidup, tanpa pengecualian. Entah, mengapa berita terhangat terkait
kasus narkoba, berujung pencabutan nyawa yang dilakukan oleh manusia. Manusia mencabut
nyawa sesama manusia. Izrail, dimanakah engkau? Apa engkau tidak melakukan
dialog dengan Tuhan? Apa engkau hanya manut saja? Atau Tuhan mengapa ini
terjadi?
Larut malam sebenarnya enak
digunakan untuk tidur. Lalu, bangun pagi-pagi buta dan menghirup udara segar. Beberapa
hari Sese sudah mencoba, namun sebab kebiasaan empat tahun terakhir ia jarang
sekali tidur di bawah pukul 12, bukan mudah bagi Sese menormalkan jam tidur
seperti dahulu kala. Bahkan, ketika di rumah sekalipun. Malam itu, Sese dan
Rang saling mengirim pesan. Namun, selalu akan berujung debat dan satu sama
lain saling membenar-benarkan atau justru menyalah-nyalahkan. Esok hari, mereka
macam melupakannya. Mereka menganggap tidak ada apa-apa. Sese memang akan
sebisa mungkin meminimalisir ketidaktergantungan dengan orang lain. Begitu juga
pada Rang. Entah apa yang dirasakan Rang, bukan menjadi urusan Sese. Sese jarang
sekali mengirimkan kabar. Ia menunggu Rang yang memberi kabar. Atau Sese
terkadang akan memanggil duluan. Memang diakui, jika Sese terlibat percakapan
yang panjang, Sese lebih sering sebab kesepian. Entah. Sese hanya khawatir
bahwa ia akan terlena dan tak mampu mengontrol diri. Maka, keduanya pun amat
jarang sekali berkomunikasi.
Sese ingin menulis surat
pada Rang. Sese sengaja diam dan mengacuhkan. Sebab, sese sedang mencari
penyembuhan diri. Pun Rang mungkin mulai jengkel. Silakan. Begini kiranya:
Rang, aku tak tahu, aku masih menganggap
tawaranmu adalah sebuah lelucon belaka yang di lain hari kamu bisa menertawakan
aku. Atau kau sedang mencari bahan untuk kau permalukan pada teman-temanmu. Sebab,
aku faham betul bagaimana biasanya kau akan memuja-muji seseorang yang sedang
tak punya jarak denganmu di depan banyak orang, lalu ketika ada space diantara
kalian, kamu baru akan bercerita padaku. Anehnya, cerita itu seolah kau bersih
tak terlibat apa pun. Aku tidak suka macam begituan. Mestinya kau harus
merefleksi diri, sebab kau turut menjadi aktor utama di dalamnya. Ah, entahlah….
Rang, jika pun tawaranmu itu serius, aku
tidak tahu mesti menjawab apa. Aku kira, aku sudah sangat senang ketika aku akan
belajar menjadi diriku dan kamu menjadi dirimu untuk sebuah ikhtiar pencarian. Aku
benar tak tahu. Aku tak tahu. Ku akui, aku memang pernah menyemai bibit di ladang
hatiku, namun telah ku sembuhkan dan ku lepaskan. Ketika kau saat ini, hadir,
aku tak tahu. Aku bukanlah seperti apa yang ada dalam rumusanmu. Bukan. Itu hanya
bagian kecil. Hanya aku yang dapat menyelami diriku. Dan aku belum mampu. Mungkin
akan kau anggap ini sebagai kekonyolan. Lalu kau tertawakan keras-keras. Tapi tak
apa. Aku yang tahu. Aku akan belajar untuk menguasai diriku. Sebab, hanya aku
yang bisa. Jika nanti jiwaku disatukan dengan jiwa liyan, entah siapa pun,
begitu lah sebuah perjalanan. Akan terus berlanjut.
Hai Rang, saat ini aku sedang demam. Suhu
tubuhku makin naik. Aku ingin memberi kabar pada Mae tapi akan kuurungkan. Aku tidak
mau mencemaskannya. Rang, jika pun mulutku akan mengantar pada rumusan yang
mengiyakan tawaranmu, aku tetap Sese dan kamu tetap Rang. Semenyatu-nyatunya
masih ada ‘O’ di antara aku kamu. Bisa ‘O’ itu dikatakan sirkel dalam perjalanan
hidup. Bahwa, ia akan terus berputar sesuai kehendak kekuatan di luar diri
manusia, Gusti Allah. Jika kau perhatikan judul cerita ini, bahwa ‘O’ akan
senantiasa memberi senyuman pada yang kira atau kanan secara seimbang, ya
keseimbangan Gusti, aku dan kamu tak akan pernah tahu. Namun, tak pernah lelah
untuk mencari, bukan? Janganlah lupa untuk tersenyum. Akhirnya, aku kamu
hanyalah, Sese’o’rang……….
BMP
| 05-05-2015

.jpg)
0 comments:
Post a Comment