Friday, May 8, 2015

Buku Catatan


Laptopku….. Argghhh… kamu itu sering sekali membuatku kecewa, kudu sabar. Seperti ini tadi, aku sudah menulis satu paragrap tiba-tiba hilang. Kamu itu, membuatku sedih. Haha. Aku kudu piye, kamu jangan rewel-rewel gitu. Tapi, rewel juga tidak apa, sebab di situ seninya.  Jadi begini, Kemarin, Kamis (8/5) menjadi hari yang melelahkan juga menyenangkan. Mendengar dan merekam cerita. Bertemu dengan orang-orang baru dan teman yang sudah lama tak bertemu.

Pagi, aku ke BNN Jateng untuk melakukan wawancara. Aku bertemu sama kabag bagian umum, kemudian aku ingin dipertemukan pada psikolog yang menangani pasiennya. Namun, hari itu memang hari yang panjang, pasien yang mengantri banyak. Aku harus menunggu hingga benar-benar tak ada pasien. Ah, ada tiga orang anak muda yang sedang mengantri di ruang tunggu. Nampak dari busanan yang dikenakannya mereka anak-anak gaul. Ku godain aja dengan sok-sok kenal. Tujuanku hanya ingin dia mau cerita. Walhasil sedikit demi sedikit mereka mau bercerita. Satu diantanya sudah sejak SD mengonsumsi ekstasi. Gak usah kaget. Aku sudah terbiasa dengan cerita-cerita macam gini. Apalagi satu tahun terakhir aku bergelut dengan anak-anak yang sedang butuh ruang untuk didengar ceritanya. Mereka keluar merekok. Aku duduk diam termangu, namun otakku tidak pernah diam.

Tetiba, ibu di sampingku membuka sebuah obrolan. Ia sedang mengantar anaknya terapi. Sudah sejak lama anaknya kecanduan narkoba. Ah, lagi lagi aku harus mendengar cerita yang melantun dengan syahdu. Untaian-untaian kata bukan untuk keindahan bait, namun atas perjalanan yang panjang. Beberapakali, di tengah-tengah obrolan, kami mesti diam, merenung, dan menarik napas panjang. Namun, kami saling tahu bahwa obrolan itu belum berakhir, kami masih ingin melanjutkannya. Lalu, satu di antara kita ada yang memulainya kembali. Menangkap sorot matanya, ia adalah perempuan yang melampaui ruang dan waktu. Aku paham, ia mencoba sekuat tenaga untuk menahan bulir-bulir agar tak menetes. Sebab, jika satu saja sudah menetes, ia akan tumpah ruah bak banjir bandang. Begitu juga aku, aku menahan diri untuk tetap memandangnya dengan lekat. Namun, sesekali aku mesti memalingkan pandanganku entah ke samping atau depan. Sebab, aku tak terlalu kuat.

Ia berpamitan pulang, “beri tahu saya, kalau mbak menemukan cara untuk menghadapi ini.” Beberapa detik setelah ibu itu meninggalkan ruangan, aku juga memutuskan untuk keluar. Aku tak sanggup lagi duduk di kursi itu dan merekam cerita. Perjalananku menuju tempat selanjutnya, banyak hal yang bertabrakan dalam otakku. Aku melambaikan tangan, aku meleleh. Ini, bukan kali pertama aku turut merasakan entah apa ini namanya pada narasumber atau sesiapa pun yang aku temui. Kami, atau lebih tepatnya orang yang baru ku kenal tersebut bercerita tentang perjalanannya. Kadang kami harus tertawa lepas seketika itu juga aku mesti siap jika ada lelehan-lelehan. Namun, aku mesti sekuat tenaga agar tak meleleh di depannya. Saat berpisah, jika aku mesti meleleh itu urusanku dan akan ku biarkan sejadinya. Aku rapopo. Haha. Aku kuat juga rapuh. Ihik ihik.

Namun, semenjak aku ikut workshopnya Dewan Pers beberapa bulan lalu, aku baru tahu kalau hal macam itu namanya secondary trauma. Saat itu materi disampaik mbak mariana dari kompas. Aku ngefans sama dia. Aku pengen ketemu lagi. Oh gusti, hahahahahaha. Betulkah? Tidak. Aku memang orang yang sok kuat untuk mencari penyembuh dalam diri. Lebih tepatnya, aku akan berusaha maksimal untuk menyembuhkan luka-lukaku sendiri. Sebab aku tahu perjalanan tiap manusia adalah perjalanan special dan sirri (rahasia). Maka itu, dengan sesiapun aku bercerita (namun, aku tak pernah benar-benar bisa bercerita) aku tetap menjalani perjalananku dalam lorong jiwaku sendiri. Juga, yang lain akan menjalani perjalanannya sendiri. 

Maka, memahami perjalanan diri adalah cara untuk memahami perjalanan orang lain. Bahwa tiada mungkin, aku misalnya, mampu untuk benar-benar memahami orang lain. Aku hanya sebatas mampu mendengar dan merekam ceritanya. Lalu, jika di lain waktu bahwa kami mesti merapat kembali untuk melanjut cerita, itu adalah bagian dari meneguhkan keyakinan masing-masing. Pun tak bisa membumbui dengan ekspektasi-ekspektasi. Aku hanya punya satu harapan, ‘keyakinan.’ Mungkin, aku Nampak tak melakukan pergerakan apa-apa, namun aku selalu menyemai keyakinan tentang apapun.  

Halah, mengapa aku memacari blogspot. Padahal aku ingin menulis ini di buku catatanku, pacarku sampai kapan pun pun. Haha. Oh, aku sedang ingin selingkuh. Tapi kenapa selingkuh mempunyai steriotipe negative? Oh, mungkin itu yang hanya di peruntukkan untuk hubungan 2 manusia yang sedang berimajinasi segala-galanya. Padahal aku lihat di kbbi artinya tidak ingin berterus terang. Banyak hal yang aku tidak bisa memberi eksplanasi detail tentang perjalananku. Sebab, ini perjalananku. Pun, aku tidak bisa mengajakmu masuk di dalam perjalananku. Aku cukup belajar dari tawaranku yang ternyata justru menyesatkan, bagi orang di luar diriku. Namun, aku selalu mencoba memaknainya. Hal-hal tolol yang pernah ku lakukan. Hehe. Geli sendiri.

Buku catatanku, pun kamu bukan segalanya untuk menguasai aku, dan menumpahkan segalanya padamu. Ada waktu dimana aku mesti melebarkan keyakinanku. Lembaran-lembaranmu saat ini tinggal sedikit, aku belum memperbaharui dengan yang baru, juga belum menemukan lembaran baru yang cocok untuk melanjutkan cerita. Entah, keyakinanku tertuju pada yang bergaris, polosan, putih, berwarna, atau pilihan lain. Haha.
***


Duh, aku kemarin ingin ketemu Kevin. Tapi ternyata ia sudah tidak di sana. Namun, kabar baik ia sedang bekerja di salah satu restauran besar. Aku sampai kaget, kog bisa? Wah, Kevin ternyata oke banget. Kamu, di usia mu yang segitu mesti melampaui ruang & waktu.  Keyakinanmu kuat, Nak. Namun, sesiapapun hanya bisa menikmatinya. :o)

Kantor Merput, 5/9/2015

0 comments: