Sunday, June 14, 2015

Kisah Tentang Abjad ‘A’

Duh, nang nduk, seragam sd kuwi gawe ngilu....

ABJAD. Aku tak tahu bagaimana abjad terbentuk. Ku kira, orang-orang yang telah menemukannya punya cita-cita luhur akan hadirnya abjad. Abjad lah yang menyemai kehidupan. Bayangkan, jika abjad tak juga ada hingga saat ini, tentu aku akan hidup dengan mengenaskan. Sebab, aku hidup dari abjad. Abjad yang mengajariku untuk tetap memilih bangkit (ketika kehidupan menumbangkanmu, kau bisa memilih untuk bangkit atau tidak- Film The Karate Kid). Film yang entah sudah berapa kali ku tonton. Film kesukaan aku dan Tuan krep. Tuan krep itu adikku sing gagah dewe, ah, aku bakal kangen kamu Nang. Huhu. Juga, abjad lah yang meluluhlantahkanku sebab sepertinya pintu terdalam dari diriku dibuka lebar-lebar. Ah. Beginilah, hal-hal di balik abjad yang dapat membuatku melayang dan kesakitan dalam satu tarikan napas. Tapi, bukanlah memang begitu ritmenya? Haha.

Hai Ayu, gadis manis yang tetiba lari-larian dan memelukku sangat erat. Beberapa waktu lalu aku memberi majalah merah putih ke MI LB Budi Asih. Ya, aku berjanji setelah terbit akan memberi majalahnya. Aku berniat bertemu Pak Indra yang cakep itu. Eh, Aku hanya kagum pada semangat Pak Indra. Kebetulan saja dia cakep. Dan pembagian cakep-tidak cakep, kaya-tidak kaya, adalah bukan segalanya. Sudah dibagi dengan pas sama Gusti. Jadi, hal-hal macam itu hanya buat lucu-lucuan saja. Hah. Aku sebenarnya gelisah saat di jalan menuju MI LB Budi Asih. Aku tak membaca kamera slr. Padahal, aku berjanji jika ke sana akan membawa kamera. Ada salah satu murid, yang katanya mau jadi juru potret. Ia senang sekali saat melihat kamera ‘bagus’ itu.

“Kak, kak, aku boleh pinjam kameranya. Aku bisa motret lho, tapi diajari dulu ya?” tuturnya.
“Oh iya. Boleh boleh.”

Perspektif gambar yang diambil cukup bagus. Kamera itu punya teman, jadi aku pinjam. Dan aku tidak enak, jika mesti pinjam lagi. Sementara kalau harus ke kantor dulu terlalu jauh. Padahal sekolahnya dekat dengan kos. Oh, sudah ku persiapkan di sepanjang jalan untuk meminta maaf. Aku sangat takut kalau ia kecewa. Sebab, ku tahu anak-anak seusianya pasti selalu ingat dengan janji. Seperti waktu kecil dulu, aku dijanjikan akan dibelikan sepatu sama saudaraku. Tapi, itu hanya sekadar janji (rentetan abjad). Dan aku tak pernah dibelikan. Sampai sekarang pun aku masih ingat. Antara kecewa, sedih, bahkan benci. Kenapa, aku yang sudah segede ini masih terbayang-bayang tentang hal-hal di masa kecil. Syukurlah, ia sudah pulang dulu. Jadi aku gak ketemu dia. Ehehe.

Baru menaruh tas di kursi, tetiba aku ditubruk gadis kecil dari samping. Ia langsung tiduran di pangkuanku. Ayu namanya. Lalu disusul Abdul yang menubruk dari samping kiriku. Minta dipeluk juga. Keduanya tunawicara. Oh, emak (juru masak) akhirnya bercerita. Kalau keduanya memang sangat dekat dan lucu. Mereka duduk di kelas 1 MI. Kemana-mana mereka berdua. Juga mereka kalau berantem itu ngeri. Sampek pukul-memukul. Plak-plek lah. Namun, kalau emak bicara dengan nada tinggi keduanya akan diam dan mengerti kalau hal macam itu tidak baik.

Ayu, memang tak dapat bicara seperti orang normal. Dia hanya bisa ngomong U u u u sembari nunjuk-nunjuk. Juga abdul. “Abul……….” Ayu jika manggil abdul. Tanganku digapai dan diajak ke ruang samping untuk diperlihatkan peralatan sekolahnya. Oh dia menunjukkan crayonnya. Diambil, terus mereka berdua mewarnai. Nah, saat mewarnai itu aku hanya diam dan ngeliatin polah tingkah mereka. Aku pernah membaca ulasan di kompas tentang terapi menggunakan gambar dari pendiri The Red Pencil. Juga belakangan aku sering ngintip di blognya. Bahwa, ketika anak-anak sedang menggambar dan mewarnai, orang dewasa cukup diam saja memperhatikan polahnya. Tak usah diajak ngobrol atau ditanya-tanya. Sebab, saat anak-anak menggambar, anak-anak sedang masuk ke dalam dirinya. Ia sedang mengingat momen atau kejadian. Ia butuh ketenangan. Ya ya ya….

Duh nang, koe kudu tanggungjawab nek aku karep cilik meneh. halloo.
Aku hanya mesam-mesem sendiri. Juga Ayu yang sesekali memandangiku lalu melempar senyum. Duh, gimana sih rasane nyes-nyesan lah pokoke. Seperti kalau ketemu si dia dulu? Lhoh, ah, hal macam gini hanya cuma pemanis ben tambah manis aja. Haha. Aku sempat merautkan pensilnya yang bujel. Pas aku mau buang sampah dari rautan pencil, tanganku lagi-lagi ditarik. Aku macam kebingungan mau diajak ke mana ini sayang? Oh ternyata aku dibawa ke dalam ruang kelasnya. Di sana ada tempat sampah. Pintar kali, Nak. Juga, pas tangannya kotor, tetiba ia lari keluar dan ku intip, dia ternyata ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Saat sampai di hadapanku, kedua telapak tangannya diperlihatkan padaku. Hihi. Bersih.

Abdul menampakkan muka yang cemberut. Mungkin, ia merasa tidak diperhatikan dan sedih. Dan akhirnya ku peluk dan ku elus-elus. Beuh. Aku pengen? Haha. Aku sebenarnya bingung, aku mesti berbicara apa pada mereka. Aku sebenarnya tak paham dengan pembicaraan keduanya, aku juga bukan orang yang pernah belajar di sekolah luar biasa (seperti yang diceritakan pak indra, di UNS ada jurusannya). Juga aku bukan dari jurusan psikologi. Namun, aku sangat suka nongkrong di perpusnya psikologi. Gitu lah, saat mahasiswa menjadi momen yang sangat merdeka bagiku. Aku bisa sakkarepku melintas dan singgah di perpus-perpus paporit. Haha.

Ya, aku hanya bisa menyapa mereka lewat jiwa terdalamku. Aku tidak bisa berbicara soal hati, sebab aku itu tidak punya hati dan tidak tahu bagaimana rumusan hati itu. Aku lebih nyaman dengan penyebutan ‘jiwa’. Aku hanya ingin memberi rasa nyaman di samping ‘A’yu-‘A’bdul. Aku genggam tangannya dan mengelus rambutnya. Jika manusia mesti mempunyai laku hidup-menghidupi, pada hal-hal macam inilah aku merasa jijik pada diriku sendiri. Aku benci pada diriku sendiri. “Dewi, kamu itu terlalu sombong pada semesta. Kamu itu apa, kamu dikasih kesulitan sedikit saja, lebaynya minta ampun. Apa kamu merasa kalau hanya kamu yang kadang merasa capek. Semua manusia. Semua. Masing-masing orang sudah mempunyai alurnya sendiri. Juga, bukannya untuk mengabaikan yang lain.”

Ya, makanya aku suka merekam cerita. Sebab, dari cerita selalu ada kebenaran baru. Rasa-rasanya aku berjodoh ketika dulu aku berkesempatan pernah singgah di bp2m. bp2m yang mengajariku untuk senantiasa mengeja sebuah makna dari setiap abjad. Juga, kenapa aku suka menemui orang-orang baru. Sebab, aku akan punya cerita dan catatanku cepat penuh.

Nak, terima kasih. Selalu saja, di saat-saat aku butuh dekapan, aku bisa bertemu denganmu. Anak-anakku yang terkasih yang tumbuh dahsyat untuk memaknai perjalanan. Duh, aku malah meleleh to. Sebab, aku kangen anak-anakku di johar, tugumuda, gunungsari, delikrejo, dan kuningan. Mungkin, kamu tidak merasakan apapun padaku, Nak. Tapi, aku cukup bisa masuk di langkahmu. Kamu itu kuat. Hi. Aku jadi keinget Nita.
“Mbak Wewe……” Hantu dong aku. Wewe gombel. Hi. Ngeri!

Belakangan, aku melihat-lihat Merput lagi (eh, gusti aku habis sedih tetiba hapeku getar. Aku buka pesan. Ternyata bapak-bapak KKN ku dulu. Gila aja panggil-panggil sayang? Padahal aku aja lupa, kapan terakhir aku panggil-memanggil sayang. Haha. Aku ngekek-ngekek dewe. Entah kenapa, bapak-bapak ora di tempat pkl dan kkn, pada seneng karo aku? Eh, maksudnya seneng podo nekokke aku sms lah telepon lah. Juga berencana ngapel ke kos? Eh, maksude dolan. Tapi, aku beralasan. Haha. Ya macam kek gini juga agar hubungan mahasiswa-warga tetap terjalin. Aku sih sing merasa bersalah terus, jika mengingat momen pkl dan kkn. Hihi. Gila aja nih smsnya, mosok katanya kangen sama suaraku. Aku aja yang kangen sama seseorang dan suaranya gak akan pernah bisa menyampaikan itu? Eh, kenapa orang-orang itu bisa ngobrol apapun denganku, sementara aku tidak. Rasakno, Wi! Makane ojo sombong pengen merekam cerita-cerita orang. Halah, orapopo. Lha emang ini perjalananku kog.)

Lanjut, aku beberapa waktu lalu melihat-lihat lagi Merput. Aku sudah setahun lebih di sana. Lha dalah, ternyata liputan-liputanku kog sering mengangkat isu-isu kekerasan anak, anak-anak yang terpinggirkan, anak yang beraktivitas di jalanan, orang-orang low profile lalu sengaja aku profilkan, sekolah pinggiran, kampung pinggiran, perempuan, dan belakangan aku menulis tentang cinta (nek iki mbuh, aku rak mudeng). Sampai-sampai aku diciee-cieekan teman kerja sing asoygeboy. Maksude? Mbuh, pokoknya sesiapapun yang jatuh hati, harus bertanggungjawab dengan perasaannya sendiri. Aku tak bisa mengulurkan tangan, lha wong pada diriku sendiri saja, aku masih belajar memaknai.

“Sudah Wi, kamu tuh gak usah lebay. Galau. Sok-sok sedih. Malam ini gak jadi nonton payung teduh.”

Barangkali, ini adalah alasan mengapa aku ingin menjadi wartawan. Aku ingin bertemu dengan orang-orang dan merekam ceritanya. Lebih lagi, aku kian dihadapkan pada tulisan-tulisan mbak maria. Duh, duh, Rek. Entah, suara itu yang kadang hadir begitu saja. Padahal, sudah berapa orang coba dengan eksplanasinya yang membuatku mindip-mindip untuk benar-benar meyakini keinginanku itu. Runtuh-bangkit-runtuh-bangkit hingga mesti ku tata ulang kembali. Maka, belakangan aku suka menyusun puzzle sama Aura, aku cukup belajar dari sana. Bagaimana menyusun kepingan-kepingan untuk menjadi hanya sekadar enak dilihat saja (eh, kayak taglinenya majalah tempo, enak dibaca. Haha). 

Entah, jiwa dunia itu yang akan mempertaukan jiwaku pada semesta. Aku ingin menjalani waktu 24 jam di setiap harinya dengan memaknainya. Nak, anak-anakku adalah kamu semua. Kamu tak lebih adalah pantulan dariku. Maka, aku begitu turut merasakan walau aku tak bisa berbuat apa, saat ini. Pernah ku dengar begini, apa yang kamu katakan dalam deretan abjad-abjad akan memudar begitu saja. Juga apa yang pernah kamu lakukan akan musnah. Namun, jika kau mampu merasakan, di situ lah kau hidup dan mengingat Tuhan. Gracia Lavida!


DM | 14062015

Wednesday, June 3, 2015

Manusia itu Makhluk Welas Asih



Membaca isi pidato Soekarno terkait lahirnya pancasila di depan panitia BPUPKI, ada satu kata yang menarik bagiku. Ia mengulang berkali-kali kata ‘njlimet’. Menurutku tak ada bahasa Indonesia yang pas untuk padanan kata ‘njliimet’.

Njlimet begitu aku memaknai setiap cerita yang ku tangkap dari tiap manusia. Aku suka merekam cerita orang-orang. Sebenarnya, itu bukan berawal dari rasa suka terlebih dahulu. Bahkan, aku tahu jika aku suka baru belakangan. Begini, entah kapan berawalnya aku tak tahu pasti. Aku, setiap dimana pun dan kemana pun sering dihadapkan pada cerita-cerita manusia. Aku, menarik sedikit benang merah, mungkin berawal dari kegemaranku untuk melakukan wawancara. Hal yang paling seru dalam jurnalistik adalah melakukan reportase. Sebab, aku mesti bertemu dengan orang dan tentu aku mendapat cerita. Biasanya setelah wawancara selesai, aku tidak langsung berpamitan. Aku pasti akan membuka obrolan tentang apapun. Tentang kebiasaan narasumber yang unik, anak-anaknya, keluarganya, atau aku hanya memancing saja, nanti ia yang akan bercerita banyak hal yang belum diketahui banyak orang pula.

Biasanya, aku melakukan riset sebelumnya. Missal, ia mempunyai hobi apa? Pernah nulis buku apa? Sering mengikuti kajian apa? Ia punya anak berapa? Istri atau suami berapa? Eh, enggak ini, wacana yang sangat sensitif. Jadi jarang aku jadikan bahan obolan. Kecuali ia yang membuka obrolan. Biasanya pula aku memberi apresiatif atas aktivitas yang dilakukannya di awal. Setelah obrolan mengalir, ia merasa percaya padaku, aku akan menanyakan hal-hal serius dari aktivitasnya tersebut. Missal, ia mulai emosi aku akan memberi anekdot-anekdot kecil. Ah, tapi aku mesti kebingungan dulu, untuk memilih kata-kata yang pas. Begitullah keseruan dalam bertemu sesiapapun. Hal utama, yang mencoba ku bangun dalam diri adalah, aku tidak ingin menampakkan sebagai seorang yang berbahaya di depan narasumber. Walau pertanyaan-pertanyaanku bisa meluapkan emosi narasumber, itu soal nanti dalam perbincangan. Yang penting, kesan di awal mesti menghubungkan diri ke dalam dirinya. Sebab, keterhubungan itu penting, untuk memberi kenyamanan. Biasanya, aku akan menatap lekat matanya, menjabat erat tangannya, dan memberi senyum.

Pernah saat melakukan wawancara dengan pakar pendidikan, ia berusia sekitar 60 tahunan. Ia tinggal di salah satu perumahan di Ungaran. Wah, untuk menuju tempatnya aku bablas berkali-kali. Haha. Aku mesti ruwet kalau masalah membaca googlemap terus mempraktikannya. Bagiku, bertanya pada orang-orang adalah hal menarik daripada googlemap. Pak Taruno namanya. Di tengah-tengah perbincangan kami, ia ijin untuk mengantar istrinya sampai depan teras. Ya, istrinya kala itu mau berangkat kerja. Dan Pak Taruno setelah wawancara langsung terbang ke Jekardah. Pemandangan yang menarik. Ia menggenggam tangan istrinya, dan memberi ciuman di kening istrinya. Lalu memeluknya erat, dan ku yakin, ia juga membisikkan sebuah pesan, setidaknya “Hati-hati ya.” Begitu juga yang dilakukan istrinya.

Saat Pak Taruno duduk di sebelahku, aku bertanya, “Pak, sangat mencintai Ibu ya?” itu pertanyaan yang otomatis meluncur dari mulutku. Walau sedikit konyol. Tapi, aku perlu tahu sebenarnya apa sih maknanya sebuah aktivitas kecil tersebut.

Yeii, akhirnya bapaknya yang menjelaskan panjang lebar tentang keluarganya. Bahkan kedua anak laki-lakinya. Dari tiap perbincangan aku selalu mengusahakan untuk tidak meyakini bahwa itulah kebenaran yang hakiki. Aku meyakini bahwa kebenaran itu berlapis. Lapis demi lapis perlu dikuak agar kita menemukan sebuah makna. Namun, aku selalu belajar dari situ. Ia melakukan aktivitas berpamitan saling mengantar di depan teras setiap hari. Juga saat pulang kerja. Keduanya bekerja. Aku tidak ingin terjerumus pada, apakah hubungan macam begini ideal? Lalu, bagaimana dengan hubungan suami-istri yang LDR? Apakah kebahagiaan mesti berada di dekatnya? Bagaiman dengan suami-suami yang menjadi tentara dan istrinya berada jauh darinya? Apakah mereka bisa begini, karena secara kebutuhan sehari-hari jauh lebih cukup lha wong anaknya kuliah di luar negeri? Bagaimana dengan sebuah keluarga kecil, yang ku temui di bangjo. Ibu-bapaknya jual Koran, sementara kedua anaknya bermain lari-larian?

Aku tidak ingin menarik simpulan. Toh, semuanya mempunyai kesempatan yang sama untuk melanjutkan hidup dan berbahagia. Ya, berbahagia ku kira adalah tujuan hidup. Berbahagia bukan soal klasifikasi kelas-kelas tertentu (stratifikasi sosial). Ritme kehidupan memang seperti itu. Maka, tiap manusia pasti ingin mencari kebahagiaan. Lantas dengan cara apa? Barangkali, orang perlu paham bahwa ia adalah manusia di antara ciptaan lain di semesta ini. Ada orang-orang yang diamanahi untuk menjaga hal-hal besar. Juga orang-orang ada yang diamanahi untuk menjaga hal-hal kecil yang terdekat. Keduanya berperan dan saling melengkapi. Amanah atau khalifah adalah tugas manusia di muka bumi. Namun, kadang orang ingin menjadi orang-orang yang serupa dan seragam. Padahal, tak ada jalan kehidupan yang serupa dan seragam.
***

Kegemaranku untuk bertemu sesiapapun, berlanjut hingga kini. Pernah, aku sengaja untuk berdiam diri saja, namun justru aku sangat pusing. Atau aku yang merasa, ah capek, di rumah saja tidur seharian. Duh, bangun-bangun seperti maling yang digebuki. Pegele minta ampun. Yaelaa. Ekspketasi yang tidak sesuai harapan.

Jika bertemu siapapun, aku secara otomatis memperlakukan orang-orang tersebut sebagai narasumberku. Entah atas kebutuhan untuk menulis laporan atau tidak. Hal yang sama ku lakukan menatap matanya, mengamati gesture tubuhnya, dan barulah aku atau dia yang akan membuka obrolan. Aku cukup hidup dari cerita-cerita tiap manusia yang unik. Yang kadang, ia bercerita sisi terdalamnya (walaupun aku yakin setiap cerita tak ada yang utuh, mungkin seperti fenomena gunung es). Aku sering dihadap-hadapkan pada cerita. Maka, aku suka mendengar cerita-cerita kecil yang jujur. Mungkin memang lebih banyak tentang ‘keakuan’. Dulu banget, aku itu orang yang tak bisa berkompromi dengan ‘keakuan’. Ku kira, saat bertemu dengan orang, maunya apa, atau bahasannya apa, solusinya gimana, dan sudah selesai. Mari kita kerjakan. Namun, ternyata tidak seperti itu. Nah, kebenaran yang berlapis bukan? Kebenaranku yang dulu terpatahkan oleh kebenaran yang baru. Aku mesti memahami orang. Barangkali, ia punya sisi terdalam yang tak bisa dilepaskan begitu saja, sehingga untuk menyiasati solusi itu kami kesusahan. Nah, aku mulai digiring untuk memahami orang-orang.

Mendengar cerita, aku kemudian larut. Barangkali itu adalah rasa simpatik. Tentang apapun. Aku sering larut ke dalamnya dan turut merasakannya. Aku serasa hadir betul pada peristiwa tersebut. Sampai pada suatu kesempatan aku bertemu dengan Mbak Maria Hartiningsih. Ia bercerita bahwa hal macam begitu, kalau dalam jurnalistik namanya traumatic secondary. Yah, aku bertanya-tanya pada diri sendiri. Setiap pertanyaan yang muncul pada diri, pasti terjawab. Hanya saja, kadang aku tak memahami tanda-tanda yang digerakkan semesta. Nah, pertanyaan tentang itu, kian terjawab. Beberapa hari lalu, aku menemukan tulisan Mbak Maria yang bagiku ini adalah kebenaran baru. Aku mulai memahaminya lagi.

Itu yang kadang, aku bisa dengan mudah mendapat cerita. Orang-orang becerita tentang dirinya padaku. Mungkin sisi terdalamnya. Entah, daya apa yang ada dalam diriku sehingga mampu membuat orang bercerita. Kadang dengan meleleh dan luapan-luapan. Tapi, aku hanya menganggap bahwa, aku memang ditakdirkan untuk merekam cerita-cerita orang dan merekam senyum mereka. Sebab, hal tersulit bagiku ketika cerita telah usai dan aku tidak berani untuk memberikan semacam eksplanasi. Aku kadang hanya menimpali dengan cerita-cerita kecil saja. Atau berbagi pengalaman. Nah, hal yang bisa ku berikan hanya lah dengan melempar senyum. Sebab, aku yakin dengan senyum, walau tanpa kata-kata sekalipun, ada energi yang menghubungkan untuk sama-sama berkata, “Mari jalani semua ini.”

Maka, aku sampai sekarang tidak paham apa itu ‘cinta.’ Tentang perasaan yang datang tetiba, atau lama. Khususnya pada lawan jenisku. Hal yang terus ku pertanyakan tentang perasaanku sendiri. Kadang ada sesuatu yang datang menggebu, namun apakah itu cinta? Apa cinta itu segala-galanya tentang sesuatu yang harus dipertahankan? Apa cinta itu benar gila? Apa cinta itu menyerahkan segala rasa pada orang yang dicintai? Apa cinta itu harus dan kudu? Apa cinta yang musti dijadikan landasan atas apapun?

Aku benar-benar tidak tahu. Aku tidak bisa merasakan hal macam begitu. Yang ku tahu, bahwa pada pada seisi semesta kita mesti saling mengasihi, welas asih. Ku katakan bahwa cinta itu njlimet. Ia, tidak rumit atau susah. Hanya saja njlimet. Njlimet butuh waktu untuk memahami apa makna di baliknya. Njlimet butuh kehati-hatian juga keberanian. Njlimet butuh kebenaran berlapis untuk bisa memaknainya. Njlimet yang membuat laku manusia untuk menghargai sesama, sebab ‘aku ‘tak hanya konstruksi atas ‘aku’ semata. Namun, ada kultur keluarga, lingkungan, dan pencarian tentang keakuan.

Aku terus mencari kebenaran baru tentang cinta. Atau aku lebih nyaman menyebut dengan laku ‘welas asih’. Pada sesiapapun. Bahwa, tiap manusia lahir mengemban amanah dari Gustinya. Sikap welas asih adalah satu cara untuk memaknai kebahagiaan. Tentu kebahagiaan atas bergetarnya jiwa memaknai suatu hal. Yang jauh dan dekat saling menata dan menguatkan. Aku yakin, bahwa semesta mempunyai jiwa. Yang akan menghubungkan dengan jiwa tiap manusia.  

Aku hidup lewat cerita. Cerita yang membawaku pada kebenaran baru. Kebenaran tentang menempuh kehidupan yang sebenar-benarnya.

Merah Putih | 03062015

Monday, June 1, 2015

Tentang Pelukan dan Ciuman Hangat


Pagi tadi, aku bersama adekku ke kelurahan untuk mengurus surat. Selembar surat yang baru ku sadari, aku telah menangguhkannya hampir satu tahun ini. Aku sering lupa pada diriku sendiri, hal-hal yang penting. Ya, beberapa hari lalu, aku baru sadar bahwa surat itu penting dan harus segera ku urus. Aku tak bisa mengacuhkan diriku lagi. Maka, pagi-pagi aku bangun padahal semalaman tak bisa tidur. Ya, aku nekat untuk tetap pulang. Padahal, rasa capekku yang menumpuk belum hilang, terlebih aku mesti mengendarai motor kurang lebih 2 jam. Hal yang ku khawatirkan saat mengendarai motor hanyalah rasa ngantuk. 

Aku bisa sambil ngantuk-ngantuk saat ngendarai motor. Makanya sering ketonyor, kesenggol, di klakson sekencang-kencangnya, dan parahnya aku pernah nabrak mobil di depanku. Duh…. Semua itu gegara ngantuk. Tapi, pernah ada yang bilang padaku, “makanya kalau naik motor itu pikirane diselehke.” Duh yo yo, nek ada tempat penitipan pikiran aku wes arep nitipke pikiranku satu hari saja. Macam daycare gitu (tapi ketahuilah, daycare itu konstruksi pemikiran barat. Kasihan to ya, anak-anak dititipke. Anak adalah makhluk suci, yang sering dikotori oleh orang-orang dewasa).

Di kelurahan, aku nda ketemu kepala desanya. Eh, ada kepala desanya deh, Bu inggi. Namun, Pak ingginya gak ada. Lhah, jur? Ya, Bu inggi hanyalah sekadar status saja. Namun, yang melaksanakan segala sesuatu adalah pak inggi. Pokoke jan mumet ngrasakke kepengurusan nang desaku. Mumet mumet! 

Oh iya, pak dhe ku, ia adalah anak pupon yang diminta dari saudara mbah putri, istri pertama mbah kakungku. Sementara aku adalah generasi dari mbah putri kedua. Masih ada generasi ketiga dari mbah putri ketiga. Mumet meneh to.

Aku diminta pak dhe untuk ke rumahnya di sore hari. Nah, pak dheku itu kebetulan sekretaris desa yang naasnya tak cocok dengan kepala desanya. Ya, aku datang ke rumah pak dhe. Lama sekali aku nda ke rumahnya. Mungkin bisa tahunan. Padahal rumah kami tak jauh, hanya dipisahkan sawah-sawah, satu rt, satu kuburan tua, satu jembatan, dan satu desa tetangga, serta satu sekolah ibtidaiyah. Nah, di belakang sekolah ibtidaiyah itu rumah pak dheku. Mumet meneh. Haisssh.

Aku ketemu pak dhe yang sedang membaca qur'an di ruang tamu. Ia memang gemar melahap kajian-kajian tentang islam. Baru tahu tadi, kalau buku-bukunya banyak bingit tentang keislaman. “Walah, itu buku-buku pak dhe semua. Bukan bukune kakangmu,” tuturnya. Ku kira, saat aku berjalan menuju rak buku, aku mengira itu buku kak nevri. Lelaki cakep yang sedang menempuh kuliah di jurusan BK, sebenarnya ia tiga tahun di atasku, pernah kuliah statistic di semarang namun tak selesai, kemudian kuliah BK di univ tetangga kabupaten dan tadi memberi kabar, “Yeei… aku habis lebaran wisuda.” Syukurlah. Aku juga lama kali gak ketemu dia. Rasane seneng tadi bisa ngobrol. Eh, ternyata pak dheku itu suka ngikutin ceramah-ceramahnya Prof. Abu Suud pasa ada pengajian rutin. Dan aku juga suka dengan tulisan-tulisannya di gayeng semarang SM. Haha. Jadi, kita tadi semacam berkelakar-kelakar kecil. Hihi.

Aku lalu menemui mak dhe yang lagi masak di dapur belakang. Aku suka bingit kalau di rumahnya. Kenapa coba? Rumahnya itu sebagian dari kayu jati dengan kaca-kaca motif tua warna-warna cerah. Kaca-kaca jendela yang kinclong, juga tadi pas di dapur aku menjumpai perkakas-perkakas tua. Yang paling membuatku dagdegser, ketika di pojokan aku melihat semacam peti gedhe, plus pegangan besi tua di kanan-kirinya. Pas tak buka, isinya perkakas masak. Walah mak, ini nih yang membuatku rindu akan pasar klithian. 

Hari ini, Senin (1/6) pas nepati nisfu sya’ban. Aku baru tahu pas tetiba ibukku sama ibuk istri dari ustadz tetangga rumah ribut pagi-pagi ke pasar untuk belanja. Soale malam nisfu sya’ban gini mushola rame. Ada ngaji-ngaji. Sementara anak-anak muter desa sembari menarik mobil-mobilan atau dilah impes yang dalamnya diberi lilin. Tapi, tadi sepi. Hanya segelintir anak saja yang berparkir di depan rumahku. Tidak seramai pas aku masih kecil. Hari yang dinanti-nantikan anak-anak untuk pamer dilah impes. Sedih rasanya. “Mbak Ima, mbak ima, aku gak tumbas mobil-mobilan kog. Kek gitu kan wes ora zaman. Jelek,” kata keponakanku. Duh, cah cilik lho ya, wes ora seneng karo dolanan macam gitu. Dolanannya macam remot kontrol dan ps seabrek. Jur, sopo sing arep nguri-nguri dolanan macam kuwi? Lemes rasane.

Oh iya, aku menemani mak dhe masak sebentar. Mungkin enak kali, kita bisa buka puasa bersama (pas kebetulan aku, mak dhe, dan pak dhe puasa). Tapi, aku mesti pamit sebelum magrib. Urusan surat beres, kami berkelakar di ruang tamu. Ku biarkan adekku diceramahi pak dhe, dan sesekali aku meledeknya. Aku berbicara mesra saja dengan kak nevri. Tentang ini dan itu.

Wes. Pamitan. Aku menemui mak dhe yang berada di belakang. “Dhe, aku pamit riyen. Ngenjing-ngenjing mriki meleh.”
“Iya, nduk. Sing ngati-ngati ya. Sereng dolan mrene,” tuturnya sembari mencium pipiku kanan-kiri dan memeluk erat. Kami semacam tak ingin melepaskan pelukan itu. Aku hampir saja meleleh. Namun, aku berusaha kuat menahannya. Juga saat berpamitan sama pak dhe, aku dirangkul dan dielus-elus kepalaku. Aku diantar hingga teras depan.

Ya, semesta itu mempunyai jiwa. Namanya jiwa dunia. Aku memang sedang merindukan pelukan bahkan ciuman hangat. Belakangan aku merasa buyar dengan diriku sendiri. Aku hampir oleng. Untung aku tahu caranya untuk balik lagi, ya dengan melempar senyum. Aku yang kemarin, membuat janji pada seorang kawan untuk bertemu dan sekadar ingin memeluknya.


“Pokoknya, kalau aku balik ke sana, aku ingin ketemu dan memeluk kamu.”
“Eitts, sudah mandi belum?”
“Aku jarang mandi.”
“Untukmu ada diskon tanpa mandi tak apa.”
“Yeiii…. Terima kasih bocah cerewet nan cempreng. Namun, aku sayang padamu.”

Ku rasa akan gagal. Sebab, aku merencanakannya. Hal-hal yang ku rencanakan seringkali mesti mengalah dengan kondisi. Maka, aku sudah sangat terbiasa untuk melepas sepah-sepah perasaan yang mesti menguap di laut lepas. Aku berusaha melepas hal-hal di luar kebutuhan diri.

Bukan waktu yang singkat untuk sebuah pelukan dan ciuman sehangat sesore tadi. Aku tahu, senja tadi sedang melempar senyum padaku. Sebiasanya, ia menertawaiku. Keras.


Bocah ilang di sudut kamar | 01062015