![]() |
| Duh, nang nduk, seragam sd kuwi gawe ngilu.... |
ABJAD. Aku tak tahu bagaimana abjad terbentuk. Ku kira,
orang-orang yang telah menemukannya punya cita-cita luhur akan hadirnya abjad. Abjad
lah yang menyemai kehidupan. Bayangkan, jika abjad tak juga ada hingga saat
ini, tentu aku akan hidup dengan mengenaskan. Sebab, aku hidup dari abjad. Abjad
yang mengajariku untuk tetap memilih bangkit (ketika kehidupan menumbangkanmu,
kau bisa memilih untuk bangkit atau tidak- Film The Karate Kid). Film yang
entah sudah berapa kali ku tonton. Film kesukaan aku dan Tuan krep. Tuan krep
itu adikku sing gagah dewe, ah, aku bakal kangen kamu Nang. Huhu. Juga, abjad
lah yang meluluhlantahkanku sebab sepertinya pintu terdalam dari diriku dibuka
lebar-lebar. Ah. Beginilah, hal-hal di balik abjad yang dapat membuatku melayang
dan kesakitan dalam satu tarikan napas. Tapi, bukanlah memang begitu ritmenya?
Haha.
Hai Ayu, gadis manis yang tetiba lari-larian dan memelukku
sangat erat. Beberapa waktu lalu aku memberi majalah merah putih ke MI LB Budi
Asih. Ya, aku berjanji setelah terbit akan memberi majalahnya. Aku berniat
bertemu Pak Indra yang cakep itu. Eh, Aku hanya kagum pada semangat Pak Indra.
Kebetulan saja dia cakep. Dan pembagian cakep-tidak cakep, kaya-tidak kaya,
adalah bukan segalanya. Sudah dibagi dengan pas sama Gusti. Jadi, hal-hal macam
itu hanya buat lucu-lucuan saja. Hah. Aku sebenarnya gelisah saat di jalan
menuju MI LB Budi Asih. Aku tak membaca kamera slr. Padahal, aku berjanji jika
ke sana akan membawa kamera. Ada salah satu murid, yang katanya mau jadi juru
potret. Ia senang sekali saat melihat kamera ‘bagus’ itu.
“Kak, kak, aku boleh pinjam kameranya. Aku bisa motret lho,
tapi diajari dulu ya?” tuturnya.
“Oh iya. Boleh boleh.”
Perspektif gambar yang diambil cukup bagus. Kamera itu punya
teman, jadi aku pinjam. Dan aku tidak enak, jika mesti pinjam lagi. Sementara kalau
harus ke kantor dulu terlalu jauh. Padahal sekolahnya dekat dengan kos. Oh,
sudah ku persiapkan di sepanjang jalan untuk meminta maaf. Aku sangat takut
kalau ia kecewa. Sebab, ku tahu anak-anak seusianya pasti selalu ingat dengan
janji. Seperti waktu kecil dulu, aku dijanjikan akan dibelikan sepatu sama
saudaraku. Tapi, itu hanya sekadar janji (rentetan abjad). Dan aku tak pernah
dibelikan. Sampai sekarang pun aku masih ingat. Antara kecewa, sedih, bahkan
benci. Kenapa, aku yang sudah segede ini masih terbayang-bayang tentang hal-hal
di masa kecil. Syukurlah, ia sudah pulang dulu. Jadi aku gak ketemu dia. Ehehe.
Baru menaruh tas di kursi, tetiba aku ditubruk gadis kecil
dari samping. Ia langsung tiduran di pangkuanku. Ayu namanya. Lalu disusul
Abdul yang menubruk dari samping kiriku. Minta dipeluk juga. Keduanya tunawicara.
Oh, emak (juru masak) akhirnya bercerita. Kalau keduanya memang sangat dekat
dan lucu. Mereka duduk di kelas 1 MI. Kemana-mana mereka berdua. Juga mereka
kalau berantem itu ngeri. Sampek pukul-memukul. Plak-plek lah. Namun, kalau
emak bicara dengan nada tinggi keduanya akan diam dan mengerti kalau hal macam
itu tidak baik.
Ayu, memang tak dapat bicara seperti orang normal. Dia hanya
bisa ngomong U u u u sembari nunjuk-nunjuk. Juga abdul. “Abul……….” Ayu jika
manggil abdul. Tanganku digapai dan diajak ke ruang samping untuk diperlihatkan
peralatan sekolahnya. Oh dia menunjukkan crayonnya. Diambil, terus mereka
berdua mewarnai. Nah, saat mewarnai itu aku hanya diam dan ngeliatin polah
tingkah mereka. Aku pernah membaca ulasan di kompas tentang terapi menggunakan
gambar dari pendiri The Red Pencil. Juga belakangan aku sering ngintip di
blognya. Bahwa, ketika anak-anak sedang menggambar dan mewarnai, orang dewasa
cukup diam saja memperhatikan polahnya. Tak usah diajak ngobrol atau
ditanya-tanya. Sebab, saat anak-anak menggambar, anak-anak sedang masuk ke
dalam dirinya. Ia sedang mengingat momen atau kejadian. Ia butuh ketenangan. Ya
ya ya….
![]() |
| Duh nang, koe kudu tanggungjawab nek aku karep cilik meneh. halloo. |
Aku hanya mesam-mesem sendiri. Juga Ayu yang sesekali
memandangiku lalu melempar senyum. Duh, gimana sih rasane nyes-nyesan lah
pokoke. Seperti kalau ketemu si dia dulu? Lhoh, ah, hal macam gini hanya cuma pemanis
ben tambah manis aja. Haha. Aku sempat merautkan pensilnya yang bujel. Pas aku
mau buang sampah dari rautan pencil, tanganku lagi-lagi ditarik. Aku macam
kebingungan mau diajak ke mana ini sayang? Oh ternyata aku dibawa ke dalam
ruang kelasnya. Di sana ada tempat sampah. Pintar kali, Nak. Juga, pas
tangannya kotor, tetiba ia lari keluar dan ku intip, dia ternyata ke kamar
mandi untuk mencuci tangan. Saat sampai di hadapanku, kedua telapak tangannya
diperlihatkan padaku. Hihi. Bersih.
Abdul menampakkan muka yang cemberut. Mungkin, ia merasa
tidak diperhatikan dan sedih. Dan akhirnya ku peluk dan ku elus-elus. Beuh. Aku
pengen? Haha. Aku sebenarnya bingung, aku mesti berbicara apa pada mereka. Aku
sebenarnya tak paham dengan pembicaraan keduanya, aku juga bukan orang yang
pernah belajar di sekolah luar biasa (seperti yang diceritakan pak indra, di
UNS ada jurusannya). Juga aku bukan dari jurusan psikologi. Namun, aku sangat
suka nongkrong di perpusnya psikologi. Gitu lah, saat mahasiswa menjadi momen
yang sangat merdeka bagiku. Aku bisa sakkarepku melintas dan singgah di
perpus-perpus paporit. Haha.
Ya, aku hanya bisa menyapa mereka lewat jiwa terdalamku. Aku
tidak bisa berbicara soal hati, sebab aku itu tidak punya hati dan tidak tahu bagaimana
rumusan hati itu. Aku lebih nyaman dengan penyebutan ‘jiwa’. Aku hanya ingin
memberi rasa nyaman di samping ‘A’yu-‘A’bdul. Aku genggam tangannya dan
mengelus rambutnya. Jika manusia mesti mempunyai laku hidup-menghidupi, pada
hal-hal macam inilah aku merasa jijik pada diriku sendiri. Aku benci pada
diriku sendiri. “Dewi, kamu itu terlalu sombong pada semesta. Kamu itu apa,
kamu dikasih kesulitan sedikit saja, lebaynya minta ampun. Apa kamu merasa
kalau hanya kamu yang kadang merasa capek. Semua manusia. Semua. Masing-masing
orang sudah mempunyai alurnya sendiri. Juga, bukannya untuk mengabaikan yang
lain.”
Ya, makanya aku suka merekam cerita. Sebab, dari cerita
selalu ada kebenaran baru. Rasa-rasanya aku berjodoh ketika dulu aku
berkesempatan pernah singgah di bp2m. bp2m yang mengajariku untuk senantiasa
mengeja sebuah makna dari setiap abjad. Juga, kenapa aku suka menemui
orang-orang baru. Sebab, aku akan punya cerita dan catatanku cepat penuh.
Nak, terima kasih. Selalu saja, di saat-saat aku butuh dekapan,
aku bisa bertemu denganmu. Anak-anakku yang terkasih yang tumbuh dahsyat untuk
memaknai perjalanan. Duh, aku malah meleleh to. Sebab, aku kangen anak-anakku
di johar, tugumuda, gunungsari, delikrejo, dan kuningan. Mungkin, kamu tidak
merasakan apapun padaku, Nak. Tapi, aku cukup bisa masuk di langkahmu. Kamu itu
kuat. Hi. Aku jadi keinget Nita.
“Mbak Wewe……” Hantu dong aku. Wewe gombel. Hi. Ngeri!
Belakangan, aku melihat-lihat Merput lagi (eh, gusti aku habis
sedih tetiba hapeku getar. Aku buka pesan. Ternyata bapak-bapak KKN ku dulu.
Gila aja panggil-panggil sayang? Padahal aku aja lupa, kapan terakhir aku
panggil-memanggil sayang. Haha. Aku ngekek-ngekek dewe. Entah kenapa, bapak-bapak
ora di tempat pkl dan kkn, pada seneng karo aku? Eh, maksudnya seneng podo
nekokke aku sms lah telepon lah. Juga berencana ngapel ke kos? Eh, maksude
dolan. Tapi, aku beralasan. Haha. Ya macam kek gini juga agar hubungan
mahasiswa-warga tetap terjalin. Aku sih sing merasa bersalah terus, jika
mengingat momen pkl dan kkn. Hihi. Gila aja nih smsnya, mosok katanya kangen sama
suaraku. Aku aja yang kangen sama seseorang dan suaranya gak akan pernah bisa
menyampaikan itu? Eh, kenapa orang-orang itu bisa ngobrol apapun denganku,
sementara aku tidak. Rasakno, Wi! Makane ojo sombong pengen merekam
cerita-cerita orang. Halah, orapopo. Lha emang ini perjalananku kog.)
Lanjut, aku beberapa waktu lalu melihat-lihat lagi Merput. Aku
sudah setahun lebih di sana. Lha dalah, ternyata liputan-liputanku kog sering
mengangkat isu-isu kekerasan anak, anak-anak yang terpinggirkan, anak yang
beraktivitas di jalanan, orang-orang low profile lalu sengaja aku profilkan,
sekolah pinggiran, kampung pinggiran, perempuan, dan belakangan aku menulis
tentang cinta (nek iki mbuh, aku rak mudeng). Sampai-sampai aku diciee-cieekan teman
kerja sing asoygeboy. Maksude? Mbuh, pokoknya sesiapapun yang jatuh hati, harus
bertanggungjawab dengan perasaannya sendiri. Aku tak bisa mengulurkan tangan,
lha wong pada diriku sendiri saja, aku masih belajar memaknai.
“Sudah Wi, kamu tuh gak usah lebay. Galau. Sok-sok sedih. Malam
ini gak jadi nonton payung teduh.”
Barangkali, ini adalah alasan mengapa aku ingin menjadi
wartawan. Aku ingin bertemu dengan orang-orang dan merekam ceritanya. Lebih lagi,
aku kian dihadapkan pada tulisan-tulisan mbak maria. Duh, duh, Rek. Entah,
suara itu yang kadang hadir begitu saja. Padahal, sudah berapa orang coba
dengan eksplanasinya yang membuatku mindip-mindip untuk benar-benar meyakini
keinginanku itu. Runtuh-bangkit-runtuh-bangkit hingga mesti ku tata ulang
kembali. Maka, belakangan aku suka menyusun puzzle sama Aura, aku cukup belajar
dari sana. Bagaimana menyusun kepingan-kepingan untuk menjadi hanya sekadar
enak dilihat saja (eh, kayak taglinenya majalah tempo, enak dibaca. Haha).
Entah,
jiwa dunia itu yang akan mempertaukan jiwaku pada semesta. Aku ingin menjalani waktu
24 jam di setiap harinya dengan memaknainya. Nak, anak-anakku adalah kamu
semua. Kamu tak lebih adalah pantulan dariku. Maka, aku begitu turut merasakan
walau aku tak bisa berbuat apa, saat ini. Pernah ku dengar begini, apa yang kamu katakan dalam deretan
abjad-abjad akan memudar begitu saja. Juga apa yang pernah kamu lakukan akan
musnah. Namun, jika kau mampu merasakan, di situ lah kau hidup dan mengingat
Tuhan. Gracia Lavida!
DM | 14062015


0 comments:
Post a Comment