Laptopku….. Argghhh… kamu itu sering
sekali membuatku kecewa, kudu sabar. Seperti ini tadi, aku sudah menulis satu paragrap
tiba-tiba hilang. Kamu itu, membuatku sedih. Haha. Aku kudu piye, kamu jangan
rewel-rewel gitu. Tapi, rewel juga tidak apa, sebab di situ seninya. Jadi begini, Kemarin, Kamis (8/5) menjadi hari
yang melelahkan juga menyenangkan. Mendengar dan merekam cerita. Bertemu dengan
orang-orang baru dan teman yang sudah lama tak bertemu.
Pagi, aku ke BNN Jateng untuk
melakukan wawancara. Aku bertemu sama kabag bagian umum, kemudian aku ingin
dipertemukan pada psikolog yang menangani pasiennya. Namun, hari itu memang
hari yang panjang, pasien yang mengantri banyak. Aku harus menunggu hingga
benar-benar tak ada pasien. Ah, ada tiga orang anak muda yang sedang mengantri
di ruang tunggu. Nampak dari busanan yang dikenakannya mereka anak-anak gaul. Ku
godain aja dengan sok-sok kenal. Tujuanku hanya ingin dia mau cerita. Walhasil sedikit
demi sedikit mereka mau bercerita. Satu diantanya sudah sejak SD mengonsumsi
ekstasi. Gak usah kaget. Aku sudah terbiasa dengan cerita-cerita macam gini. Apalagi
satu tahun terakhir aku bergelut dengan anak-anak yang sedang butuh ruang untuk
didengar ceritanya. Mereka keluar merekok. Aku duduk diam termangu, namun
otakku tidak pernah diam.
Tetiba, ibu di sampingku membuka
sebuah obrolan. Ia sedang mengantar anaknya terapi. Sudah sejak lama anaknya
kecanduan narkoba. Ah, lagi lagi aku harus mendengar cerita yang melantun
dengan syahdu. Untaian-untaian kata bukan untuk keindahan bait, namun atas
perjalanan yang panjang. Beberapakali, di tengah-tengah obrolan, kami mesti
diam, merenung, dan menarik napas panjang. Namun, kami saling tahu bahwa
obrolan itu belum berakhir, kami masih ingin melanjutkannya. Lalu, satu di
antara kita ada yang memulainya kembali. Menangkap sorot matanya, ia adalah
perempuan yang melampaui ruang dan waktu. Aku paham, ia mencoba sekuat tenaga
untuk menahan bulir-bulir agar tak menetes. Sebab, jika satu saja sudah
menetes, ia akan tumpah ruah bak banjir bandang. Begitu juga aku, aku menahan
diri untuk tetap memandangnya dengan lekat. Namun, sesekali aku mesti
memalingkan pandanganku entah ke samping atau depan. Sebab, aku tak terlalu
kuat.
Ia berpamitan pulang, “beri tahu saya,
kalau mbak menemukan cara untuk menghadapi ini.” Beberapa detik setelah ibu itu
meninggalkan ruangan, aku juga memutuskan untuk keluar. Aku tak sanggup lagi
duduk di kursi itu dan merekam cerita. Perjalananku menuju tempat selanjutnya, banyak
hal yang bertabrakan dalam otakku. Aku melambaikan tangan, aku meleleh. Ini,
bukan kali pertama aku turut merasakan entah apa ini namanya pada narasumber
atau sesiapa pun yang aku temui. Kami, atau lebih tepatnya orang yang baru ku
kenal tersebut bercerita tentang perjalanannya. Kadang kami harus tertawa lepas
seketika itu juga aku mesti siap jika ada lelehan-lelehan. Namun, aku mesti
sekuat tenaga agar tak meleleh di depannya. Saat berpisah, jika aku mesti
meleleh itu urusanku dan akan ku biarkan sejadinya. Aku rapopo. Haha. Aku kuat
juga rapuh. Ihik ihik.
Namun, semenjak aku ikut workshopnya
Dewan Pers beberapa bulan lalu, aku baru tahu kalau hal macam itu namanya
secondary trauma. Saat itu materi disampaik mbak mariana dari kompas. Aku ngefans
sama dia. Aku pengen ketemu lagi. Oh gusti, hahahahahaha. Betulkah? Tidak. Aku memang
orang yang sok kuat untuk mencari penyembuh dalam diri. Lebih tepatnya, aku
akan berusaha maksimal untuk menyembuhkan luka-lukaku sendiri. Sebab aku tahu
perjalanan tiap manusia adalah perjalanan special dan sirri (rahasia). Maka
itu, dengan sesiapun aku bercerita (namun, aku tak pernah benar-benar bisa
bercerita) aku tetap menjalani perjalananku dalam lorong jiwaku sendiri. Juga,
yang lain akan menjalani perjalanannya sendiri.
Maka, memahami perjalanan diri
adalah cara untuk memahami perjalanan orang lain. Bahwa tiada mungkin, aku
misalnya, mampu untuk benar-benar memahami orang lain. Aku hanya sebatas mampu
mendengar dan merekam ceritanya. Lalu, jika di lain waktu bahwa kami mesti
merapat kembali untuk melanjut cerita, itu adalah bagian dari meneguhkan
keyakinan masing-masing. Pun tak bisa membumbui dengan ekspektasi-ekspektasi. Aku
hanya punya satu harapan, ‘keyakinan.’ Mungkin, aku Nampak tak melakukan
pergerakan apa-apa, namun aku selalu menyemai keyakinan tentang apapun.
Halah, mengapa aku memacari blogspot. Padahal
aku ingin menulis ini di buku catatanku, pacarku sampai kapan pun pun. Haha. Oh,
aku sedang ingin selingkuh. Tapi kenapa selingkuh mempunyai steriotipe negative?
Oh, mungkin itu yang hanya di peruntukkan untuk hubungan 2 manusia yang sedang
berimajinasi segala-galanya. Padahal aku lihat di kbbi artinya tidak ingin
berterus terang. Banyak hal yang aku tidak bisa memberi eksplanasi detail
tentang perjalananku. Sebab, ini perjalananku. Pun, aku tidak bisa mengajakmu
masuk di dalam perjalananku. Aku cukup belajar dari tawaranku yang ternyata
justru menyesatkan, bagi orang di luar diriku. Namun, aku selalu mencoba
memaknainya. Hal-hal tolol yang pernah ku lakukan. Hehe. Geli sendiri.
Buku catatanku, pun kamu bukan
segalanya untuk menguasai aku, dan menumpahkan segalanya padamu. Ada waktu dimana
aku mesti melebarkan keyakinanku. Lembaran-lembaranmu saat ini tinggal sedikit,
aku belum memperbaharui dengan yang baru, juga belum menemukan lembaran baru
yang cocok untuk melanjutkan cerita. Entah, keyakinanku tertuju pada yang
bergaris, polosan, putih, berwarna, atau pilihan lain. Haha.
***
Duh, aku kemarin ingin ketemu Kevin. Tapi
ternyata ia sudah tidak di sana. Namun, kabar baik ia sedang bekerja di salah
satu restauran besar. Aku sampai kaget, kog bisa? Wah, Kevin ternyata oke
banget. Kamu, di usia mu yang segitu mesti melampaui ruang & waktu. Keyakinanmu kuat, Nak. Namun, sesiapapun hanya
bisa menikmatinya. :o)
Kantor Merput, 5/9/2015



0 comments:
Post a Comment