Sunday, June 14, 2015

Kisah Tentang Abjad ‘A’

Duh, nang nduk, seragam sd kuwi gawe ngilu....

ABJAD. Aku tak tahu bagaimana abjad terbentuk. Ku kira, orang-orang yang telah menemukannya punya cita-cita luhur akan hadirnya abjad. Abjad lah yang menyemai kehidupan. Bayangkan, jika abjad tak juga ada hingga saat ini, tentu aku akan hidup dengan mengenaskan. Sebab, aku hidup dari abjad. Abjad yang mengajariku untuk tetap memilih bangkit (ketika kehidupan menumbangkanmu, kau bisa memilih untuk bangkit atau tidak- Film The Karate Kid). Film yang entah sudah berapa kali ku tonton. Film kesukaan aku dan Tuan krep. Tuan krep itu adikku sing gagah dewe, ah, aku bakal kangen kamu Nang. Huhu. Juga, abjad lah yang meluluhlantahkanku sebab sepertinya pintu terdalam dari diriku dibuka lebar-lebar. Ah. Beginilah, hal-hal di balik abjad yang dapat membuatku melayang dan kesakitan dalam satu tarikan napas. Tapi, bukanlah memang begitu ritmenya? Haha.

Hai Ayu, gadis manis yang tetiba lari-larian dan memelukku sangat erat. Beberapa waktu lalu aku memberi majalah merah putih ke MI LB Budi Asih. Ya, aku berjanji setelah terbit akan memberi majalahnya. Aku berniat bertemu Pak Indra yang cakep itu. Eh, Aku hanya kagum pada semangat Pak Indra. Kebetulan saja dia cakep. Dan pembagian cakep-tidak cakep, kaya-tidak kaya, adalah bukan segalanya. Sudah dibagi dengan pas sama Gusti. Jadi, hal-hal macam itu hanya buat lucu-lucuan saja. Hah. Aku sebenarnya gelisah saat di jalan menuju MI LB Budi Asih. Aku tak membaca kamera slr. Padahal, aku berjanji jika ke sana akan membawa kamera. Ada salah satu murid, yang katanya mau jadi juru potret. Ia senang sekali saat melihat kamera ‘bagus’ itu.

“Kak, kak, aku boleh pinjam kameranya. Aku bisa motret lho, tapi diajari dulu ya?” tuturnya.
“Oh iya. Boleh boleh.”

Perspektif gambar yang diambil cukup bagus. Kamera itu punya teman, jadi aku pinjam. Dan aku tidak enak, jika mesti pinjam lagi. Sementara kalau harus ke kantor dulu terlalu jauh. Padahal sekolahnya dekat dengan kos. Oh, sudah ku persiapkan di sepanjang jalan untuk meminta maaf. Aku sangat takut kalau ia kecewa. Sebab, ku tahu anak-anak seusianya pasti selalu ingat dengan janji. Seperti waktu kecil dulu, aku dijanjikan akan dibelikan sepatu sama saudaraku. Tapi, itu hanya sekadar janji (rentetan abjad). Dan aku tak pernah dibelikan. Sampai sekarang pun aku masih ingat. Antara kecewa, sedih, bahkan benci. Kenapa, aku yang sudah segede ini masih terbayang-bayang tentang hal-hal di masa kecil. Syukurlah, ia sudah pulang dulu. Jadi aku gak ketemu dia. Ehehe.

Baru menaruh tas di kursi, tetiba aku ditubruk gadis kecil dari samping. Ia langsung tiduran di pangkuanku. Ayu namanya. Lalu disusul Abdul yang menubruk dari samping kiriku. Minta dipeluk juga. Keduanya tunawicara. Oh, emak (juru masak) akhirnya bercerita. Kalau keduanya memang sangat dekat dan lucu. Mereka duduk di kelas 1 MI. Kemana-mana mereka berdua. Juga mereka kalau berantem itu ngeri. Sampek pukul-memukul. Plak-plek lah. Namun, kalau emak bicara dengan nada tinggi keduanya akan diam dan mengerti kalau hal macam itu tidak baik.

Ayu, memang tak dapat bicara seperti orang normal. Dia hanya bisa ngomong U u u u sembari nunjuk-nunjuk. Juga abdul. “Abul……….” Ayu jika manggil abdul. Tanganku digapai dan diajak ke ruang samping untuk diperlihatkan peralatan sekolahnya. Oh dia menunjukkan crayonnya. Diambil, terus mereka berdua mewarnai. Nah, saat mewarnai itu aku hanya diam dan ngeliatin polah tingkah mereka. Aku pernah membaca ulasan di kompas tentang terapi menggunakan gambar dari pendiri The Red Pencil. Juga belakangan aku sering ngintip di blognya. Bahwa, ketika anak-anak sedang menggambar dan mewarnai, orang dewasa cukup diam saja memperhatikan polahnya. Tak usah diajak ngobrol atau ditanya-tanya. Sebab, saat anak-anak menggambar, anak-anak sedang masuk ke dalam dirinya. Ia sedang mengingat momen atau kejadian. Ia butuh ketenangan. Ya ya ya….

Duh nang, koe kudu tanggungjawab nek aku karep cilik meneh. halloo.
Aku hanya mesam-mesem sendiri. Juga Ayu yang sesekali memandangiku lalu melempar senyum. Duh, gimana sih rasane nyes-nyesan lah pokoke. Seperti kalau ketemu si dia dulu? Lhoh, ah, hal macam gini hanya cuma pemanis ben tambah manis aja. Haha. Aku sempat merautkan pensilnya yang bujel. Pas aku mau buang sampah dari rautan pencil, tanganku lagi-lagi ditarik. Aku macam kebingungan mau diajak ke mana ini sayang? Oh ternyata aku dibawa ke dalam ruang kelasnya. Di sana ada tempat sampah. Pintar kali, Nak. Juga, pas tangannya kotor, tetiba ia lari keluar dan ku intip, dia ternyata ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Saat sampai di hadapanku, kedua telapak tangannya diperlihatkan padaku. Hihi. Bersih.

Abdul menampakkan muka yang cemberut. Mungkin, ia merasa tidak diperhatikan dan sedih. Dan akhirnya ku peluk dan ku elus-elus. Beuh. Aku pengen? Haha. Aku sebenarnya bingung, aku mesti berbicara apa pada mereka. Aku sebenarnya tak paham dengan pembicaraan keduanya, aku juga bukan orang yang pernah belajar di sekolah luar biasa (seperti yang diceritakan pak indra, di UNS ada jurusannya). Juga aku bukan dari jurusan psikologi. Namun, aku sangat suka nongkrong di perpusnya psikologi. Gitu lah, saat mahasiswa menjadi momen yang sangat merdeka bagiku. Aku bisa sakkarepku melintas dan singgah di perpus-perpus paporit. Haha.

Ya, aku hanya bisa menyapa mereka lewat jiwa terdalamku. Aku tidak bisa berbicara soal hati, sebab aku itu tidak punya hati dan tidak tahu bagaimana rumusan hati itu. Aku lebih nyaman dengan penyebutan ‘jiwa’. Aku hanya ingin memberi rasa nyaman di samping ‘A’yu-‘A’bdul. Aku genggam tangannya dan mengelus rambutnya. Jika manusia mesti mempunyai laku hidup-menghidupi, pada hal-hal macam inilah aku merasa jijik pada diriku sendiri. Aku benci pada diriku sendiri. “Dewi, kamu itu terlalu sombong pada semesta. Kamu itu apa, kamu dikasih kesulitan sedikit saja, lebaynya minta ampun. Apa kamu merasa kalau hanya kamu yang kadang merasa capek. Semua manusia. Semua. Masing-masing orang sudah mempunyai alurnya sendiri. Juga, bukannya untuk mengabaikan yang lain.”

Ya, makanya aku suka merekam cerita. Sebab, dari cerita selalu ada kebenaran baru. Rasa-rasanya aku berjodoh ketika dulu aku berkesempatan pernah singgah di bp2m. bp2m yang mengajariku untuk senantiasa mengeja sebuah makna dari setiap abjad. Juga, kenapa aku suka menemui orang-orang baru. Sebab, aku akan punya cerita dan catatanku cepat penuh.

Nak, terima kasih. Selalu saja, di saat-saat aku butuh dekapan, aku bisa bertemu denganmu. Anak-anakku yang terkasih yang tumbuh dahsyat untuk memaknai perjalanan. Duh, aku malah meleleh to. Sebab, aku kangen anak-anakku di johar, tugumuda, gunungsari, delikrejo, dan kuningan. Mungkin, kamu tidak merasakan apapun padaku, Nak. Tapi, aku cukup bisa masuk di langkahmu. Kamu itu kuat. Hi. Aku jadi keinget Nita.
“Mbak Wewe……” Hantu dong aku. Wewe gombel. Hi. Ngeri!

Belakangan, aku melihat-lihat Merput lagi (eh, gusti aku habis sedih tetiba hapeku getar. Aku buka pesan. Ternyata bapak-bapak KKN ku dulu. Gila aja panggil-panggil sayang? Padahal aku aja lupa, kapan terakhir aku panggil-memanggil sayang. Haha. Aku ngekek-ngekek dewe. Entah kenapa, bapak-bapak ora di tempat pkl dan kkn, pada seneng karo aku? Eh, maksudnya seneng podo nekokke aku sms lah telepon lah. Juga berencana ngapel ke kos? Eh, maksude dolan. Tapi, aku beralasan. Haha. Ya macam kek gini juga agar hubungan mahasiswa-warga tetap terjalin. Aku sih sing merasa bersalah terus, jika mengingat momen pkl dan kkn. Hihi. Gila aja nih smsnya, mosok katanya kangen sama suaraku. Aku aja yang kangen sama seseorang dan suaranya gak akan pernah bisa menyampaikan itu? Eh, kenapa orang-orang itu bisa ngobrol apapun denganku, sementara aku tidak. Rasakno, Wi! Makane ojo sombong pengen merekam cerita-cerita orang. Halah, orapopo. Lha emang ini perjalananku kog.)

Lanjut, aku beberapa waktu lalu melihat-lihat lagi Merput. Aku sudah setahun lebih di sana. Lha dalah, ternyata liputan-liputanku kog sering mengangkat isu-isu kekerasan anak, anak-anak yang terpinggirkan, anak yang beraktivitas di jalanan, orang-orang low profile lalu sengaja aku profilkan, sekolah pinggiran, kampung pinggiran, perempuan, dan belakangan aku menulis tentang cinta (nek iki mbuh, aku rak mudeng). Sampai-sampai aku diciee-cieekan teman kerja sing asoygeboy. Maksude? Mbuh, pokoknya sesiapapun yang jatuh hati, harus bertanggungjawab dengan perasaannya sendiri. Aku tak bisa mengulurkan tangan, lha wong pada diriku sendiri saja, aku masih belajar memaknai.

“Sudah Wi, kamu tuh gak usah lebay. Galau. Sok-sok sedih. Malam ini gak jadi nonton payung teduh.”

Barangkali, ini adalah alasan mengapa aku ingin menjadi wartawan. Aku ingin bertemu dengan orang-orang dan merekam ceritanya. Lebih lagi, aku kian dihadapkan pada tulisan-tulisan mbak maria. Duh, duh, Rek. Entah, suara itu yang kadang hadir begitu saja. Padahal, sudah berapa orang coba dengan eksplanasinya yang membuatku mindip-mindip untuk benar-benar meyakini keinginanku itu. Runtuh-bangkit-runtuh-bangkit hingga mesti ku tata ulang kembali. Maka, belakangan aku suka menyusun puzzle sama Aura, aku cukup belajar dari sana. Bagaimana menyusun kepingan-kepingan untuk menjadi hanya sekadar enak dilihat saja (eh, kayak taglinenya majalah tempo, enak dibaca. Haha). 

Entah, jiwa dunia itu yang akan mempertaukan jiwaku pada semesta. Aku ingin menjalani waktu 24 jam di setiap harinya dengan memaknainya. Nak, anak-anakku adalah kamu semua. Kamu tak lebih adalah pantulan dariku. Maka, aku begitu turut merasakan walau aku tak bisa berbuat apa, saat ini. Pernah ku dengar begini, apa yang kamu katakan dalam deretan abjad-abjad akan memudar begitu saja. Juga apa yang pernah kamu lakukan akan musnah. Namun, jika kau mampu merasakan, di situ lah kau hidup dan mengingat Tuhan. Gracia Lavida!


DM | 14062015

Wednesday, June 3, 2015

Manusia itu Makhluk Welas Asih



Membaca isi pidato Soekarno terkait lahirnya pancasila di depan panitia BPUPKI, ada satu kata yang menarik bagiku. Ia mengulang berkali-kali kata ‘njlimet’. Menurutku tak ada bahasa Indonesia yang pas untuk padanan kata ‘njliimet’.

Njlimet begitu aku memaknai setiap cerita yang ku tangkap dari tiap manusia. Aku suka merekam cerita orang-orang. Sebenarnya, itu bukan berawal dari rasa suka terlebih dahulu. Bahkan, aku tahu jika aku suka baru belakangan. Begini, entah kapan berawalnya aku tak tahu pasti. Aku, setiap dimana pun dan kemana pun sering dihadapkan pada cerita-cerita manusia. Aku, menarik sedikit benang merah, mungkin berawal dari kegemaranku untuk melakukan wawancara. Hal yang paling seru dalam jurnalistik adalah melakukan reportase. Sebab, aku mesti bertemu dengan orang dan tentu aku mendapat cerita. Biasanya setelah wawancara selesai, aku tidak langsung berpamitan. Aku pasti akan membuka obrolan tentang apapun. Tentang kebiasaan narasumber yang unik, anak-anaknya, keluarganya, atau aku hanya memancing saja, nanti ia yang akan bercerita banyak hal yang belum diketahui banyak orang pula.

Biasanya, aku melakukan riset sebelumnya. Missal, ia mempunyai hobi apa? Pernah nulis buku apa? Sering mengikuti kajian apa? Ia punya anak berapa? Istri atau suami berapa? Eh, enggak ini, wacana yang sangat sensitif. Jadi jarang aku jadikan bahan obolan. Kecuali ia yang membuka obrolan. Biasanya pula aku memberi apresiatif atas aktivitas yang dilakukannya di awal. Setelah obrolan mengalir, ia merasa percaya padaku, aku akan menanyakan hal-hal serius dari aktivitasnya tersebut. Missal, ia mulai emosi aku akan memberi anekdot-anekdot kecil. Ah, tapi aku mesti kebingungan dulu, untuk memilih kata-kata yang pas. Begitullah keseruan dalam bertemu sesiapapun. Hal utama, yang mencoba ku bangun dalam diri adalah, aku tidak ingin menampakkan sebagai seorang yang berbahaya di depan narasumber. Walau pertanyaan-pertanyaanku bisa meluapkan emosi narasumber, itu soal nanti dalam perbincangan. Yang penting, kesan di awal mesti menghubungkan diri ke dalam dirinya. Sebab, keterhubungan itu penting, untuk memberi kenyamanan. Biasanya, aku akan menatap lekat matanya, menjabat erat tangannya, dan memberi senyum.

Pernah saat melakukan wawancara dengan pakar pendidikan, ia berusia sekitar 60 tahunan. Ia tinggal di salah satu perumahan di Ungaran. Wah, untuk menuju tempatnya aku bablas berkali-kali. Haha. Aku mesti ruwet kalau masalah membaca googlemap terus mempraktikannya. Bagiku, bertanya pada orang-orang adalah hal menarik daripada googlemap. Pak Taruno namanya. Di tengah-tengah perbincangan kami, ia ijin untuk mengantar istrinya sampai depan teras. Ya, istrinya kala itu mau berangkat kerja. Dan Pak Taruno setelah wawancara langsung terbang ke Jekardah. Pemandangan yang menarik. Ia menggenggam tangan istrinya, dan memberi ciuman di kening istrinya. Lalu memeluknya erat, dan ku yakin, ia juga membisikkan sebuah pesan, setidaknya “Hati-hati ya.” Begitu juga yang dilakukan istrinya.

Saat Pak Taruno duduk di sebelahku, aku bertanya, “Pak, sangat mencintai Ibu ya?” itu pertanyaan yang otomatis meluncur dari mulutku. Walau sedikit konyol. Tapi, aku perlu tahu sebenarnya apa sih maknanya sebuah aktivitas kecil tersebut.

Yeii, akhirnya bapaknya yang menjelaskan panjang lebar tentang keluarganya. Bahkan kedua anak laki-lakinya. Dari tiap perbincangan aku selalu mengusahakan untuk tidak meyakini bahwa itulah kebenaran yang hakiki. Aku meyakini bahwa kebenaran itu berlapis. Lapis demi lapis perlu dikuak agar kita menemukan sebuah makna. Namun, aku selalu belajar dari situ. Ia melakukan aktivitas berpamitan saling mengantar di depan teras setiap hari. Juga saat pulang kerja. Keduanya bekerja. Aku tidak ingin terjerumus pada, apakah hubungan macam begini ideal? Lalu, bagaimana dengan hubungan suami-istri yang LDR? Apakah kebahagiaan mesti berada di dekatnya? Bagaiman dengan suami-suami yang menjadi tentara dan istrinya berada jauh darinya? Apakah mereka bisa begini, karena secara kebutuhan sehari-hari jauh lebih cukup lha wong anaknya kuliah di luar negeri? Bagaimana dengan sebuah keluarga kecil, yang ku temui di bangjo. Ibu-bapaknya jual Koran, sementara kedua anaknya bermain lari-larian?

Aku tidak ingin menarik simpulan. Toh, semuanya mempunyai kesempatan yang sama untuk melanjutkan hidup dan berbahagia. Ya, berbahagia ku kira adalah tujuan hidup. Berbahagia bukan soal klasifikasi kelas-kelas tertentu (stratifikasi sosial). Ritme kehidupan memang seperti itu. Maka, tiap manusia pasti ingin mencari kebahagiaan. Lantas dengan cara apa? Barangkali, orang perlu paham bahwa ia adalah manusia di antara ciptaan lain di semesta ini. Ada orang-orang yang diamanahi untuk menjaga hal-hal besar. Juga orang-orang ada yang diamanahi untuk menjaga hal-hal kecil yang terdekat. Keduanya berperan dan saling melengkapi. Amanah atau khalifah adalah tugas manusia di muka bumi. Namun, kadang orang ingin menjadi orang-orang yang serupa dan seragam. Padahal, tak ada jalan kehidupan yang serupa dan seragam.
***

Kegemaranku untuk bertemu sesiapapun, berlanjut hingga kini. Pernah, aku sengaja untuk berdiam diri saja, namun justru aku sangat pusing. Atau aku yang merasa, ah capek, di rumah saja tidur seharian. Duh, bangun-bangun seperti maling yang digebuki. Pegele minta ampun. Yaelaa. Ekspketasi yang tidak sesuai harapan.

Jika bertemu siapapun, aku secara otomatis memperlakukan orang-orang tersebut sebagai narasumberku. Entah atas kebutuhan untuk menulis laporan atau tidak. Hal yang sama ku lakukan menatap matanya, mengamati gesture tubuhnya, dan barulah aku atau dia yang akan membuka obrolan. Aku cukup hidup dari cerita-cerita tiap manusia yang unik. Yang kadang, ia bercerita sisi terdalamnya (walaupun aku yakin setiap cerita tak ada yang utuh, mungkin seperti fenomena gunung es). Aku sering dihadap-hadapkan pada cerita. Maka, aku suka mendengar cerita-cerita kecil yang jujur. Mungkin memang lebih banyak tentang ‘keakuan’. Dulu banget, aku itu orang yang tak bisa berkompromi dengan ‘keakuan’. Ku kira, saat bertemu dengan orang, maunya apa, atau bahasannya apa, solusinya gimana, dan sudah selesai. Mari kita kerjakan. Namun, ternyata tidak seperti itu. Nah, kebenaran yang berlapis bukan? Kebenaranku yang dulu terpatahkan oleh kebenaran yang baru. Aku mesti memahami orang. Barangkali, ia punya sisi terdalam yang tak bisa dilepaskan begitu saja, sehingga untuk menyiasati solusi itu kami kesusahan. Nah, aku mulai digiring untuk memahami orang-orang.

Mendengar cerita, aku kemudian larut. Barangkali itu adalah rasa simpatik. Tentang apapun. Aku sering larut ke dalamnya dan turut merasakannya. Aku serasa hadir betul pada peristiwa tersebut. Sampai pada suatu kesempatan aku bertemu dengan Mbak Maria Hartiningsih. Ia bercerita bahwa hal macam begitu, kalau dalam jurnalistik namanya traumatic secondary. Yah, aku bertanya-tanya pada diri sendiri. Setiap pertanyaan yang muncul pada diri, pasti terjawab. Hanya saja, kadang aku tak memahami tanda-tanda yang digerakkan semesta. Nah, pertanyaan tentang itu, kian terjawab. Beberapa hari lalu, aku menemukan tulisan Mbak Maria yang bagiku ini adalah kebenaran baru. Aku mulai memahaminya lagi.

Itu yang kadang, aku bisa dengan mudah mendapat cerita. Orang-orang becerita tentang dirinya padaku. Mungkin sisi terdalamnya. Entah, daya apa yang ada dalam diriku sehingga mampu membuat orang bercerita. Kadang dengan meleleh dan luapan-luapan. Tapi, aku hanya menganggap bahwa, aku memang ditakdirkan untuk merekam cerita-cerita orang dan merekam senyum mereka. Sebab, hal tersulit bagiku ketika cerita telah usai dan aku tidak berani untuk memberikan semacam eksplanasi. Aku kadang hanya menimpali dengan cerita-cerita kecil saja. Atau berbagi pengalaman. Nah, hal yang bisa ku berikan hanya lah dengan melempar senyum. Sebab, aku yakin dengan senyum, walau tanpa kata-kata sekalipun, ada energi yang menghubungkan untuk sama-sama berkata, “Mari jalani semua ini.”

Maka, aku sampai sekarang tidak paham apa itu ‘cinta.’ Tentang perasaan yang datang tetiba, atau lama. Khususnya pada lawan jenisku. Hal yang terus ku pertanyakan tentang perasaanku sendiri. Kadang ada sesuatu yang datang menggebu, namun apakah itu cinta? Apa cinta itu segala-galanya tentang sesuatu yang harus dipertahankan? Apa cinta itu benar gila? Apa cinta itu menyerahkan segala rasa pada orang yang dicintai? Apa cinta itu harus dan kudu? Apa cinta yang musti dijadikan landasan atas apapun?

Aku benar-benar tidak tahu. Aku tidak bisa merasakan hal macam begitu. Yang ku tahu, bahwa pada pada seisi semesta kita mesti saling mengasihi, welas asih. Ku katakan bahwa cinta itu njlimet. Ia, tidak rumit atau susah. Hanya saja njlimet. Njlimet butuh waktu untuk memahami apa makna di baliknya. Njlimet butuh kehati-hatian juga keberanian. Njlimet butuh kebenaran berlapis untuk bisa memaknainya. Njlimet yang membuat laku manusia untuk menghargai sesama, sebab ‘aku ‘tak hanya konstruksi atas ‘aku’ semata. Namun, ada kultur keluarga, lingkungan, dan pencarian tentang keakuan.

Aku terus mencari kebenaran baru tentang cinta. Atau aku lebih nyaman menyebut dengan laku ‘welas asih’. Pada sesiapapun. Bahwa, tiap manusia lahir mengemban amanah dari Gustinya. Sikap welas asih adalah satu cara untuk memaknai kebahagiaan. Tentu kebahagiaan atas bergetarnya jiwa memaknai suatu hal. Yang jauh dan dekat saling menata dan menguatkan. Aku yakin, bahwa semesta mempunyai jiwa. Yang akan menghubungkan dengan jiwa tiap manusia.  

Aku hidup lewat cerita. Cerita yang membawaku pada kebenaran baru. Kebenaran tentang menempuh kehidupan yang sebenar-benarnya.

Merah Putih | 03062015

Monday, June 1, 2015

Tentang Pelukan dan Ciuman Hangat


Pagi tadi, aku bersama adekku ke kelurahan untuk mengurus surat. Selembar surat yang baru ku sadari, aku telah menangguhkannya hampir satu tahun ini. Aku sering lupa pada diriku sendiri, hal-hal yang penting. Ya, beberapa hari lalu, aku baru sadar bahwa surat itu penting dan harus segera ku urus. Aku tak bisa mengacuhkan diriku lagi. Maka, pagi-pagi aku bangun padahal semalaman tak bisa tidur. Ya, aku nekat untuk tetap pulang. Padahal, rasa capekku yang menumpuk belum hilang, terlebih aku mesti mengendarai motor kurang lebih 2 jam. Hal yang ku khawatirkan saat mengendarai motor hanyalah rasa ngantuk. 

Aku bisa sambil ngantuk-ngantuk saat ngendarai motor. Makanya sering ketonyor, kesenggol, di klakson sekencang-kencangnya, dan parahnya aku pernah nabrak mobil di depanku. Duh…. Semua itu gegara ngantuk. Tapi, pernah ada yang bilang padaku, “makanya kalau naik motor itu pikirane diselehke.” Duh yo yo, nek ada tempat penitipan pikiran aku wes arep nitipke pikiranku satu hari saja. Macam daycare gitu (tapi ketahuilah, daycare itu konstruksi pemikiran barat. Kasihan to ya, anak-anak dititipke. Anak adalah makhluk suci, yang sering dikotori oleh orang-orang dewasa).

Di kelurahan, aku nda ketemu kepala desanya. Eh, ada kepala desanya deh, Bu inggi. Namun, Pak ingginya gak ada. Lhah, jur? Ya, Bu inggi hanyalah sekadar status saja. Namun, yang melaksanakan segala sesuatu adalah pak inggi. Pokoke jan mumet ngrasakke kepengurusan nang desaku. Mumet mumet! 

Oh iya, pak dhe ku, ia adalah anak pupon yang diminta dari saudara mbah putri, istri pertama mbah kakungku. Sementara aku adalah generasi dari mbah putri kedua. Masih ada generasi ketiga dari mbah putri ketiga. Mumet meneh to.

Aku diminta pak dhe untuk ke rumahnya di sore hari. Nah, pak dheku itu kebetulan sekretaris desa yang naasnya tak cocok dengan kepala desanya. Ya, aku datang ke rumah pak dhe. Lama sekali aku nda ke rumahnya. Mungkin bisa tahunan. Padahal rumah kami tak jauh, hanya dipisahkan sawah-sawah, satu rt, satu kuburan tua, satu jembatan, dan satu desa tetangga, serta satu sekolah ibtidaiyah. Nah, di belakang sekolah ibtidaiyah itu rumah pak dheku. Mumet meneh. Haisssh.

Aku ketemu pak dhe yang sedang membaca qur'an di ruang tamu. Ia memang gemar melahap kajian-kajian tentang islam. Baru tahu tadi, kalau buku-bukunya banyak bingit tentang keislaman. “Walah, itu buku-buku pak dhe semua. Bukan bukune kakangmu,” tuturnya. Ku kira, saat aku berjalan menuju rak buku, aku mengira itu buku kak nevri. Lelaki cakep yang sedang menempuh kuliah di jurusan BK, sebenarnya ia tiga tahun di atasku, pernah kuliah statistic di semarang namun tak selesai, kemudian kuliah BK di univ tetangga kabupaten dan tadi memberi kabar, “Yeei… aku habis lebaran wisuda.” Syukurlah. Aku juga lama kali gak ketemu dia. Rasane seneng tadi bisa ngobrol. Eh, ternyata pak dheku itu suka ngikutin ceramah-ceramahnya Prof. Abu Suud pasa ada pengajian rutin. Dan aku juga suka dengan tulisan-tulisannya di gayeng semarang SM. Haha. Jadi, kita tadi semacam berkelakar-kelakar kecil. Hihi.

Aku lalu menemui mak dhe yang lagi masak di dapur belakang. Aku suka bingit kalau di rumahnya. Kenapa coba? Rumahnya itu sebagian dari kayu jati dengan kaca-kaca motif tua warna-warna cerah. Kaca-kaca jendela yang kinclong, juga tadi pas di dapur aku menjumpai perkakas-perkakas tua. Yang paling membuatku dagdegser, ketika di pojokan aku melihat semacam peti gedhe, plus pegangan besi tua di kanan-kirinya. Pas tak buka, isinya perkakas masak. Walah mak, ini nih yang membuatku rindu akan pasar klithian. 

Hari ini, Senin (1/6) pas nepati nisfu sya’ban. Aku baru tahu pas tetiba ibukku sama ibuk istri dari ustadz tetangga rumah ribut pagi-pagi ke pasar untuk belanja. Soale malam nisfu sya’ban gini mushola rame. Ada ngaji-ngaji. Sementara anak-anak muter desa sembari menarik mobil-mobilan atau dilah impes yang dalamnya diberi lilin. Tapi, tadi sepi. Hanya segelintir anak saja yang berparkir di depan rumahku. Tidak seramai pas aku masih kecil. Hari yang dinanti-nantikan anak-anak untuk pamer dilah impes. Sedih rasanya. “Mbak Ima, mbak ima, aku gak tumbas mobil-mobilan kog. Kek gitu kan wes ora zaman. Jelek,” kata keponakanku. Duh, cah cilik lho ya, wes ora seneng karo dolanan macam gitu. Dolanannya macam remot kontrol dan ps seabrek. Jur, sopo sing arep nguri-nguri dolanan macam kuwi? Lemes rasane.

Oh iya, aku menemani mak dhe masak sebentar. Mungkin enak kali, kita bisa buka puasa bersama (pas kebetulan aku, mak dhe, dan pak dhe puasa). Tapi, aku mesti pamit sebelum magrib. Urusan surat beres, kami berkelakar di ruang tamu. Ku biarkan adekku diceramahi pak dhe, dan sesekali aku meledeknya. Aku berbicara mesra saja dengan kak nevri. Tentang ini dan itu.

Wes. Pamitan. Aku menemui mak dhe yang berada di belakang. “Dhe, aku pamit riyen. Ngenjing-ngenjing mriki meleh.”
“Iya, nduk. Sing ngati-ngati ya. Sereng dolan mrene,” tuturnya sembari mencium pipiku kanan-kiri dan memeluk erat. Kami semacam tak ingin melepaskan pelukan itu. Aku hampir saja meleleh. Namun, aku berusaha kuat menahannya. Juga saat berpamitan sama pak dhe, aku dirangkul dan dielus-elus kepalaku. Aku diantar hingga teras depan.

Ya, semesta itu mempunyai jiwa. Namanya jiwa dunia. Aku memang sedang merindukan pelukan bahkan ciuman hangat. Belakangan aku merasa buyar dengan diriku sendiri. Aku hampir oleng. Untung aku tahu caranya untuk balik lagi, ya dengan melempar senyum. Aku yang kemarin, membuat janji pada seorang kawan untuk bertemu dan sekadar ingin memeluknya.


“Pokoknya, kalau aku balik ke sana, aku ingin ketemu dan memeluk kamu.”
“Eitts, sudah mandi belum?”
“Aku jarang mandi.”
“Untukmu ada diskon tanpa mandi tak apa.”
“Yeiii…. Terima kasih bocah cerewet nan cempreng. Namun, aku sayang padamu.”

Ku rasa akan gagal. Sebab, aku merencanakannya. Hal-hal yang ku rencanakan seringkali mesti mengalah dengan kondisi. Maka, aku sudah sangat terbiasa untuk melepas sepah-sepah perasaan yang mesti menguap di laut lepas. Aku berusaha melepas hal-hal di luar kebutuhan diri.

Bukan waktu yang singkat untuk sebuah pelukan dan ciuman sehangat sesore tadi. Aku tahu, senja tadi sedang melempar senyum padaku. Sebiasanya, ia menertawaiku. Keras.


Bocah ilang di sudut kamar | 01062015


Sunday, May 31, 2015

Surat Kecil untuk Orang-orang yang Bernama Lelaki yang Berhati Baik, dan Akhirnya Membantuku Memaknai Suatu Hal


Surat. Aku sebenarnya orang yang lebih nyaman untuk melakukan dialog melalui surat. Walau bertemu langsung dan mendiskusikan sesuatu itu akan bisa melihat gurat wajahnya, sorot matanya, dan barangkali jauh lebih mantap. Namun, pada beberapa hal bahkan aku menghindar untuk bertatap muka. Tak lebih, aku merasa tak sanggup saja. Kadang, jika sudah begitu, aku akan menulis surat. Bagiku surat memberi arti yang dalam, lebih-lebih ku tulis tangan sendiri. Aku merasa mempunyai hubungan emosional kuat dengan surat-menyurat.

Ini, surat dengan judul terpanjang yang pernah aku buat. Surat ini ku peruntukkan untuk orang yang bernama lelaki yang berhati baik. Ya, lelaki yang hadir lima tahun ini. Telah banyak lelaki-lelaki yang hadir dalam perjalananku. Mungkin tak akan terbahas detail, aku hanya ingin memberi eksplanasi kecil saja.

Wahai lelaki yang berhati baik, aku ingin mengirim surat untukmu melalui jiwa ke jiwa. Surat ini, tak akan pernah kamu temui di lembaran kertas, namun aku yakin pos jiwa akan mengantarkannya. Ia tak akan mungkin salah alamat. Sebab, pertautan jiwa adalah pertautan semesta.

Pertemuanku dengan lelaki berhati baik ini, tentu terekam pula oleh memori terbaikku. Aku menandai keunikan dari lelaki-lelaki berhati baik ini. Lelaki berbaju batik cokelat, aku dulu kagum padamu. Lelaki yang tampil memukau penuh semangat di hadapanku. Juga tuturmu yang halus dan teman-teman baikmu yang menjadi teman baikku pula. Kini, kamu telah mempunyai keluarga kecil dan ku yakin, kebaikanmu akan senantiasa mengalir. Aku memetik banyak hal dari komunikasi yang pernah tercipta.

Lelaki berlesung pipit, satu hal, aku pernah mengagumi dan membencimu di kemudian hari. Itu saja kenanganku. Aku tak ingin memberi ingatan lebih.

Lelaki seksi, ya kenapa seksi? Karena kamu sering berkeringat saat berada di lapangan. Dan bagiku berkeringat adalah seksi. Kamu yang telah berhati baik yang pernah menjadi teman tertawa bersama, ku berdoa semoga kau mendapat kebaikan pula atas kebaikanmu. Aku cukup senang, jika pertemuan terakhirku dan kamu, kala itu masih menyapa dengan tawa. Tertawalah untuk hal-hal yang pantas kita tertawakan.

Lelaki yang pernah membuatku malu sekaligus kamu lah orang yang mampu meluluhkanku. Pertemuan kita aneh bukan? Kita bertemu dan semacam mengikuti keinginan-keinginan konyol untuk mengetahui lebih dekat. Sayang, kita tak cukup mampu untuk mempertahankan keindahan itu. Khususnya, aku lah bajingan yang mengakhiri itu. Mungkin, jika kamu tak mau memahami kondisi itu, dan kamu membenciku, aku juga akan membencimu. Namun, kamu ternyata cukup memahami. Dan kamu adalah orang baik. Aku masih berharap untuk bisa bertemumu lagi dan sekadar untuk melempar senyum saja. Barangkali itu tanda penebusan dosaku. Aku sungguh haru biru ketika suatu ketika menemukan tulisanmu, yang aku yakin itu adalah pembahasan untukku. Dan tulisan-tulisan anehmu yang bikin aku terkekeh-kekeh. Dan suatu saat jika bertemu, mungkin itu bahasan yang cocok untuk saling tertawa lepas. Haha.

Kamu, lelaki emoticon. Aku sebenarnya pusing dengan emoticon-emoticon. Hapeku tak bisa membacanya. Kenal singkat denganmu yang menjadi kegelianku hingga sekarang. Pertemuan pertama yang konyol. Aku belum mandi dan kita bertemu di café untuk sekadar ngobrol ngalor-ngidul. Kamu seorang yang semangat. Namun, kamu perlu untuk mengontrol diri. Hingga catatan kecil yang ku susun dariku yang ku berikan untukmu kala berpisah di parkiran. Haha. Konyol.

Lelaki pemberi kejutan. Aku mengenalmu sudah lama. Aku tahu, kamu tak pernah merumuskan tentang perjalanan rasa padaku. Namun, aku bukan anak-anak yang mampu menangkap dari bahasa verbal. Intuisiku cukup paham menangkap sinyal itu. Dan kamu adalah orang baik. Kamu tetiba hadir, padahal aku belum mandi dan mau menungguku mandi. Padahal biasanya aku cuek saja. Namun, karena aku udah dua hari tidak mandi, ini sudah keterlaluan jika harus menemui seseorang. Lalu, kamu memberiku buku dan kemudian berpamitan. Eh sebelumnya, kamu bertanya padaku sedang ingin baca apa? Tapi, aku pasti tidak akan menjawab tentang keinginan-keinginan. Belakangan aku memang menghindar perlahan. Aku tak cukup mempunyai energi lebih untuk berjalan beriringan. Kamu mungkin mempersepsikan diriku sebagai orang yang buruk di matamu. Bagiku tak apa. Kamu boleh merumuskan apapun tentangku. Aku hanya punya keyakinan, bahwa itu adalah jalan yang pas. Aku tak ingin membuat kesakitan terlalu dalam, entah padaku dan mu. Namun, segera aku ingin berkirim surat padamu. Belakangan juga kita sempat beradu argumen, tentang ketidaknyamanan atau mungkin kamu meresahkan hal-hal yang berubah padaku. Boleh, sangat boleh kamu menganggap apapun padaku.

Kamu, lelaki yang membantuku memaknai perspektif baru. Aku melihatmu, sebagai seorang yang sangat jujur dan menggunakan nuranimu dengan baik. Namun, jujur pula, aku sering menahan ketegangan jika berada di dekatmu. Aku bahkan tak sanggup menatapmu lagi. Entah. Kamu adalah orang yang mensugestiku untuk kembali berdiri, aku senang. Namun, kamu pulalah orang yang telah meluluhlantahkanku, aku benci. Aku kamu adalah ruang antara. Komunikasi yang melampaui ruang dan waktu. Juga tak perlu untuk memberikan eksplanasi apapun. Sunyi, senyap, sudahlah.

Lelaki muda di sabtu malam. Aku kamu pernah membicarakan sepotong cerita di sabtu malam. Kamu, lelaki muda yang beberapa tahun di bawah usiaku. Kamu, memberi keyakinan padaku akan sesuatu hal. Aku paham dengan pertemuan-pertemuan kecil kita. Aku cukup menangkap tanda dari matamu. Tapi, aku sengaja menghindar, sebab kamu mesti menikmati kemudaanmu. Aku khawatir, sebab aku mempunyai kecenderungan untuk membuat luka.  

Lelaki penutur kata-kata. Ah, sebenarnya aku tahu sisi terdalammu, barangkali jika tidak keliru. Aku cukup nyaman berada di dekatmu. Namun, aku suka tak tahan dengan kata-katamu. Semakin kamu berkata-kata semakin membuatku ngilu. Apalagi hal yang tak pernah ku duga sebenarnya, terjadi, jika itu kau sedang jujur padamu. Namun, jika itu kebohongan, tapi aku tidak merasakan kebohongan itu dari matamu. Namun, mulutmu itu penuh kebohongan. Makanya, aku malas jika mesti mendengar perkataanmu. Aku lebih menikmati dalam diammu. Kamu bisa lebih jujur.
***
Kemarin, Sabtu (29/5) adalah hari yang kuniatkan baik untuk mendiskusikan sesuatu. Tapi, aku cukup paham karena kondisi tak memungkinkan. Aku juga punya agenda untuk diriku sendiri. Atau malam itu,  aku merasa lukaku begitu menganga kembali. Hal yang ku lakukan hanyalah, aku perlu duduk bersila dan mengambil napas panjang lalu menghembuskannya. Di sampingku ada Dicky yang sedang bermain gitar dan menyanyi. Aku turut larut. Namun, pas tiba di lagu tertentu, aku hanya bilang, “Dik, ku mohon berhenti. Ganti lagu lain. Aku tidak kuat,” tuturku sembari meleleh. Aku nampak aneh dan tidak pernah seperti itu di hadapan teman. Untunglah ia paham kalau seorang bisa meluap kapan saja. Terima kasih, Dick. 

Atau tetiba, aku mengirim pesan pada seorang kawan minta dipeluk. Ia adalah perempuan yang mempunyai ikatan emosional kuat denganku. Perempuan yang sering bercerita atas kejujuran-kejujuran kecilnya. Sayang, ada jarak puluhan kilometer sehingga kita tak bisa berjumpa segera. Aku rindu kamu, bocah.

Pada orang-orang yang bernama lelaki, aku memang mempunyai kecenderungan untuk memasang defens yang kuat pada diri. Entah atas apa, ku kira karena perjalanan panjang. Maka, terkadang jika ada yang mendekat, tanpa ku sadari aku berubah menjadi singa. Itu adalah hal di luar kesadaranku. Sudah ku coba untuk mensugesti diri dengan beberapa hal, namun barangkali aku perlu untuk belajar lagi. Aku juga tak ingin menjadi zat adiktif bagi siapapun juga barangkali aku yang merasa butuh zat adiktif. Aku tidak tahu, bagaimana mengonstruksikan hubungan yang dekat dari sekadar teman pada saat ini. Jika tahu, ini adalah jalan yang ku ambil untuk menyiapkan diriku sendiri di kemudian hari. 

Aku merasa masih bocah yang sering ilang dimana-mana. Aku masih suka autis dengan duniaku sendiri. Jadi, ku kira memasukkan lelaki yang berhati baik pun aku masih belum sanggup. Itu semua, karena aku takut jika aku harus membuat luka. Jika, orang di luar diriku yang membuat luka, aku akan melakukan penyembuhan dengan menempuh perjalanan singkat. Namun, jika luka itu berasal dari diriku, aku adalah orang yang susah untuk memaafkan diri sendiri. Aku butuh waktu lama untuk sekadar berdamai dengan diri sendiri.

Hal yang masih belum bisa ku maknai adalah cinta pada lelaki yang berhati baik. Aku suka tidak tahan pada lelaki-lelaki yang berhati baik. Juga, aku tidak kuat pada lelaki-lelaki sebaliknya. Aku sungguh belum mampu untuk memaknai konstruksi cinta itu. Aku butuh menempuh perjalanan untuk terus berkhtiar memaknainya dari hal-hal terkecil. Tentang konstruksi lelaki, aku pun meminimalisir pada diri untuk tidak menebak-nebak kococokan atau merupa dalam wujud tertentu. Bagiku saat ini, itu hanyalah epidermis semata. Aku butuh lingkaran cambium pada inti terdalamnya. Barangkali, inti terdalam itu adalah batin. Sebagai manusia ciptaan Gusti, aku belajar untuk welas asih. Satu hal, aku mencintai kehidupan. Aku pula mencintai semesta.

Aku ingin membiarkan jiwaku melayang setingginya. Aku yakin, jiwa dunia itu seperti magnet. Termasuk jiwa diri. Aku tidak ingin sibuk untuk meladeni keinginan-keinginan, namun aku perlu belajar untuk memaknai kebutuhan. Aku perlu belajar untuk menguasai diri, bukan menguasai orang lain. Aku perlu belajar untuk menempuh diri, bukan untuk menghadir pada jiwa lain. Aku perlu belajar untuk memahami hak dan kewajiban diri, bukan untuk berkata hak dan kewajiban orang lain. Aku perlu menuntaskan tentang keakuan sebelum merumuskan kekitaan. Aku perlu menjaga diri atas orang lain. Aku perlu untuk menegakkan diri.

Semuanya, aku akan berusaha untuk melepaskan dengan pelan dan perlahan. Tentang lelaki yang berhati baik kemarin, saat ini, dan esok. Aku ingin berdamai dengan diri sendiri juga berdamai dengan orang yang bernama lelaki. Aku begitu menyanyagi orang-orang yang bernama lelaki, namun aku belum tahu bagaimana cara merumuskannya dengan baik. Aku perlu belajar. Aku perlu menempuh perjalanan diri. Terima kasih lelaki-lelaki berhati baik. Aku minta maaf, namun kata teman, maaf bukan lah sekadar manis di mulut. Aku akan menebusnya dalam perjalanan. Aku belum berani untuk memasukkan siapa pun. Sebab, aku masih sering merasa kesakitan. Berbaik-baik dirilah. Maaf.


Rumah | 01062015

Sunday, May 24, 2015

Di Simpang Kegilaanku

Aku adalah piki. Kalau ia alien. Kalau aku 'benar gila'

Aku mengatakan, beberapa aktivitas yang ku lakukan sebagai persimpangan kegilaan. Aku hanya semacam ingin menuruti kehendak di luar diriku. Jika aku menuruti kehendak diriku saja, aku bisa benar-benar gila. Aku tak kuat. Maka, aku punya diri lain dalam diriku. Mereka kadang rukun, juga tidak. Sesuka-sukanya saja.

Karena diri yang lain itu berada di simpang kegilaan, ia kadang meronta untuk segera dituruti. Maka, beberapa bulan belakang saat aku ke rumah sakit, pandanganku tak pernah lepas dari bangsal psikiatrik. Rumah sakit sebenarnya adalah tempat yang ku benci. Aku menekankan pada diriku untuk tidak mau ke rumah sakit, jika tidak benar-benar darurat. Ya, kalau kondisi tak memungkinkan, diri lainlah yang menjabat tangan untuk berdamai. Aku lihat wajah orang-orang yang katanya gila tersebut di balik jeruji. 

Mengapa mereka diperlakukan seperti tahanan? Mereka tak pernah diajak untuk berbincang sedikit pun dengan dokter? Ku yakin, hanya diberi obat, obat, dan obat. Memberi makan pun hanya dilewatkan sebuah celah di antar jeruji. Bagaimana mereka yakin, aku bisa normal seperti manusia-manusia di luar jeruji tersebut? Kalau mereka diperlakukan seperti itu, justru mereka benar tidak sadar kalau mereka berbeda dengan manusia yang katanya normal. Lha wong teman sesamanya seperti itu. Mungkin mereka malah mengira, orang-orang di luar yang sebenarnya gila. Mereka terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. “Justru, kami yang di sini yang normal. Kami bisa bebas mengimajinasikan apapun tanpa rasa khawatir,” pikiran dalam hati mereka.
***
Sabtu kemarin, aku pun sedang berada di simpang kegilaanku. Persimpangan adalah jarak terdekat untuk menuju kegilaan. Aku kadang berpikir, apa aku benar sudah gila? Yah, bagaimana pun aku selalu mengontrol diriku atas diri yang lain agar tak oleng. Tapi, pertanyaan terus mengalir.

Aku bersama teman, Sabtu (23/5) berkunjung ke kota lama. Ada pameran barang anthik. Uwwwouww…. Nah, pas sampai di sana, pandanganku sudah mulai jelalatan tak terkontrol. Duh, Mak. Apalagi aku datang dengan ibu-ibu yang maniak barang antic. Bisa-bisa aku aku bergaul agak lama dikit, udah deh gaj tahu lagi aku seperti apa. Tapi, diriku tetap menjaga atas diri yang lain. Moga-moga.

Aku berinisiatif untuk pisah saja dengan mereka. Agar aku bisa sesuka-suka. Aku memang kurang nyaman jika pergi dengan siapa pun. Aku merasa kikuk, krik-krik, menahan kegilaan atas diri yang lain di hadapannya. Itu bukan lantas aku menyembunyikan atas diriku yang lain. Namun, aku lebih menyesuaikan. Tur lagi kalau pergi bersama, itu pasti ada saja yang minta dinilai. Beli sesuatu misalnya, “Ini bagus gak?” Aku kudu jawab piye. Lha wong kalau aku beli sesuatu ya tinggal meyakini ini cocok buat aku apa enggak. Jika ada pergulatan, ya aku berdebat dengan diri sendiri. Kalau sama orang, aku tidak enak jika dia harus menunggui aku lama. Pasti mukanya nampak kelempit-lempit, dan aku gak tega. Sumpah. Maka, aku lebih memilih ini-itu sendiri, selagi aku bisa. Tapi, juga sering ngerepotin orang ding. Sering sekali. Ih, kog aku mendadak kangen mas triyas ya. Biasanya kalau ada mas triyas itu, aku heboh. Mas triyas itu super duper. Iseh wae gelem dolalan karo percil-percil sepertiku. Haha. Mas Triyaaaasss….. Duh, semoga pembaca blogku gak ada yang kenal dia. Jaga image. Hari gini masih jaga image? *Plaaaaak.

Kadang aku susah untuk mengatakan hal-hal jujur. Aku itu orang yang tidak enakan tur akan menjadi orang sadis dalam satu tarikan napas. Haha. Ketidakmampuanku untuk jujur juga bukan tanpa sebab. Ada perjalanan panjang yang jika diurai di sini, aku isoh “mati mendadak”. Eh, sumpah itu ungkapan spontan ketika Ibun mengajukan pertanyaan. Aku sampai mrinding. Ah tidak tidak…. Aku cukup menikmati saat ini.

Ya, aku tertarik dengan barang-barang antik. Aku sering menyempatkan untuk sekadar nongkrong di kota lama dua minggu sekali atau satu bulan sekali untuk lihat pasar klithian. Mengamati orang-orang yang sedang tawar menawar adalah anugerah terindah. Duh pinter men to pak ngenyang. Aku itu orang yang tidak bisa ngenyang. Aku kadang tak tega. Hik-hik. Apa sih bangganya menawar harga yang hanya selisih seribu-dua ribu rupiah? Aku kadang heran. Aku jarang menyesali hal macam begituan. Kecuali kalau di toko-toko besar, aku akan kapok untuk kembali lagi! Namun, kalau di pasar ya sudah sih. Kalau tidak keterlaluan amat ya aku senang-senang saja. Aku masih ingat, kala kecil aku sering ke pasar sama mbakku untuk berbelanja. Kita boncengan naik sepeda. Membawa catatan yang sudah disiapkan emak untuk beli ini dan itu. Dan kami selalu nongkrong di warung bakso tahu. Uenaaak…

Cerita ini juga atas diri yang lain. Ku biarkan mengalir saja sesuai yang ada di otakku. Ah, apa aku punya otak. Kata orang-orang yang akrab mengenalku, mereka sering bilang aku tak punya otak? Haha. Coba, kalau atas diriku, cerita ini bakal ada outlinenya dulu sebelum menulis. Dibuat sistematis, diperhitungkan atas paragraph per paragraph. Gitu aja, tulisaku masih berantuuuuuakan (bahas jepora ya. Identik alay dengan menambahkan ‘u’). Uasyeemm.


Bocil yang kakean mikir kurang piknik
Di pameran tersebut aku sedang melakukan transaksi dengan penjual buku lawas. Sebab, hanya buku lawaslah yang kuat ku tawar. Yang lainnya bikin ngiler aja. Selangit harganya. Makane di situ aku merasa sedih, jika ada barang yang dijual yang dulu aku pernah punya atau mbahku pernah punya. Namun, sekarang sudah hilang entah kemana. Atau sudah pernah ku rongsokan. Kali ini aku benar-benar sedih. Nangis darah. Duh, saiki kalau punya apa-apa jangan pada dibuang dulu ya, salkasalwang (asal suka dan asal buang) duh kelakuane sopo kuwi? Tiada suatu pun tanpa nilai. Semakin lama, semakin nilainya tinggi. Siapa kira?

Transaksi berlangsung. Sebab aku gak bisa nawar, aku melakukan transaksi dengan haha-hihi saja. Contohnya seperti ini:
“Bang, buku ini berapa?”
“seratus”
“Yaela bang. Duitku gak cukup kalau segitu. Pas lah. Karo sopo wae?”
“pas delapan puluh.”
“Bang bukune udah kek gini gitu kog. Semrawut, kek kamu. Eh, maksude bukune ini lho bang. Ojo larang-larang lah.” (Karena dari dandannya ia sepertinya anak-anak gaul, maka aku berani ngguyoni. Tindiknya entah berapa. Sepatunya itu selutut gueh. Belum gelangnya, kalungnya, antingya. Duh bang…. Kuwi nek tak dol pasti laku larang)
“He-eh. Uripku pancen semrawut, kog ngerti? Kuwe cah ndi? Aku unnes.” (Lha iyo to, akhire jujur dewe malah. Nek wes ngene aku ngikuti wae. Biasane bisa cerita puanjaang, berhenti jika ada kereta lewat. Ahaha)
“aku juga unnes.”
“Lhoh. Kenal karo cah-cah gaul ora?”

Duh bang yang kau namai gaul kepiye, akuh gak tahu. Tapi, beberapa orang yang ku kenal tak satu pun yang kau kenal. Padahal mereka ku kira ya udah gaul. Atau mungkin, kamu yang kelewat gaul. Embuh….

Buku gak cocok, pamitan aja wes baik-baik. Kami pun berbalas senyum. Ya, sebab waktu itu sudah magrib. Aku bergegas untuk salat. Sebenarnya sejak di perjalanan, aku pokoknya nanti mesti masuk stasiun. Aku pengen weruh kereta jalan dan menyampaikan suara tetttt. Juga pengen dengar keroncong, kalau di tawang ka nada pemain musik tradisional. Tawang itu, stasiun pertama yang tapaki. Kepergian yang haru-biru. Halah. Aku tak bisa salat di musola dalam, tidak diperbolehkan. Yah, penonton kecewa. Tak apalah. Setelah lari-larian dari musala di dekat pintu masuk, aku langsung duduk di kursi tunggu. Aku buka tas, tepatnya tas dari karung goni, ku keluarkan Intisari yang ku beli 2 hari lalu. Namun, masih bungkusan di plastic belum diapa-apain. Yeah… temane antara membuat ngilu dan berikhtiar tiada usai.

Ku buka doang, lalu ku tutup lagi. Aku mengamati orang-orang yang datang. Yang menyampaikan ucapan perpisahan, senyuman, dan pelukan. Setelah itu ku liat-liat seluruh ruangan. Lalu, ada seorang nenek yang menjawil aku untuk tukeran tempat duduk. “Nggeh, monggo.” Aku liat ke atap, ternyata bentuk atapnya semacam kubah. Bagus. 

Nampak gagah. Aku heran kenapa banyak sekali cicak di sana? Hanya di lengkungan bundarnya saja. Di tepi-tepinya gak ada. Cicak tersebut juga lincah ke sana kemari. Aku masih bertanya-tanya? Oh, ku kira kubah tersebut menjadi inti dari luasnya atap tersebut. 

Sesiapapun, pasti menginginkan untuk berdekatan dengan inti. Apalagi di inti menawarkan cahaya yang lebih terang. Inti memang tak mudah di jamah. Sebab ia harus menyebrang beberapa lintasan. Inti adalah tentang pemaknaan suatu perjalanan. Bukan untuk menjabarkan definisi. Namun, lebih pada memaknai. Definisi lebih pada sesuatu yang umum. Namun, memaknai adalah soal perjalanan personal. Perjalanan menempuh dalam diri, kalau kata Coelho. Aku hitung jumlah cicak-cicaknya ada 30. Mereka ada yang saling tarung, ada yang depes, ada yang menjauh ke luar.

Kepalaku pegel dangak ke atas. Aku menunduk. Persis, laki-laki di depanku memandang dengan tatapan yang beda. Mungkin aku dikira aneh. Benar-benar bocil. Aku tutup mata, membayangkan sesuatu, lalu berdoa. E… lhah, ada bapak-bapak di sampingku yang sedari tadi nyanyi terus. Tarik mang… Aku memulai membuka obrolan. Oh, iya habis tawaf. Keliling dari Jakarta, bandung, Surabaya, Jogjakarta, semarang selama 5 hari ini. Namanya Pak Sunu (nama yang sama seperti koordinator tempo jogja, saiki behelan rek. Aku geli dewe. Ha). Setelah sedikit berbasa-basi, aku hanya ingin mendengar cerita. Sebab, aku adalah orang yang haus akan cerita. Pak, aku mau cerita. Blablabla….. bisa bikinin lagu gak pak. Hayoo, ini tantangan cepat, singkat lho. Ya bisa, tapi di sini kan rame. “Yauda keluar aja.”

Aku mengajaknya keluar, dan sekarang duduk di kursi tunggu yang bagian samping. Aku sengaja memilih kursi paling belakang. “Pak, aku mikir syairnya ya. Nanti bikini notnya.”
“Siap”

Buat cepat kilat. Eh, malah bapake yang mikirnya kelamaan. Dicoba-coba, “ah gak pas. Gak pas,”katanya. Sembari menunggu aku mengajukan pertanyaan, “Pak, apa aku itu udah gila ya. Bertemu bapak dalam waktu singkat, terus mau aja tak ajak pindah tempat duduk. Terus tak maintain untuk mencarikan not yang pas. Aku gila ya pak?”
“Ah enggak.”
“Enggak, Pak. Ini benar. Aku itu benar gila. Benar-benar gila.”

Kami saling berpandang-pandangan. Lalu, aku pamitan. Lari ke tempat semula dan mendengarkan lagu keroncong bengawan solo. #Tulisantanpaedit


Dewi Maghfi | BMP | 24052015 22:45

Friday, May 22, 2015

Masa Kanak yang Melampaui Ruang dan Waktu


Berjalan menyusur pasar seusai kebakaran menjadi kengiluan bagi diri. Dua kali (Pasar Mbabatan Ungaran & Pasar Johar), aku sekadar menengok, atau mencari informasi pasar tradisional yang terbakar. Aku selalu bertanya-tanya, mengapa pasar tradisional yang sering terbakar? Mengapa tidak swalayan yang gedhe saja yang terbakar lalu ludes? Mengapa masyarakat kecil semakin menderita di negeri ini? Apakah negeri ini memang sudah tak sanggup lagi menjadi ibu pertiwi bagi masyarakat kecil? Apa sebab terbakarnya, korsleting? Ah, atau sengaja dibakar oleh oknum? Kamprett, negara ini! Lalu, seusai mengumpat, kutujukan pada siapa kekesalanku ini? Ah, aku hanya ingin mengumpat. Aku masih bersemangat untuk menyibak hal-hal kecil yang dapat kujamah.

Seusai puter-puter pasar, aku merasa lelah. Bukan lelah sebab aku berjalan dari ujung ke ujung. Itu hal yang biasa ku lakukan, jalan kaki. Namun, hati dan pikiranku merasa lelah. Aku memang tak percaya kalau pasar-pasar tradisional terbakar karena korsleting. Aku sangat yakin, jika itu dibakar.

Orang-orang mengapa semakin bejat dan kejam. Aku tak habis pikir. Ya, sebab aku capek, aku singgah ke tempat tinggal Gias. Seorang kawan yang ku kenal beberapa bulan belakangan. Ia tinggal di dalam pasar johar bersama keluarganya dan keluarga lain sedari kecil. Aku merasa beruntung punya kawan di sana, setidaknya bisa kujadikan sandaran (walau dalam kenyataannya aku tak benar-benar bersandar). Bersandar di sini kumaknai, aku hanya ingin mendengar cerita. Aku memposisikan diriku sebagai anak kecil yang ingin mendapat cerita atau dongeng. Aku adalah orang yang sering kehausan cerita. Aku ingin mendapat banyak cerita. Namun, terkadang aku juga tak kuat untuk mendengar cerita (lagi). Aku ingin bercerita pada diriku sendiri, itu pun justru menjadi hal sulit yang belum terpecahkan.

Gias usianya 20 tahun. Ia sudah punya bayi mungil yang usianya 8 bulan. Padahal terakhir aku ke sana, pas bayinya berusia 3 bulan. Sudah lama sekali berarti aku tak singgah di rumah kehidupannya. Ah, aku tak bertemu Gias. Ia ikut suaminya bekerja. Padahal aku ingin mencium dan mempuk-puk anaknya. Tapi, bertemulah aku dengan Wulan. Ia adalah kakak Gias. Wulan ternyata sudah menikah. Kini, ia hamil 3 bulan. Ia nampak cantik menggunakan daster putih selutut dengan bahan kain goni. Aku suka. Rambutnya dipocong. Ia tak menggunakan riasan. Kulitnya memang gelap (sepertiku), namun aku melihat wajahnya berseri. Sebab, senyum yang tiada lepas dari bibirnya. Ya, kegilaan kami kemarin adalah menertawakan hal-hal konyol sekaligus berarti.

“Mbak, minta duite to. Aku pek jajan es,” tuturnya seorang bocil laki-laki sembari merengek. “Minta ibukmu sana. Jajan kog terus. Aku ndak punya duit,” jelas Wulan dengan nada tinggi. Bocil itu adalah keponakan Gias. Ia memang sering jajan. Apalagi mereka tinggal di pasar, yang mana mau jajan apa saja ada.

Dari rengekan bocil itu, Wulan mungkin teringat tentang sebuah kenangan. Ya, kenangan masa kecilnya. Usianya kini 23 tahun. Ia mulai bercerita dengan sesekali menunjukkan kejengkelannya dan kami tertawa bersama. Dulu, ia begitu bersamangat untuk sekolah. “Pokoknya piye carane aku sekolah.” Suatu kebanggaan bagiku, ia seoranga anak jalanan yang menamatkan sma. Horeee… entah, sekolah itu seberapa berharganya, namun untuk kondisi Wulan aku mengacungi jempol. Jika, sekolah tidak penting dan dimanapun seorang bisa belajar, barangkali aku menangkap titik poin yang beda dengan jika itu ada pada kondisi mereka.

Tempat kehidupan Wulan sejak lahir adalah pasar dan jalanan. Tempat bermain yang asyik bagi adalah lahan parkiran, gang-gang sempit antar penjual, dan depan toilet sewaktu mengantri mandi. Ia mengaku menikmati masa-masa kecil tersebut, namun bukan berarti mudah untuk yakin akan menjalaninya ke depan. Lebih-lebih jika anaknya lahir.
Dulu pada 2009, ia adalah penggagas forum anaknya yayasan setara semarang. Yayasan yang saat itu fokus untuk menangani anak jalanan. Ia aktif. Ia juga sebagai koordonator anak jalanan komplek pasar johar. Setiap minggu pasti kumpul dengan anjal lainnya untuk cerita dan bersenang-senang. Para pendamping yayasan setara hadir untuk mendengar cerita mereka dan merumuskan keresahan tersebut.

Sejak sekolah dasar, ia belajar mandiri untuk sekadar memenuhi keperluannya sendiri. Memang keperluannya tidak neko-neko. Yang penting bisa makan dan uang sekolah terbayar. Ketika ia kelas 3 sd, ibunya memutuskan untuk pergi dari rumah (pasar). Baru, ketika ia smp ibunya kembali. Sejak sd hingga sma, ia mendapat beasiswa untuk sekolah. Namun, bukan berarti mendapat beasiswa menjadi hal yang menyenangkan dan cukup tinggal belajar saja. Ia mendapat beasiswa namun juga harus aktif untuk berkegiatan.
Ya, beasiswa yang ia terima tak bisa memenuhi kebutuhan untuk makan. Maka, sejak sekolah dasar tersebut ia ngamen dari bis ke bis. Dari toko ke toko. Dari gang ke gang. Dari mendapat senyuman hingga kemarahan.

Tulisan ini sempat ditunda beberapa saat. Sebab ada rapat dengan pak pram, pemredku yang super duper oke. Aku terharu pokoknya sama dia. Aku juga kuliah privat dengannya. Biasa, rapat redaksi sering berujung kuliah privat. Ia pasti bercerita banyak hal ketika tema sudah kelar. Seperti ini tadi, kami membicarakan tentang pemikiran tokoh Indonesia, tentang keperempuanan, tentang kartini, dewi sartika, ki hajar dewantara hingga pancasilais yang terbit di merput bulan depan. Yeiii. Katanya, “Selagi muda, menulislah. Agar kau senantiasa muda hingga di usia tuamu.”

Hal yang menjadi kegeliaannya yakni, sewaktu kelas 5 menuju kelas 6, ia mengenal orang jepang yang baik hati. Di sebuah warung makan, ia mengamen. Di sana pula ada orang jepang yang sedang makan. Orang jepang lalu mengajaknya bercerita. Ia bercerita tentang apa yang ia alami. Kemudian, orang jepang tersebut bersedia membiayai sekolahnya selama setahun. Orang jepang tersebut juga berkunjung ke sdnya, berkenalan dengan guru dan teman-temannya. Juga yang menggembirakan, ia ternyata mendapat bonus untuk makan setiap hari di warung tersebut. Dan yang membiayai orang jepang. “Wah, enak pas kuwi. Aku isoh mangan sepuasnya. Haha,” ceritanya.

Begitu hingga dia smp dan sma, ia aktif untuk mencari beasiswa. Siapa pun yang mau membantu ia bersekolah. Sebab, jika ia tidak berangkat sekolah ia akan sedih dan menangis. Padaku ia bercerita, kurang lebih ada sepuluh lebih lembaga atau perorangan yang membantu membiayai sekolahnya. Juga, ia bekerja untuk mandiri. “Aku kalau gak kerja itu gak bisa. Sudah dari kecil kerja. Tapi, saiki aku gak kerja karena hamil. Gak boleh bojo. Hehe.”

Ia juga prihatin pada anak-anak di sekitarnya, jarang sekali yang mau melanjutkan sekolah. Mereka cenderung bersenang-senang dengan dirinya. Bekerja untuk kenikmatan sesaat. Padahal dulu, ia melakukan apapun untuk sekolah. Ia memang tak muluk-muluk menginginkan banyak hal dari sekolah. Dapat bersekolah saja, cukup. Namun, aku menangkap bahwa ia adalah seorang yang cerdas. Dari bicaranya, pemilihan alasan untuk berargumen, aku melihat ia mapan dalam berpikir. Sehingga, ia pun berusaha untuk menjalani kehidupannya atas olah pikir.

Ya, sejak ia aktif di forum anak dulu, ia telah dikirim ke banyak kota untuk menjadi peserta atau fasilitator tentang anak. Maka, tak heran, pengetahuan yang ia punyai luas. Ia pernah ke Medan, Bandung, Jakarta, Jogjakarta, Surakarta, dan beberapa daerah lain. Ia kadang merasa kecewa, mengapa keponakan dan anak-anak kecil di lingkungannya jarang sekali bersekolah. Padahal saat ini sekolah gratis. Seusia Wulan, yang berhasil menamatkan sekolah hingga sma di lingkungannya hanya dia seorang. Bahkan adik kandungnya tidak tamat smp. Ia kadang secara spontas memarahi anak-anak yang tak mau sekolah. 

“Aku mumet ngrasakke bocah saiki. Aku biyen tak rewangi sampek ngono, lha cah saiki malah nyepelekke. Mbuh nang, nduk…. Haha,” tutupnya. Kami berpisah dengan saling melempar senyuman. Entah, aku kira dengan senyuman itu aku dan ia saling memberi keyakinan pada ketidakyakinan itu sendiri. Tanpa eksplanasi apapun. kami hanya saling bercerita. “Anakmu akan menjadi anak hebat, Lan,” bisikku sembari menepuk pundaknya.

Dewi Maghfi | 23 Mei 2015


Wednesday, May 20, 2015

Tresna


Berawal dari menulis di rubrik Teras Merput, aku terinspirasi untuk merenungkan apa yang pernah aku tulis. Ketika itu, aku menulis dengan sepintas. Sebab, mestinya yang nulis bukan aku. Namun, karena sudah harus dilayout, ya akhirnya aku nulis sembari diwaktui layouter.

Tresna, aku ingin menariknya menjadi sebuah eksplanasi. Eksplanasi tentang aku dan organisasi yang pernah menghidupiku, BP2M. Kala masih mahasiswa aku ikut organisasi pers dari awal hingga kelulusanku bahkan akan tetap dalam jiwaku sampai kapanpun.
Ada banyak hal-hal yang memang tak terungkap antara aku dan bp2m. sekalipun eksplanasi kali ini hanya nampak seperti gunung es. Barangkali hanya 10% yang tertangkap oleh kata-kata. Aku ingin memaknainya dalam laku.

Jika ku pikir, mengapa dulu aku ikut bp2m tidak organisasi lainnya yang barangkali justru menjanjikan. Seperti koperasi yang akan diajarkan bagaimana cara berwirausaha dan mendapatkan uang. Seperti mahapala, aku mungkin sudah ke luar negeri untuk mengikuti 7summit. Atau teater, yang guyub dan keasyikannya bisa ku rasakan setiap saat. Bagaimana mengolah rasa dan ekspresi, sebab aku orang yang susah untuk meluapkan ekspresi?

Aku mengenal pers kampus, ketika aku tes snmptn yang kala itu bertempat di Undip Pleburan. Aku ditampung oleh salah satu kru Manunggal. Aku mendapat cerita darinya. Dia, adalah Mas Huda, PU Manunggal. “ku pikir, apa di Unnes ada macam gituan?” ah, keterima saja belum sudah mikir begituan. Juga mengobati luka kekecewaan sebab tak diterima lewat spmu juga belum kering. Lukaku masih menganga. Segala sesuatu tak bisa diukur dengan materil. Aku belajar itu, sangat. Dulu, ketika aku ingin kuliah aku telah melewati hal-hal yang huru-haru. Maka, sudah ku niatkan dalam diri untuk memulainya dengan sepenuh hati. Dan aku tidak menduga, jika langkahku mesti menapak di bp2m. Aku tipikel orang jika sudah memulai sesuatu, mesti dituntaskan. Benar, jika aku kuliah di bp2m. Aku ditempa di sana.

Apa yang membuatku perlu memberi prioritas lebih banyak di bp2m daripada kuliahku di jurusan kesehatan masyarakat?

Ini adalah jawaban sulit. Kali ini, aku baru sadar. Jika banyak orang-orang yang menanyakan itu lagi. Dulu, jika aku ditanya begitu, aku hanya cengengesan dan nylemong ‘suka.’ Sebab, aku memang benar suka. Kalau sekarang, sepertinya aku perlu mencari perenungan untuk menjawab itu. Ya, ku pikir, jawabanku sudah terjawab lewat segala hal yang sudah ku lakukan hampir 5 tahun ini. Waktu yang lama namun juga singkat. Jadi, perenunganku pun telah menemukan jawabannya. Bahwa, jawaban tak hanya berupa narasi kata, namun narasi laku yang sudah ku rajut. Dan kini, tinggal memaknainya. Memberi prioritas lebih banyak di bp2m daripada di jurusan adalah ibarat jodoh yang tak bisa dihindari. Betapa tidak, banyak orang mendamba untuk ahli di bidang yang sedang ia geluti. Bahkan keinginan untuk melanjutkan studi hingga titik tertinggi. Namun, jodohku adalah bp2m kala itu. Aku tak bisa menghindar. Sebab, itu soal pertautan jiwa dengan semesta. 

Pun, aku tak lantas tidak mendapat apapun di jurusanku. Aku dapat banyak hal. Dipertemukan dengan dosen alot. Aku mesti selalu berurusan dengannya di setiap makul. Juga pernah dimarah-marahi, katanya aku menyepelekan makulnya dan mementingkan organisasi. Haha. Dipertemukan dengan guru inspiratif, Bu Rus 65 tahun, yang selalu semangat. Dipertemukan dengan pembimbing yang begitu baiknya padaku. Dipertemukan dengan penguji yang sangat sentimental padaku. Dan dipertemukan dengan teman sangat baik, Tutik-Sasya. Aku semacam diopeni oleh mereka, diingatkan tentang tugas, tentang hal-hal yang berkaitan tentang jurusan. Terima kasih.

Apa aku tidak punya keinginan untuk memperdalam ilmu kesehatan masyarakat. Yang aku rasa kuliahku kemarin cuma main-main?

Selalu ada keinginan untuk memperdalam apa yang pernah kucemplungi. Pun, aku merasa diriku hambar saat ini. Aku yakin, aku akan mempelajarinya kembali. Aku akan mulai menyukai untuk nongkrong di rak baru di toko buku. Pada percabangan ilmu yang kuminati, kesehatan reproduksi. Ya, aku akan memperdalam lagi. Juga, pertemuanku saat menemui kasus ketika magang kala itu. Aku merasa tak fokus dan pikiranku kemana-mana. Pada hal-hal begitu, aku sangat menghukum diriku. Bahwa, aku tak dapat menyelesaikan dengan baik.  

Apa aku tak ingin membuktikan pada orang-orang yang pernah benar-benar memarahiku bahwa aku hanyalah orang yang bisanya menjelek-jelekkan sivitas, penghianat, padahal aku bisa begini darinya, katanya?

Ya, aku memang dapat menyelesaikan studi ini berkat beasiswa. Pun aku mensyukurinya. Aku hampir tak ingat lagi berapa kali aku mendapat omelan-omelan macam itu selama kuliah. Pun itu tak lepas sebab aku membawa bp2m. Masa-masa itu, aku tak memang merasa tak punya ketakutan tentang apapun. Justru aku ingin memperlihatkan kegagahan. Aku mungkin nampak frontal, dan justru banyak orang beranggapan itu hal konyol. Namun, keyakinannku kala itu adalah mencintai. Betapa begitullah cara mencintaiku. Aku mencintai dengan caraku. Laku cinta yang sebenarnya sulit, namun aku harus tetap yakin akan caraku. Juga, keinginan agar adik-adikku bisa mencintai dengan cara yang lebih dariku, sepertinya belum terwujud. Setiap orang menempuh perjalanannya masing-masing. Akan ku buktikan dalam perjalanan selanjutnya, bahwa aku pun punya rasa dan sanggup untuk mencintai, tentu dengan caraku sendiri.  
Apa aku begitu berbangga diri pernah singgah di bp2m dan cintaku akan bp2m adalah segalanya?

Pernah memang, aku merasa bangga, pernah tumbuh di sana. Di saat-saat aku harus menyelesaikan hal berat dengan sendiri dan ternyata mampu melewatinya, kadang membuatku bangga. Oh, aku bisa. Aku bisa mengukur diri. Namun, tak lain, hal macam itu hanyalah sepintas saja. Bahwa perjalanan selanjutnya menyimpan kejutan. Aku mengibaratkan perjalananku seperti goa yang tak tahu ujungnya. Aku ingin menelusur goa itu, untuk menemu cahaya. Sebab, goa adalah soal keheningan. Dan keheningan perlu dipecah. Bp2m telah membawaku di ujung pintu. Mengenalkanku lapis demi lapis kenampakan goa dari luar dan sedikit masuk di ambang ruang tamu. Aku belum menelusur ke ruang meditasi. Aku masih di muka. Maka, cinta macam apa yang patut ku banggakan? Tak ada. Aku menjalaninya dalam laku. Maka, aku berusaha sebiasa mungkin pada apapun. Mungkin itu yang menyebabkanku tak bisa ekspresif. Sebab, aku menekan impuls-impuls ekspresionis. Maka, sampai sekarang aku benar belum bisa memaknai cinta, selain memaknai laku apa yang pernah aku lakukan di bp2m atau pada orang-orang.

Apa aku benar-benar dihidupi bp2m?

Barangkali tidak. Bp2m hanyalah perantara, bahwa keberadaan Gusti dimana-mana. Aku juga memendam luka, bukan semata-mata, hidup penuh kebahagiaan. Namun, begitullah aku. Aku akan menyembuhkan luka-luka ku sendiri lewat cerita dan senyuman. Entah, tak terhitung, bahwa cerita dan senyuman menjadi obat ampuh bagiku. Juga, menulis adalah melakukan terapi pada diri sendiri. Luka, kenangan, menjadi hal yang perlu dilepaskan. Toh, aku tak pernah mengkalkulasikan itu. Jika aku merasa ‘senang’ dan semcam ruang-ruang jiwaku terisi, ku kira cukup. Dan tak perlu untuk melebih-lebihkan luka. Namun memang mencari obat tak hanya berhenti pada fisik yang nampak yahud saja, namun pencarian obat adalah pencarian diri.

Lalu, apa hubunganku dengan bp2m?

Aku memaknai bahwa hubunganku dengan bp2m seperti ‘ruang antara’. Aku dan dia, ‘ada’ melampaui ruang dan waktu. Aku diperhubungkan melalui jiwa dunia, kalau kata Coelho di Sang Alkemis. Aku tak pernah tahu, akan dipertemukan dengannya. Namun, aku pernah bersamanya secara fisik 4,5 tahun. Pun, untuk ke depan aku akan benar-benar hilang darinya. Tapi, jiwaku akan selalu bertaut dengan jiwanya. Bahwa setiap apapun yang diciptakan Gusti selalu mempunyai jiwa. Kadang, aku merasa ada hal di luar nalarku, dan mempertanyakannya berulang-ulang, dan semesta lah yang menggerakkan itu semua. Jika, aku merasa letih, aku hanya perlu untuk memejamkan mata dan menghirup napas yang panjang. Kemudian, aku mesti menapaki lagi. Begitu, mengapa jiwaku ditautkan pada jiwa senja, sebab aku paham bahwa senja hadir begitu cepat. Namun, untuk bisa menatapnya dengan tegak aku perlu menguatkan diri. Padahal, telah menunggu di sepanjang hari.

Senja selalu mengingatkan akan perjalanan yang panjang. Aku dan bp2m tak perlu menjelaskan apapun. Tentang apa yang ku rasa dan apa yang bp2m rasa. Pun, menuntut akan luka-lukaku. Aku sudah melepaskannya. Aku akan senantiasa merekam senyum. Tak pernah berhenti dan lelah. Aku dan bp2m adalah sebuah proses perjalanan. Jiwaku sudah terpaut pada jiwanya. Entah jiwanya? Aku cukup senang, bp2m akan selalu dihidupi jiwa-jiwa manusia. Maka, hari-hari belakang aku menguatkan diri untuk tidak hadir atau mengurangi intensitas sebab ada kerapuhan dalam diri untuk sekadar menyapa atau menatap. Aku benar tak sanggup. Barangkali ini yang dianamakan kerinduan. Aku tak ingin membayar rindu seperti Eka Kurniawan harus dibayar lunass. Aku memilih untuk tak membayar rindu lewat apapun. Aku benar-benar tak ingin.

Apa hal yang membuatku hidup, sebab kawan dan manusia-manusia lain yang terhubung dengan bp2m?

Ini juga jawaban sulit. Ya, aku mendapat teman dari berbagai perspektif di bp2m. Juga, tak hanya sekadar teman, namun secara personal aku tertarik mempelajari personal-personal. Sulit bagiku untuk mendeskripsikan kawan di bp2m. Sebenarnya, pendeskripsianku dengan bp2m di atas, juga tak lepas dari pertautan jiwa antar kawan. Ya, kawan berproses. Itu semua adalah pandangan subjektifku. Ada ruang-ruang penghubung yang digerakkan semesta.

Kalau kata temanku, bp2m bukanlah epilog. Kami masih melintas di tanda-tanda semesta. Perjalanan ini hanyalah perjalanan untuk memaknai tresna juga mencari kedirian hingga menuju Gusti.

Dewi Maghfi | Merput | 20 Mei 2015