Sunday, May 31, 2015

Surat Kecil untuk Orang-orang yang Bernama Lelaki yang Berhati Baik, dan Akhirnya Membantuku Memaknai Suatu Hal


Surat. Aku sebenarnya orang yang lebih nyaman untuk melakukan dialog melalui surat. Walau bertemu langsung dan mendiskusikan sesuatu itu akan bisa melihat gurat wajahnya, sorot matanya, dan barangkali jauh lebih mantap. Namun, pada beberapa hal bahkan aku menghindar untuk bertatap muka. Tak lebih, aku merasa tak sanggup saja. Kadang, jika sudah begitu, aku akan menulis surat. Bagiku surat memberi arti yang dalam, lebih-lebih ku tulis tangan sendiri. Aku merasa mempunyai hubungan emosional kuat dengan surat-menyurat.

Ini, surat dengan judul terpanjang yang pernah aku buat. Surat ini ku peruntukkan untuk orang yang bernama lelaki yang berhati baik. Ya, lelaki yang hadir lima tahun ini. Telah banyak lelaki-lelaki yang hadir dalam perjalananku. Mungkin tak akan terbahas detail, aku hanya ingin memberi eksplanasi kecil saja.

Wahai lelaki yang berhati baik, aku ingin mengirim surat untukmu melalui jiwa ke jiwa. Surat ini, tak akan pernah kamu temui di lembaran kertas, namun aku yakin pos jiwa akan mengantarkannya. Ia tak akan mungkin salah alamat. Sebab, pertautan jiwa adalah pertautan semesta.

Pertemuanku dengan lelaki berhati baik ini, tentu terekam pula oleh memori terbaikku. Aku menandai keunikan dari lelaki-lelaki berhati baik ini. Lelaki berbaju batik cokelat, aku dulu kagum padamu. Lelaki yang tampil memukau penuh semangat di hadapanku. Juga tuturmu yang halus dan teman-teman baikmu yang menjadi teman baikku pula. Kini, kamu telah mempunyai keluarga kecil dan ku yakin, kebaikanmu akan senantiasa mengalir. Aku memetik banyak hal dari komunikasi yang pernah tercipta.

Lelaki berlesung pipit, satu hal, aku pernah mengagumi dan membencimu di kemudian hari. Itu saja kenanganku. Aku tak ingin memberi ingatan lebih.

Lelaki seksi, ya kenapa seksi? Karena kamu sering berkeringat saat berada di lapangan. Dan bagiku berkeringat adalah seksi. Kamu yang telah berhati baik yang pernah menjadi teman tertawa bersama, ku berdoa semoga kau mendapat kebaikan pula atas kebaikanmu. Aku cukup senang, jika pertemuan terakhirku dan kamu, kala itu masih menyapa dengan tawa. Tertawalah untuk hal-hal yang pantas kita tertawakan.

Lelaki yang pernah membuatku malu sekaligus kamu lah orang yang mampu meluluhkanku. Pertemuan kita aneh bukan? Kita bertemu dan semacam mengikuti keinginan-keinginan konyol untuk mengetahui lebih dekat. Sayang, kita tak cukup mampu untuk mempertahankan keindahan itu. Khususnya, aku lah bajingan yang mengakhiri itu. Mungkin, jika kamu tak mau memahami kondisi itu, dan kamu membenciku, aku juga akan membencimu. Namun, kamu ternyata cukup memahami. Dan kamu adalah orang baik. Aku masih berharap untuk bisa bertemumu lagi dan sekadar untuk melempar senyum saja. Barangkali itu tanda penebusan dosaku. Aku sungguh haru biru ketika suatu ketika menemukan tulisanmu, yang aku yakin itu adalah pembahasan untukku. Dan tulisan-tulisan anehmu yang bikin aku terkekeh-kekeh. Dan suatu saat jika bertemu, mungkin itu bahasan yang cocok untuk saling tertawa lepas. Haha.

Kamu, lelaki emoticon. Aku sebenarnya pusing dengan emoticon-emoticon. Hapeku tak bisa membacanya. Kenal singkat denganmu yang menjadi kegelianku hingga sekarang. Pertemuan pertama yang konyol. Aku belum mandi dan kita bertemu di café untuk sekadar ngobrol ngalor-ngidul. Kamu seorang yang semangat. Namun, kamu perlu untuk mengontrol diri. Hingga catatan kecil yang ku susun dariku yang ku berikan untukmu kala berpisah di parkiran. Haha. Konyol.

Lelaki pemberi kejutan. Aku mengenalmu sudah lama. Aku tahu, kamu tak pernah merumuskan tentang perjalanan rasa padaku. Namun, aku bukan anak-anak yang mampu menangkap dari bahasa verbal. Intuisiku cukup paham menangkap sinyal itu. Dan kamu adalah orang baik. Kamu tetiba hadir, padahal aku belum mandi dan mau menungguku mandi. Padahal biasanya aku cuek saja. Namun, karena aku udah dua hari tidak mandi, ini sudah keterlaluan jika harus menemui seseorang. Lalu, kamu memberiku buku dan kemudian berpamitan. Eh sebelumnya, kamu bertanya padaku sedang ingin baca apa? Tapi, aku pasti tidak akan menjawab tentang keinginan-keinginan. Belakangan aku memang menghindar perlahan. Aku tak cukup mempunyai energi lebih untuk berjalan beriringan. Kamu mungkin mempersepsikan diriku sebagai orang yang buruk di matamu. Bagiku tak apa. Kamu boleh merumuskan apapun tentangku. Aku hanya punya keyakinan, bahwa itu adalah jalan yang pas. Aku tak ingin membuat kesakitan terlalu dalam, entah padaku dan mu. Namun, segera aku ingin berkirim surat padamu. Belakangan juga kita sempat beradu argumen, tentang ketidaknyamanan atau mungkin kamu meresahkan hal-hal yang berubah padaku. Boleh, sangat boleh kamu menganggap apapun padaku.

Kamu, lelaki yang membantuku memaknai perspektif baru. Aku melihatmu, sebagai seorang yang sangat jujur dan menggunakan nuranimu dengan baik. Namun, jujur pula, aku sering menahan ketegangan jika berada di dekatmu. Aku bahkan tak sanggup menatapmu lagi. Entah. Kamu adalah orang yang mensugestiku untuk kembali berdiri, aku senang. Namun, kamu pulalah orang yang telah meluluhlantahkanku, aku benci. Aku kamu adalah ruang antara. Komunikasi yang melampaui ruang dan waktu. Juga tak perlu untuk memberikan eksplanasi apapun. Sunyi, senyap, sudahlah.

Lelaki muda di sabtu malam. Aku kamu pernah membicarakan sepotong cerita di sabtu malam. Kamu, lelaki muda yang beberapa tahun di bawah usiaku. Kamu, memberi keyakinan padaku akan sesuatu hal. Aku paham dengan pertemuan-pertemuan kecil kita. Aku cukup menangkap tanda dari matamu. Tapi, aku sengaja menghindar, sebab kamu mesti menikmati kemudaanmu. Aku khawatir, sebab aku mempunyai kecenderungan untuk membuat luka.  

Lelaki penutur kata-kata. Ah, sebenarnya aku tahu sisi terdalammu, barangkali jika tidak keliru. Aku cukup nyaman berada di dekatmu. Namun, aku suka tak tahan dengan kata-katamu. Semakin kamu berkata-kata semakin membuatku ngilu. Apalagi hal yang tak pernah ku duga sebenarnya, terjadi, jika itu kau sedang jujur padamu. Namun, jika itu kebohongan, tapi aku tidak merasakan kebohongan itu dari matamu. Namun, mulutmu itu penuh kebohongan. Makanya, aku malas jika mesti mendengar perkataanmu. Aku lebih menikmati dalam diammu. Kamu bisa lebih jujur.
***
Kemarin, Sabtu (29/5) adalah hari yang kuniatkan baik untuk mendiskusikan sesuatu. Tapi, aku cukup paham karena kondisi tak memungkinkan. Aku juga punya agenda untuk diriku sendiri. Atau malam itu,  aku merasa lukaku begitu menganga kembali. Hal yang ku lakukan hanyalah, aku perlu duduk bersila dan mengambil napas panjang lalu menghembuskannya. Di sampingku ada Dicky yang sedang bermain gitar dan menyanyi. Aku turut larut. Namun, pas tiba di lagu tertentu, aku hanya bilang, “Dik, ku mohon berhenti. Ganti lagu lain. Aku tidak kuat,” tuturku sembari meleleh. Aku nampak aneh dan tidak pernah seperti itu di hadapan teman. Untunglah ia paham kalau seorang bisa meluap kapan saja. Terima kasih, Dick. 

Atau tetiba, aku mengirim pesan pada seorang kawan minta dipeluk. Ia adalah perempuan yang mempunyai ikatan emosional kuat denganku. Perempuan yang sering bercerita atas kejujuran-kejujuran kecilnya. Sayang, ada jarak puluhan kilometer sehingga kita tak bisa berjumpa segera. Aku rindu kamu, bocah.

Pada orang-orang yang bernama lelaki, aku memang mempunyai kecenderungan untuk memasang defens yang kuat pada diri. Entah atas apa, ku kira karena perjalanan panjang. Maka, terkadang jika ada yang mendekat, tanpa ku sadari aku berubah menjadi singa. Itu adalah hal di luar kesadaranku. Sudah ku coba untuk mensugesti diri dengan beberapa hal, namun barangkali aku perlu untuk belajar lagi. Aku juga tak ingin menjadi zat adiktif bagi siapapun juga barangkali aku yang merasa butuh zat adiktif. Aku tidak tahu, bagaimana mengonstruksikan hubungan yang dekat dari sekadar teman pada saat ini. Jika tahu, ini adalah jalan yang ku ambil untuk menyiapkan diriku sendiri di kemudian hari. 

Aku merasa masih bocah yang sering ilang dimana-mana. Aku masih suka autis dengan duniaku sendiri. Jadi, ku kira memasukkan lelaki yang berhati baik pun aku masih belum sanggup. Itu semua, karena aku takut jika aku harus membuat luka. Jika, orang di luar diriku yang membuat luka, aku akan melakukan penyembuhan dengan menempuh perjalanan singkat. Namun, jika luka itu berasal dari diriku, aku adalah orang yang susah untuk memaafkan diri sendiri. Aku butuh waktu lama untuk sekadar berdamai dengan diri sendiri.

Hal yang masih belum bisa ku maknai adalah cinta pada lelaki yang berhati baik. Aku suka tidak tahan pada lelaki-lelaki yang berhati baik. Juga, aku tidak kuat pada lelaki-lelaki sebaliknya. Aku sungguh belum mampu untuk memaknai konstruksi cinta itu. Aku butuh menempuh perjalanan untuk terus berkhtiar memaknainya dari hal-hal terkecil. Tentang konstruksi lelaki, aku pun meminimalisir pada diri untuk tidak menebak-nebak kococokan atau merupa dalam wujud tertentu. Bagiku saat ini, itu hanyalah epidermis semata. Aku butuh lingkaran cambium pada inti terdalamnya. Barangkali, inti terdalam itu adalah batin. Sebagai manusia ciptaan Gusti, aku belajar untuk welas asih. Satu hal, aku mencintai kehidupan. Aku pula mencintai semesta.

Aku ingin membiarkan jiwaku melayang setingginya. Aku yakin, jiwa dunia itu seperti magnet. Termasuk jiwa diri. Aku tidak ingin sibuk untuk meladeni keinginan-keinginan, namun aku perlu belajar untuk memaknai kebutuhan. Aku perlu belajar untuk menguasai diri, bukan menguasai orang lain. Aku perlu belajar untuk menempuh diri, bukan untuk menghadir pada jiwa lain. Aku perlu belajar untuk memahami hak dan kewajiban diri, bukan untuk berkata hak dan kewajiban orang lain. Aku perlu menuntaskan tentang keakuan sebelum merumuskan kekitaan. Aku perlu menjaga diri atas orang lain. Aku perlu untuk menegakkan diri.

Semuanya, aku akan berusaha untuk melepaskan dengan pelan dan perlahan. Tentang lelaki yang berhati baik kemarin, saat ini, dan esok. Aku ingin berdamai dengan diri sendiri juga berdamai dengan orang yang bernama lelaki. Aku begitu menyanyagi orang-orang yang bernama lelaki, namun aku belum tahu bagaimana cara merumuskannya dengan baik. Aku perlu belajar. Aku perlu menempuh perjalanan diri. Terima kasih lelaki-lelaki berhati baik. Aku minta maaf, namun kata teman, maaf bukan lah sekadar manis di mulut. Aku akan menebusnya dalam perjalanan. Aku belum berani untuk memasukkan siapa pun. Sebab, aku masih sering merasa kesakitan. Berbaik-baik dirilah. Maaf.


Rumah | 01062015

Sunday, May 24, 2015

Di Simpang Kegilaanku

Aku adalah piki. Kalau ia alien. Kalau aku 'benar gila'

Aku mengatakan, beberapa aktivitas yang ku lakukan sebagai persimpangan kegilaan. Aku hanya semacam ingin menuruti kehendak di luar diriku. Jika aku menuruti kehendak diriku saja, aku bisa benar-benar gila. Aku tak kuat. Maka, aku punya diri lain dalam diriku. Mereka kadang rukun, juga tidak. Sesuka-sukanya saja.

Karena diri yang lain itu berada di simpang kegilaan, ia kadang meronta untuk segera dituruti. Maka, beberapa bulan belakang saat aku ke rumah sakit, pandanganku tak pernah lepas dari bangsal psikiatrik. Rumah sakit sebenarnya adalah tempat yang ku benci. Aku menekankan pada diriku untuk tidak mau ke rumah sakit, jika tidak benar-benar darurat. Ya, kalau kondisi tak memungkinkan, diri lainlah yang menjabat tangan untuk berdamai. Aku lihat wajah orang-orang yang katanya gila tersebut di balik jeruji. 

Mengapa mereka diperlakukan seperti tahanan? Mereka tak pernah diajak untuk berbincang sedikit pun dengan dokter? Ku yakin, hanya diberi obat, obat, dan obat. Memberi makan pun hanya dilewatkan sebuah celah di antar jeruji. Bagaimana mereka yakin, aku bisa normal seperti manusia-manusia di luar jeruji tersebut? Kalau mereka diperlakukan seperti itu, justru mereka benar tidak sadar kalau mereka berbeda dengan manusia yang katanya normal. Lha wong teman sesamanya seperti itu. Mungkin mereka malah mengira, orang-orang di luar yang sebenarnya gila. Mereka terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. “Justru, kami yang di sini yang normal. Kami bisa bebas mengimajinasikan apapun tanpa rasa khawatir,” pikiran dalam hati mereka.
***
Sabtu kemarin, aku pun sedang berada di simpang kegilaanku. Persimpangan adalah jarak terdekat untuk menuju kegilaan. Aku kadang berpikir, apa aku benar sudah gila? Yah, bagaimana pun aku selalu mengontrol diriku atas diri yang lain agar tak oleng. Tapi, pertanyaan terus mengalir.

Aku bersama teman, Sabtu (23/5) berkunjung ke kota lama. Ada pameran barang anthik. Uwwwouww…. Nah, pas sampai di sana, pandanganku sudah mulai jelalatan tak terkontrol. Duh, Mak. Apalagi aku datang dengan ibu-ibu yang maniak barang antic. Bisa-bisa aku aku bergaul agak lama dikit, udah deh gaj tahu lagi aku seperti apa. Tapi, diriku tetap menjaga atas diri yang lain. Moga-moga.

Aku berinisiatif untuk pisah saja dengan mereka. Agar aku bisa sesuka-suka. Aku memang kurang nyaman jika pergi dengan siapa pun. Aku merasa kikuk, krik-krik, menahan kegilaan atas diri yang lain di hadapannya. Itu bukan lantas aku menyembunyikan atas diriku yang lain. Namun, aku lebih menyesuaikan. Tur lagi kalau pergi bersama, itu pasti ada saja yang minta dinilai. Beli sesuatu misalnya, “Ini bagus gak?” Aku kudu jawab piye. Lha wong kalau aku beli sesuatu ya tinggal meyakini ini cocok buat aku apa enggak. Jika ada pergulatan, ya aku berdebat dengan diri sendiri. Kalau sama orang, aku tidak enak jika dia harus menunggui aku lama. Pasti mukanya nampak kelempit-lempit, dan aku gak tega. Sumpah. Maka, aku lebih memilih ini-itu sendiri, selagi aku bisa. Tapi, juga sering ngerepotin orang ding. Sering sekali. Ih, kog aku mendadak kangen mas triyas ya. Biasanya kalau ada mas triyas itu, aku heboh. Mas triyas itu super duper. Iseh wae gelem dolalan karo percil-percil sepertiku. Haha. Mas Triyaaaasss….. Duh, semoga pembaca blogku gak ada yang kenal dia. Jaga image. Hari gini masih jaga image? *Plaaaaak.

Kadang aku susah untuk mengatakan hal-hal jujur. Aku itu orang yang tidak enakan tur akan menjadi orang sadis dalam satu tarikan napas. Haha. Ketidakmampuanku untuk jujur juga bukan tanpa sebab. Ada perjalanan panjang yang jika diurai di sini, aku isoh “mati mendadak”. Eh, sumpah itu ungkapan spontan ketika Ibun mengajukan pertanyaan. Aku sampai mrinding. Ah tidak tidak…. Aku cukup menikmati saat ini.

Ya, aku tertarik dengan barang-barang antik. Aku sering menyempatkan untuk sekadar nongkrong di kota lama dua minggu sekali atau satu bulan sekali untuk lihat pasar klithian. Mengamati orang-orang yang sedang tawar menawar adalah anugerah terindah. Duh pinter men to pak ngenyang. Aku itu orang yang tidak bisa ngenyang. Aku kadang tak tega. Hik-hik. Apa sih bangganya menawar harga yang hanya selisih seribu-dua ribu rupiah? Aku kadang heran. Aku jarang menyesali hal macam begituan. Kecuali kalau di toko-toko besar, aku akan kapok untuk kembali lagi! Namun, kalau di pasar ya sudah sih. Kalau tidak keterlaluan amat ya aku senang-senang saja. Aku masih ingat, kala kecil aku sering ke pasar sama mbakku untuk berbelanja. Kita boncengan naik sepeda. Membawa catatan yang sudah disiapkan emak untuk beli ini dan itu. Dan kami selalu nongkrong di warung bakso tahu. Uenaaak…

Cerita ini juga atas diri yang lain. Ku biarkan mengalir saja sesuai yang ada di otakku. Ah, apa aku punya otak. Kata orang-orang yang akrab mengenalku, mereka sering bilang aku tak punya otak? Haha. Coba, kalau atas diriku, cerita ini bakal ada outlinenya dulu sebelum menulis. Dibuat sistematis, diperhitungkan atas paragraph per paragraph. Gitu aja, tulisaku masih berantuuuuuakan (bahas jepora ya. Identik alay dengan menambahkan ‘u’). Uasyeemm.


Bocil yang kakean mikir kurang piknik
Di pameran tersebut aku sedang melakukan transaksi dengan penjual buku lawas. Sebab, hanya buku lawaslah yang kuat ku tawar. Yang lainnya bikin ngiler aja. Selangit harganya. Makane di situ aku merasa sedih, jika ada barang yang dijual yang dulu aku pernah punya atau mbahku pernah punya. Namun, sekarang sudah hilang entah kemana. Atau sudah pernah ku rongsokan. Kali ini aku benar-benar sedih. Nangis darah. Duh, saiki kalau punya apa-apa jangan pada dibuang dulu ya, salkasalwang (asal suka dan asal buang) duh kelakuane sopo kuwi? Tiada suatu pun tanpa nilai. Semakin lama, semakin nilainya tinggi. Siapa kira?

Transaksi berlangsung. Sebab aku gak bisa nawar, aku melakukan transaksi dengan haha-hihi saja. Contohnya seperti ini:
“Bang, buku ini berapa?”
“seratus”
“Yaela bang. Duitku gak cukup kalau segitu. Pas lah. Karo sopo wae?”
“pas delapan puluh.”
“Bang bukune udah kek gini gitu kog. Semrawut, kek kamu. Eh, maksude bukune ini lho bang. Ojo larang-larang lah.” (Karena dari dandannya ia sepertinya anak-anak gaul, maka aku berani ngguyoni. Tindiknya entah berapa. Sepatunya itu selutut gueh. Belum gelangnya, kalungnya, antingya. Duh bang…. Kuwi nek tak dol pasti laku larang)
“He-eh. Uripku pancen semrawut, kog ngerti? Kuwe cah ndi? Aku unnes.” (Lha iyo to, akhire jujur dewe malah. Nek wes ngene aku ngikuti wae. Biasane bisa cerita puanjaang, berhenti jika ada kereta lewat. Ahaha)
“aku juga unnes.”
“Lhoh. Kenal karo cah-cah gaul ora?”

Duh bang yang kau namai gaul kepiye, akuh gak tahu. Tapi, beberapa orang yang ku kenal tak satu pun yang kau kenal. Padahal mereka ku kira ya udah gaul. Atau mungkin, kamu yang kelewat gaul. Embuh….

Buku gak cocok, pamitan aja wes baik-baik. Kami pun berbalas senyum. Ya, sebab waktu itu sudah magrib. Aku bergegas untuk salat. Sebenarnya sejak di perjalanan, aku pokoknya nanti mesti masuk stasiun. Aku pengen weruh kereta jalan dan menyampaikan suara tetttt. Juga pengen dengar keroncong, kalau di tawang ka nada pemain musik tradisional. Tawang itu, stasiun pertama yang tapaki. Kepergian yang haru-biru. Halah. Aku tak bisa salat di musola dalam, tidak diperbolehkan. Yah, penonton kecewa. Tak apalah. Setelah lari-larian dari musala di dekat pintu masuk, aku langsung duduk di kursi tunggu. Aku buka tas, tepatnya tas dari karung goni, ku keluarkan Intisari yang ku beli 2 hari lalu. Namun, masih bungkusan di plastic belum diapa-apain. Yeah… temane antara membuat ngilu dan berikhtiar tiada usai.

Ku buka doang, lalu ku tutup lagi. Aku mengamati orang-orang yang datang. Yang menyampaikan ucapan perpisahan, senyuman, dan pelukan. Setelah itu ku liat-liat seluruh ruangan. Lalu, ada seorang nenek yang menjawil aku untuk tukeran tempat duduk. “Nggeh, monggo.” Aku liat ke atap, ternyata bentuk atapnya semacam kubah. Bagus. 

Nampak gagah. Aku heran kenapa banyak sekali cicak di sana? Hanya di lengkungan bundarnya saja. Di tepi-tepinya gak ada. Cicak tersebut juga lincah ke sana kemari. Aku masih bertanya-tanya? Oh, ku kira kubah tersebut menjadi inti dari luasnya atap tersebut. 

Sesiapapun, pasti menginginkan untuk berdekatan dengan inti. Apalagi di inti menawarkan cahaya yang lebih terang. Inti memang tak mudah di jamah. Sebab ia harus menyebrang beberapa lintasan. Inti adalah tentang pemaknaan suatu perjalanan. Bukan untuk menjabarkan definisi. Namun, lebih pada memaknai. Definisi lebih pada sesuatu yang umum. Namun, memaknai adalah soal perjalanan personal. Perjalanan menempuh dalam diri, kalau kata Coelho. Aku hitung jumlah cicak-cicaknya ada 30. Mereka ada yang saling tarung, ada yang depes, ada yang menjauh ke luar.

Kepalaku pegel dangak ke atas. Aku menunduk. Persis, laki-laki di depanku memandang dengan tatapan yang beda. Mungkin aku dikira aneh. Benar-benar bocil. Aku tutup mata, membayangkan sesuatu, lalu berdoa. E… lhah, ada bapak-bapak di sampingku yang sedari tadi nyanyi terus. Tarik mang… Aku memulai membuka obrolan. Oh, iya habis tawaf. Keliling dari Jakarta, bandung, Surabaya, Jogjakarta, semarang selama 5 hari ini. Namanya Pak Sunu (nama yang sama seperti koordinator tempo jogja, saiki behelan rek. Aku geli dewe. Ha). Setelah sedikit berbasa-basi, aku hanya ingin mendengar cerita. Sebab, aku adalah orang yang haus akan cerita. Pak, aku mau cerita. Blablabla….. bisa bikinin lagu gak pak. Hayoo, ini tantangan cepat, singkat lho. Ya bisa, tapi di sini kan rame. “Yauda keluar aja.”

Aku mengajaknya keluar, dan sekarang duduk di kursi tunggu yang bagian samping. Aku sengaja memilih kursi paling belakang. “Pak, aku mikir syairnya ya. Nanti bikini notnya.”
“Siap”

Buat cepat kilat. Eh, malah bapake yang mikirnya kelamaan. Dicoba-coba, “ah gak pas. Gak pas,”katanya. Sembari menunggu aku mengajukan pertanyaan, “Pak, apa aku itu udah gila ya. Bertemu bapak dalam waktu singkat, terus mau aja tak ajak pindah tempat duduk. Terus tak maintain untuk mencarikan not yang pas. Aku gila ya pak?”
“Ah enggak.”
“Enggak, Pak. Ini benar. Aku itu benar gila. Benar-benar gila.”

Kami saling berpandang-pandangan. Lalu, aku pamitan. Lari ke tempat semula dan mendengarkan lagu keroncong bengawan solo. #Tulisantanpaedit


Dewi Maghfi | BMP | 24052015 22:45

Friday, May 22, 2015

Masa Kanak yang Melampaui Ruang dan Waktu


Berjalan menyusur pasar seusai kebakaran menjadi kengiluan bagi diri. Dua kali (Pasar Mbabatan Ungaran & Pasar Johar), aku sekadar menengok, atau mencari informasi pasar tradisional yang terbakar. Aku selalu bertanya-tanya, mengapa pasar tradisional yang sering terbakar? Mengapa tidak swalayan yang gedhe saja yang terbakar lalu ludes? Mengapa masyarakat kecil semakin menderita di negeri ini? Apakah negeri ini memang sudah tak sanggup lagi menjadi ibu pertiwi bagi masyarakat kecil? Apa sebab terbakarnya, korsleting? Ah, atau sengaja dibakar oleh oknum? Kamprett, negara ini! Lalu, seusai mengumpat, kutujukan pada siapa kekesalanku ini? Ah, aku hanya ingin mengumpat. Aku masih bersemangat untuk menyibak hal-hal kecil yang dapat kujamah.

Seusai puter-puter pasar, aku merasa lelah. Bukan lelah sebab aku berjalan dari ujung ke ujung. Itu hal yang biasa ku lakukan, jalan kaki. Namun, hati dan pikiranku merasa lelah. Aku memang tak percaya kalau pasar-pasar tradisional terbakar karena korsleting. Aku sangat yakin, jika itu dibakar.

Orang-orang mengapa semakin bejat dan kejam. Aku tak habis pikir. Ya, sebab aku capek, aku singgah ke tempat tinggal Gias. Seorang kawan yang ku kenal beberapa bulan belakangan. Ia tinggal di dalam pasar johar bersama keluarganya dan keluarga lain sedari kecil. Aku merasa beruntung punya kawan di sana, setidaknya bisa kujadikan sandaran (walau dalam kenyataannya aku tak benar-benar bersandar). Bersandar di sini kumaknai, aku hanya ingin mendengar cerita. Aku memposisikan diriku sebagai anak kecil yang ingin mendapat cerita atau dongeng. Aku adalah orang yang sering kehausan cerita. Aku ingin mendapat banyak cerita. Namun, terkadang aku juga tak kuat untuk mendengar cerita (lagi). Aku ingin bercerita pada diriku sendiri, itu pun justru menjadi hal sulit yang belum terpecahkan.

Gias usianya 20 tahun. Ia sudah punya bayi mungil yang usianya 8 bulan. Padahal terakhir aku ke sana, pas bayinya berusia 3 bulan. Sudah lama sekali berarti aku tak singgah di rumah kehidupannya. Ah, aku tak bertemu Gias. Ia ikut suaminya bekerja. Padahal aku ingin mencium dan mempuk-puk anaknya. Tapi, bertemulah aku dengan Wulan. Ia adalah kakak Gias. Wulan ternyata sudah menikah. Kini, ia hamil 3 bulan. Ia nampak cantik menggunakan daster putih selutut dengan bahan kain goni. Aku suka. Rambutnya dipocong. Ia tak menggunakan riasan. Kulitnya memang gelap (sepertiku), namun aku melihat wajahnya berseri. Sebab, senyum yang tiada lepas dari bibirnya. Ya, kegilaan kami kemarin adalah menertawakan hal-hal konyol sekaligus berarti.

“Mbak, minta duite to. Aku pek jajan es,” tuturnya seorang bocil laki-laki sembari merengek. “Minta ibukmu sana. Jajan kog terus. Aku ndak punya duit,” jelas Wulan dengan nada tinggi. Bocil itu adalah keponakan Gias. Ia memang sering jajan. Apalagi mereka tinggal di pasar, yang mana mau jajan apa saja ada.

Dari rengekan bocil itu, Wulan mungkin teringat tentang sebuah kenangan. Ya, kenangan masa kecilnya. Usianya kini 23 tahun. Ia mulai bercerita dengan sesekali menunjukkan kejengkelannya dan kami tertawa bersama. Dulu, ia begitu bersamangat untuk sekolah. “Pokoknya piye carane aku sekolah.” Suatu kebanggaan bagiku, ia seoranga anak jalanan yang menamatkan sma. Horeee… entah, sekolah itu seberapa berharganya, namun untuk kondisi Wulan aku mengacungi jempol. Jika, sekolah tidak penting dan dimanapun seorang bisa belajar, barangkali aku menangkap titik poin yang beda dengan jika itu ada pada kondisi mereka.

Tempat kehidupan Wulan sejak lahir adalah pasar dan jalanan. Tempat bermain yang asyik bagi adalah lahan parkiran, gang-gang sempit antar penjual, dan depan toilet sewaktu mengantri mandi. Ia mengaku menikmati masa-masa kecil tersebut, namun bukan berarti mudah untuk yakin akan menjalaninya ke depan. Lebih-lebih jika anaknya lahir.
Dulu pada 2009, ia adalah penggagas forum anaknya yayasan setara semarang. Yayasan yang saat itu fokus untuk menangani anak jalanan. Ia aktif. Ia juga sebagai koordonator anak jalanan komplek pasar johar. Setiap minggu pasti kumpul dengan anjal lainnya untuk cerita dan bersenang-senang. Para pendamping yayasan setara hadir untuk mendengar cerita mereka dan merumuskan keresahan tersebut.

Sejak sekolah dasar, ia belajar mandiri untuk sekadar memenuhi keperluannya sendiri. Memang keperluannya tidak neko-neko. Yang penting bisa makan dan uang sekolah terbayar. Ketika ia kelas 3 sd, ibunya memutuskan untuk pergi dari rumah (pasar). Baru, ketika ia smp ibunya kembali. Sejak sd hingga sma, ia mendapat beasiswa untuk sekolah. Namun, bukan berarti mendapat beasiswa menjadi hal yang menyenangkan dan cukup tinggal belajar saja. Ia mendapat beasiswa namun juga harus aktif untuk berkegiatan.
Ya, beasiswa yang ia terima tak bisa memenuhi kebutuhan untuk makan. Maka, sejak sekolah dasar tersebut ia ngamen dari bis ke bis. Dari toko ke toko. Dari gang ke gang. Dari mendapat senyuman hingga kemarahan.

Tulisan ini sempat ditunda beberapa saat. Sebab ada rapat dengan pak pram, pemredku yang super duper oke. Aku terharu pokoknya sama dia. Aku juga kuliah privat dengannya. Biasa, rapat redaksi sering berujung kuliah privat. Ia pasti bercerita banyak hal ketika tema sudah kelar. Seperti ini tadi, kami membicarakan tentang pemikiran tokoh Indonesia, tentang keperempuanan, tentang kartini, dewi sartika, ki hajar dewantara hingga pancasilais yang terbit di merput bulan depan. Yeiii. Katanya, “Selagi muda, menulislah. Agar kau senantiasa muda hingga di usia tuamu.”

Hal yang menjadi kegeliaannya yakni, sewaktu kelas 5 menuju kelas 6, ia mengenal orang jepang yang baik hati. Di sebuah warung makan, ia mengamen. Di sana pula ada orang jepang yang sedang makan. Orang jepang lalu mengajaknya bercerita. Ia bercerita tentang apa yang ia alami. Kemudian, orang jepang tersebut bersedia membiayai sekolahnya selama setahun. Orang jepang tersebut juga berkunjung ke sdnya, berkenalan dengan guru dan teman-temannya. Juga yang menggembirakan, ia ternyata mendapat bonus untuk makan setiap hari di warung tersebut. Dan yang membiayai orang jepang. “Wah, enak pas kuwi. Aku isoh mangan sepuasnya. Haha,” ceritanya.

Begitu hingga dia smp dan sma, ia aktif untuk mencari beasiswa. Siapa pun yang mau membantu ia bersekolah. Sebab, jika ia tidak berangkat sekolah ia akan sedih dan menangis. Padaku ia bercerita, kurang lebih ada sepuluh lebih lembaga atau perorangan yang membantu membiayai sekolahnya. Juga, ia bekerja untuk mandiri. “Aku kalau gak kerja itu gak bisa. Sudah dari kecil kerja. Tapi, saiki aku gak kerja karena hamil. Gak boleh bojo. Hehe.”

Ia juga prihatin pada anak-anak di sekitarnya, jarang sekali yang mau melanjutkan sekolah. Mereka cenderung bersenang-senang dengan dirinya. Bekerja untuk kenikmatan sesaat. Padahal dulu, ia melakukan apapun untuk sekolah. Ia memang tak muluk-muluk menginginkan banyak hal dari sekolah. Dapat bersekolah saja, cukup. Namun, aku menangkap bahwa ia adalah seorang yang cerdas. Dari bicaranya, pemilihan alasan untuk berargumen, aku melihat ia mapan dalam berpikir. Sehingga, ia pun berusaha untuk menjalani kehidupannya atas olah pikir.

Ya, sejak ia aktif di forum anak dulu, ia telah dikirim ke banyak kota untuk menjadi peserta atau fasilitator tentang anak. Maka, tak heran, pengetahuan yang ia punyai luas. Ia pernah ke Medan, Bandung, Jakarta, Jogjakarta, Surakarta, dan beberapa daerah lain. Ia kadang merasa kecewa, mengapa keponakan dan anak-anak kecil di lingkungannya jarang sekali bersekolah. Padahal saat ini sekolah gratis. Seusia Wulan, yang berhasil menamatkan sekolah hingga sma di lingkungannya hanya dia seorang. Bahkan adik kandungnya tidak tamat smp. Ia kadang secara spontas memarahi anak-anak yang tak mau sekolah. 

“Aku mumet ngrasakke bocah saiki. Aku biyen tak rewangi sampek ngono, lha cah saiki malah nyepelekke. Mbuh nang, nduk…. Haha,” tutupnya. Kami berpisah dengan saling melempar senyuman. Entah, aku kira dengan senyuman itu aku dan ia saling memberi keyakinan pada ketidakyakinan itu sendiri. Tanpa eksplanasi apapun. kami hanya saling bercerita. “Anakmu akan menjadi anak hebat, Lan,” bisikku sembari menepuk pundaknya.

Dewi Maghfi | 23 Mei 2015


Wednesday, May 20, 2015

Tresna


Berawal dari menulis di rubrik Teras Merput, aku terinspirasi untuk merenungkan apa yang pernah aku tulis. Ketika itu, aku menulis dengan sepintas. Sebab, mestinya yang nulis bukan aku. Namun, karena sudah harus dilayout, ya akhirnya aku nulis sembari diwaktui layouter.

Tresna, aku ingin menariknya menjadi sebuah eksplanasi. Eksplanasi tentang aku dan organisasi yang pernah menghidupiku, BP2M. Kala masih mahasiswa aku ikut organisasi pers dari awal hingga kelulusanku bahkan akan tetap dalam jiwaku sampai kapanpun.
Ada banyak hal-hal yang memang tak terungkap antara aku dan bp2m. sekalipun eksplanasi kali ini hanya nampak seperti gunung es. Barangkali hanya 10% yang tertangkap oleh kata-kata. Aku ingin memaknainya dalam laku.

Jika ku pikir, mengapa dulu aku ikut bp2m tidak organisasi lainnya yang barangkali justru menjanjikan. Seperti koperasi yang akan diajarkan bagaimana cara berwirausaha dan mendapatkan uang. Seperti mahapala, aku mungkin sudah ke luar negeri untuk mengikuti 7summit. Atau teater, yang guyub dan keasyikannya bisa ku rasakan setiap saat. Bagaimana mengolah rasa dan ekspresi, sebab aku orang yang susah untuk meluapkan ekspresi?

Aku mengenal pers kampus, ketika aku tes snmptn yang kala itu bertempat di Undip Pleburan. Aku ditampung oleh salah satu kru Manunggal. Aku mendapat cerita darinya. Dia, adalah Mas Huda, PU Manunggal. “ku pikir, apa di Unnes ada macam gituan?” ah, keterima saja belum sudah mikir begituan. Juga mengobati luka kekecewaan sebab tak diterima lewat spmu juga belum kering. Lukaku masih menganga. Segala sesuatu tak bisa diukur dengan materil. Aku belajar itu, sangat. Dulu, ketika aku ingin kuliah aku telah melewati hal-hal yang huru-haru. Maka, sudah ku niatkan dalam diri untuk memulainya dengan sepenuh hati. Dan aku tidak menduga, jika langkahku mesti menapak di bp2m. Aku tipikel orang jika sudah memulai sesuatu, mesti dituntaskan. Benar, jika aku kuliah di bp2m. Aku ditempa di sana.

Apa yang membuatku perlu memberi prioritas lebih banyak di bp2m daripada kuliahku di jurusan kesehatan masyarakat?

Ini adalah jawaban sulit. Kali ini, aku baru sadar. Jika banyak orang-orang yang menanyakan itu lagi. Dulu, jika aku ditanya begitu, aku hanya cengengesan dan nylemong ‘suka.’ Sebab, aku memang benar suka. Kalau sekarang, sepertinya aku perlu mencari perenungan untuk menjawab itu. Ya, ku pikir, jawabanku sudah terjawab lewat segala hal yang sudah ku lakukan hampir 5 tahun ini. Waktu yang lama namun juga singkat. Jadi, perenunganku pun telah menemukan jawabannya. Bahwa, jawaban tak hanya berupa narasi kata, namun narasi laku yang sudah ku rajut. Dan kini, tinggal memaknainya. Memberi prioritas lebih banyak di bp2m daripada di jurusan adalah ibarat jodoh yang tak bisa dihindari. Betapa tidak, banyak orang mendamba untuk ahli di bidang yang sedang ia geluti. Bahkan keinginan untuk melanjutkan studi hingga titik tertinggi. Namun, jodohku adalah bp2m kala itu. Aku tak bisa menghindar. Sebab, itu soal pertautan jiwa dengan semesta. 

Pun, aku tak lantas tidak mendapat apapun di jurusanku. Aku dapat banyak hal. Dipertemukan dengan dosen alot. Aku mesti selalu berurusan dengannya di setiap makul. Juga pernah dimarah-marahi, katanya aku menyepelekan makulnya dan mementingkan organisasi. Haha. Dipertemukan dengan guru inspiratif, Bu Rus 65 tahun, yang selalu semangat. Dipertemukan dengan pembimbing yang begitu baiknya padaku. Dipertemukan dengan penguji yang sangat sentimental padaku. Dan dipertemukan dengan teman sangat baik, Tutik-Sasya. Aku semacam diopeni oleh mereka, diingatkan tentang tugas, tentang hal-hal yang berkaitan tentang jurusan. Terima kasih.

Apa aku tidak punya keinginan untuk memperdalam ilmu kesehatan masyarakat. Yang aku rasa kuliahku kemarin cuma main-main?

Selalu ada keinginan untuk memperdalam apa yang pernah kucemplungi. Pun, aku merasa diriku hambar saat ini. Aku yakin, aku akan mempelajarinya kembali. Aku akan mulai menyukai untuk nongkrong di rak baru di toko buku. Pada percabangan ilmu yang kuminati, kesehatan reproduksi. Ya, aku akan memperdalam lagi. Juga, pertemuanku saat menemui kasus ketika magang kala itu. Aku merasa tak fokus dan pikiranku kemana-mana. Pada hal-hal begitu, aku sangat menghukum diriku. Bahwa, aku tak dapat menyelesaikan dengan baik.  

Apa aku tak ingin membuktikan pada orang-orang yang pernah benar-benar memarahiku bahwa aku hanyalah orang yang bisanya menjelek-jelekkan sivitas, penghianat, padahal aku bisa begini darinya, katanya?

Ya, aku memang dapat menyelesaikan studi ini berkat beasiswa. Pun aku mensyukurinya. Aku hampir tak ingat lagi berapa kali aku mendapat omelan-omelan macam itu selama kuliah. Pun itu tak lepas sebab aku membawa bp2m. Masa-masa itu, aku tak memang merasa tak punya ketakutan tentang apapun. Justru aku ingin memperlihatkan kegagahan. Aku mungkin nampak frontal, dan justru banyak orang beranggapan itu hal konyol. Namun, keyakinannku kala itu adalah mencintai. Betapa begitullah cara mencintaiku. Aku mencintai dengan caraku. Laku cinta yang sebenarnya sulit, namun aku harus tetap yakin akan caraku. Juga, keinginan agar adik-adikku bisa mencintai dengan cara yang lebih dariku, sepertinya belum terwujud. Setiap orang menempuh perjalanannya masing-masing. Akan ku buktikan dalam perjalanan selanjutnya, bahwa aku pun punya rasa dan sanggup untuk mencintai, tentu dengan caraku sendiri.  
Apa aku begitu berbangga diri pernah singgah di bp2m dan cintaku akan bp2m adalah segalanya?

Pernah memang, aku merasa bangga, pernah tumbuh di sana. Di saat-saat aku harus menyelesaikan hal berat dengan sendiri dan ternyata mampu melewatinya, kadang membuatku bangga. Oh, aku bisa. Aku bisa mengukur diri. Namun, tak lain, hal macam itu hanyalah sepintas saja. Bahwa perjalanan selanjutnya menyimpan kejutan. Aku mengibaratkan perjalananku seperti goa yang tak tahu ujungnya. Aku ingin menelusur goa itu, untuk menemu cahaya. Sebab, goa adalah soal keheningan. Dan keheningan perlu dipecah. Bp2m telah membawaku di ujung pintu. Mengenalkanku lapis demi lapis kenampakan goa dari luar dan sedikit masuk di ambang ruang tamu. Aku belum menelusur ke ruang meditasi. Aku masih di muka. Maka, cinta macam apa yang patut ku banggakan? Tak ada. Aku menjalaninya dalam laku. Maka, aku berusaha sebiasa mungkin pada apapun. Mungkin itu yang menyebabkanku tak bisa ekspresif. Sebab, aku menekan impuls-impuls ekspresionis. Maka, sampai sekarang aku benar belum bisa memaknai cinta, selain memaknai laku apa yang pernah aku lakukan di bp2m atau pada orang-orang.

Apa aku benar-benar dihidupi bp2m?

Barangkali tidak. Bp2m hanyalah perantara, bahwa keberadaan Gusti dimana-mana. Aku juga memendam luka, bukan semata-mata, hidup penuh kebahagiaan. Namun, begitullah aku. Aku akan menyembuhkan luka-luka ku sendiri lewat cerita dan senyuman. Entah, tak terhitung, bahwa cerita dan senyuman menjadi obat ampuh bagiku. Juga, menulis adalah melakukan terapi pada diri sendiri. Luka, kenangan, menjadi hal yang perlu dilepaskan. Toh, aku tak pernah mengkalkulasikan itu. Jika aku merasa ‘senang’ dan semcam ruang-ruang jiwaku terisi, ku kira cukup. Dan tak perlu untuk melebih-lebihkan luka. Namun memang mencari obat tak hanya berhenti pada fisik yang nampak yahud saja, namun pencarian obat adalah pencarian diri.

Lalu, apa hubunganku dengan bp2m?

Aku memaknai bahwa hubunganku dengan bp2m seperti ‘ruang antara’. Aku dan dia, ‘ada’ melampaui ruang dan waktu. Aku diperhubungkan melalui jiwa dunia, kalau kata Coelho di Sang Alkemis. Aku tak pernah tahu, akan dipertemukan dengannya. Namun, aku pernah bersamanya secara fisik 4,5 tahun. Pun, untuk ke depan aku akan benar-benar hilang darinya. Tapi, jiwaku akan selalu bertaut dengan jiwanya. Bahwa setiap apapun yang diciptakan Gusti selalu mempunyai jiwa. Kadang, aku merasa ada hal di luar nalarku, dan mempertanyakannya berulang-ulang, dan semesta lah yang menggerakkan itu semua. Jika, aku merasa letih, aku hanya perlu untuk memejamkan mata dan menghirup napas yang panjang. Kemudian, aku mesti menapaki lagi. Begitu, mengapa jiwaku ditautkan pada jiwa senja, sebab aku paham bahwa senja hadir begitu cepat. Namun, untuk bisa menatapnya dengan tegak aku perlu menguatkan diri. Padahal, telah menunggu di sepanjang hari.

Senja selalu mengingatkan akan perjalanan yang panjang. Aku dan bp2m tak perlu menjelaskan apapun. Tentang apa yang ku rasa dan apa yang bp2m rasa. Pun, menuntut akan luka-lukaku. Aku sudah melepaskannya. Aku akan senantiasa merekam senyum. Tak pernah berhenti dan lelah. Aku dan bp2m adalah sebuah proses perjalanan. Jiwaku sudah terpaut pada jiwanya. Entah jiwanya? Aku cukup senang, bp2m akan selalu dihidupi jiwa-jiwa manusia. Maka, hari-hari belakang aku menguatkan diri untuk tidak hadir atau mengurangi intensitas sebab ada kerapuhan dalam diri untuk sekadar menyapa atau menatap. Aku benar tak sanggup. Barangkali ini yang dianamakan kerinduan. Aku tak ingin membayar rindu seperti Eka Kurniawan harus dibayar lunass. Aku memilih untuk tak membayar rindu lewat apapun. Aku benar-benar tak ingin.

Apa hal yang membuatku hidup, sebab kawan dan manusia-manusia lain yang terhubung dengan bp2m?

Ini juga jawaban sulit. Ya, aku mendapat teman dari berbagai perspektif di bp2m. Juga, tak hanya sekadar teman, namun secara personal aku tertarik mempelajari personal-personal. Sulit bagiku untuk mendeskripsikan kawan di bp2m. Sebenarnya, pendeskripsianku dengan bp2m di atas, juga tak lepas dari pertautan jiwa antar kawan. Ya, kawan berproses. Itu semua adalah pandangan subjektifku. Ada ruang-ruang penghubung yang digerakkan semesta.

Kalau kata temanku, bp2m bukanlah epilog. Kami masih melintas di tanda-tanda semesta. Perjalanan ini hanyalah perjalanan untuk memaknai tresna juga mencari kedirian hingga menuju Gusti.

Dewi Maghfi | Merput | 20 Mei 2015


Friday, May 15, 2015

Pensil


Berawal dari menulis artikel di rubrik pernik majalah merah putih. Rubrik ini yang seringkali mengurungkan diri untuk tidak menulis segera. Sebab, di rubrik ini mesti tampil segar, walau pikiranku sedang kacau. Namun, kadang juga gagal, sebab mood yang tidak baik. Aku, terlalu!

Tik tak tik tok…. Di depan laptop. Mau nulis apa tidak ada ide. Tetiba aku buka desgrip kalau semasa kecilku namanya lopak-lopak, wadah perkakas menulis. Lho, mengapa aku tak punya pensil? Padahal bagaimana pun keadaannya aku selalu punya pensil bahkan hingga beberapa cadangan. Sering pula beli sering pula hilangnya. Itu lah keanehan dari perkakas menulisku. Sering pula nambah banyak padahal tidak beli. Entah…

Pensil membawaku pada sebuah ingatan. Ya, bagaimana aku dulu kog bisa menulis? Siapa yang mengajari? Siapa yang menuntun jariku untuk menggoreskan sebuah tulisan? Bagaimana karakter tulisanku pertama kali? Mengingat hal tersebut, lagi-lagi aku ditumpaskan akan dua sisi yang mengilukan juga menyenangkan. Aku senang, aku diingatkan akan kenangan fase berprosesku awal sekali. Aku senyum-senyum kecil tersendiri. Aku teringat gulu kelas 1 SD yakni Bu Anik. Aku teringat, aku sangat kecil untuk masuk sekolah dasar yakni 5 tahun –hampir saja tidak dinaikkan kelas, namun aku malah juara, yeii. Aku ingat betapa semangatnya diriku untuk bangun pagi, memakai seragam, dan berjalan menuju sekolah. Pulang pun jalan kaki. Setiap kali diterangkan di kelas, setiba di rumah langsung ku ulas. Aku termasuk cukup cerdas menangkap materi. Makanya sampai sekarang aku menanggung beban ‘pintar’ dari tetangga-tetangga. Kadang aku menyesali itu, sebab pintar tak sekadar seperti itu. Betapa aku berpikir stigma seperti itu sungguh mengerikan. Bagaimana teman-temanku yang mendapat stigma ‘bodoh’. Ku kira sampai kapanpun ia akan mengurung diri, bahwa ia tidak mempunyai kemampuan lain. Dan itu kekerasan verbal yang dahsyat sekali tanpa disadari! Arrghh.

Orang-orang kadang membuatku malas untuk bergaul ‘lebih dalam’ sebab hal-hal macam begitu yang keluar tanpa permenungan. Aku tak gampang bahkan tak bisa bercerita sebab betapa pun yang aku ceritakan, perjalananku sangat personal. Hal-hal yang diucap manusia hanyalah seperti gunung es kalau istilah fenomena penyakit dalam kesehatan masyarakat. Yang nampak hanyalah di permukaan saja, padahal jauh di dalamnya ia mengakar sampai entah kemana tak tahu. Begitu dalam dan membutuhkan perjalanan untuk mengakrabinya. Namun, bukan berarti bermasyarakat adalah menjijikkan. Tidak! Ruang sosial adalah ruang pertemuan manusia dengan dirinya. Di sana ia belajar melucuti diri melalui diri yang lain. Merekam cerita diri lain untuk merefleksi diri sendiri. Begitu, bagiku kawan atau partner adalah saling menjaga senyum. Sebab senyum adalah ikhtiar yang tanpa aturan tersepakati namun kita mencoba untuk terus menebar senyum. Ada ruang penghubung yang saling menjaga diri tanpa harus sering bertemu, tanpa harus ada obrolan, tanpa memberi kabar, tanpa menebak-nebak apa yang sedang terjadi, tanpa benci atau suka –biasa saja, satu hal yang tanpa yakni ‘yakin.’

Hal yang mengilukan yakni, kenangan bahwa goresan-goresan yang menuntunku hingga sampai sekarang musnah. Ya, banjir di Januari 2014 kemarin meluluhlantahkan semua yang ada di dalam rumah. Termasuk buku-buku masa kecilku. Sebuah kenangan. Itu sungguh menyakitkan, namun aku harus melepaskan. Tiada guna aku merapi sebuah perstiwa, toh aku pernah tumbuh bersama kenangan itu. Aku diajarkan banyak hal. Juga aku masih diberi ingatan untuk mengenangnya. Jika ‘simbol-simbol’ kenangan itu mesti dimusnahkan, juga semua itu akan kembali pada semesta. Aku hanya bagian kecil dari semesta. Aku berdaya guna sekaligus tak ada apa-apanya di depan semesta. Lagi lagi semesta mengajariku untuk melepaskan. Lepass.

Ya, pensil. Sebenarnya aku lebih nyaman menggunakan pensil daripada bolpoin. Aku masih ingat, fase belajar menulisku menggunakan pensil. Aku bangga waktu itu, bisa meraut pensil dengan silet atau pisau. Aku tak terlalu mengandalkan rautan, bahkan rautan sering membuat kecewa sebab sering bujel. Aku sangat senang, jika hasil ngerautku dengan silet bisa rapi seperti hasil dari ngeraut pake alat. Aku bahkan berlomba bagus-bagussan sama mbakku. Ya, pensil. Butuh waktu bagiku untuk berpindah menggunakan bolpoin. Dengan pensil aku bisa semauku untuk menggoreskan apapun. Sebab, aku bisa menghapusnya kapan pun. Juga, ketika aku mengotori kertas dengan pensil, aku masih punya harapan untuk membuat kertas bersih lagi.

Bolpoin bagiku, menuntun kehati-hatian yang justru memberikan dampak ingin tampil baik dan takut salah. Sebab, jika salah tulisan nampak tak rapi dan kacau. Makanya aku selalu malas untuk membeli tip-ex. Jika salah dan itu masih bisa diatasi ya sudah, coret aja. Juga aku tak suka ngurek-ngurek hingga tak terlihat kesalahannya. Biar. Persepsi bahwa “bolpoin itu hanya untuk orang dewasa,” kata ibukku. Hal tersebut seringkali yang membuatku berpikir, apa aku sudah terlalu cukup dewasa sehingga aku memilih menggunakan bolpoin. Ku kira, bolpoin hanyalah kebiasaan yang diciptakan oleh orang-orang yang mengaku dewasa. Sehingga, ia harus beda dengan anak-anak. Bolpoin memberikan keeleganan di tiap rangkaian hurufnya, namun ia tak pernah mengerti bahwa bolpoin telah menggiring pemikiran instanisasi. Siapa yang tidak berpikir bahwa menggunakan pensil hanya untuk main-main, hanya boleh dilakukan oleh anak-anak saja. Hanya boleh digunakan untuk mencorat-coret spj sebelum fiks.


Orang-orang yang pangkatnya sundul langit, tentu akan memilih bolpoin sesuai pangkatnya. Bisa jadi satu bolpoin menembus jutaan. Apa itu tidak berlebihan? Bolpoin dijadikan sebagai gengsi semata. Bahkan, dari bolpoin itu pikiran manusia sengaja diluluhlantahkan oleh industrialisasi. Betapa manusia sering menyekat-nyekat kaum-kaumnya. Maka tak heran, bolpoin pun diciptakan atas kasta. Bolpoin biasa, bolpoin boxer, bolpoin dengan paruh meliuk atau lurus, bahkan bolpoin emas. Orang jika mau tandatangan, akan memilih bolpoin dengan kasta tinggi. Dan mana ada, orang yang percaya dengan tandatangan menggunakan pensil. Begitulah, sebenarnya pemikiran manusia individual dikalahkan oleh massa. Person semakin malas untuk meluangkan waktu dalam kesunyian berpikir untuk dirinya sendiri. Lebih sering person terlena dengan massa. Ah, apakah aku saja yang aneh, hingga berpikir hal-hal macam ini? Mungkin, pensil sangatlah remeh temeh. Namun, tidak bagiku. Pensil memberikan kekuatan bagiku bagaimana hal-hal yang nampak jelek dipandang dan usang adalah titik awal untuk tetap melanjutkan perjalanan. Ia memberi semangat untuk terus menggoreskan apapun, tanpa takut salah, sebab ada kompromi-kompromi untuk menghapusnya.

Pensil mempunyai keteladanan-keteladanan diantaranya, Pertama, pensil dapat menjadi pengingat kalau kita bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Yakni, mengingatkan bahwa seperti sebuah pensil ketika menulis, kita tidak boleh lupa bahwa ada tangan yang selalu membimbing langkah kita dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan."

Kedua, saat proses menulis, kita kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil. Rautan itu seakan membuat si pensil menderita. Tetapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kehidupan manusia. Kita harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, termasuk berbagai ujian dan tantangan, karena itu semua yang akan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik dan berkualitas.

Ketiga, pensil memberikan kita kesempatan untuk menggunakan penghapus sebagai upaya memperbaiki kesalahan. Oleh karena itu, memperbaiki kesalahan dalam hidup ini bukanlah hal yang jelek atau buruk. Keempat, bagian yang paling bermanfaat pada pensil bukan bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalamnya. Begitu pula dengan kita. Karenanya, kita harus selalu memupuk hal-hal baik yang ada di dalam diri kita dengan terus meningkatkan kualitas dalam diri.

Kelima, perlu kita sadari jika pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga manusia, kita harus selalu sadar dan waspada karena apa pun yang kita perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan dan goresan. Maka berhati-hatilah dalam berpikir, berucap, dan bertindak. Sehingga, goresan yang kita tinggalkan akan menjadi guratan yang memberi manfaat bagi diri dan orang lain. Menempuh perjalanan untuk mencari kedirian memang akan terus mengingat luka-luka lama. Atau justru menambah luka baru. Namun, tiada mungkin semesta membiarkan proses yang berjalan begitu saja. Kalau dalam bukunya Paulho, Sang Alkemis, semesta memiliki jiwa, ya keterhubungan antar jiwa manusia dan semesta.

Setelah dari redaksi aku langsung tancap gas membeli perkakas menulis. Pensil to ya salah satunya. Aku senyam-senyum sendiri di toko tersebut. Lumayan lengkap untuk mengawali koleksiku. Ya, aku berencana mengoleksi perkakas sekolah masa kecilku dulu (yang jadul-jadul, oke banget). Tadi sudah ku dapat, pensil isi ulang, desgrip besi, agenda pramuka (lengkap nyanyian-nyanyian, semapor, dll –padahal aku tidak suka pramuka. Haha), penghapus bergambar negara-negara (Duh, aku cari yang Indonesia gak ada, walhasil keknya yang ku beli bendera Australia kalau gak salah. Haha), buku tabungan, kertas surat lucu, buku gambar, buku catatan, rautan yang belakangnya ada kacanya (sukanya buat nginjen cowok-cowok ganjen dulu. Haha) belum nemu? pensil yang atasnya ada penghapusnya kecil masih belum nemu? catatan paribahasa terus unen-unen bahasa jawa yang dicetak di kertas karton bangjo masih ada yang jual gak ya? Penghapus yang gambarnya raja-raja terus bagian atasnya warna ijo belum nemu juga? Oh iya, buku latin? Aku sangat suka nulis di buku latin, tegak bersambung. Makanya tulisanku kek bolah ruwet sebab berawal dari situ, dulu cita-citane jadi guru SD. Tapi jur salah kedaden, tulisan dokter ora memper, tulisan cah kesehatan masyarakat ora ono sing isoh moco. Lha jur tulisanku? Tulisane bocil (bocah ilang).

Sore tadi aku seperti bocil di toko alat tulis. Sampek-sampek ada mas-mas tua yang ngeledekin aku, “Mbak ke sini sendiri?”
“Iya”
“Beneran sendiri, gak ada temen? Lha itu siapa?”
“Iya, sendiri. Gak tahu itu siapa” (dalam hati, nih orang berarti ngeliatin akuh sedari tadi. Geje banget. Atau memang akuh yang geje ya?)
“Ngapain milih-milih pensil warna?”
“Ya, buat gambar.”
“Mbaknya yang mau gambar?”
“Iya.” Siapa lagi coba (lanjut dalam hati. Mungkin aku dikira masa kecil tak bahagia. Jadi wong gede kakehan petingkah. Urusan akuh dong. Siapa loe? Haha)
“Milih-milih penghapus kog sampe begitunya?”
“Iya, aku milih yang jadul. Agar gak mainstream. Susah nyarinya.” (Mau bantuin enggak, kepo amat? Wes berbunga-bunga milih-milih, diributin banyak pertanyaan)

Aku milih yang lain, dia buntutin terus. Haduh nih orang mau ngapain aku? Mau jambret? Senyam-senyum dan curi-curi pandang? Kek pilem-pilem india, berseberangan milih di rak terus muncul bunga-bunga. Tasku aja gak ada duit, milih ini-itu aja sambil ngitung habis berapa? (sebab gak mau terulang, di kasir ngembaliin barang gegara uangnya gak cukup. Aku ki pancen koplak plus ceroboh –kata dosen pengujiku dulu. Yaela inget lagi. Haha.) Yauda tak lama-lamain aja milih-milihnya, betah gak dia. Orang dia aja keknya datang sendiri, mana istrinya mana pacarnya gak ada? Klunta-kluntu sendiri, kog sok-sokan ngeledekin aku. Atau dia mau nodong aku pas di parkiran, “Mbak nomor telponnya berapa? Haha”

Bocil –bocah ilang, Ada Siliwangi | 15/5/2015


Wednesday, May 13, 2015

Jilbab


Perkenalan dengan jilbab, kala aku sekolah sore. Sekolah sore di tempatku yakni belajar ilmu-ilmu agama seperti fiqih, nahwu, saraf, akidah akhlak, tarikh, tafsir quran, tauhid, dll. Dari situ aku memahami ada pakaian maen dan pakaian sekolah termasuk di dalamnya ‘busana muslim’. Mengenakan pakaian panjang hingga menutupi ujung jari, kaki, dan penutup kepala (jilbab). Ku kira itu hanya sebuah seragam saja, cuma kami dibebaskan dengan berbagai motif dan warna. Berlanjut hingga aku sekolah di madrasah tsanawiyah dan ‘weling’ dari guru untuk tidak melepas jilbab kala melanjutkan di sekolah menengah. Sampai situ, bagiku menggunakan busana macam itu adalah hanya seragam. Toh, di rumah aku mengenakan atau tidak tak masalah.

Lain halnya jika pakaian yang aku gunakan atau kakak misalnya ketat, ada yang marah tak selesai-selesai berhari-hari, bertahun-tahun, dan selamanya. Untung, aku tidak suka pakaian yang ketat-ketat, kecuali kalau tubuhku kian membesar dan belum ada ganti yang baru. Pakai aja. Aku lebih suka yang gombrong-gombrong. Sebab, jika sumuk ada banyak jendela yang memberi kesejukan. Semriwing. He-he

Juga bagiku dulu, memakai rok adalah satu langkah membuat ribet diri sendiri. Harus cinceng-cinceng, jalannya tak bisa cepat, aku merasa dibatasi dalam berjalan. Aku tak pernah benar-benar punya rok selain yang ku anggap seragam. Dulu.

Entah mengapa sebelum kuliah, diriku merasa terkotak-kotak. Dari hal terkecil misal pakaian, aku harus memilah-milih mana pakaian main, sekolah, ngaji, pergi jauh, dan rekreasi. Apalagi, masalah waktu, jam sekian hingga jam sekian bahkan dalam seminggu mau ngapain aja detail di luar kepala. Ceroboh sedikit saja, bisa jadi aku akan berangkat sekolah dengan baju kotor atau tak setrikaan. Sedari kelas 4 sd aku mencuci dan menyetrika baju sendiri.

Pagi tadi ada yang bercerita padaku tentang jilbab. Ia dipanggil untuk tes wawancara di sebuah taman kanak-kanak. Ia tak memakai jilbab. Cerita berlanjut ketika ia ditanya, “Jika diterima, apakah anda sanggup untuk menggunakan jilbab?” ia menjawab sanggup. Namun, apa yang ada dalam rumusannya berbeda dengan direktur TK. Pewawancara melanjutkan pertanyaan, “Yang saya maksud menggunakan jilbab adalah menggunakannya dalam sehari-hari, tidak hanya saat mengajar.” Wouww… ia lantas kaget. “Saya akan berdiskusi dulu dengan keluarga,” jawabnya.

Ya, menyoal menggunakan jilbab atau tidak adalah persoalan pendek sekaligus panjang. Bagiku misalnya, memakai jilbab adalah persoalan pendek. Sedari kecil, aku sekolah di sekolah yang aturannya memang seperti itu, mau tidak mau, aku harus menggunakan jilbab. Bukan hanya hitungan hari, namun tahun berganti tahun. Kebiasaan macam itu tentu tak masalah bagiku, jika sampai hari ini aku mengenakan jilbab jika sedang di luar. Lain halnya dengan temanku tadi.

Aku yakin, hari ini ia sedang menghadapi persoalan panjang dan tak sekadar menyanggupi dengan jawaban ‘iya/tidak’. Ia butuh dialog dua arah dengan keluarga, dan bertemu tatap muka agar ia bisa merasakan bagaimana gesture lawan bicaranya sekaligus kedalaman matanya. Makanya, konyol sekali jika ada pertanyaan dengan jawaban hanya ‘iya/tidak’. Mungkin bisa ditolerir untuk pertanyaan-pertanyaan lugas, lalu bagaimana dengan pertanyaan perjalanan?  

Ia tumbuh dalam keluarga dengan 2 prinsip. Bapaknya penganut islam dan ibuknya Kristen. Sedari kecil, ia diarahkan oleh bapaknya untuk memeluk islam. Diminta untuk ke masjid, ngaji, salat, dll. Bahkan, jika ia ingin ke gereja menemani ibuknya di hari minggu, telapak tangan ayahnya bisa melayang ke tubuhnya. Ia mengaku, betapa miris melihat ibunya yang saban minggu pagi berangkat ke gereja sendiri tak ada keluarga yang menemani. Atau di luar minggu jika ibunya sedang dirundung kesedihan, ia akan lari ke gereja. Sendiri. Beda dengan bapaknya, setiap kali ke masjid, kedua anaknya mesti ikut.
Betapa pun, di dalam satu atap keluarga, pemimpin rumah mempunyai kecenderungan menguasai diantara lainnya, ayah. Seringkali ayah merasa dirinya adalah pemimpin dan mesti harus dituruti segala sabda-sabdanya. Ia jarang mengakomodir seperti apa suara-suara anggota yang lain. Sabda ayah, kadang menjadi takdir keluarga. Mau tida mau harus diterima dengan legowo. Nah, hal macam itu tanpa disadari dialami berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar entah ibu atau anak-anak mereka. Entah apa yang ada di pikiran ayah? Sehingga ia mengkultuskan dirinya bak nabi. 

Ada beberapa kemungkinan yang mendasarinya, 1. Ia memang tidak mempunyai pengetahuan untuk menahkodai kapal dan tidak ingin mencari tahu. Sehingga menggunakan cara ‘biasanya’. Padahal hal tersebut biasa untuk siapa dan apakah masih relevan dengan saat ini? 2. Ia kepalang malu, jika mesti tunduk pada perempuan (suami-suami takut istri). Padahal makna tunduk itu pun atas konstruksi kesalahkaprahan dalam masyarakat. Tunduk diartikan bertekuk lutut. Mestinya tunduk diartikan sebagai alat kontrol. 3. Ia mempunyai pengetahuan untuk menahkodai kapal, namun kondisi terlalu kompleks dari rumusannya. Ia hanya butuh untuk berikhtiar lebih lama sedikit. Namun, biasanya banyak yang menyerah.

Betapa pun, di dalam rumah suara perempuan adalah suara kesekian yang jarang didengarkan. Apalagi kalau membuat sabda, kualat katanya. Perempuan seringkali berusaha menjaga kondisi agar tak oleng. Walau ia mesti nampak manut, ngikut, diam, dan baik-baik saja. Padahal, jika bisa ia sudah berteriak sekencang-kencangnya. Namun, perempuan adalah makhluk yang sangat realistis. Ia sanggup untuk memendam kedalaman-kedalaman rasa yang koyak, demi sebuah keyakinan. Dan bapak adalah kaum perasa tingkat dewa. Ia lebih mudah tersinggung dan melibatkan rasa untuk mengadili hal-hal yang salah dan benar. Ah, bapak, belajar lah untuk membaca semesta dan melakukannya dalam laku perjalanan diri adalah jauh lebih baik dari sekadar mempertaruhkan kemaluan.

Betapa pun, hal-hal yang dilakukan berawal dari mindset. Hal pertama yang tidak bisa diganggugugat adalah sama-sama menyadari bahwa merumuskan persepsi (mindset) antar bapak-ibu adalah penting. Kemudian hal-hal yang harus dihadapi, hadapilah. Di sana akan tercipta saling menghargai satu sama lain. Bahwa pasangan tak lain adalah sama seperti diri yakni manusia. Laku manusia adalah laku panjang untuk menemu dirinya dengan Gustinya. Bukan pembatasan atas nama pasangan. Dan lain-lainnya mesti harus dilepaskan dengan bantuan pasangan tersebut. Jika begitu, kepemilikan atas diri bisa diminimalisir. Bapak-ibu adalah dua manusia yang mengalami perjalanan panjang untuk sama-sama memaknai ciptaan Tuhan, Semesta. Keduanya, butuh untuk saling menguatkan dan memberi pelukan satu sama lain. Juga, untuk membantu mewujudkan keyakinan-keyakinan (beda dengan agama!) personal. Aku paham, bahwa cara untuk bertahan hidup di dunia ini adalah dengan menguasai diri bukan orang lain, pasangan, anak, keluarga, teman, dll.

Dalam ruang privat, jilbab adalah perjalanan panjang. Perjalanan kultur keluarga yang akan dibawa sejak bayek hingga matek, perjalanan penemuan diri, dan perjalanan spiritualitas. Tidak semata, jilbab syar’i, jilboobs, muslimah, non muslimah, baik, tidak baik. Namun, tidak lantas menyepelekan untuk tidak ingin mencari pemaknaan. Beda dalam ruang publik, menyoal fenomena jilbab sebagai trend setter, mode, style dan sengaja digerakkan oleh kepentingan golongan untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya mesti dibuka diskursus panjang untuk melucutinya, bukan soal tabu!

Aku, perempuan, carilah pemaknaan dalam laku diri. Tegakkan diri sebagai manusia seutuhnya di hadapan Gusti (walau akan dalam proses terus mencari hingga meninggal) bukan sekadar jenis kelamin. Rengkuhlah setiap pasangan yang dihadirkan Gusti. Terus teruslah berikhtiar tiada henti. Memang kadang lelah, capek, namun begitullah seninya hidup. Melambaikan tangan sejenak jika tak kuat, kadang  juga oleng, terjatuh dalam kedalaman yang tiada terukur, begitu tak masalah. Bahwa masih ada satu harapan yakni ‘keyakinan’. Rumuskan dalam perjalanan laku diri masing-masing. Akhirnya selamat menempuh perjalanan baru, laki dan puan.
Dewi Maghfi | 13/5/15


Sunday, May 10, 2015

Gagal Fokus



Fokus dan kegagalan. Dua hal yang menjadi teman akrabku. Seperti saat ini, aku sedang dilanda gagal fokus. Biasanya, kalau begini aku akan mencari kesembuhan-kesembuhan dengan hal-hal konyol. Naik motor muter-muter tanpa tujuan, bahkan ujug-ujug sampai, "kog aku di sini?" Hwaaa... Menempuh perjalanan dengan rute baru, sengaja nyasar untuk menuju tempat tersebut. Bahkan hingga pernah muter-muter di bundaran hingga tiga kali tanpa sadar. Haa. Mencoba merem namun tetep gelisah. Mencoba memulai mengerjakan sesuatu namun justru bermalas-malasan melihat-lihatnya saja. Berbicara dengan senja. Menghirup udara pagi di loteng. Melakukan yoga haha-hihi. Menggambar walau jelek sekali. Mengarsir dengan pulas agar mood kembali normal. Memasak yang super pedes. Membuat sesuatu yang geje. Ngejahilin adekku. Bersih-bersihin rumah dan barang-barang. Pulang ke rumah dengan ngantuk-ngantuk di jalan, bahkan pernah hampir nabrak orang atau diklakson kenceng sama orang. Walau ini bahaya, tapi aku susah untuk menghindarinya biasanya aku berhenti di warung es kelapa muda atau apalah agar kesadaranku normal lagi. Ngantuk di perjalanan itu kenikmatan. Mending aku yang ngeboncengin, kalau aku yang bonceng waduh udah bablas. Arghh. Aku gagal fokus. 

Begitulah. Bagiku, hal-hal macam itu adalah terapi untuk diri sendiri. Aku tak pernah tahu mana hari efektif dan weekend. Sebab, aku masih memperlakukannya sesuai kebutuhanku. Seperti saat ini, aku sedang di rumah bermalas-malasan. Padahal, ini hari senin, jika orang-orang menyebut ini adalah hari keramat dalam satu minggu. Halah. Atau sabtu kemarin justru aku seharin sibuk di ruang ber-ac (sebel sama ruangan ac) dan di depan laptop. Padahal orang-orang sedang berlibur. Hari-hariku, semau-mau aku. Haha.

Waktu adalah soal terapi untuk diri sendiri. Mempergunakannya dengan bijak adalah wujud penghargaan pada diri. Juga kenikmatan dalam hidup. Namun, jika sedang gagal fokus, itu adalah bagian dari secuil kenikmatan. Nikmatilah dan kembali lah untuk terus merajut ikhtiar agar tetap seimbang. Sebab, semesta diciptakan dengan keseimbangan yang tiada tara. Kali ini, sudah mulai sedikit 'rileks.' Oh ya, aku tahu aku cuma sedang sakau sebab dari kemarin aku tidak menulis apapun. Padahal, begitu banyak yang mestinya harus dialirkan. Seperti layaknya aliran darah. Menghirup udara panjang lalu lepaskan dengan pelan, lirih, dan keikhlasan jika sewaktu-waktu tak bisa lagi melakukannya. Lepas lepas lepas. :o)