Sunday, June 14, 2015

Kisah Tentang Abjad ‘A’

Duh, nang nduk, seragam sd kuwi gawe ngilu....

ABJAD. Aku tak tahu bagaimana abjad terbentuk. Ku kira, orang-orang yang telah menemukannya punya cita-cita luhur akan hadirnya abjad. Abjad lah yang menyemai kehidupan. Bayangkan, jika abjad tak juga ada hingga saat ini, tentu aku akan hidup dengan mengenaskan. Sebab, aku hidup dari abjad. Abjad yang mengajariku untuk tetap memilih bangkit (ketika kehidupan menumbangkanmu, kau bisa memilih untuk bangkit atau tidak- Film The Karate Kid). Film yang entah sudah berapa kali ku tonton. Film kesukaan aku dan Tuan krep. Tuan krep itu adikku sing gagah dewe, ah, aku bakal kangen kamu Nang. Huhu. Juga, abjad lah yang meluluhlantahkanku sebab sepertinya pintu terdalam dari diriku dibuka lebar-lebar. Ah. Beginilah, hal-hal di balik abjad yang dapat membuatku melayang dan kesakitan dalam satu tarikan napas. Tapi, bukanlah memang begitu ritmenya? Haha.

Hai Ayu, gadis manis yang tetiba lari-larian dan memelukku sangat erat. Beberapa waktu lalu aku memberi majalah merah putih ke MI LB Budi Asih. Ya, aku berjanji setelah terbit akan memberi majalahnya. Aku berniat bertemu Pak Indra yang cakep itu. Eh, Aku hanya kagum pada semangat Pak Indra. Kebetulan saja dia cakep. Dan pembagian cakep-tidak cakep, kaya-tidak kaya, adalah bukan segalanya. Sudah dibagi dengan pas sama Gusti. Jadi, hal-hal macam itu hanya buat lucu-lucuan saja. Hah. Aku sebenarnya gelisah saat di jalan menuju MI LB Budi Asih. Aku tak membaca kamera slr. Padahal, aku berjanji jika ke sana akan membawa kamera. Ada salah satu murid, yang katanya mau jadi juru potret. Ia senang sekali saat melihat kamera ‘bagus’ itu.

“Kak, kak, aku boleh pinjam kameranya. Aku bisa motret lho, tapi diajari dulu ya?” tuturnya.
“Oh iya. Boleh boleh.”

Perspektif gambar yang diambil cukup bagus. Kamera itu punya teman, jadi aku pinjam. Dan aku tidak enak, jika mesti pinjam lagi. Sementara kalau harus ke kantor dulu terlalu jauh. Padahal sekolahnya dekat dengan kos. Oh, sudah ku persiapkan di sepanjang jalan untuk meminta maaf. Aku sangat takut kalau ia kecewa. Sebab, ku tahu anak-anak seusianya pasti selalu ingat dengan janji. Seperti waktu kecil dulu, aku dijanjikan akan dibelikan sepatu sama saudaraku. Tapi, itu hanya sekadar janji (rentetan abjad). Dan aku tak pernah dibelikan. Sampai sekarang pun aku masih ingat. Antara kecewa, sedih, bahkan benci. Kenapa, aku yang sudah segede ini masih terbayang-bayang tentang hal-hal di masa kecil. Syukurlah, ia sudah pulang dulu. Jadi aku gak ketemu dia. Ehehe.

Baru menaruh tas di kursi, tetiba aku ditubruk gadis kecil dari samping. Ia langsung tiduran di pangkuanku. Ayu namanya. Lalu disusul Abdul yang menubruk dari samping kiriku. Minta dipeluk juga. Keduanya tunawicara. Oh, emak (juru masak) akhirnya bercerita. Kalau keduanya memang sangat dekat dan lucu. Mereka duduk di kelas 1 MI. Kemana-mana mereka berdua. Juga mereka kalau berantem itu ngeri. Sampek pukul-memukul. Plak-plek lah. Namun, kalau emak bicara dengan nada tinggi keduanya akan diam dan mengerti kalau hal macam itu tidak baik.

Ayu, memang tak dapat bicara seperti orang normal. Dia hanya bisa ngomong U u u u sembari nunjuk-nunjuk. Juga abdul. “Abul……….” Ayu jika manggil abdul. Tanganku digapai dan diajak ke ruang samping untuk diperlihatkan peralatan sekolahnya. Oh dia menunjukkan crayonnya. Diambil, terus mereka berdua mewarnai. Nah, saat mewarnai itu aku hanya diam dan ngeliatin polah tingkah mereka. Aku pernah membaca ulasan di kompas tentang terapi menggunakan gambar dari pendiri The Red Pencil. Juga belakangan aku sering ngintip di blognya. Bahwa, ketika anak-anak sedang menggambar dan mewarnai, orang dewasa cukup diam saja memperhatikan polahnya. Tak usah diajak ngobrol atau ditanya-tanya. Sebab, saat anak-anak menggambar, anak-anak sedang masuk ke dalam dirinya. Ia sedang mengingat momen atau kejadian. Ia butuh ketenangan. Ya ya ya….

Duh nang, koe kudu tanggungjawab nek aku karep cilik meneh. halloo.
Aku hanya mesam-mesem sendiri. Juga Ayu yang sesekali memandangiku lalu melempar senyum. Duh, gimana sih rasane nyes-nyesan lah pokoke. Seperti kalau ketemu si dia dulu? Lhoh, ah, hal macam gini hanya cuma pemanis ben tambah manis aja. Haha. Aku sempat merautkan pensilnya yang bujel. Pas aku mau buang sampah dari rautan pencil, tanganku lagi-lagi ditarik. Aku macam kebingungan mau diajak ke mana ini sayang? Oh ternyata aku dibawa ke dalam ruang kelasnya. Di sana ada tempat sampah. Pintar kali, Nak. Juga, pas tangannya kotor, tetiba ia lari keluar dan ku intip, dia ternyata ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Saat sampai di hadapanku, kedua telapak tangannya diperlihatkan padaku. Hihi. Bersih.

Abdul menampakkan muka yang cemberut. Mungkin, ia merasa tidak diperhatikan dan sedih. Dan akhirnya ku peluk dan ku elus-elus. Beuh. Aku pengen? Haha. Aku sebenarnya bingung, aku mesti berbicara apa pada mereka. Aku sebenarnya tak paham dengan pembicaraan keduanya, aku juga bukan orang yang pernah belajar di sekolah luar biasa (seperti yang diceritakan pak indra, di UNS ada jurusannya). Juga aku bukan dari jurusan psikologi. Namun, aku sangat suka nongkrong di perpusnya psikologi. Gitu lah, saat mahasiswa menjadi momen yang sangat merdeka bagiku. Aku bisa sakkarepku melintas dan singgah di perpus-perpus paporit. Haha.

Ya, aku hanya bisa menyapa mereka lewat jiwa terdalamku. Aku tidak bisa berbicara soal hati, sebab aku itu tidak punya hati dan tidak tahu bagaimana rumusan hati itu. Aku lebih nyaman dengan penyebutan ‘jiwa’. Aku hanya ingin memberi rasa nyaman di samping ‘A’yu-‘A’bdul. Aku genggam tangannya dan mengelus rambutnya. Jika manusia mesti mempunyai laku hidup-menghidupi, pada hal-hal macam inilah aku merasa jijik pada diriku sendiri. Aku benci pada diriku sendiri. “Dewi, kamu itu terlalu sombong pada semesta. Kamu itu apa, kamu dikasih kesulitan sedikit saja, lebaynya minta ampun. Apa kamu merasa kalau hanya kamu yang kadang merasa capek. Semua manusia. Semua. Masing-masing orang sudah mempunyai alurnya sendiri. Juga, bukannya untuk mengabaikan yang lain.”

Ya, makanya aku suka merekam cerita. Sebab, dari cerita selalu ada kebenaran baru. Rasa-rasanya aku berjodoh ketika dulu aku berkesempatan pernah singgah di bp2m. bp2m yang mengajariku untuk senantiasa mengeja sebuah makna dari setiap abjad. Juga, kenapa aku suka menemui orang-orang baru. Sebab, aku akan punya cerita dan catatanku cepat penuh.

Nak, terima kasih. Selalu saja, di saat-saat aku butuh dekapan, aku bisa bertemu denganmu. Anak-anakku yang terkasih yang tumbuh dahsyat untuk memaknai perjalanan. Duh, aku malah meleleh to. Sebab, aku kangen anak-anakku di johar, tugumuda, gunungsari, delikrejo, dan kuningan. Mungkin, kamu tidak merasakan apapun padaku, Nak. Tapi, aku cukup bisa masuk di langkahmu. Kamu itu kuat. Hi. Aku jadi keinget Nita.
“Mbak Wewe……” Hantu dong aku. Wewe gombel. Hi. Ngeri!

Belakangan, aku melihat-lihat Merput lagi (eh, gusti aku habis sedih tetiba hapeku getar. Aku buka pesan. Ternyata bapak-bapak KKN ku dulu. Gila aja panggil-panggil sayang? Padahal aku aja lupa, kapan terakhir aku panggil-memanggil sayang. Haha. Aku ngekek-ngekek dewe. Entah kenapa, bapak-bapak ora di tempat pkl dan kkn, pada seneng karo aku? Eh, maksudnya seneng podo nekokke aku sms lah telepon lah. Juga berencana ngapel ke kos? Eh, maksude dolan. Tapi, aku beralasan. Haha. Ya macam kek gini juga agar hubungan mahasiswa-warga tetap terjalin. Aku sih sing merasa bersalah terus, jika mengingat momen pkl dan kkn. Hihi. Gila aja nih smsnya, mosok katanya kangen sama suaraku. Aku aja yang kangen sama seseorang dan suaranya gak akan pernah bisa menyampaikan itu? Eh, kenapa orang-orang itu bisa ngobrol apapun denganku, sementara aku tidak. Rasakno, Wi! Makane ojo sombong pengen merekam cerita-cerita orang. Halah, orapopo. Lha emang ini perjalananku kog.)

Lanjut, aku beberapa waktu lalu melihat-lihat lagi Merput. Aku sudah setahun lebih di sana. Lha dalah, ternyata liputan-liputanku kog sering mengangkat isu-isu kekerasan anak, anak-anak yang terpinggirkan, anak yang beraktivitas di jalanan, orang-orang low profile lalu sengaja aku profilkan, sekolah pinggiran, kampung pinggiran, perempuan, dan belakangan aku menulis tentang cinta (nek iki mbuh, aku rak mudeng). Sampai-sampai aku diciee-cieekan teman kerja sing asoygeboy. Maksude? Mbuh, pokoknya sesiapapun yang jatuh hati, harus bertanggungjawab dengan perasaannya sendiri. Aku tak bisa mengulurkan tangan, lha wong pada diriku sendiri saja, aku masih belajar memaknai.

“Sudah Wi, kamu tuh gak usah lebay. Galau. Sok-sok sedih. Malam ini gak jadi nonton payung teduh.”

Barangkali, ini adalah alasan mengapa aku ingin menjadi wartawan. Aku ingin bertemu dengan orang-orang dan merekam ceritanya. Lebih lagi, aku kian dihadapkan pada tulisan-tulisan mbak maria. Duh, duh, Rek. Entah, suara itu yang kadang hadir begitu saja. Padahal, sudah berapa orang coba dengan eksplanasinya yang membuatku mindip-mindip untuk benar-benar meyakini keinginanku itu. Runtuh-bangkit-runtuh-bangkit hingga mesti ku tata ulang kembali. Maka, belakangan aku suka menyusun puzzle sama Aura, aku cukup belajar dari sana. Bagaimana menyusun kepingan-kepingan untuk menjadi hanya sekadar enak dilihat saja (eh, kayak taglinenya majalah tempo, enak dibaca. Haha). 

Entah, jiwa dunia itu yang akan mempertaukan jiwaku pada semesta. Aku ingin menjalani waktu 24 jam di setiap harinya dengan memaknainya. Nak, anak-anakku adalah kamu semua. Kamu tak lebih adalah pantulan dariku. Maka, aku begitu turut merasakan walau aku tak bisa berbuat apa, saat ini. Pernah ku dengar begini, apa yang kamu katakan dalam deretan abjad-abjad akan memudar begitu saja. Juga apa yang pernah kamu lakukan akan musnah. Namun, jika kau mampu merasakan, di situ lah kau hidup dan mengingat Tuhan. Gracia Lavida!


DM | 14062015

0 comments: