Surat. Aku sebenarnya orang yang lebih nyaman untuk
melakukan dialog melalui surat. Walau bertemu langsung dan mendiskusikan
sesuatu itu akan bisa melihat gurat wajahnya, sorot matanya, dan barangkali
jauh lebih mantap. Namun, pada beberapa hal bahkan aku menghindar untuk
bertatap muka. Tak lebih, aku merasa tak sanggup saja. Kadang, jika sudah
begitu, aku akan menulis surat. Bagiku surat memberi arti yang dalam, lebih-lebih
ku tulis tangan sendiri. Aku merasa mempunyai hubungan emosional kuat dengan
surat-menyurat.
Ini, surat dengan judul terpanjang yang pernah aku buat. Surat
ini ku peruntukkan untuk orang yang bernama lelaki yang berhati baik. Ya,
lelaki yang hadir lima tahun ini. Telah banyak lelaki-lelaki yang hadir dalam
perjalananku. Mungkin tak akan terbahas detail, aku hanya ingin memberi
eksplanasi kecil saja.
Wahai lelaki yang berhati baik, aku ingin mengirim surat
untukmu melalui jiwa ke jiwa. Surat ini, tak akan pernah kamu temui di lembaran
kertas, namun aku yakin pos jiwa akan mengantarkannya. Ia tak akan mungkin
salah alamat. Sebab, pertautan jiwa adalah pertautan semesta.
Pertemuanku dengan lelaki berhati baik ini, tentu terekam
pula oleh memori terbaikku. Aku menandai keunikan dari lelaki-lelaki berhati
baik ini. Lelaki berbaju batik cokelat, aku dulu kagum padamu. Lelaki yang
tampil memukau penuh semangat di hadapanku. Juga tuturmu yang halus dan
teman-teman baikmu yang menjadi teman baikku pula. Kini, kamu telah mempunyai
keluarga kecil dan ku yakin, kebaikanmu akan senantiasa mengalir. Aku memetik
banyak hal dari komunikasi yang pernah tercipta.
Lelaki berlesung pipit, satu hal, aku pernah mengagumi dan
membencimu di kemudian hari. Itu saja kenanganku. Aku tak ingin memberi ingatan
lebih.
Lelaki seksi, ya kenapa seksi? Karena kamu sering
berkeringat saat berada di lapangan. Dan bagiku berkeringat adalah seksi. Kamu yang
telah berhati baik yang pernah menjadi teman tertawa bersama, ku berdoa semoga
kau mendapat kebaikan pula atas kebaikanmu. Aku cukup senang, jika pertemuan
terakhirku dan kamu, kala itu masih menyapa dengan tawa. Tertawalah untuk
hal-hal yang pantas kita tertawakan.
Lelaki yang pernah membuatku malu sekaligus kamu lah orang
yang mampu meluluhkanku. Pertemuan kita aneh bukan? Kita bertemu dan semacam
mengikuti keinginan-keinginan konyol untuk mengetahui lebih dekat. Sayang, kita
tak cukup mampu untuk mempertahankan keindahan itu. Khususnya, aku lah bajingan
yang mengakhiri itu. Mungkin, jika kamu tak mau memahami kondisi itu, dan kamu
membenciku, aku juga akan membencimu. Namun, kamu ternyata cukup memahami. Dan kamu
adalah orang baik. Aku masih berharap untuk bisa bertemumu lagi dan sekadar
untuk melempar senyum saja. Barangkali itu tanda penebusan dosaku. Aku sungguh
haru biru ketika suatu ketika menemukan tulisanmu, yang aku yakin itu adalah
pembahasan untukku. Dan tulisan-tulisan anehmu yang bikin aku terkekeh-kekeh. Dan
suatu saat jika bertemu, mungkin itu bahasan yang cocok untuk saling tertawa
lepas. Haha.
Kamu, lelaki emoticon. Aku sebenarnya pusing dengan
emoticon-emoticon. Hapeku tak bisa membacanya. Kenal singkat denganmu yang
menjadi kegelianku hingga sekarang. Pertemuan pertama yang konyol. Aku belum
mandi dan kita bertemu di café untuk sekadar ngobrol ngalor-ngidul. Kamu seorang
yang semangat. Namun, kamu perlu untuk mengontrol diri. Hingga catatan kecil yang ku susun dariku yang ku berikan untukmu kala berpisah di parkiran. Haha. Konyol.
Lelaki pemberi kejutan. Aku mengenalmu sudah lama. Aku tahu,
kamu tak pernah merumuskan tentang perjalanan rasa padaku. Namun, aku bukan
anak-anak yang mampu menangkap dari bahasa verbal. Intuisiku cukup paham
menangkap sinyal itu. Dan kamu adalah orang baik. Kamu tetiba hadir, padahal
aku belum mandi dan mau menungguku mandi. Padahal biasanya aku cuek saja. Namun,
karena aku udah dua hari tidak mandi, ini sudah keterlaluan jika harus menemui
seseorang. Lalu, kamu memberiku buku dan kemudian berpamitan. Eh sebelumnya,
kamu bertanya padaku sedang ingin baca apa? Tapi, aku pasti tidak akan menjawab
tentang keinginan-keinginan. Belakangan aku memang menghindar perlahan. Aku tak
cukup mempunyai energi lebih untuk berjalan beriringan. Kamu mungkin
mempersepsikan diriku sebagai orang yang buruk di matamu. Bagiku tak apa. Kamu boleh
merumuskan apapun tentangku. Aku hanya punya keyakinan, bahwa itu adalah jalan
yang pas. Aku tak ingin membuat kesakitan terlalu dalam, entah padaku dan mu. Namun,
segera aku ingin berkirim surat padamu. Belakangan juga kita sempat beradu argumen,
tentang ketidaknyamanan atau mungkin kamu meresahkan hal-hal yang berubah
padaku. Boleh, sangat boleh kamu menganggap apapun padaku.
Kamu, lelaki yang membantuku memaknai perspektif baru. Aku melihatmu,
sebagai seorang yang sangat jujur dan menggunakan nuranimu dengan baik. Namun,
jujur pula, aku sering menahan ketegangan jika berada di dekatmu. Aku bahkan tak sanggup menatapmu lagi. Entah. Kamu adalah
orang yang mensugestiku untuk kembali berdiri, aku senang. Namun, kamu pulalah orang
yang telah meluluhlantahkanku, aku benci. Aku kamu adalah ruang antara. Komunikasi
yang melampaui ruang dan waktu. Juga tak perlu untuk memberikan eksplanasi
apapun. Sunyi, senyap, sudahlah.
Lelaki muda di sabtu malam. Aku kamu pernah membicarakan
sepotong cerita di sabtu malam. Kamu, lelaki muda yang beberapa tahun di bawah
usiaku. Kamu, memberi keyakinan padaku akan sesuatu hal. Aku paham dengan pertemuan-pertemuan
kecil kita. Aku cukup menangkap tanda dari matamu. Tapi, aku sengaja
menghindar, sebab kamu mesti menikmati kemudaanmu. Aku khawatir, sebab aku
mempunyai kecenderungan untuk membuat luka.
Lelaki penutur kata-kata. Ah, sebenarnya aku tahu sisi
terdalammu, barangkali jika tidak keliru. Aku cukup nyaman berada di dekatmu. Namun,
aku suka tak tahan dengan kata-katamu. Semakin kamu berkata-kata semakin
membuatku ngilu. Apalagi hal yang tak pernah ku duga sebenarnya, terjadi, jika
itu kau sedang jujur padamu. Namun, jika itu kebohongan, tapi aku tidak merasakan
kebohongan itu dari matamu. Namun, mulutmu itu penuh kebohongan. Makanya, aku
malas jika mesti mendengar perkataanmu. Aku lebih menikmati dalam diammu. Kamu bisa
lebih jujur.
***
Kemarin, Sabtu (29/5) adalah hari yang kuniatkan baik untuk
mendiskusikan sesuatu. Tapi, aku cukup paham karena kondisi tak memungkinkan. Aku
juga punya agenda untuk diriku sendiri. Atau malam itu, aku merasa lukaku begitu menganga kembali. Hal
yang ku lakukan hanyalah, aku perlu duduk bersila dan mengambil napas panjang
lalu menghembuskannya. Di sampingku ada Dicky yang sedang bermain gitar dan
menyanyi. Aku turut larut. Namun, pas tiba di lagu tertentu, aku hanya bilang, “Dik,
ku mohon berhenti. Ganti lagu lain. Aku tidak kuat,” tuturku sembari meleleh. Aku
nampak aneh dan tidak pernah seperti itu di hadapan teman. Untunglah ia paham
kalau seorang bisa meluap kapan saja. Terima kasih, Dick.
Atau tetiba, aku mengirim pesan pada seorang kawan minta
dipeluk. Ia adalah perempuan yang mempunyai ikatan emosional kuat denganku. Perempuan
yang sering bercerita atas kejujuran-kejujuran kecilnya. Sayang, ada jarak
puluhan kilometer sehingga kita tak bisa berjumpa segera. Aku rindu kamu,
bocah.
Pada orang-orang yang bernama lelaki, aku memang mempunyai
kecenderungan untuk memasang defens yang kuat pada diri. Entah atas apa, ku
kira karena perjalanan panjang. Maka, terkadang jika ada yang mendekat, tanpa
ku sadari aku berubah menjadi singa. Itu adalah hal di luar kesadaranku. Sudah
ku coba untuk mensugesti diri dengan beberapa hal, namun barangkali aku perlu
untuk belajar lagi. Aku juga tak ingin menjadi zat adiktif bagi siapapun juga
barangkali aku yang merasa butuh zat adiktif. Aku tidak tahu, bagaimana
mengonstruksikan hubungan yang dekat dari sekadar teman pada saat ini. Jika tahu,
ini adalah jalan yang ku ambil untuk menyiapkan diriku sendiri di kemudian
hari.
Aku merasa masih bocah yang sering ilang dimana-mana. Aku masih suka
autis dengan duniaku sendiri. Jadi, ku kira memasukkan lelaki yang berhati baik
pun aku masih belum sanggup. Itu semua, karena aku takut jika aku harus membuat
luka. Jika, orang di luar diriku yang membuat luka, aku akan melakukan
penyembuhan dengan menempuh perjalanan singkat. Namun, jika luka itu berasal
dari diriku, aku adalah orang yang susah untuk memaafkan diri sendiri. Aku butuh
waktu lama untuk sekadar berdamai dengan diri sendiri.
Hal yang masih belum bisa ku maknai adalah cinta pada lelaki
yang berhati baik. Aku suka tidak tahan pada lelaki-lelaki yang berhati baik. Juga,
aku tidak kuat pada lelaki-lelaki sebaliknya. Aku sungguh belum mampu untuk
memaknai konstruksi cinta itu. Aku butuh menempuh perjalanan untuk terus
berkhtiar memaknainya dari hal-hal terkecil. Tentang konstruksi lelaki, aku pun
meminimalisir pada diri untuk tidak menebak-nebak kococokan atau merupa dalam
wujud tertentu. Bagiku saat ini, itu hanyalah epidermis semata. Aku butuh
lingkaran cambium pada inti terdalamnya. Barangkali, inti terdalam itu adalah
batin. Sebagai manusia ciptaan Gusti, aku belajar untuk welas asih. Satu hal,
aku mencintai kehidupan. Aku pula mencintai semesta.
Aku ingin membiarkan jiwaku melayang setingginya. Aku yakin,
jiwa dunia itu seperti magnet. Termasuk jiwa diri. Aku tidak ingin sibuk untuk
meladeni keinginan-keinginan, namun aku perlu belajar untuk memaknai kebutuhan.
Aku perlu belajar untuk menguasai diri, bukan menguasai orang lain. Aku perlu
belajar untuk menempuh diri, bukan untuk menghadir pada jiwa lain. Aku perlu
belajar untuk memahami hak dan kewajiban diri, bukan untuk berkata hak dan
kewajiban orang lain. Aku perlu menuntaskan tentang keakuan sebelum merumuskan
kekitaan. Aku perlu menjaga diri atas orang lain. Aku perlu untuk menegakkan
diri.
Semuanya, aku akan berusaha untuk melepaskan dengan pelan
dan perlahan. Tentang lelaki yang berhati baik kemarin, saat ini, dan esok. Aku
ingin berdamai dengan diri sendiri juga berdamai dengan orang yang bernama
lelaki. Aku begitu menyanyagi orang-orang yang bernama lelaki, namun aku belum
tahu bagaimana cara merumuskannya dengan baik. Aku perlu belajar. Aku perlu
menempuh perjalanan diri. Terima kasih lelaki-lelaki berhati baik. Aku minta
maaf, namun kata teman, maaf bukan lah sekadar manis di mulut. Aku akan
menebusnya dalam perjalanan. Aku belum berani untuk memasukkan siapa pun. Sebab,
aku masih sering merasa kesakitan. Berbaik-baik dirilah. Maaf.
Rumah | 01062015












