Dar…
DI suatu
senja nanti Dar, aku ingin merapatkan kaki di depanmu. Dar, ini malam, hatiku
kembali koyak. Lantunan gitar mengalir pelan. Begitu suara nan syahdu yang
mengiringinya. Sebuah lagu spanyol kesukaan Fari, yang setahun lalu telah
meninggalkan bumi ini. Sudah delapan bulan ini, aku, menempuh hidup baru dengan
istrinya. Risa, perempuan kuat dengan satu putri imut nan lucu. Hari-hariku semakin
diyakinkan, bahwa perjalanan hidup begitu tak bisa ditebak. Kejutan Dar.
Aku berjodoh
dengan Risa. “Aku telah menemukan jodohku De, tak usah menunggu lama atas
sepeninggalnya Dedi,” tuturnya dengan mata sayup. Ah, entah. Aku dan diriku
yang belum selesai, namun selalu dihadapkan pada hidup-hidup yang baru. Aku
lahir berulang-ulang kali, Dar.
Risa, aku
sering menangkap tangannya yang sedang mengusap sudut matanya. Kadang juga, ada
air yang tumpah di pipinya. Lalu, cepat-cepat ia menyerutup air yang mengambang
di hidungnya. Aku tahu, Risa pasti begitu merasa sedih sekaligus kuat. Di meja
makan, di ruang tamu, di kamar tidur, di sela-sela ia makan, pandangannya
selalu menerawang jauh, kosong, dan selalu diakhiri dengan lelehan. Yang aku
yakini, ia pun tak sedang merenunginya atau tak rela atas kepergiaan Fari. Aku yakin
tidak. Ia hanya ingin mengulas rekaman ingatan bersamanya.

