Tuesday, May 5, 2015

Sese’o’rang


Tetiba setelah salat duhur ini aku ingin menulis sebuah cerita, Selasa (5/5). Di mushola ini aku masih teringat cerpen yang kubaca pagi tadi. Judulnya perempuan yang memakai baju motif ungu dan lelaki berbaju kotak-kotak. Keduanya bertemu di media sosial. Suatu hari mereka merencanakan untuk bertatap muka di sebuah kafe. Tibalah waktunya. Mereka saling malu untuk memperkenalkan diri, jaket menjadi hijab untuk menutupi baju pengenal yang sudah disepakati. Sejam dua jam, mereka saling menanti. Namun tak kunjung ada sesosok perempuan atau lelaki sesuai rumusan bersama. Sampai akhirnya, keduanya tak akan pernah bertemu sebab saling membuat pertahanan diri. 

Aku, akan membuat cerita tentang Sese dan Rang. Sese adalah perempuan yang sedang menyelami dirinya. Dia anak Mae, ibu yang melampaui batas ruang dan waktu. Ia memang perempuan, namun ia benar-benar sedang mempertanyakan siapa keperempuanan itu? Barangkali adalah sebuah pertanyaan yang tak akan pernah menemu titik hingga sepeninggalnya. Namun, bukan berarti ia tak menemukan jawaban sama sekali. Ia terus dihadapkan pada jawaban-jawaban itu. Jawaban yang mengantarkannya untuk menyudahi sebuah lelehan yang kadang hadir ujug-ujug. Seperti malam tadi, ia meleleh sejadi-jadinya. Walau, lelehan itu tumpah ruah, tetap tak ada orang yang tahu. Sebab, ia sangat cerdik, layaknya kancil. Oh iya, sebab saat kecil dulu ia hanya tahu bahwa dongeng itu ya si kancil suka mencuri timun. Maka, dalam alam bawah sadarnya ia benar-benar ingin menjadi Kancil. Walau kancil mempunyai stereotip ‘buruk’, namun ia memaknai beda.

Kancil, baginya adalah binatang yang melampaui rasa kebinatangannya. Betapa, ia ingin mengenalkan diri pada manusia bahwa binatang macam kancil pun juga butuh makan. Tak hanya manusia saja. Manusia, kadang lupa bahwa makan adalah segalanya agar tetap hidup, ia tak ingin berbagi. Padahal tidak. Orang yang hanya membicarakan makan, nasibnya akan seperti timun. Ia hancur lebur di mulut kancil. Tak hanya selesai di situ ia akan dikeluarkan menjadi kotoran. Itu lah sifat rakus manusia yang saling jatuh menjatuhkan tanpa menghargai jiwa kemanusiaan yang dimilikinya. Miris!

Belakangan aku meluangkan waktu untuk membaca dongeng. Bahkan mengumpulkan dongeng-dongeng yang ada di Koran minggu. Atau kadang mendongengkan Aura lengkap dengan tokoh boneka yang ia miliki. Ujungnya, kami akan tertawa. Hahahaha. Menyenangkan dan indah.

Oh iya, Sese belakangan sedang gelisah. Ada Rang yang hadir perlahan. Rang adalah lelaki yang sebenarnya bukan baru baginya. Bahkan ia memendam kesakithatian yang perlahan sudah sembuh, sebab ia termasuk orang yang pandai untuk meracik obat untuk dirinya sendiri. Rang, beberapa waktu lalu mengirim pesan yang bagi Sese hanyalah lelucon belaka. Memang, Rang sepertinya menemui dimensi lain dari Sese yang tak diketahui banyak orang. Bahkan disembunyikannya. Entah sebab rasa atau hanya kebetulan saja. Atau sebab Sese sedang mello karena sebab lain, jadi hadirnya Rang seolah melupa bahwa ia pernah sakit.  

Sese sudah merasakan kibas-kibas mulutnya sejak lama kalau ia ingin menyelami diri sese. Namun, ia berpikir lagi-lagi hanyalah lelucon belaka. Ia bahkan sudah mampu merelakan perasaannya tersebut. Bahwa perjalanan memang seperti ini. Sebab merelakan perasaan dan keinginan yang terbang bersama merpati sudah lanyah baginya. Sebenarnya ia tak pernah mempunyai ekspektasi lebih dalam urusan macam gini, it’s enjoy.  

Juga, Rang perlahan mencicil cerita akan dirinya pada Sese. Cerita yang bagi Sese sebagai syok terapi. Namun, lagi-lagi beginilah perjalanan. Siapa pun berhak untuk melanjutkan hidup, tanpa pengecualian. Entah, mengapa berita terhangat terkait kasus narkoba, berujung pencabutan nyawa yang dilakukan oleh manusia. Manusia mencabut nyawa sesama manusia. Izrail, dimanakah engkau? Apa engkau tidak melakukan dialog dengan Tuhan? Apa engkau hanya manut saja? Atau Tuhan mengapa ini terjadi?

Larut malam sebenarnya enak digunakan untuk tidur. Lalu, bangun pagi-pagi buta dan menghirup udara segar. Beberapa hari Sese sudah mencoba, namun sebab kebiasaan empat tahun terakhir ia jarang sekali tidur di bawah pukul 12, bukan mudah bagi Sese menormalkan jam tidur seperti dahulu kala. Bahkan, ketika di rumah sekalipun. Malam itu, Sese dan Rang saling mengirim pesan. Namun, selalu akan berujung debat dan satu sama lain saling membenar-benarkan atau justru menyalah-nyalahkan. Esok hari, mereka macam melupakannya. Mereka menganggap tidak ada apa-apa. Sese memang akan sebisa mungkin meminimalisir ketidaktergantungan dengan orang lain. Begitu juga pada Rang. Entah apa yang dirasakan Rang, bukan menjadi urusan Sese. Sese jarang sekali mengirimkan kabar. Ia menunggu Rang yang memberi kabar. Atau Sese terkadang akan memanggil duluan. Memang diakui, jika Sese terlibat percakapan yang panjang, Sese lebih sering sebab kesepian. Entah. Sese hanya khawatir bahwa ia akan terlena dan tak mampu mengontrol diri. Maka, keduanya pun amat jarang sekali berkomunikasi.

Sese ingin menulis surat pada Rang. Sese sengaja diam dan mengacuhkan. Sebab, sese sedang mencari penyembuhan diri. Pun Rang mungkin mulai jengkel. Silakan. Begini kiranya:


Rang, aku tak tahu, aku masih menganggap tawaranmu adalah sebuah lelucon belaka yang di lain hari kamu bisa menertawakan aku. Atau kau sedang mencari bahan untuk kau permalukan pada teman-temanmu. Sebab, aku faham betul bagaimana biasanya kau akan memuja-muji seseorang yang sedang tak punya jarak denganmu di depan banyak orang, lalu ketika ada space diantara kalian, kamu baru akan bercerita padaku. Anehnya, cerita itu seolah kau bersih tak terlibat apa pun. Aku tidak suka macam begituan. Mestinya kau harus merefleksi diri, sebab kau turut menjadi aktor utama di dalamnya. Ah, entahlah….

Rang, jika pun tawaranmu itu serius, aku tidak tahu mesti menjawab apa. Aku kira, aku sudah sangat senang ketika aku akan belajar menjadi diriku dan kamu menjadi dirimu untuk sebuah ikhtiar pencarian. Aku benar tak tahu. Aku tak tahu. Ku akui, aku memang pernah menyemai bibit di ladang hatiku, namun telah ku sembuhkan dan ku lepaskan. Ketika kau saat ini, hadir, aku tak tahu. Aku bukanlah seperti apa yang ada dalam rumusanmu. Bukan. Itu hanya bagian kecil. Hanya aku yang dapat menyelami diriku. Dan aku belum mampu. Mungkin akan kau anggap ini sebagai kekonyolan. Lalu kau tertawakan keras-keras. Tapi tak apa. Aku yang tahu. Aku akan belajar untuk menguasai diriku. Sebab, hanya aku yang bisa. Jika nanti jiwaku disatukan dengan jiwa liyan, entah siapa pun, begitu lah sebuah perjalanan. Akan terus berlanjut.

Hai Rang, saat ini aku sedang demam. Suhu tubuhku makin naik. Aku ingin memberi kabar pada Mae tapi akan kuurungkan. Aku tidak mau mencemaskannya. Rang, jika pun mulutku akan mengantar pada rumusan yang mengiyakan tawaranmu, aku tetap Sese dan kamu tetap Rang. Semenyatu-nyatunya masih ada ‘O’ di antara aku kamu. Bisa ‘O’ itu dikatakan sirkel dalam perjalanan hidup. Bahwa, ia akan terus berputar sesuai kehendak kekuatan di luar diri manusia, Gusti Allah. Jika kau perhatikan judul cerita ini, bahwa ‘O’ akan senantiasa memberi senyuman pada yang kira atau kanan secara seimbang, ya keseimbangan Gusti, aku dan kamu tak akan pernah tahu. Namun, tak pernah lelah untuk mencari, bukan? Janganlah lupa untuk tersenyum. Akhirnya, aku kamu hanyalah, Sese’o’rang……….

BMP | 05-05-2015



0 comments: