Tuesday, April 14, 2015

Darsum


Dar…

DI suatu senja nanti Dar, aku ingin merapatkan kaki di depanmu. Dar, ini malam, hatiku kembali koyak. Lantunan gitar mengalir pelan. Begitu suara nan syahdu yang mengiringinya. Sebuah lagu spanyol kesukaan Fari, yang setahun lalu telah meninggalkan bumi ini. Sudah delapan bulan ini, aku, menempuh hidup baru dengan istrinya. Risa, perempuan kuat dengan satu putri imut nan lucu. Hari-hariku semakin diyakinkan, bahwa perjalanan hidup begitu tak bisa ditebak. Kejutan Dar.

Aku berjodoh dengan Risa. “Aku telah menemukan jodohku De, tak usah menunggu lama atas sepeninggalnya Dedi,” tuturnya dengan mata sayup. Ah, entah. Aku dan diriku yang belum selesai, namun selalu dihadapkan pada hidup-hidup yang baru. Aku lahir berulang-ulang kali, Dar.

Risa, aku sering menangkap tangannya yang sedang mengusap sudut matanya. Kadang juga, ada air yang tumpah di pipinya. Lalu, cepat-cepat ia menyerutup air yang mengambang di hidungnya. Aku tahu, Risa pasti begitu merasa sedih sekaligus kuat. Di meja makan, di ruang tamu, di kamar tidur, di sela-sela ia makan, pandangannya selalu menerawang jauh, kosong, dan selalu diakhiri dengan lelehan. Yang aku yakini, ia pun tak sedang merenunginya atau tak rela atas kepergiaan Fari. Aku yakin tidak. Ia hanya ingin mengulas rekaman ingatan bersamanya.

Friday, April 10, 2015

Aku Tidak Tahu


Hari ini, entah aku tidak tahu. Aku kehilangan keseimbangan yang kucoba ku bangun. Sejak akhir tahun kemarin, aku ingin belajar ‘keseimbangan’ hidup. Buku-buku buddhisme dan sufisme gethol ku pelajari. Aku (hatiku) semacam digerakkan untuk mempelajari hal-hal itu. Segala ambisi dan tetek bengeknya menjadi nomor sekian dalam list hidup kala itu. Ingatanku semacam diputar balikkan pada hal-hal yang kuinginkan ketika masih unthul. Pemikiran ndakik-ndakik yang mendera kepala, mesti mengambil space agak menjauh dulu.
Ya, ketika aku kecil dulu, aku hanya bercita-cita menjadi guru sekolah dasar. Bagiku menjadi guru sekolah dasar menyenangkan. Anak-anak yang masih polos dengan tingkah lucunya mendendangkan banyak hal dengan kegembiraan. Aku sangat suka. Walau kegembiraanku kala sekolah dasar bukanlah kegembiraan yang mutlak. Justru masa itu, aku seakan sudah mendewasa dengan segala yang hadir padaku. Aku mesti menelan kepahitan ini dan itu. Ah.
Maka tak heran, tulisan tanganku bagus. Kala SD aku paling suka ditunjuk sebagai sekretaris. Sebab, aku bisa menulis di depan kelas dan diperhatikan guru. Aku yang pendek begini, selalu ingin jadi sekretaris. Saat menulis pun aku harus ‘ancik-ancik’ kursi supaya bisa menulis dari baris paling atas. Haha. Ya, tulisanku memang bagus. Gandeng, tegak lurus. Itu terinspirasi dari Bu Musripah. Sebab, aku tidak pernah menjadi murid di kelasnya, aku hanya bisa mengamati ketika ia menggantikan guru kelasku yang berhalangan hadir. Aku perhatikan, bagaimana ia menggoreskan huruf demi huruf dan menggandengkannya dengan rapih. Ya, aku suka sesuatu yang rapih, dulu.